Showing posts with label chiang mai. Show all posts
Showing posts with label chiang mai. Show all posts

0 Flash Trip to Northern Thailand (last part) : ChiangMai

Bagian terakhir dari trip to Northern Thailand. Dan kita sekarang berada di Chiang Mai.

Hmm..
Sebenernya biasa biasa aja si..
Jadi rutenya hari saya ini di ChiangMai adalah : keliling-keliling Old City, Sewa Motor ke Doi Suthep, Ke Chiang Mai Zoo dan ke Masjid terbesar di Chiang Mai.

Pagi pagi jam setengah 7 saya sudah meluncur keluar dari Lanna Thai Guest House. Niat awal langsung mau sewa motor. Ternyata tempat sewa motor belum ada yang buka sama sekali. Yaiyalah.Pake nanya lagi. Akhirnya dari daerah Night Bazaar, saya masuk ke area Old City Chiang Mai.Jalan kaki masih adem. Langit masih superrr biru. Kota tua yang masih terawat, full of Wat-wat. serta ga ada bangunan tinggi didalam maupun dekatnya, Sangat banyak sekali Wat di area ini. Tiap nengok kayaknya ada wat. Beberapa yang sempet saya capture adalah : 

Tha Pae Gate Old City

Wat in the old city

Wat -old city-

Wat -old city, Chiang Mai-

Patung Tiga Pangeran 



Dua jam-an muterin old city plus istirahat istirahat santainya, saya keluar dari old city, setelah sebelumnya ngePos-in Kartu Pos dahulu. Udah mulai jadi kebiasaan, kalo lagi di LN, saya kirim kartu pos ke Indonesia. Pertama, buat diri sendiri (err..maaph, memang agak aneh). Kedua, buat temen-temen yang mau dikirimin. Udah si itu aja.hihihi. Kantor Pos di Old City terletak deket Thai Pat Gate.
Balik ke arah Night Bazaar, ternyata beberapa sewa motor sudah buka. Capcus nanya harga, 200 Bath untuk Motor Matic selama 24 jam diluar bensin. Saya  dapetnya Mio Matic. Si mbaknya pake khawatir dan ngajarin pula cara make motornya gimana ^^. Errr, pas saya kasi tau saya biasa naik motor di Indonesia, dia langsung kasih helm dan peta sambil bilang *Go Ahead*.

Jalan motor di Chiang Mai itu enak. Jalannya mulus. Kotanya relatif kecil, Dan ga begitu macet juga. Tapi apadaya, tetep aja saya nyasar-nyasar. Yang harusnya mau ke Doi Suthep belok kiri, eh malah lurus. Keterusan sampe Highway antar kota. Dan putaran baliknya jauhhh sekali. 

Nyasar di entah dimana

Buat saya, perjalanan motor menuju Doi Suthep lebih menyenangkan ketimbang sampai di Wat tertinggi di Doi Suthepnya. Angin yang sejuk, kiri kanan hijau, langit biru, dan ga ada saingan di jalan. Selain sewa motor, ada Songthaw dari Chiang Mai juga yang mau nganterin sampai Doi Suthep ini. Yatapi kan harus nunggu loading penumpang sampai penuh. Dan ga bisa berhenti seenaknya pula. Oiya, selain itu ada yang naik sepedah sampai atas Doi Suthep. Krik. Ga kebayang deh. Dari Doi Suthep ini, kita bisa melihat kota Chiang Mai dari ketinggian. Ini sedikit snap shootnya.

Bird Eye View Doi Suthep. Kota Chiang Mai keliatan!

Tangga di Wat Phratat Doi Suthep. Hmm..kayak dejavu sama Tangga di Wat Mae Sai-Tachileik

Bells - Wat Prathat Doi Suthep-

Gini lhoo naik cara mukulnya!

Jangan ditawar lah mister!

Stop over again!

Kelar dari Wat tertinggi di Doi Suthep itu (Yes, I failed to remember name of the Wat, after google : Wat Prathat), harusnya bisa naik ke ketinggian atas lagi. Tapi si motor bensinnya menipis. Walhasil saya putar balik aja. Akhirnya saya melipir masuk ke Chiang Mai Zoo yang ada di kaki bukit Doi Suthep. Etapi, masuk zoo itu bukan suatu  kelainan kan buat orang dewasa? Difikir-fikir, nyaris di setiap negara, saya hampir selalu masuk ke tempat yang ada unsur binatangnya. Kaiyukan di Osaka lah, Beijing Zoo lah, trus Chiang Mai Zoo ini.

