0 Cerita Koin

Pernah denger  guyonan bahwa kalo kita masih menyimpan koin suatu negara, suatu saat kita akan balik ke negara tersebut? Saya si ga percaya percaya amat.  Hanya saya memang menyimpan koin koin negara yang pernah saya datangin. Alesannya simpel, malu kalo dituker di money changer, karena recehan dan bunyi krencengnya :D Tapi ternyata banyak temen temen saya yang mengkoleksi koin mata uang negara negara lain itu.


Salah satu koin yang masih saya simpan, yaitu koin Yuan/RMB, mata uangnya China. Dari kedatangan saya ke China pertama kali  tahun 2012 ke Beijing, Shanghai dan Hangzhou, saya kemudian datang  lagi ke China di 2013 ke kota Guilin dan Chengdu.  Saya masih menyimpan koin sisanya. Pulang dari Chengdu, saya belum berminat pergi ke China lagi setidaknya dalam waktu 1 tahun 2 tahun  Sempet punya keinginan ke Urumqi dan bagian barat china lainnya, tapi low priority, antri dengan destinasi  lainnya. Cerita saya kembali  untuk pembuktian (halah) koin selain ke China adalah  ke  Malaysia, Singapore sama Thailand. Dan terulang kembali di akhir tahun 2013 kemarin, meskipun hanya transit, kembali ke China.  Saya naik China Southern dari Seoul menuju Istanbul, transit di Beijing dan Urumqi.

Ke Istanbul dari Seoul adalah pengalaman impulsif saya yang paling ga waras. Memanfaatkan cuti yang lumayan lama dan hampir expired, awalnya sehabis dari Seoul, saya berniat pulang ke Indonesia melewati Jepang atau Taiwan atau Hongkong. Saya udah mempersiapkan  photo dan dokumen syarat-syarat  untuk membuat visa Jepang ataupun Taiwan. Jadi seandainya saya ingin ke Jepang dari Seoul, saya akan  membuat visanya di Korea.  Di Seoul, saya malah males mengurus visa. Tambahannya, saya juga lagi agak bosan dengan budaya negara negara timur.  Bos saya mengajukan usul, ke Turki aja tik. VoA pula. Seperti mendapat ilham (halah), Saya : Oh, iya yah. Bisa dicoba. Saya kemudian mengecek harga tiket via Skyscanner! Dan Jedeng : Mahalll.. wkwkwkwk. Mulai ragu, mundur dan pelit jadi satu. 

Tapi karena kepikiran, saya nambah mikir mikir dalam 2 hari. Akhirnya H-4 saya nemu Maskapai China Southern yang harganya lumayan lebih murah dibanding maskapai maskapai lainnya macam Turkish Airlines, Qatar, atau Emirates. Awalnya agak ragu dan ga yakin juga pake Maskapai China. Tapi demi selisih harga yang jauh, akhirnya H-3 berangkat saya Booking tiket Seoul-Istanbul, dengan transit 2x di Beijing dan Urumqi. Ceritanya masih rule of coin :))

Masih masalah koin, pas sampai Beijing, tau sendiri  kalo security di Bandara sana memeriksa dengan super duper teliti. Saya udah mengeluarkan semua yang berjenis logam dari tas, tetep aja masih bunyi dan masih diperiksa ulang. Ternyata yang bikin bunyi adalah segerentengan koin won korea yang jumlahnya bisa ditadah pake dua tangan. Di money belt saya juga masih ada koin Ringgit, SGD serta yuan yang masih kebawa. Petugas screeningnya ketawa tawa dan nanya koin mana  saja ini sambil merhatiin satu satu koinnya. Melihat mereka yang curious, saya bilang, ambil aja beberapa, gapapa kok. Hahaha.

Transit kedua di Urumqi ditulisnya teknikal transit. Tadinya saya pikir, sebagai kota yang sangat jauh dari Beijing, bandara Urumqi akan sedikit jelek. Nyatanya, pemerintah China memang keren dalam masalah pembangungan. Bandara Urumqi malah sebagus bandara bandara di china bagian barat. Juga  lebih bagus dari bandara Soekarno Hatta. Mungkin karena Urumqi kota terbesar di ujung China Barat, yang merupakan penghubung untuk kota kota china lainnya dan juga negara negara sekitar di Asia tengah, Russia dan Timur Tengah.

