Showing posts with label mosque. Show all posts
Showing posts with label mosque. Show all posts

0 Putar Putar Masjid di Turki

Sebagai negara dengan sejarah peradaban Islam yang panjang, Turki memiliki buanyaakk sekali masjid masjid indah. Beberapa  masjid yang termasuk pilihan buat saya diantaranya :

1. Blue Mosque/Sultan Ahmed Mosque (Masjid Biru) : Istanbul

Blue Mosque merupakan iconic Turki. Tidak sah ke Turki sebelum mengunjungi Blue Mosque. Letaknya yang diarea SultanAhmet Area di Istanbul, bersisian dengan berbagai objek objek lainnya. Oiya, jangan mencari masjid berwarna biru dari luar, karena walaupun namanya ada biru nya, namun biru itu muncul didalam interior Masjidnya. Saya sempat sholat Jumat di Blue Mosque ini dan perempuan juga lazim Jumatan disini. Khutbah dilakukan dalam 2 bahasa, pertama dalam bahasa Turki, kedua dalam bahasa Inggris. Seperti layaknya Masjid besar yang jadi tempat wisata, begitu masuk, pengunjung akan diberi kantung plastik untuk menyimpan alas kakinya di tempat yang disediakan. Di Blue Mosque, ada tempat antrian khusus untuk turis yang ingin melihat kedalam Blue Mosque, disamping pintu pintu masuk yang ada untuk masuk pengunjung untuk Shalat.

Blue Mosque in the morning

definitely a 'White Mosque'
Jumuah Praying : Women Section


2. Yeni Camii / New Mosque : Istanbul

Camii artinya Masjid dalam bahasa Turki. Ini masjid selanjutnya yang sering saya kunjungi, karena posisinya pas sekali diantara Grand Bazaar/Mesir Bazaar dengan Galata Bridge di Istambul. Jadi setelah nongkrong nongkrong di Galata Port atau muter muter di Bazaar atau sekedar jajan Sihlep (minuman hangat) yang ada didepan masjid , maka saya biasanya menjama sholat di Yeni Camii ini. Pembangunan Yeni Camii dimulai dari tahun 1597-1665.


Yeni Camii beside the Galata Port

3. Suleymaniye Mosque : Istanbul

Suleymaniye Mosque, merupakan masjid terbesar yang ada di Istanbul. Agak tricky juga untuk sampai ke Masjid ini karea posisinya agak sedikit naik seperti di bukit. Dibangun oleh arsitek terkenal di Turki, Mimar Sinan, the Greatest Architect of the classical periode of Ottoman Architecture  pada 1550-1558. Sinan juga membangun Selemiye Mosque di Edirne

Outside Suleymaniye Mosque

Inside Arsitektur

berbukit bukit

4. Selemiye Mosque : Edirne

A cloudy and birdy Mosque, itu kesan pertama saya ketika melihat Selemiye Mosque di Edirne. Selemiye Mosque adalah karya masterpiece dari Arsitek Mimar Sinan. Selemiye Mosque masih mempertahankan masjid selain sebagai tempat ibadah, juga sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. disamping Selemiye Mosque adalah tempat semi pasar tempat menjajakan berbagai macam barang.

Birdy+Cloudy


Bazaar dibawah Selemiye Mosque

Inside selemiye mosque


5. Old Mosque : Edirne

Terletak tidak jauh dari Selemiye Mosque, Old Mosque di Edirne membuat saya terkesima karena arsitekturnya yang sederhana namun elegan. Tulisan kaligrafi berwarna hitam dan besar tertera jelas pada dinding dinding Old Mosque 

between Selemiye Mosque (left) and Old Mosque (right) Edirne
outside Old Mosque

inside : full of big caligraphy




6. Isabey Camii : Selcuk

Saya suka sekali masjid ini. Ketemu ketika tidak sengaja ketika saya sedang nyasar di Selcuk, kota kecil yang menuju Ephesus, ketika saya mencari reruntuhan St.George Church dan malah nyasar ke Isabey Camii ini, dan merupakan peninggalan besar yang ada. Isabey Camii dibangun pada periode 1374-1375 M.

