Showing posts with label telaga. Show all posts
Showing posts with label telaga. Show all posts

5 Dieng : Negeri Di Awan

Hai, halo, hula, hupp..
ada yang kangen sama (tulisan) saya?
#cuih-cuih..
hahaha.. 
(warning : posting panjang)

Semenjak dapet email ada Dieng Culture Festival (DCF) 2012 yang akan dilaksanakan tanggal 30 Juni sd 1 Juli 2012, saya iseng forward ke temen2 yang sekiranya mau diajak jalan susah kesana. Kenapa jalan susah? Karena Dieng terletak di dataran tinggi, masuk dalam Kabupaten Banjarnegara. Akses kota terdekat  dari Dieng adalah dari Kota Wonosobo. Sementara kalo mau ke Wonosobo langsung dari Jakarta optionnya adalah naik bus sekitar 14 jam perjalanan. Jika ingin naik kereta, bisa, tapi stasiun terdekat adalah Stasiun Purwokerto.Purwokerto-Wonosobo juga masih harus ditempuh selama 3 jam-an. Nah, susah kan? Ya jelas engga dong tikk..

Episode selanjutnya setelah menyebar email tersebut adalah lupa. Seminggu sebelum tanggal 30 Juni, saya chat sama mba Rini dan nanya apa dia mau pergi ke Dieng pas DCF tersebut. Gayung bersambut, ternyata mba Rini merencanakan pergi kesana dengan teman-temannya. Singkat kata akhirnya saya dimasukkan dalam looping pembicaraan ke Dieng ini bareng teman-teman mba Rini, sementara akhirnya Saya Jadi berangkat ke Dieng tanpa mba Rininya karena beliau mengubah tanggal keberangkatan.

Beberapa waktu lalu, @kartupos pernah mengeluarkan topik enaknya travelling sendiri atau secara berkelompok. Tulisan saya sebelumnya yang ini sedikit cerita enaknya Solo Travelling. Nah, salah satu enaknya travelling kelompok, terutama sebagai anggota, adalah ga sibuk mikir ini-itu bikin itinerary segala macem, tinggal terima beres aja. Hahahaha. Tapii, paling penting dalam travelling kelompok adalah teman perjalanan yang ga rese. Dan untungnya, kali ini saya beruntung dapet teman sejalan yang asik-asik semua. . Kalo temennya ga asik gimana? Itu deritalo..hahaha.. 

Perjalanan dimulai dengan naik Damri jurusan Wonosobo, jadwal  berangkat harusnya 18.30. Tapi gara-gara, salah satu teman kami yang telat, akhirnya baru berangkat jam 7 lebih. Ritual jumat yang macet pun ga terelakkan. Jam 21.30, baru busnya keluar dari Bekasi. FYI, Damrinya Ekonomi karena kita kehabisan yang AC. Rasanya dalam bus macet panas dan ga gerak-gerak itu bener-bener nyebelin minta ditendangin. Dann, karena banyak jalan yang menuju Wonosobo baru diperbaiki, alhasil jam 10 pagi kita baru sampe Wonosobo.Sutris dijalan. Etapi tiket busnya cuman Rp 53.000,- itu juga udah pake kotakan snack, yang kalo saya itung harganya sekitar Rp 5000,- 

Sampai di Wonosobo, kami dijemput Supir mobil rental. Perjalanan langsung dilanjutkan ke Dieng dengan terlebih dahulu mampir makan. Jatohnya jadi dinbrunch..secara saya belum makan malem, sarapan kelewat dan mau masuk waktu makan siang. Sup kambing jadi terasa tambah nyoss. No picture emang hoax, boro-boro inget motoin dulu sebelum makan :-) blebepblebepblebep

Kami akhirnya tiba di penginapan. Nama penginapannya Arjuna 2 kalo ga salah. Letaknya sepanjang jalan utama area Dieng tsb. Asal bukan peak time, nyari penginapan si harusnya gampang ya. Kemarin itu, saya dan teman-teman dapet harga per kamarnya Rp 150.000 Double bed. Ada air panas dan Ga pake AC (Jelaslah! Malah kami nyari remote AC alam untuk ngecilin suhu yang bikin menggigil meski udah pakaian lengkap plus kaos kaki plus selimutan 2 lapis)