Urumqi, ibukota propinsi Xinjiang penduduknya rata rata beragama Islam. Raut muka mereka juga sudah berbeda dengan China sebelah timur dan tengah. Bandara urumqi ternyata ramai, selain penumpang china dan sedikit turis yang transit seperti saya, terlihat juga muka muka Rusia. Penerbangan memakan waktu yang tidak berganti jam dari Urumqi ke Istanbul , berangkat jam 12 malam (GMT+8) waktu China dan tiba jam 12 malam (GMT+2) Istambul. Saya sukses ditegur cerocos pake bahasa Arab sama penumpang dari Urumqi. saya langsung bilang, saya ga bisa bahasa Arab. Intinya si mas penumpang ini mau bilang, bahwa dia dan keluarganya dari Xinjiang dan mau pergi jalan jalan ke Istanbul. Dia menegur karena melihat saya pakai jilbab, muslim, dan langsung mengasosiasikan bisa berbahasa Arab karena rata rata muslim Xinjiang bisa berbahasa Arab. Oalaaaahhhh.

Tapi saya masih berharap, cerita koin yuan ini berhenti dulu sejenak. Saya sedang tidak ingin pergi ke China dalam jangka waktu dekat. :))

0 Suwon Fortress

Suwon Fortress, siang hari sekitar jam 1
Taman dikelilingi pohon dengan daun daun merah dan kuning tua..
Gerimis..
No one here..
Perfect..



Saya terdiam..

Saya memimpikan autumn dikorea..
Walau datang saat winter, ternyata impian saya dikabulkan di taman Suwon fortress ini.

Mau nangis, tapi terlalu norak. Tapi saya memang norak.
Di bangku taman, saya kemudian membuka bekal onigiri yang dibeli dari seven eleven Suwon Station. 
Onigiri dan taman suwon jadi salah satu makan siang terindah versi saya.


Suwon  merupakan area suburban dari Seoul. Analoginya mirip Depoknya Jakarta. Awalnya saya tidak merencanakan ke Suwon. Hari itu hari Senin dengan gerimis sudah datang sejak subuh. Pagi harinya, saya berkeliling Seoul dengan Mba Sari. Kami berkunjung ke Bukchon Hanok Village, area pemukiman dengan rumah traditional korea. Mirip condetnya jakarta. Dari Hanok Village, kami berbelok sedikit ke arah  Changdeok Palace. Tapi ternyata hari senin merupakan jadwal Changdeok Palace tutup. Krik krik krik. Kami mengintip intip dari pintu gerbangnya untuk melihat kondisi, tapi kemudian ada petugas yang mendatangu dan menganjurkan kami ke Gyeongbok palace. Akhirnya kami kembali ke station dan malah tercantol di diskonan counter Missha.

Karena Mba Sari ada miting siang dengan mitra, saya kemudian berpisah dengan Mba Sari. Membolak balik buku visit korea yang sempet saya request dari kedubes korea, akhirnya jari saya menunjuk untuk mengunjungi suwon fortress.

Untuk menuju Suwon Fortress, terlebih dahulu saya naik kereta ke Suwon Station. Dari Suwon Station, dilanjut naik bus. Total perjalanan sekitar 1-1.5 jam, tergantung tingkat kenyasaran :-) Iya, saya nyasar lagi ketika naik bus dan bingung ketika mau turun dihalte mana. Kereta dari Seoul ke Suwon ada yang melintas langsung dan hanya berhenti di beberapa stasiun dan ada yang berhenti di tiap stasiun. Baru ketika pulang, saya mendapat kereta yang hanya 2 atau 3 kali berhenti.





Selfie depan petunjuk arah dan jauh jaraknya

Big Bell di Suwon Fortress


Suwon Hwaseong Fortress merupakan UNESCO Heritage. Panjangnya sekitar 5 km. Saya ga mensusur semua sisi temboknya. Setengah jalan sampai Bell besar, saya kemudian cuman nongkrong dan menikmati pemandangan kota Suwon dari atas. Tadinya nyaris merasa ga harus bayar tiket, secara penjaga yang nungguin tiketnya juga cuek saja ga memperdulikan saya. Tapi berhubung bayarnya cuman murah, sekitar 10.000 rupiah, akhirnya saya hampiri loket jaganya, lumayan dapat informasi mengenai Suwon Fortressnya.
Hujan juga masih belum reda ketika akhirnya saya memutuskan turun dari fortress, kembali nongkrong di taman kembali. Jam setengah 4, akhirnya saya balik ke Suwon station untuk kembali ke Seoul.