*stunning*



Anak anak ini bergaya minta diphoto

Anak anak ini bergaya minta diphoto (2)

Masih ada sisa nisan di Isabey Camii

Enjoy the picture !


0 China : Chengdu [4]

Train Guilin - Chengdu


Sekembali  dari muter muter di kota Guilin paginya, saya keluar penginapan, kemudian  karena sudah mepet jamnya, lari lari menyebrang jalan ke stasiun kereta. Saya kemudian membeli minum dan snack di toko depan stasiun Guilin. Masuk stasiun di China, prosedurnya masih sama. Masih masukin barang bawaan kita ke conveyer belt and scanner. Setelah itu, saya  naik ke lt.2 lalu duduk manis di ruang tunggu yang temaram

Kereta datang sekitar pukul 12.45 siang. Padahal pintu ruang menuju peron kereta belum terbuka, tapi calon penumpang sudah langsung grubak grabuk di depan pintu yang tertutup tersebut. Susah banget disuruh antrinya. Jam 13.00 penumpang pun masuk kereta, saya pun langsung nyobain sleeper bunknya. Panjangnya pas sebadan saya, tapi naasnya, sering kepentok atap kereta :D. Nyesel ga milih bunk yang bawah. Ternyata beda antar bunk cuman 10 yuan alias 15.000 rupiah

Jam 13.20 Kereta berangkat. Saya masih bengong bengong sambil ngatur tas di bunk.Kondektur datang dan  minta tiket kita untuk dituker dengan kartu tertentu yang menerangkan posisi kita dimana serta dimana kita akan turun. Abis itu saya tertidur, dan pules.

Sleeping bunk

Ini keran air panas lhoo (free)

Aktivitas yang saya lakukan di kereta selain tidur, yang lainnya adalah turun duduk samping jendela sambil liatin dan motoin pemandangan diluar  yang keren sambil ngemil, buka buka potokopian Lonely Planet yang dibawa, buka Note Everythingnya di Handphone, nyanyi nyanyi ga jelasan sendirian, ngemil keripik kuaci, mengkhayal-khayal, memperhatikan penumpang penumpang lainnya. Looping sampai bosen dilakukan aktivitas tersebut. Ga ada yang bisa diajak ngomong sekoridor it. Foreignernya cuman saya (kelihatannya) 

Halo bapak, Ni Hao?
Sekelompok keluarga China, Look how they bring the baby :')
 
Dari jendela, kita bisa liat batas area propinsi Guangxi dan Propinsi Sichuan. Kalau di Guangxi, maka yang nampak pemandangannya adalah karst karst menjulang. Sementara di Area Sichuan. yang diliat bukan karst karst lagi, tapi pegunungan dengan warna air yang hijau. Gak lama, ada pemandangan gedung gedung tinggi yang keliatan dari jendela. Berarti kita udah sampe Chongqing, salah satu kota besar yang ada di Sichuan. . Penumpang lain udah banyak yang turun. Saya masih leyeh leyeh, baik di bunk atas ataupun  kursi di jendela bawah. Kondektur nuker kartu kita dengan tiket asli kereta kita

Dari balik jendela kereta 1 : Di Guangxi nampaknya

Dari Balik Kereta 2 : Masih di Guangxi juga nampaknya
Dari balik Jendela Kereta 3 : Nah, ini nampaknya dah masuk area Sichuan

Dari balik jendela 4 : Chongqing

Jam 13.25 siangnya, kereta merapat di ChengduDong Station..Sampai juga akhirnya di Ibukota Sichuan ini. Turun station langsung cari jalur MRT Chengdu yang tepat bersebelahan dengan pintu keluar Stasiun Chengdudong. MRT di Chengdu sendiri baru terdiri dari 2 line, namun sedang dalam tahap pengembangan lebih lanjut.