Dari penginapan, pemberhentian pertama kami adalah Telaga Warna. Telaga ini artinya Danau, alias Situ kalo di daerah betawi. Tapi saya lebih suka denger pronounciation Telaga jadi "Tlogo".Lebih eksotis..aisshh!
Butuh sedikiitt treking 500 meteran utk naik ke bukit kecil dan melihat Telaga Warna secara keseluruhan. 14 Jam naik bus langsung terlupakan begitu liat telaga ini. Dan kamera terbaik untuk mencapturenya adalah kamera buatan Tuhan langsung alias si mata ini.Ga perlu pake setting aneh-aneh. Tlogo warna ini telaga yang mengandung sulfur, jadi kalo dilihat lebih dekat, keliatan ada blubup blublup dari airnya. Dan tentu saja tidak ada ikannya karena pengaruh sulfur tersebut.
Telaga Warna dari atas Bukit
sepertinya saya sedang bercermin, saking beningnya..*no edit*


telaga warna dari bawah
Dari Telaga Warna, kami ke Kawah Sikidang. Karena kebiasaan daerah Jawa Barat kali ya, saya suka salah nyebut huruf S nya jadi huruf C. Kayak Kawah Sikidang, kebablas jadi Kawah Cikidang. Lalu Bukit Sikunir, kebablas jadi Bukit Cikunir (Lo kata gerbang tol !).

Kawah Sikidang ini masih cukup aktif, sambil memilah milah jalan di area yg terserah sumber sulfurnya, jangan lupa untuk punya masker penutup hidung. Di kawah juga banyak yang jual masker model dokter gigi itu, yang sama rata seharga Rp 2000 per buahnya. Ada penyewaan sepeda juga. Lalu ada penyewaan spot photo lengkap dengan kuda dan motor-motoran buat gaya-gayaannya.  Area kawah Sikidang juga banyak penjual makanan, kentang, penganan dan oleh-oleh khas Dieng lainnya.

suasana sekitar kawah sikidang

Studio photo?
kawah sikidang yang mlepuh mlepuh
Dari Kawah Sikidang, kami ke Komplek Candi Arjuna. Ada sekitar 8 candi yang berada di komplek ini. Ada beberapa lain yang berupa reruntuhan. Sekitar kawasan candi didesain menjadi taman. Yang saya liat, banyak bunga terompet sekitarnya. Kawasan Candi Arjuna ini digunakan untuk lokasi upacara pemotongan rambut gimbal esok harinya.Oiya, jajan yang tak terelakkan dikawasan ini adalah jajan kentang goreng. Entah nyandu entah apa, tapi selalu enak. Sekitar komplek Arjuna ini juga ada kawasan oleh-oleh plus penjual peralatan dingin macam kupluk, sarung tangan dan syal. Ada juga free trial Purwaceng dan Carica. Yang jadi objek penderita kali ini adalah Purwaceng, minuman khas dari Dieng yang katanya punya khasiat stamina buat pria. Tapi pas gw liat dan rasain, sama aja rasanya sama sekoteng. Apanya yang khas ya? Entahlah. Yang jelas, pronounciation purwaceng pun jadi bahan olok-olok.

Komplek candi Arjuna

Kami kemudian pulang ke penginapan. Makan dan mampir ke Losmen Bu Djono, yang saya tau belakangan ini masuk Lonely Planet. Tapi tidak recomended. Pertama : lama pelayanannya, kedua rasa biasa aja. tidak ada yang istimewa. Sampai nyaris satu jam kami menunggu pesenan makanan. Lama bangett.Padahal menu yang dipesan biasa-biasa aja. Tuh kan, salah satu bukti kalo Lonely Planet bukanlah dewa buku panduan,

Pagi-pagi esok harinya, jam 3 kami sudah siap nonton Sunrise di bukit Sikunir. Enaknya jalan sama temen yang udah pada experience adalah, ga pada susah bangun pagi kalo tujuannya sama. Jam 3 kami bangun, cuci muka abis itu selimutan lagi. Jam setengah 4 kami sudah dimobil menuju bukit Sikunir. Sampai dikaki bukit, masih sepi. Baru sekitar 1-2 mobil yang parkir, selain ada yang buka tenda. Giling aja, nenda disitu. Ga kebayang sedingin apa didalemnya. Trekking sekitar setengah jam, kami tiba di Bukit Sikunir menjelang adzan subuh. Penonton teater Sunrise ini masih sedikit sekali. Baru ada kami dan sekelompok crew Anteve yang liputan, serta adek-adek yang jualan kopi dan popmie. Lama-lama yang datang makin banyak dan makin full, dan serasa di Bioskop, buat yang berdiri ngalangin kamera ke arah layar Sunrise, dikenakan protes massal berupa Huuu. Kocak abis.