Sisa hari di Seoul, saya susuri Seoul baik sendiri ataupun bersama mba sari dan erina.
Dengan kedua mba mba itu, otomatis lebih banyak objek Seoul yag kami kunjungi yang berupa tempat belanja seperti Dongdaemun, Namdaemun, Doota. Tempat lainnya yang kami datangi lagi Gyengbuk Palace dan National Museum of Korea.Saya juga sempat mendatangi Samsung D'light sebagai showcase teknologinya Samsung. Recomended bagi yang suka teknologi.

Erina di Doota

Kakinya mba sari menuju Bukchon Hanok Village

Depan Changdeok Palace






0 Demilitary Zone (DMZ) Tour

"Betapa pintarnya Korea Selatan ini yang bisa membuat satu area demarkasi militer menjadi satu tempat tur yang sangat ramai dikunjungi turis. Pemasukan negara jelas ada. Sementara disisi Korea Utara, tidak (atau saya tidak tahu) mendapat keuntungan apa apa dari turis yang berkunjung dan penasaran dengan garis yang memisahkan mereka dengan Korea Selatan" pikir saya ketika bus sedang melintasi jalan sepulang dari Tur DMZ ini.

Merah : Batas negara, garis kuning : DMZ Area


Demilitary zone merupakan area militer di perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan dan merupakan merupakan area yang melingkupi garis batas yang membagi korea. Lebarnya lebih kurang 2 km kearah Korea Utara dan 2 km kearah Korea Selatan. Kedua korea yang jelas jelas sama, nenek moyang, bahasa sama, tulisan, penampakan fisik dan lainnya harus dipisahkan sampai sekarang. Ketika Perang Dunia II, Korea Utara masuk dalam kubu uni soviet, dan Korea Selatan mendukung Amerika. Perbedaan seringkali menjadi garis batas yang tampak, namun persamaan juga bisa menjadi garis batas imajiner tak tembus, membedakan sebuah persamaan, membagi dan mengkotak-kotakkan menjadi sesuatu yang berbeda. Mengapa yang seharusnya tetap menyatu, tapi terpaksa dibedakan. Selain korea, korban garis batas persamaan menurut saya adalah Timor Timur dan Indonesia.

Saya berkunjung ke DMZ bersama pak bos saya, serta dua temen kantor yang lagi penugasan khusus di korea, erina dan mba sari. Untuk mengunjungi DMZ, tidak dapat dilakukan sendiri. kami harus mengikuti tur lokal korea. Tour bisa dibooking dari internet. Kami memakai Seoul City Tour yang dibooking via Internet dengan biaya sekitar 40.000 Won. Kayaknya kami dapet diskon karena pergi lebih dari 3 orang. Tapi saya lupa diskonnya berapa.  Ada dua jenis kunjungan yang ditawarkan tur ke area DMZ ini, yaitu : DMZ tur dan Pamunjeon tur. Pamunjeon merupakan Join Security Area, menjadi tempat negosiasi antara kedua korea tersebut. Namun jatah tur hari itu hanya tersedia tur ke DMZ saja.

Pagi hari jam 8,  kami dijemput menggunakan minivan, diantar untuk disatukan dalam bus besar bersama sama peserta tur lainnya. Kami dipandu oleh Michelle. Lincah banget orangnya.Dan lucu. Panduannya pun jelas.

ini si Michele, tour leader kami

Dari Seoul, bus berangkat kearah Imjingak Park. Disini bus berhenti. Pihak tur, medaftarkan dan membeli tiket. Disini dilakukan juga pemeriksaan terhadap paspor penumpang yang dilakukan di bus oleh tentara dan wamil wamil korea. Setelahnya penumpang boleh turun dan photo-photo di Imjingak Park.

Atik di Imjingak Park

Dari Imjingak Park, kami kemudian naik bus kembali menuju DMZ Theater/Exhibition Hall dan The 3rd Infiltration Tunnel yang berada dalam satu area. Di Exhibition Hall, terdapat maket maket serta informasi terkait DMZ area dan perang korea itu sendiri. Hal tersebut kemudian diperkuat dengan film yang diputar pada DMZ Theater. Setelah dari DMZ theater, kami kemudian menuju ke 3rd infiltration tunnel. Sebenarnya ada  1st tunnel dan 2nd tunel, tapi yang terbuka untuk turis the 3rd tunnel ini.  Tunnel ini ditemukan oleh tentara tentara Korsel dari orang-orang Korea Utara yang berniat melarikan diri ke Korsel. Panjang tunnel sekitar 1.5 km. Untuk turun kedalam, kita harus mempergunakan helm. Awalnya jalan turunnya adalah slope, lalu mendatar panjang dengan tinggi yang sepas saya. Jadi kalo yang lain harus merunduk, saya tidak perlu :-) Sayang, no photo available di area ini.

