Showing posts with label valey. Show all posts
Showing posts with label valey. Show all posts

10 China : Jiuzhaigou Valley [6]

Butuh waktu agak lama buat saya untuk akhirnya memutuskan berangkat ke Jiuzhaigou. Awalnya banyak faktor bikin ragu untuk pergi kesana, antara lain : perjalanan yang panjang dari chengdu, tiket masuk yang mahal, tempat yang sangat turistik sekali, dan musim saya datang bukan autumn, namun spring,  yang mana katanya autumn merupakan waktu yang terbaik jika kita ingin mengunjungi Jiuzhaigou. Tapi akhirnya saya putuskan juga untuk pergi ke Jiuzhaigou. Pertama, tentu karena saya sudah di Chengdu. Kedua, perbandingan berapa mahalnya harga tiket masuknya Jiuzhaigou dengan tiket pesawat dari Jakarta :-) Ketiga, ya, saya tuh sebenernya kan turis ditempat tempat yang saya datangi. Cuman icip icip beberapa jam atau beberapa hari, kok mau ngaku ngaku sebagai resident. Keempat, saya mau mencicipi aroma Tibet yang (katanya) sangat kental di seputar Jiuzhaigou. Kelima, hey, Jiuzhaigou ini masuk lho dalam World Heritage Sites in China.


Jiuzhaigou ini terletak sekitar 350 km dari Chengdu. Bisa dicapai dengan bus atau pesawat. Opsi pesawat pasti saya coret karena  saya masih mau jalan jalan ke tempat lainnya :D (alias mahal). Sementara jika naik bus lama tempuhnya katanya bisa 10-12 jam dari Chengdu. Bus hanya berangkat pagi hari, karena area perjalanannya melingkari pegunungan dan rentan kecelakaan. Ada dua terminal bus tempat keberangkatan bus ke Jiuzhaigou, pertama di Chadianzie bus station, yang kedua di Xinnamen Bus Station. Pas browsing, saya menemukan bahwa jadwal dari Chadianzie bus station ke Jiuzhagou lebih banyak dibanding jadwal dari Xinnamen Bus Station. Jadi setiba di Chengdu dari Guilin, saya langsung menuju Chadianzie bus station. Memesan tiket bus untuk esok harinya yang seharga 136 Yuan alias 204 ribu rupiah.Dan harga ini ternyata lebih murah sekitar 12 yuan dari harga di Xinnamen Bus Station (Ga penting banget :p). Saya kurang tau pasti apa bus yang berangkat dari Xinnamen lebih nyaman dibanding bus yang berangkat dari Chadianzie, perasaan sama aja (karena pulangnya saya naik bus yang ke Xinnamen). Yang jelas, bus yang berangkat dari Chadianzie ini penumpang lokalnya lebih banyak, dan penumpang asingnya sedikit bisa dihitung dengan sebelah jari.

Karena bus berangkat jam 8 pagi, dan posisi Chadianzie bus terminal sudah agak jauh diutara kota Chengdu, besok paginya, saya keluar penginepan sekitar jam 6.30 pagi. Sampai station MRT, ternyata station MRT nya belum buka, Gubrak deh. Akhirnya saya nunggu sekitar 10 menitan dan ternyata memang ada jamnya MRT di Chenggdu itu buka jam berapa. Ini nih akibat China 1 zona waktu. Jam di 7 di Beijing kan secara matahari beda sama jam 7 di Chengdu. Ibarat di Makasar jam 7, dan di Aceh masih jam 6 dan lebih lambat lagi. Ok, intinya saya bisa sampai terminal bus tepat waktunya. Dan ga ketinggalan bus lagi.