Teater Sunrise Sikunir
keajaiban alam

Teater Sunrise Sikunir ini menurut saya ga kalah sama Teater Sunrise Pananjakan. Bedanya, kalo di Pananjakan sudah lebih komersil. Sudah banyak warungs ekitar, tempat sudah dikasih pembatas. Sudah ada Mushollanya. Kalo di Sikunir, semuanya masih alami dan belum ada tambahan apa-apa. Tapi tetap, Lautan awan dengan latar Gunung Sindoro, Merapi, Merbabu dan Gunung Sumbing. Ditambah cahaya emas yang mulai berontak keluar dari sarangnya. Bias cahaya yang hanya sekian menit ini yang tega menarik mata dan selimut pengunjung Dieng untuk datang menikmati Teater Sikunir pagi itu. 

perjalanan turun bukit sikunir

Dieng Culture Festival

Siang jam 9, kami kembali ke komplek Candi Arjuna untuk melihat prosesi kiraban dan cukuran gimbalan. Sebenernya rangkaian acara DCF sudah jalan dari Jumat/Sabtu sebelumnya. Cuman kami baru rencana melihatnya hari ini. Cukup lama menunggu , karena rombongan kirab baru datang sekitar pukul 11. Dan beda dengan malamnya yang dingin, siang ini puanass sekali. 

Anak-anak gimbal yang dilakukan ruwatan ini hanya 6 orang. Katanya si katanya, pas lahir si anak-anak ini tidak gimbal. lalu mereka terserang penyakit (panas/demam) yang akhirnya rambut mereka tumbuh nggimbal. Dan katanya hanya anak-anak yang terpilih saja yang akan diberi 'anugrah' gimbal ini. Tidak dapat diprediksi keturunan mana yang gimbal. Warga dieng sendiri percaya bahwa mereka keturunan leluhur dan ada makhluk yang 'menunggui dan menjaga' rambut gimbal mereka. Hmm, kalo saya sendiri cenderung berpendapat, gimbal mereka ya proses genetik. DNA nenek moyang mereka yang resesif banget menimbulkan kegimbalan tersebut. Tapi kan itu pendapat saya saja, yang bukan pakar budaya, sejarah, apalagi DNA. Nah, kepercayaan mereka, rambut gimbal ini tidak selamanya harus dipelihara, karena kalau dipelihara terus-terusan akan ada musibah yang muncul. Maka dari itu ada prosesi pemotongan rambut gimbal ini untuk menghilangkan kutukan tersebut. Dan keinginan anak tersebut berkaitan dengan ritual pemotongan tersebut harus dipenuhi. 
suasana candi arjuna menjelang diadakan ruwatan gembel

gerobak permintaan anak-anak tersebut
6 anak itu permintaannya cukup rasional dan masuk akal, walaupun ada yang lucu juga. 1 anak minta kambing, anak ke-2 minta sepeda, anak ke-3 minta anting-anting, anak ke 4 minta ayam, anak ke 5 minta uang 100 dan 1000, anak ke 6 minta apa coba? minta milkuat dan milkita..hihihi..Saat kirab, mereka menggenakan ikat kepala yang dari kain kafan. Anak-anak itu sendiri pakai baju biasa, sama seperti orang tua yang mendampingi mereka. 

siap dipotong..gimbalnya..
yang lain menanti dengan sabar
Karena ga bisa lama melihatnya, selesai prosesi cukuran rambut gimbal tersebut, kami tidak ikut prosesi selanjutnya untuk melarung hasil cukuran tersebut ke telaga warna. Maklum, mengejar bus pulang ke Jakarta. Kami sempat mampir untuk makan mie ongklok di perjalanan. Dan enakk, saya ketagihan. Hahahaha. Menu mie ongklok ini biasanya dihidangkan dengan sate sapi. Enjoy the food

Buat saya, Dieng worth it untuk dikunjungi lagi, namun sekali lagi mungkin perlu permudahan transportasi. Dibikin kek bandara ditengah-tengah Jawa Tengah ini. hahahaha. Ngarep. Dan mungkin kalo ke Dieng lagi, jangan lupa bawa Remote AC untuk ninggiin suhu malamnya :D