Erina didepan tugu the 3rd tunnel

Setelah dari 3rd Tunnel, kami kemudian dibawa ke Dora Observatory. Di Dora Observatory ini, kita bisa melihat area perbatasan dan kota di Korea Utara melalui Binocular yang disediakan. Tinggal masukkan koin ke Binocular. Di sekeliling Dora Observatory ini juga area photo terbatas. Ada garis batas yang membatasi area yang diperbolehkan untuk mengambil photo, dan sebelah dalamnya yang tidak boleh mengambil photo. Tak lupa terdapat tentara yang berjaga jaga.
Dora Observatory : foto dari belakang garis photo

Setelah dari Dora Observatory, tur kemudian melanjutkan ke lokasi terakhir, Dora Station. Jadi Dora Station ini dicita citakan sebagai stasiun kereta yang akan menghubungkan jalur kereta Korea Selatan ke Korea Utara. Stasiunnya sudah jadi, bagus, modern. Kalah lah Stasiun Gambir di Jakarta. Nah, ditengah jalan, terjadi perubahan kebijakan, sehingga yang awalnya Dora Station akan menjadi stasiun penghubung Korea Utara dan Korea Selatan, kini (masih) menjadi Stasiun terakhir Korea Selatan. Jadi antara Seoul dan Pyongyang belum bisa terhubung keretanya. Sedih ya. Padahal kalau jalur kereta Korea Utara dan Korea Selatan ini tersambung, langsung bisa tembus ke Jalur TransSiberia. 



inside Dorasan Station


Selesai dari Dora Station, bus beranjak kembali ke Seoul. Sembari menikmati pemandangan DMZ yang juga merupakan kawasan konservasi, saya mengaminkan doa yang terpampang di spanduk spanduk sekitar :  End of Separation, Beginning of Unification. Semoga!




2 Korea : Busan

Busan, kota selanjutnya di korea yang saya datangi. Juga merupakan kota terbesar kedua di korea. Jarak Seoul - Busan mirip dengan jarak Jakarta - Jogja. Bisa ditempuh dengan pesawat, bus atau kereta cepat. Kami ke Busan menggunakan KTX, kereta cepatnya Korea. Dengan KTX, Seoul ke Busan ditempuh kurang lebih selama 3 jam saja. Oiya, KTX ini free wifi selama 1 jam per 1 device. jadi kalo 3 jam, bawalah 2 atau 3 gadget berwifi kalo mau full wifi-an di kereta.

Tidak enaknya traveling ketika winter adalah waktu siangnya lebih pendek. Jam 8 pagi matahari baru terbit. sementara jam 16.30, matahari sudah bersiap siap tenggelam. Saya baru keluar dari kosan tempat nebeng sekitar jam 8. Bareng Pak Bos saya, kami naik Subway ke Seoul Station, dan tiba di seoul station jam 8.30an. Antri tiket, lalu naik KTX jam 9. Kami sampai di Busan Station kira kira jam 12an.

Busan merupakan kota pelabuhan. Busan terkonek ke berbagai  tempat lain di korea, juga ke luar negeri seperti China, Jepang dan Russia. Busan buat saya seperti kota idaman. Menyenangkan. Kotanya santai dan tidak hiruk pikuk tetapi tidak meninggalkan modernitasnya. Di area pusat kota, tetep megah dan banyak shopping mall. Belum lagi saya liat banyak manula manula busan yang berjalan sendiri atau beramai ramai di Busan dan masih keliatan sehat dan kuat. Dan jika dilihat lihat, penumpang MRT di Busan bisa 60%an lebih adalah manula. Busan semacam kota tempat pensiun yang nyaman. Seneng deh ngeliatnya.

Satu hal yang tambah nyenengin lagi di Busan, masih ada sisa sisa pohon yang masih berwarna kuning ketika saya datang. Dan besoknya ketika saya lewat jalan itu lagi, daunnya sudah rontok, hilang. Aku senanggg! Ini masih autumn beneran. Mungkin karena lokasi busan yang cenderung agak selatan dan timur dibanding Seoul, masih tersisa autumnya, membuat suasana dan cuacanya enak. Suhu di Busan masih cukup hangat dibanding di Seoul.

masih autumn di Busan

Saya menginap di WoW Guest House diarea Haeundae Beach (belibet macam sundanesse aja ngomongnya),  female dorm yang keren menurut saya. All key automatic by pin number lock. Kamar dan shower room juga nyaman. 6 bed female dorm, tapi saya sendirian *krik*. Cukup garing si. untung cuman numpang tidur doang.