Dan, perjalanan panjang bus menuju Jiuzhaigou ternyata mulus sekali. Kita melewati jalan tol kira-kira dua jaman, kemudian mulai melewati area pegunungan. Jalan di pegunungan tetap mulus lancar. Bus keluar masuk terowongan, melintasi sisa sisa Gempa Sichuan 2008 yang ternyata masih keliatan dampak kerusakannya. Melewati sungai sungai dengan aliran hijau. Pohon pohon pinus, padang padang rumput, serta Yak yang merumput dipadang padang tersebut. Melewati pegunungan yang atapnya masih bersisa putihnya salju (atau salju abadi? ah entah). Dan melewati area area yang secara kultur memang Tibet sekali. Bangunan, pakaian orang yang ditemui, dsb. Sempet juga saya di satu area antah berantah itu melihat tulisan : desa muslim. Amaze banget. Ketika pulang dari Jiuzhaigou ke Chengdu, saya malah melihat sekelompok orang sedang mengadakan pemakaman muslim di satu area antah berantah itu. Selama perjalanan tersebut saya nyaris ga tidur memandang keluar jendela. Bener bener nyenengin mata untuk dilihat. Bus juga berhenti setiap 2 jam sekali untuk memberi kesempatan penumpang ke toilet atau istirahat meregangkan kaki, ataupun yang ingin ngemil ngemil jajan. Sempet liat  di salah satu tempat istirahat hewan Yak putih dikasi pita dan didandanin buat foto dengan penumpang bus, tapi ternyata bus saya ga berhenti di tempat tersebut. Hihihi.  Hey, tapi saya beruntung berkenalan dengan Sunny di bus tersebut. Dia tinggal di Guangzhou dan sedang bisnis trip ke Chengdu. Ada sisa waktu setelah dia selesai meeting sebelum kembali ke Guangzhou. Jadi dia memutuskan jalan ke Jiuzhaigou. Sunny yang ramah, dia menegur saya duluan (kayaknya karena saya bertampang beda, berjilbab, ketauan foreignernya, dibanding penumpang lainnya). Dia nanya, apa saya udah punya penginapan di Jiuzhaigou. Saya jawab belum. Tapi saya bawa selebaran hostel Jiuzhaigou dari hostel saya di Chengdu. Ok, kata dia, mau barengan sama dia ga? Tentu saja saya mau. Bodoh dong  kalo saya ga mau.

Sisa gempan Sichuan 2008

hati hati longsor


dari jendela bus


Di puncak kejauhan masih ada sisa sisa salju

Sisa sisa salju

Yak yang merumput


Tibetan menunggu angkutan di pinggir jalan

Sekitar jam 16.30 sore, bus sudah sampai ke Jiuzhaigou. Kami diturunkan di area penginapan yang ada. Langsung dirubungi sama orang yang menawari penginapannya. Beruntung saya bareng Sunny. Karena menawar dalam mandarin, kami dapat penginapan double bed seharga hanya 60 yuan per malam untuk berdua alias 30 Yuan per masing orang. Ini sih lebih murah dari hostel manapun, kata saya.  Setelah naruh tas, kami kemudian berkeliling keluar, melihat lihat suvenir dan keadaan sekitar area penginapan, serta mencari-cari makan. Dan saya beruntung  karena bertemu dengan gerai makanan halal. Lama ga ketemu nasi, akhirnya saya pasrah mesan nasi goreng. Dan nasi gorengnya enakkk bangettt . Hahaha. Sunny nemenin saya, karena dia mau makan sup.  Akhirnya setelah saya selesai makan, saya gantian nemenin dia makan sup di rumah makan lainnya.

Salah satu toko suvenir di Juizhaigou

Nasi gorengnya yummy...enakk banget..*dasar laper*

Kepala Yak


Senja

Selesai acara muter muter dan makan makan, kami kemudian survey jalan ke Pintu masuk Jiuzhaigou. Ternyata butuh waktu berjalan sekitar 25 menit dari area penginapan kami ke Pintu masuknya. OK, kami juga tanya berapa tiket masuknya, dan apakah bisa dibeli sekarang. Harga tiket masuk Jiuzhaigou, karena April sudah masuk High season, ternyata sebesar 220 Yuan plus biaya bus kelilingnya 90 Yuan. Total 310 Yuan, Kurs rupiahnya untuk  masuknya? Sekitar 465 ribu rupiah. Hmmm. Itu yang saya bilang mahal. Eh tunggu, coba jedotin kepala sendiri kalo bilang mahal pas kamu masuk Universal Studio Singapur, Tik. Hahahaha. Awalnya, Sunny mau 2 hari di Jiuzhaigou, karena mendengar tiket masuk itu bisa untuk 2 day pass. Ternyata sekarang ga berlaku lagi. Tiket segitu ya cuman untuk sehari masuk aja.

Perkenalkan, ini Sunny


Dan ini Atik :D
Dan malem hari di Jiuzhaigou jadi dingiiinnnn bangettt. Mungkin nyaris minus kali suhunya. Outfit baju tidur saya itu udah longjohn, baju tidur, sweeter, kaos kaki, kaos tangan, selimut yang bawa sendiri, dan selimut penginapan. Tapi masih tetep aja kedinginan. Dan tengah malem saya terbangun menggigil. Bener bener norak banget deh.

