Setelah seharian kemarin mengunjungi bangunan-bangunan kuno china, maka kalau hari ini saya datengin lagi, pasti saya akan bosan tingkat tinggi. Jadi rute saya hari ini adalah mengunjungi Great Wall dan Olympic Stadium
Great Wall
Sebenarnya ada berbagai pilihan tujuan GreatWall yang bisa didatangi, diantaranya Badaling, Mutianyu, Jiankou, Jianshanling, dst. Saya akhirnya capcus memilih yang Badaling dikarenakan paling simple transportnya (dan paling murah), walaupun katanya tourist banget. Sudah saya coba hindari dengan ke Great Wall tidak dihari sabtu/minggu, tetapi Senin, sehingga saya masih bisa mendapat spot-spot kosong di beberapa section Great Wall Badaling.
tiket masuk Great Wall yang berbentuk PostCard
Seperti yang saya ceritakan di tulisan lalu, saya ke Badaling dengan nge-follow 2 student dari France, Benjamin dan Antono. Benjamin kuliah di Shanghai sementara si Antono di Beijing ambil Teknik Industri. Riweh berangkat bareng mereka adalah langkah mereka yang panjang sehingga saya harus ekstra langkah untuk ngimbangin langkah mereka. Kami naik MRT ke Jishuitan, keluar MRT, belok kiri lurus terus hingga ketemu terminal bus. Agak susah juga dicari. Si Benjamin yang bahasa chinanya sedikit lebih bagus dari Antono, harus nanya beberapa kali untuk bisa ketemu terminalnya. Ah, untung saya hanya ngikutin mereka :D. Akhirnya kami ketemu bus no 877 yang langsung membawa sampai Badaling. Ongkos sekali jalan 12 RMB. PP jadi 24 RMB, plus tiket Masuk Badaling seharga 45 RMB. Lucunya, tiket Badaling ini bentuknya kartu pos, jadi saya suka banget dapetnya. hehehehe. Total transport dan tiket ke Badaling jadi hanya 69 RMB untuk ke Great Wall. Bayangkan kalau ikut Travel Agent, minimal adalah 180 RMB dan biasanya sudah paket dengan Badaling+MingTomb. Btw bus ini jumlahnya lumayan banyak. Tapi maksimal mereka balik dari Badaling ke Beijing itu jam 4 sore.
coretan tinta seniman
ki : Antono, ka : Benjamin
Track Badaling ini lumayan seru, seru untuk nanjak dan meluncur. Bahkan ada jalur yang mirip sama papan perosotan. Kalau dilihat, temboknya memang sudah direstorasi . Walau begitu, sambil ketawa, dua bule perancis itu bilang kalo kita lagi jalan diatas kuburan. Kata mereka, coba hitung berapa banyak orang yang meninggal untuk membangun tembok ini. Mungkin satu langkah kita menyusur, 10 orang bisa meninggal disini.
sepi kan? coba kalo weekend..beuhhh
meliuk liuk
yang berbentuk tangga
meniti tepi tembok
section 6 dan 7 direstorasi dengan hibah dari Pakistan
Kami keluar Badaling jam 2 lewat. Ternyata di antrian bus menuju Beijing, saya ketemu enci’ dari Palembang. Gimana ga gampang dikenalin, lha wong saya pake batik.hihihi. Enci’ ini ternyata punya travel agent dan sedang survey jalan untuk tripnya. Lumayan, kembali berbahasa Indonesia.
Sampai Beijing, setelah say goodbye sama Benjamin dan Antono, saya ke Nuijie lagi untuk cari makanan dan sholat.
Olympic Stadium
Dari Niujie, saya naik MRT menuju Olympic Sport Center Stadium yang ada di Line 8. Setelah Olympiade Beijing 2008, Olympic Stadium atau dikenal juga dengan Bird Nest (karena mirip sarang burung) menjadi ikon selanjutnya yang didatangi di Beijing. Satu paketan dengan Bird Nest adalah Water Cube yang posisinya saling berseberangan. Lebih baik dikunjungi senja menjelang malam karena cahaya lampu membuat keduanya jadi tambah keren. BirdNest dengan warna merahnya. Water Cube dengan Birunya. Dan harus diperhatikan pula posisi batere kamera, karena batere saya habis sebelum saya puas foto-foto di Olympic Stadium.