Tempat pertama yang didatangi adalah Masjid Busan. Dari Busan Station, kami naik MRT ke Dusil Station, lalu jalan kaki sekitar 20 menitan. On the way masjid ini yang saya masih nemu daun daun kuning. Kerennya! Saya juga terkesima sama restauran masakan turki disamping masjid Busan. Bangunannya bener bener keliatan hommy banget. Udah gitu makanannya enak. Dan tau ga apa nama restaurantnya? Cappadocia. Yang saya baru tau belakangan bahwa Cappadocia adalah nama kota di area tengah turki. Saya pada akhirnya berfikir, bukan kebetulan juga ketika akhirnya setelah saya sampai Cappadocia restaurant di Busan ini, saya bisa sampai kota Cappadocia benerannya di Turki 2 minggu selanjutnya tanpa ada plan khusus ;-). A Big outside me has a great plan and has a way to make sure it is works.

Plang Busan Fatah Masjid

Busan Fatah Masjid


Cappadocia Resto beside Busan Masjid


Dari masjid busan, kami menyusuri pantai Haeundae. Rapih. tipikal pantai kota. Tapi menyenangkan buat jalan. dan yang lebih sipnya, terurus banget. Busan Aquarium juga terdapat di area pantai ini. Namun ketika dilihat jumlah hewan dan harga tiket masuknya, kami tidak jadi masuk ke Busan Aquarium. Hanya berjalan sampai ujung, dan karena senja sudah nyaris hilang, kami keluar area pantai.

Hai Pingu Pingu

Haeundae Beach, ada renovasi
Kami ke pusat kota Busan, iseng, mengunjungi  Shinsegae, mall yang katanya mall terbesar didunia. Disebrangnya juga terdapat Busan Cinema Center yang katanya tempat pergelaran Busan International Film Festival yang sangat terkenal itu. Sayangnya ketika kami datang, sedang tidak ada event festival sehingga suasana di Busan Cinema Center sepi. Tapi lucu juga liat poster poster filmnya.

Gedung Busan Cinema Center

Poster poster film yang lucu di Busan Cinema Center

Akhirnya setelah keluyuran nongkrong ga ada ide di mall, nanya nanya harga sk-II buat temen yang mau nitip, dan ternyata harganya tetep mahal,trus kami balik ke penginapan lagi. Mandi dan tidur. Blek.

Besok harinya, pagi pagi kami ke Jagalchi Market alias fish market Busan. Jadi satu gedung Jagalchi itu merupakan semacam ITC untuk jualan hewan hewan laut. Di lt.1 jual fresh item, Lantai 2 untuk jual hewan laut yang dikeringkan dan restaurant. Diluar gedung juga banyak terdapat kios kios penjual ikan segar dan hasil laut lainnya. Rapiii jalii tertata. Bersih pula walaupun merupakan tempat jualan hewan laut yang amis amis. Iri deh ngeliatnya.  Pas sebelah gedung, terdapat pelabuhan tempat kapal bersandar untuk kemudian menjadi tempat dimana hasil tangkapan ikan dan hewan laut lainnya dilelang. Seru pas ketika kami menyaksikan langsung edisi bersandarnya kapal dan proses lelangnya. Nah, disini baru keliatan orang orang korea yang engga operasi plastikan :-)

Nungguin Ikan Datang

Siap siap lelang di Jagalchi Fish Market

Sotongnyaaaa

there is also fish market outside Jagalchi tower, 

See You again

Siangnya, memburu sholat Jum'at, kami balik lagi ke Masjid Busan. Daripada cengok nungguin, akhirnya saya ikutan sholat Jum'at. Sholat Jum'at pertama. Yayyy! Nah, yang paling saya suka dari masjid masjid di negara minoritas muslim, terutama pas ketika sholat Jum'at adalah, bisa ketemu berbagai muka bangsa bangsa lain yang datang ke Masjid. Seperti ketika jumatan di Masjid Busan ini, saya akhirnya ketemu dan kenalan dengan jamaah perempuan lainnya dari berbagai bangsa. Ada Kak Jai dari Malaysia, ada Aminah, mualaf yang dari Russia, ada si cantik manis dari Prancis, dan ketemu mba mba Indonesia juga yang sudah lama kerja di Korea. Seru ngobrol sama mereka!