Dan SAMA sekali ga nyesel masuk CM Zoo. Recomended. Kebun Binatang yang sangat berkonsep, tertata, apik, rapi, bersih, adem. Entrance Zoo nya sekitar 30 ribu rupiah. Lalu didalam, ada bus dan Monorel untuk keliling Zoo. Bayar bus dan nonorel itu cuman 70 B alias 20 ribuan untuk sepanjang hari. Lumayan menghemat energi kaki sedikit. Ada house of Panda (karena ini saya tertarik masuk :D), yang harus bayar ongkos tambahan lagi untuk masuk ke rumah Panda tersebut. Etapi curangnya si Thailand ini adalah, harga buat lokal dibedain sama harga buat asing. Masalahnya, harga yang buat lokal ditulis dalam aksara Thai semua, jadi ga bisa nebak-nebak dong-dong. Pas masuk House of Panda ini, foreigner kan harusnya bayar 100 Bath. Bapak penjaga karcisnya ngomong sesuatu dalam bahasa Thai yang ga jelas ke saya. Saya cuman diem, ngangguk, ngasi selembar uang 100 Bath (dan ga berharap dapet kembalian), dan ternyata dapet kembalian 50 Bath. Pas saya liat, tiket saya beda ama tiket foreigner depan saya tadi. Alhamdulillah. Hemat 15 ribu. wkwkwkwkwk. Oiya, si Panda yang hijrah dari China ke Chiang Mai ini kan sepasang, dan mereka sudah berhasil mendapatkan 1 anak panda di negeri Chiang Mai ini, dan dikasih nama Ling Ping. Katanya Ling Ping ini adalah Panda pertama di dunia, yang lahir diluar China hasil hijrah Ibu Bapaknya. 

Chuang chuang - bapaknya Ling Ping- yang dihijrahkan dari China ke Chiang Mai

Ling Ping -Panda- lahir seukuran ini

Tiket orang lokal yang 50 B *lucky me*


Gaya tidur nih koala ngingetin sama..gue sendiri..errr




Dari Chiang Mai Zoo, saya ke Baan Haw Mosque. Areanya masih dekat dengan Night Bazaar Chiang Mai. Masjidnya besar. Cukup modern. Di lantai 2, tempat muslimah, ada LCD yang dinyalakan ketika sholat Jamaah, Jadi Jamaah Muslimah bisa melihat imam yang dibawah melalui LCD tersebut. Oiya, sekitar masjid banyak sekali tempat makan halal dan para penjual souvenir yang muslim. Saya akhirnya nyangkut di salah satu rumah makan halal yang plangnya mencantumkan menu Spagheti. wkwkwkwk. Si bapak ini kakeknya dari India dan udah puluhan tahun menetap jadi WN Thailand. 


tempat wudhu

di kiri itu LCD kecilnya

Sepi ya? 

Kalender 3 penaggalan : Thai, Masehi, Hijriah

Qur'an dan terjemahnya dalam Thai Language

Spagetti cusss..20 ribu plus es jeruk :D
Overall, saya menyenangi Chiang Mai, yang walaupun kota nomer 2 terbesar di Thailand, tapi suasananya tidak sehiruk pikuk Bangkok. Menyenangkan. Pas untuk liburan. Belum lagi Night Bazaarnya. Makanan Halal juga gampang :-)

See you in other cities!


0 Flash Trip to Northern Thailand (part 3)


sedekah pagi - maesai

Pagi di Mae Sai adalah saat kita disuguhi pemandangan banyak biksu yang berjalan jalan dengan membawa (semacam) guci. Ada semacam upacara ritual pagi dimana para penduduk desa berlutut memberi sedekah kepada para biksu. Isi sedekahnya yang saya lihat lumayan bermacam-macam. Mulai dari buah, air mineral, roti, biskuit, dll. Dan jumlah biksunya ternyata lumayan banyak :-). Saya sempet membaca tentang upacara sedekah biksu ini ada di Luang Prabang-Laos, dimana para turis juga antri untuk memberi sedekah ke para biksu. Tapi saya tidak mengira akan melihatnya di Mae Sai. Dan ternyata di Chiang Mai juga ada, walau tidak sebanyak di Mae Sai jumlah Biksu yang berjalan jalan pagi hari. Itu kenapa saya selalu suka keluar lebih pagi. Lebih sepi, dan lebih banyak yang bisa dilihat.