East Chengdu Station MRT


Chengdu

Tidak banyak yang saya lakukan di Chengdu. Setelah menemukan Flip Flop Hostel (yang mana awalnya saya tidak bermaksud mencari hostel ini, namun terjadi salah catat alamat sehingga yang ditemukan malah hostel ini :D). Chengdu menjadi kota transit saya, karena akan menuju Jiuzhaigou. Beberapa interest place yang ada di Chengdu, yang sempat saya mampiri antara lain Tianfu Square, People's Park, Wenshu Monastery Temple, Chunxi Road,Kuanzhaixiangzi Alley, dan Ultimate nya : Panda Breeding Centre (diposting terpisah) :-)

Enjoy the picture !
Chunxi Road, CHengdu


In front of Tianfu Square, Chengdu
Ini Mesjid Lho..lokasinya deket banget sama Tianfu Square

Dibawah mesjidnya ada gerai restoran halal (tapi mahal!). Saya ga jadi beli disitu

Beli makannya malah sama mba mba pinggir jalan ini, di gang samping masjid

Plus Kebab dari Bapak ini

di salah satu sudut Kuanzhai Alley, Chengdu. Lucu ya, surat, kotak surat, sepedah :)


Unique exterior Starbuck in Kuanzhai Alley


People pray in Wenshu Temple

One of gate in Wenshu Temple, Chengdu

Hey, what are they looking?








0 China : Guilin [2]

Kembali ke Guilin dari Yangshuo, saya mencari bus di Terminal Yangshuo.
Sempet ‘diseret seret’ sama calo bus di terminal untuk naik ke bus mereka. Tapi saya tetep keukeuh jalan ke arah terminal dan membeli tiket  via loket resminya. 
Saya bertanya ke petugas loketnya, busnya yang mana? Ternyata busnya parkir depan loketnya pas. 

Ok. Saya kemudian berjalan kearah bus, naruh tas di bagasi, dibelakang satu keluarga china. Karena sepertinya busnya masih belum akan berangkat dan penumpang masih agak sepi, didera kehausan yang amat sangat, saya belum naik bus dan pergi beli air minum di toko tepat depan loket bus tersebut. Perasaan saya beli minum paling cuman 3 menit. Perasaan lho ya.

Pas saya balik, ternyata busnya ga ada. Huaaa. Panikkk!!! Tas saya gimana?? Ribetnya, saya ga merhatiin ciri ciri bus saya itu. Saya melambai-lambaikan tangan depan bus yang akan siap berangkat. Tapi ternyata disuruh minggir sama supir bus tersebut.  Dan ternyata itu bukan bus saya :(.  

Lalu ada petugas parkir (petugas terminal mungkin) yang melihat saya panik. Menghampiri terburu buru kesaya, nanyain tiket saya, dan abis itu bergerak secepat angin menelusup diantara bus bus yang parkir. Saya ngikutin dia. Agak jauh juga jalannya. Dan akhirnya saya ketemu bus saya yang seharusnya, yang sudah nyaris meninggalkan terminal. 

Pas saya masuk bus, keluarga China tadi berseru girang. Mungkin ujar mereka, balik juga ni anak. Penumpang bus ke Guilin itu ternyata hanya saya, satu keluarga China tersebut, sama beberapa penumpang lainnya. Sedikit. Jadi bus itu ternyata ga nunggu penuh langsung berangkat sesuai waktunya. Nah, masalahnya, waktu keberangkatan  bus yang ada di tiket juga dalam kanji. Walau begitu, Alhamdulillah, saya tidak jadi kehilangan tas. Terimakasih ke Pak Tukang Parkir yang  bergerak cepat tersebut :-)
Pelajaran : Belilah minum terlebih dahulu sebelum beli karcis :D

Dua jam kemudian, bus sampai di Guilin. Dari terminal Guilin, saya berjalan ke arah stasiun dan menyebrang jalan didepannya. Sudah sempat browsing sebelumnya, bahwa ada hostel dekat Stasiun Guilin yang berjarak sekitar 200m dari stasiun. Sempet bengong bengong di  pinggir taman jalan tersebut karena ga nemu juga hostel yang dimaksud. Akhirnya, setelah setengah jam-an, saya tiba di Flower International Hostel. 45 yuan per malam untuk female dorm room. Sampai tempat tidur, langsung browsing, dimana masjid terdekat di Guilin. Alesan pertama adalah karena saya selalu penasaran dengan masjid di area minoritas muslim. Dan alesan kedua adalah karena biasanya kantin masjid jual makanan halal yang murah. Hahahaha. Dan ketemu lah, sekitar 1.5 km an dari hostel. Langsung saya jalan kaki menuju Masjid tersebut.