Add caption
water cube
Bird Nest
Olympic Stadium mengakhiri petualangan saya di Beijing.
Hari ke 2 di Beijing, saya berangkat agak siangan. Ini gara-gara si
Brazil yang satu hostel merekomendasikan untuk dateng ke Lama Temple yang cuman
100 meter dari hostel. Padahal tadinya saya ga minat kesana. Akhirnya karena
direkomendasikan bagus dan cuman ‘selangkah’ dari hostel, saya jalan ke Lama
Temple yang baru buka jam 9. Tiket
masuknya lumayan mahal untuk ukuran Temple. 40 RMB, atau sekitar Rp 60.000,- Dapet
cd kecil, tapi saya belum pernah buka CD nya sampe sekarang :D. Ternyata
saya baru tau kalo Lama Temple itu merupakan Tibetan Temple. Jadi itu mungkin
penghubung Lama dengan Lama pada Dalai Lama. Hall-hall di Lama Temple
disusun berdasarkan garis lurus Utara-Selatan.
hall depan lama temple
tiket masuk
semacam taplak meja, tapi miniatur
Temple of Heaven
Dari Lama Temple, saya ke Temple of Heaven alias Tian Tan alias si
Kuil Surga. Naik MRT line 5, turun di Tiantan Dongmen Station. Karena
terjadi salah orientasi arah, terpaksa saya muter
jauh. Temple of Heaven ini iconic Beijing sekali, selain GreatWall dan
Forbidden City. Photo-photo Temple of Heaven yang sering dilihat bangunan melingkar kerucut itu sebenernya bagian dari Temple of
Heaven, namanya Hall of Prayer for Good Harvests. Bangunan ini murni dari kayu
semuanya. Keren.
dari jendela pintu
Hall of Prayer for Good Harvests
Miniatur : menunjukkan semua dari kayu
katanya ini ruangan tempat si kaisar ganti baju sebelum ada acara
Jembatan matematik
Ini sebenernya ga sengaja ngeliat pas saya Jalan dari Temple of
Heaven ke Forbidden City (kapok,5 kiloan dalam kondisi capek, jadi jauh banget
terasa jalannya J ). Lewatin hutong-hutong Beijing, eh tau tau di perempatan ada persamaan
matematik ini :
Yeahh, untung ga ada lambang integral disitu
Tiananmen Square &Forbidden City
Begitu melihat gambar Mao Zedong dari jauh, “akhirnya sampai juga!”
kata saya dalam hati. Yang saya inget
ketika sampai di Forbidden City adalah Film The Last Emperor, yang
menggambarkan kaisar PuYi, kaisar terakhir China yang hanya bisa berkuasa disekitar
Inner Court dari Forbidden City, sementara yang bagian luarnya diserahkan untuk kepentingan umum. Dan Forbidden City merupakan area yang luasss
banget, terdiri dari banyak Hall dan museum. Jangan suruh saya nyebutin
nama-nama Hall-nya, karena sama sekali ga hafal. Yang jelas, Tiananmen Square dan Forbidden
City jadi semacam symbol politisnya dengan adanya Tiananmen Square Protest
tahun 1989. Jadi, menurut yang saya dengar kemarin, sekarang segala macam
kumpul-kumpul yang agak melibatkan orang banyak dilarang dilakukan, dikarenakan
pemerintah China takut terjadi protes seperti tahun 1989 itu.
mukanya dingin banget
om Mao gambarnya dah keliatan
baru masuk area inner dari Forbidden City
tembok yang mengelilingi Forbidden City
WangFuJing Street
Keluar dari Tiananmen dan forbidden city, saya ke WangFujing Street,
yang merupakan salah satu Shopping Street besar di China. Menurut saya, yang ngalahin WangFujing itu
cuman East Nanjing Road di Shanghai, yang juga sama-sama shopping street
besar. Karena saya sangat tidak
bermaksud untuk belanja, jadi saya hanya menyusur saya WangFuJing Street yang
dihiasi lampu lampu malam yang keren. Ketika belok, saya nemu WangFuJing Snack
street, berupa kios kios yang menjual berbagai macam makanan. Dari mulai yang
standar sampai yang aneh-aneh macam bintang laut, kalajengking, silkworm
pupa.
wangfujing Street
wangfujing snack market
baru starfish
ini yang jijay jijay
Ketika
balik ke Hostel, roommate saya kaget dengan terlalu banyaknya tujuan saya hari
ini.