Smilee..edisi Jumatan di Busan Mosque

Selesai edisi jumatan, kami kemudian jalan menuju Hae Dong Yong Gung Temple. Reccomended by bapak bapak temen kantor yang sudah pernah ngendon lama di Korea. Untuk menuju kesana, harus pakai bus dahulu. Kami naik MRT dan turun di Haeundae Station. Dari Haeundae station baru naik busnya. Lumayan jauh dan sudah diluar kota Busan. Dan kata teman kami itu, agak agak sulit menemukan jalan masuk ke templenya. Hanya orang orang berhati bersih saja yang berhasil nemu tanda masuknya. *Halah*

Kami naik bus dari si pak bos dah nyalain GPS-nya. Perjalanan masih aman dan sesuai track. Tapi, errr, ketika sudah dua pertiga perjalanan, ditunjang bus yang juga ngebut, kami ketiduran. Dan bangun bangun bus dah melenceng jauuuuh banget dari lokasi seharusnya. Saya masih setengah sadar pas dibangunin untuk turun, "tik, tik, bangun..kita kebablasan jauh". Lalu buru buru turun di halte terdekat. Akhirnya balik arah dengan nyebrang dan nunggu bus nomor yang sama. Memang ketika turun, agak susah menemukan tanda tempat turun si Temple ini. Ada sign temple tapi tidak begitu kelihatan. Dari perempatan tempat turun, kami masih harus jalan kaki lagi sekitar setengah jam untuk sampai Temple di pinggir pantainya. Tadaaa..akhirnya ketemu templenya. Yay, karena berhasil nemu temple, boleh dong ngaku kami kategori manusia berhati bersihhh! (errr...memuji diri sendiri :)) )

Halte bus di dekat Hae Dong Yong Gung Temple


Sign : Hae Dong Yong Gung Temple

Dan Haedong Temple saat sunset jadi sangat kereeeennn sekali. Pink Sunset. Ada untungnya juga kami ketiduran di bus dan kebablasan jauh. Jadi pas datang, pas bagus sekali langitnya. Diluarnya temple banyak terdapat patung patung lucu. Lucu maksudnya patung versi dewa tapi dewanya dibikin model kartun. Mirip yang di Jepang deh. Dewa dewa model ketawa ngakak, dewa model mata komik. Hihihi.

Lirikan matanya :-)


Celengan Babi lucu
Smile lagiii



Pinky sunset





Langit gelap, jalanan mulai sepi, akhirnya kami kembali naik bus ke menuju Busan. Turun di Haeundae Station, naik MRT kembali menuju Busan Station untuk naik KTX ke Seoul. Tinggal 2 stasiun lagi dan ternyata MRT nya berhenti lama. Gangguan! hadeuhhh. Tapi bagusnya,bener bener dikasih tau bahwa kereta nya lagi bermasalah. Jadi penumpang dipersilahkan keluar dan bisa refund tiketnya. Karena takut lebih lama dan malam lagi ganguannya, akhirnya kami naik taksi keluar menuju Busan Station. Tiba di Busan Station, beli tiket KTX dan kembali duduk manis di KTX menuju Seoul.


1 Korea - Seoul part 1

KOREAAAAAA...
SNSD, SUJU, K-Pop, K-drama?

Aduh, sayangnya saya bukan fans penggemar mereka. tau aja minus banget. Selintas angin. Mentok tau cuma si PSY aja, oppa gangnam style. Ya keterluan juga si kalo saya sampe ga tau si Psy.

Alasan saya ingin ke korea sebenernya cuman satu. Cuman ingin menikmati autumnnya. Dan katanya autumn korea lumayan keren. Dan tiketnya lebih murah dibanding ke tempat lain seperti Jepang atau Eropa. Pas kebetulan, saya dapet tiket murah meriah naik Cebu Airlines ke Korea pas autumn. Tiket pp cuman sekitar 1.6juta rupiah dari jakarta, dengan transit di Manila.

Apa daya, karena satu dan lain hal, saya gagal berangkat ke korea pas autumn. Padahal visa juga sudah ditangan.