Guilin Chongshan Mosque namanya. Diambil dari nama jalannya : Chongshan Rd. Dari luar, sama sekali ga keliatan seperti Masjid. Keliatan hanya tembok saja. Pas masuk kedalam baru nampak aula masjidnya serta ruangan sholatnya.Pas saya dateng, sekitar 7.30 pm baru masuk waktu Maghrib. Yang sholat berjamaah di jamaah wanita rata-rata sepuh semua. Ada yang lucu. Karena mukena saya ketinggalan di penginapan, jadi saya mencari cari mukena Masjid. Tapi kok ga ketemu. Yang ada cuman kerudung kerudung kecil plus sajadah kecilnya (Duh lupa ga moto). Dan ibu ibu tersebut pada bingung saya nyari apa. Ealah ternyata mereka sholat dengan model Celana Panjang, sweeternya, serta kerudung kecil putih tersebut. Baru ngeh saya. Dan besok harinya ketika saya bawa mukena versi mukena Indonesia (yang kebetulan warnanya pink), ketawa ketawa mereka melihat model 'baju' sholat saya.Dan saya ketawa ketawa mengingat pencarian saya akan mukena sehari sebelumnya.Lucu jadinya saya membayangkan. Bagaimana terkadang di Indonesia orang terlalu concern/komentar atau bahkan menyela pakaian/penampilan orang lain yang sama-sama muslim/ah. Padahal, terkadang bukan itu esensinya (Duh, absurd ya!)

Guilin Chongshan Mosque



Aula Masjidnya
Makan di kantin masjid

Aktivitas lainnya yang saya lakukan di Guilin adalah Jalan Kaki. Kalo malam, jalan kaki dilakukan di sepanjang Zhongshan South Road yang merupakan jalan utama di Guilin.Banyak pusat pusat perbelanjaan disini. Toko toko juga berjejer.  Pakaian musim dingin (Jacket - jacket, sweeter, diobral habis). End upnya, karena sweeter saya ga nampol dinginnya malam di Guilin, akhirnya saya terjerembab beli jacket baru warna ungu di Guilin seharga 80 RMB saja :p (sekitar 120 ribu)
Zhingshan South Road-Guilin


Jalan kaki pagi harinya,  rencana awalnya sebenernya mau masuk ke tempat tempat wisata yang ada di Guilin. Sudah sempet sampe Seven Star Park,  Elephant Trunk Hill. Tapi karena (salahnya) saya ke Yangshuo terlebih dahulu sebelum muterin Guilin, jadinya merasa bahwa tempat tempat wisata itu biasa aja. Jauhh beda dibanding hill hill di Yangshuo. Mana masuknya bayar dan mahal pula. Bayangkan aja, masuk ke Elephant Trunk Hill , karcisnya sekitar 70 RMB atau kaloo dikurs-in Rp 105.000,- Ga rela.Akhirnya edisi jalan kaki saya di pagi hari sebelum naik kereta ke Chengdu dihabiskan dengan nonton nonton orang mancing, nonton orang latihan dansa di taman, Tapi lumayan juga rute jalan saya, sekitar 9,5 km :-).

Walking Route :)
Cukup Photo depannya saja
Duo Pagoda
Semuanyaa! Dansanya mana...
Mancing di pinggir Li River
Depan Seven Star Park


Pasar dadakan di pagi hari depan toko yang belum buka

Oiya, edisi Guilin akan nyambung ke Longji Terace. Sabar saja.

~bersambung~