Besok
paginya, abis sarapan energen , yang seadanya, saya langsung capcus ke Summer
Palace. Yah, selera makan saya memang ga patut ditiru kalo lagi travelling.
Tidak beraturan , dan males effort jalan jauh .
Seperti yang contekan saya bilang, Summer Palace gampang diakses, keluar
dari Line 4 MRT di Beigongmen Station, Lalu langsung belok kiri. 300 meter dari
situ sudah ketemu Pintu Selatan Summer Palace.
Summer
Palace merupakan perpaduan taman yang sangat besar, dengan berbagai sceneric
area: temple, Danau, garden, Suzhou street yang mirip Venicenya Italia. Pas
saya kesana banyak orang China yang melakukan Taichi, bahkan ada yang paduan
suara. Memang tempat untuk relax. Ikutin aja bukit-bukitnya, sampai nyasar dan
akhirnya ketemu pintu keluar lagi.
Suzhou Street di Summer Palace : Masih ada sisa bongkahan es-nya
ada paduan suara di bukit. Nyanyi lagu traditional
suka ama tekstur pohon ini
bongkahan esnya banyak
Garden di Summer Palace
Icon Pagoda, diintip dari balik pintu
Latarnya Kunming Lake
Beijing
Zoo
Habis
dari Summer Palace, saya pergi ke Beijing Zoo. Demiii…demi melihat Panda dong.
Secara masuk dalam salah satu hewan favorit.
Jadi, saya masuk Beijing Zoo langsung menuju ke area Panda. Kirain
banyak Panda-pandanya. Ternyata saya cuman liat 2 Panda. Hiks.Gapapa deh.
Setidaknya punya alesan lagi untuk dateng ke Sichuan, China buat liat Panda di
Research Basenya. Udah gitu Pandanya
mojok dan diem aja lagi. Tambah bikin mereka jadi ga keliatan imut-imut.
Tapi
ternyata saya baru tau. Panda yang sejenis sama beruang, dikarenakan aslinya
Karnivora namun dengan proses adaptasi jadi makan Bambu. Makan bamboo ini, yang
low nutrition, mengakibatkan si Panda harus membatasiinteraksisosialnyadan menghindarimembatasipengeluaranenerginya. Ya sudahlah.
Beizing Zoo dicapai dengan naik MRT keluar di Exit A, langsung belok
kiri dah ketemu loket tiket masuknya.
Meringkuk
Niujie Mosque
Selepas Beijing Zoo, saya ke Niujie Mosque. Penasaran sama Masjid
tapi bentuknya bukan kayak Masjid. Sama cari makan Halal si disekitar Niujie.
Turun di Changchun Jie Station. Habis itu jalan jauh sekitar 2 km. Hiks.
Harusnya bisa sambung naik bus. Cuman pas keluar station aja saya bingung jalan
kearah mana. Nanya orang-orang ga pada tau. Ya sudah, muter-muter nyasar dulu
sekitar stasiun, baru setengah jam kemudian dapet arah yang tepat.
bisa ngejanya kan? ;)
Niujie Mosque
ukiran di Mosque
ruang sholat cowo
makam
ini ada di museum dalam lingkungan Niujie Mosque
Masjidnya bener-bener kayak Kuilnya China. Untuk non Muslim, masuk
dikenai tiket masuk. Kalo yang Muslim bebas . Model bangunannya juga ga cuman
1, tapi terdiri dari Hall-hall. Prayer Room untuk laki laki dan perempuan beda
bangunan. Lalu ada Hall buat Adzan juga. Ada Museum pula di belakang.Lalu ada
makam Jadi mirip kompleks gitu. Pas di female Mosque, ketemu sama serombongan
muslimah dari China tengah. Lucu deh ngeliat muka oriental berjilbab. Tapi
tetep juga si mereka exiting ngeliat saya. Ngajak foto bareng segala.Hahaha
I'm at Female Nuijie Mosque
Habis dari Niujie Mosque, saya lalu pergi ke Supermarket Muslim yang
dekat situ. Puas jajan-jajan cemilan, abis itu ke foodcourtnya. Akhirnya makan
beneran juga hari itu. Hahahaha