Foto diatas diambil di karimun jawa, Juli 2010
Saya meng-captionnya : United Colour of Benetton (inget tas)
Tetapi ada satu temen yang komentar di fb terhadap foto tsb sbg Para Penyembah Matahari.
Saya meng-captionnya : United Colour of Benetton (inget tas)
Tetapi ada satu temen yang komentar di fb terhadap foto tsb sbg Para Penyembah Matahari.
Entah mengapa, sewaktu teman saya Lutfi memberitahu bahwa judul novel pertamanya yang akan terbit adalah Para Pemuja Matahari, Saya langsung teringat foto diatas, bukannya kebayang suku/bangsa penyembah matahari seeperti Mesir kuno, Jepang, Aztec/Inca/Maya di Amerika Tengah / Selatan. Lalu saya tanya Lutfi mengapa judulnya Para Pemuja Matahari? Dan jawabnya ternyata ada di novelnya halaman 199 bahwa pemuja matahri iu adalah kaum yang....ah, ga seru nanti :)
Saya pecinta fiksi,
Tapi saya ga pernah punya teman berjenis pekerjaan penulis,
Saya juga ga pernah punya impian jadi penulis, dan sama sekali ga tau ttg dunia publishing di Indonesia.
Maka saya amaze aja waktu lutfi cerita dia mau nerbitin novel perjalanannya yg pertama, dengan cara self publishing...
Tapi saya ga pernah punya teman berjenis pekerjaan penulis,
Saya juga ga pernah punya impian jadi penulis, dan sama sekali ga tau ttg dunia publishing di Indonesia.
Maka saya amaze aja waktu lutfi cerita dia mau nerbitin novel perjalanannya yg pertama, dengan cara self publishing...
Wow
SELF publishing
I never never imagine that..
Nulis sendiri,nyetak sendiri,layout cari sendiri, editor sendiri, cari komentator sendir,dsb dsb yg saya ga tau apalagi seluk beluk publisher. Seperti kata lutfi, nerbitin novel pertamanya ini ibarat melahirkan bayi pertama. Walau saya jg blm tau gmn rasanya ngelahirin bayi :D
Para Pemuja Matahari menceritakan kisah Naia, gadis 19 tahun yang mencoba keluar dari comfort zone nya, area dimana dia selalu dimanjakan orangtuanya. Naia mencoba mem-breakthroughnya dengan melakukan perjalanan ke beberapa daerah di Jawa dengan cara backpacking. Naia berkunjung ke Jakarta, Badui, Hiking ke Gunung Salak, menyambangi segara anakan di cilacap, memutari kota Semarang, trip ke Karimun Jawa dan akhirnya naia sampai ke Ijen.
Para Pemuja Matahari menurut kategori saya, bersifat deskriptip antropologis. Banyak keterangan deskriptif yang Lutfi masukkan untuk menceritakan kondisi sosial, budaya serta kehidupan daerah yang dikunjunginya.
Sentilan sentilan ke masyarakat juga banyak disisipkan oleh Lutfi seperti Esensi datang ke museum hanya untuk foto narsis, lalu tentang berubahnya masyarakat badui dalam, sindiran Lutfi terhadap kelakuan turis yang suka menjadikan orang-orang 'traditional' sebagai objek penderita foto, sindiran terhadap lagu "Naik naik ke puncak gunung", sindiran berguna ga si jalan-jalan yang sering dilakukan, sindiran sebegitu kurangnya tontonan bermutu di televisi sampai anak kecil pun terkena imbas merebaknya sinetron di masyarakat, sindiran lingkaran setan pendidikan terkait kreativitas, guru, hafalan bukan pemahaman, lalu sindiran ke warga daerah wisata yang cenderung mengistimewakan turis bule dibanding turis lokal.
Diluar sindiran-sindiran dalam novelnya, Lutfi juga banyak bercerita mengenai kekhasan alam dan budaya area yang Naia lewati, seperti ketika di badui ada daun pohon kirei untuk atap rumah, bunga kahuruam yang kalau dipetik bisa membuat kebakaran dikampung, buah kranji yang harga sekilonya Rp 80.000, lalu ada kertas ciamsi di Kuil SamPoKong Semarang.
Namun menurut saya, tokoh Naia, masih merupakan tokoh khayalan yang perfect, kaya, cantik, perfeksionis, bawa bawa ensiklopedia di kereta ekonomi, dan terlalu polos untuk jadi anak 19 tahun :). Penokohan dan pendeskripsian Naia di novel dalam bayangan saya masih sangat melekat dengan diri Lutfi sendiri. Penggunaan katanya juga masih melekat dengan penggunaan kata lutfi sehari hari seperti ngobrol ngobrol (ngomong ngomong, kau (kamu), nyebelin, konyol, dan ga bisa berenang. hahahaha..(peace fi)
Tapi tetep, novel ini layak dibaca, jadi silahkan yang berminat hubungi lutfi atau toko buku terdekat :)