Sekitar sebulan dari tanggal saya harusnya berangkat ke korea dan gagal itu, karena sesuatu hal, saya dapat kesempatan dari kantor untuk ke : KOREAAA..Wow! itu yang dikatakan rezeki tidak kemana. Gusti Allah ga pernah salah naroh rezeki yang memang udah jatahnya. Tinggal sabar sedikit, waktu yang akan menjawabnya. Walaupun bukan autumn, tapi winter, amazing banget akhirnya saya bisa berangkat ke korea.  Karena winter pula, persiapannya tambahannya jadi banyak. Jaket tebal lah, kaos tangan, kaos kaki dan teman temannyalah. Saya nyaris gagal light packing. Tapi akhirnya saya siasati dengan bawa hanya 3 pasang baju, 1 sweeter, 2 jaket tebal, 2 pasang longjon. Siasatinya dengan bawa jilbab lumayan banyak dengan warna warni berbeda. Hahaha. Setelah dilihat pas pulang, list diatas masih kebanyakan juga, bawahan bisa dikurangi 1, jaket juga bisa dikurangi 1. Eh iya, walaupun korea dari kantor cuman 6 hari, saya plannya sebulan untuk pergi.

Pergi  bareng rombongan kantor, disatu sisi enak, tinggal duduk di bus, dianter anter, ada guide yang menemani, datang duduk lihat makan foto lah. Iya, enak banget, saking enaknya, saya ga ngerasain apa-apa. hahaha. Maka dari itu, kelar rombongan, saya dan teman saya memutuskan extend sendiri, dengan resiko tiket pulang ke Jakarta hangus. Apa jadinya pergi ke negara super maju seperti Korea tanpa touch ke kehidupan sehari harinya masyarakatnya, Yang simpel saja, naik mrtnya misalnya.

Bersama rombongan, kami mengunjungi Nami island, Mt. Seoraksan, Teddy Bear Museum, Gyeongbok palace, Kimchi School, dan berbagai macam tempat belanja. Tapi saya sangat menikmati pergi bersama rombongan ini, kapan lagi pergi seperti princess, santai dan nyaman. Walaupun tetep disela sela acaranya, saya sempetin juga kabur kabur sejenak.

Nami island

Nami island asalnya adalah pulau buatan. Ketika bus sampai di parkiran Nami island, tersedia kapal Ferry yang akan membawa pengunjung menyebrang ke nami island. Selain kapal, menyebrang juga dapat dilakukan dengan menggunakan flying fox. Adu nyali banget kalo pake itu. Tempat terjun awalnya yang tinggi serta anginnya yang dingin.

ferry to nami

welcome to naminara republic


 Untungnya di Nami island acaranya adalah santai bebas. Jadi bisa kemana saja dengan santai. Wah,di Nami Island masih ada sisa daun daun jatuh. Selaksa seperti sisa autumn yang masih menyambut di jalan utama Nami. Lebayyyy... Oiya, Nami Island terkenal dengan drama Winter Sonata. Berbagai tempat di Nami Island juga menunjukkan fragment dalam Winter Sonata tersebut, seperti first kiss place. Tapi saya benar benar no clue  dramanya kayak apa. Jadi ya, saya hanya foto foto saja. Awalnya berencana setelah kembali ke Jakarta saya akan nge-youtube Winter Sonata. Sampai tulisan ini dibuat sekarang tetep belum (dan malas) juga nge-youtubenya. Selain itu, yang ga boleh ketinggalan di Nami Island ada;ah jajan rice cake . Rice cake ini terbuat dari tepung beras, dikasi madu/gula, plus cinnamon. Sumpah, enak banget. Harganya cuman sekitar 10.000 rupiah. Lihat aja dari antriannya yang lumayan panjang. Yummyyy.

masih ada sisa daun gugur

a walking monk

rice cake dan antriannya


Mt. Seoraksan

Dari Nami island, kami diantar ke Mt.Seoraksan. Kami sudah digadang gadang bahwa di Mt Seoraksan cuaca akan lebih dingin, karena di area pegunungan. Dan memang dingin beneran. Tapi besok harinya, cuaca sangat bersahabat dan cukup hangat. Matahari cerah dengan suhu sekitar 8 derajat.


masih ada sisa salju
Untuk menuju atas Mt.seoraksan kami naik cable car. Dilanjutkan dengan menyusuri tangga tangganya dan yang terkadang licin karena bekas salju mencair. Dibeberapa area masih ketinggalan sisa sisa saljunya. Putih diantara pegunungan plus langit birunya tambah bikin cantik suasana diatas. Icon beruang muncul disana sini. Menurut guide kami, bangsa korea meyakini bahwa beruang merupakan asal usul nenek moyang mereka. Aneh.