Pagi pagi jam 7 kami dah bangun dan berburu sarapan. Masih tetap dingin dan menggigil. Sunny juga menggigil, jadi saya ga merasa norak norak banget kedinginannya. Kami kemudian menuju area ke Pintu masuk Jiuzhaigou, sebelum berebutan sama turis turis china lainnya.

Dengan luas area sekitar 720 km2, terbagi menjadi 3 Valley yang membentuk huruh Y. Rize Valley dan Zechawa Valley membentang cabang huruf Y tersebut dari atas dan bertemu ditengah dengan Shuzheng  Valley. Agak tidak mungkin untuk  menjelajah Jiuzhaigau dalam waktu  satu hari tanpa menaiki bus. Maka dari itu, tarif bus di Jiuzhaigou juga dicharge mahal bersamaan dengan tiket masuk. Bus yang berkeliling seputar Jiuzhaigou juga merupakan bus yang 'katanya' ramah lingkungan. Bus akan berangkat membawa turis yang datang ke arah Rize Valley terlebih dahulu, menuju Primeval Forest. Pengunjung akan diturunkan disini, kemudian dapat berjalan ke objek objek yang ada. Untuk objek yang jauh, pengunjung dapat menggunakan bus dengan menunggu di halte halte yang tersedia.



Saya dan Sunny juga mengikuti rute tersebut, setelah diturunkan di Primeval Forest, kami kemudian berjalan kaki menuju Grass Lake dan Swan Lake (dan ternyata jauh). Kami kemudian naik bus menuju Arrow Bamboo Lake, Panda Lake dan Multicolor Lake. Dari situ kami berjalan dan mendapati si air terjun Pearls Shoal. Kalo ga liat mapnya dan papan namanya pasti bingung. Hehehe. Danau danau ini agak mirip semua. Yang jelas, warnanya. Nyenengin banget buat dilihat. Saya jadi teringat permen Fox yang kristal bening itu. Apalagi yang Chrystal Turquoise. Bening. Jernih. Juga pucuk pucuk bunga yang mulai bermekaran diantara ranting ranting kering pepohonan. Dipadu langit biru yang juga jernih dengan sisa sisa salju di Puncak Pegunungan dikejauhan.  Hey, Surga dunia itu memang benar benar ada.

Sunny , yang hobi fotografi, juga ternyata hobi difoto. Kata dia, setiap cewek pasti hobi difoto. Makanya, disetiap lokasi pasti kami selalu gantian saling memoto. Mungkin stok foto pribadi Juizhaigou saya paling banyak dibanding ke tempat lain. 'Piknik' ke Juizhagou menjadi salah satu piknik saya yang menyenangkan. Tempat yang menyenangkan. Ditemani  orang yang juga menyenangkan.


Ini Swan Lake 

Add caption









Setelah dari Raze Valley, kami kemudian ganti bus menuju arah Zechawa Valley.Jumlah Lake disini tidak sebanyak di Raze Valley. Kalo ga salah, saya hanya mengunjungi Long Lake dan Colorful Pond. Di Zechawa Valley ini, tenaga kami dah ngos ngosan. Setiap ada tangga yang menanjak, pasti kami berhenti. Duduk sambil gigit coklat atau ngunyah biskuit. Sambil ketawa ketawa bego. Betapa semangatnya tadi pagi kami jalan jauh di Raze Valley, dan sekarang seperti orang kurang tenaga di Zechawa Valley.

Selesai dari Zechawa Valley, kami menuju ke arah bawah, kearah Shuzheng Valley. Highlight yang ada di Shuzheng Valley selain Lake yang juga masih berwarna hijau Turquoise adalah adanya Shuzheng Tibetan Village, yang merupakan pemukiman tibet dan banyak  menjual beraneka macam suvenir, beberapa khas tibet. Hiasan kepala Yak, ataupun pengrajin tanduk Yak juga banyak terdapat di Shuzheng Village. Terdapat  pula tibetan temple didepan area tersebut.



Gerbang di Tibetan Culture





Jam 5 sore dan Jiuzhaigou nyaris tutup. Piknik saya berakhir hari itu, untuk kemudian kembali ke Chengdu esok harinya.