udah diatas seoraksan

beruangggg
ada patung budha gede di seoraksan

Teddy Bear Museum

Dalam perjalanan balik ke Seoul, kami dimampirkan ke Teddy Bear Museum. Kalau tidak salah, ada beberapa lokasi Teddy Bear museum ini di korea, salah dua nya di Jeju island dan di Seoul dekat Namsan Tower. Saya kebetulan tidak masuk kedalamnya, malas bayar lagi dan juga mengejar sholat di area luar museum. Tapi saya cukup puas dengan foto foto diluar Teddy Bear Museum ini.

didepan teddy bear museum


Itaewon area

Di Seoul, hotel kami berada didaerah itaewon. Itaewon ini semacam area berkumpulnya foreigner. Jadi banyak ditemui dijalan jalan Itaewon ras ras lain selain korea. Salah satu yang terkenal di Itaewon adalah Masjid Besar Seoul. Kalo ga salah, di Korea hanya terdapat 2 masjid besar dan beberapa masjid kecil. Masjid besarnya yang satu berada di Seoul, yang satu lagi berada di Busan. Jarak dari hotel kami ke ke Masjid Itaewon Sekitar 20 menit. Karena tidak terlalu jauh, biasanya saya dan beberapa teman keluar sekitar jam 5.45 pagi, jalan kaki menuju masjid untuk subuhan sekitar jam 6.15. Saya sampai kenal dan hafal langkah masuk satu satunya pengunjung wanita di Masjid itu. Namanya Aminah, Korean, Mualaf sejak 6 tahun lalu. Cantik asli korea. Namun satu dan lain hal, beliau tidak bersedia difoto. Aminah tinggal disekitar Itaewon. Saat saya tanya, kenapa Aminah pindah ke Islam, padahal keluarganya masih dengan keyakinan lamanya, Aminah menjawab karena Islam simpel. Ga neko neko, konsepnya jelas dan terang. Saya manggut manggut malu. Btw, Aminah ini berhijab dan mengenakan cadar. itu juga salah satu alasan tidak bersedia difoto tadi. 

Mesjid besar Itaewon


Nanta show

Nah, ini seru. Jadi Nanta show ini adalah pertunjukan  teatrical musical dengan basis penggunaan dapur beserta peralatan dan kelengkapannya. Ada sekitar 5 artis panggung yang tampil. Mereka menari, menyanyi dan berkabaret. Seru. Menarik. Kalau punya waktu dan budget, Nanta show recomended menurut saya. Cuma tiketnya lumayan mahal juga, 50.000 won atau sekitar 500.000 rupiah.
panci panciii di Nanta Show


Kimchi school dan Pakaian traditional korea

Ini paket dari turnya. saya sendiri kurang jelas lokasinya diarea mana. Kimchi merupakan makanan khas banget dari korea. Segala macam hidangan pas waktu makan dikorea pasti ada kimchinya. Awalnya, untuk persediaan musim dingin, orang korea membuat semacam sayuran yang bisa diawetkan dan tahan lama. Berbagai macam sayuran bisa dijadikan bahan dasar kimchi mulai dari sawi putih, lobak, etc. Di kimchi school, saya kira kami akan membuat kimchi dari awal. Ulek ulek atau belender bumbu trus oles oles. Ternyata,selain dijelaskan oleh masternya, kami hanya mengoles oles sambal bumbu kimchi tersebut ke sayurannya. Oalahhh..kelar dalam 5 menit deh saya. hahaha


si ibu pengajar yang semangat

errr..ngolesin sawi

Di bagian bawah kimchi school, terdapat studio untuk foto foto memakan pakaian traditional korea. Seru dan lucu. saya suka model bajunya.



Gyeongbuk palace dan National Museum of Korea.


at gyeongbok palace

Kedua lokasi ini letaknya berdekatan. National museum of korea menampilkan histori korea dari masa ke masa. Enaknya terdapat children section pada museum tersebut. Dibagian luar National Museum juga terdapat area bermain yang luas dan contoh rumah traditional korea dalam tiap bagiannya.

outside national museum

rumah rumah lama bergaya korea

ruang makan

Selain ke tempat tempat tersebut, selebihnya kami ditenteng ke tempat tempat belanja. luis vuiton lah, ke tempat ginsenglah, ke tempat batu amethis lah. saya sampai lupa lagi. Intinya si, kalo saya ga extend, saya mungkin akan menyesal ke korea. hahaha. lanjutannya yang episode extend di tulisan selanjutnya.