Di jembatan tanpa bangsa antara Tachileik dan Mae Sai, saya melihat Wat tinggi yang menjulang diatas bukit. Setelah keluar dari Tachileik, masuk kembali ke Mae Sai, saya tanya ke penjaga pintu. Gimana cara untuk lihat Wat itu. Kata beliau, cari jalan dari arah pasar. Lurus aja, lalu naik tangga. Saya ikuti unjuk dari dia. Lurus aja dari border, ketemu jalan kecil yang kiri kanannya pasar. Belok kanan. lurus. Lalu penampakan tangga yang tinggi pun muncul.Watnya tinggi bangettt. Menggeh-menggeh naik tangganya.Setelah sampe atas, baru tau nama Watnya itu Wat Phra That Wai Dao. Dekat situ juga ada semacam temple burma. Tapi saya ga nemu namanya apa. Dari atas sini, bisa kelihatan area yang melingkupi Tachileik dan Mae Sai. Pengunjungnya sepi. Hanya saya dan seorang biksu -yang nampaknya juga lagi ngetrip, abis dianya sambil poto2-. 


Pasar Suvenir menuju Wat Phra That Wai Dao

tangga


Wat Phra That Wai Dao


Bird view from Wat Phra Tat Wai Dao

Turun dari Wat Phra That Wai Dao, saya kembali ke arah menuju penginapan. Muter-muter lewat gang nya, dan Tadaaa..nemu restoran Halal  namanya Bismillah Halal Food. Langsung kalap pesen makanan banyak.  Ga mempan timpalan Buah Naga pas di Tachileik tadi. Si Ibu yang jual teryata Thai Muslim. Dulu asal kakek neneknya dari Yunnan, China. Inilah makanan saya, yang ternyata cuman habis 70 Bath alias 21 ribu saja. 

 



hai hai..makanan saya!


Kenyang. Saya balik ke penginapan (maaf, ini ga tau namanya, abis tulisan nama penginapannya bahasa Thai semua). Mandi, kemas kemas lagi, dan saya kemudian meluncur mencari tempat mangkalnya Sangthaw Biru yang rutenya Mae-Sai ke Chiang Saen. Sebelum sampe Chiang Saen, Songthaw nya ngelewation Golden Traingle. Minta turun sama bapak supir angkot di Golden Triangle alias Sop Ruak. Ongkos Songthaw ke Golden Triangle 40 Bath. Jalanannya baru dibangun keliatannya . Mulusss, rataa, . Melewati pegunungan. Sampe akhirnya saya merasa dinegeri antah berantah dimana karena keliatan sekali terpencilnya dan jalannya ga rame serta jarang kendaraan lewat. hiks. Akhirnya ada tanda-tanda keramaian juga ketika songthaw sudah mendekati Golden Triangle.

Songthaew Mae Sai - Golden Triangle - Chiang Saen

Golden Triangle sebenarnya lebih kearah perbatasan 3 negara. Namun Golden Triangle yang saya singgahi ini, yang dikenal juga dengan nama Sop Ruak, terdapat monumen dan penunjuk arah mana area yang ke Laos, mana yang masuk Thailand, serta mana yang masuk ke area Burma. Ruak itu nama sungai. Di Sop Ruak ini, bertemu aliran sungai dari mekong dan Ruak, jadilah Sop Ruak, bukan sop buah...(eaalahhh jijay deh jayus eikeh).  Selain monumen tersebut, selebihnya Golden Triangle adalah Toko suvenir. Terdapat pula patung Budha kuning. Jika mau, pengunjung juga dapat naik perahu ke area Laos. Tapi saya males karena panas banget. Jadi saya cuman nongkrong di warung es kelapa muda. Harganya sama kayak disini. 20 Bath atau 6000 perak. 


Makhluk kecil ini nongol pas saya mau naro tripod
Sekitar Golden Triangle

Monumen

Mau kearah mana ceceu?
pinggir jalan GT

Habis panas terik, ternyata cuaca berubah jadi hujan. Saya berteduh di Pos Polisi, sekalian sambil menunggu Sangthaw ke Chiang Saen. 40 menit menunggu, si angkot biru akhirnya muncul juga. Pas sudah didalam Songtaw, eh, saya baru ngeliat si Hall of Opium. huhu.. Nyesel juga ga nemu lebih awal, jadi kelewat gitu aja deh Hall of Opiumnya. 


Sekitar 20 menit Songthaw sudah sampe ke Chiang Saen. Hmm, bukan terminal si. Cuman ada bus beberapa yang berhenti di pinggir jalan sambil teriak-teriak nyebut kota tujuannya. Saya karena ngejar naik bus dari Chiang Rai jam 4, langsung masuk ke bus jurusan Chiang Saen ke Chiang Rai. Ga nunggu penuh, bus langsung jalan. Dan penumpangnya memang lebih sepi dibanding penumpang yang ke Mae Sai. Tapi kotanya agak terlihat lebih ramai sedikit. Ongkos bus Chiang Saen ke Chiang Rai sebesar 37 Bath. Dibawah 10 ribu rupiah lah. 

Ditengah jalan, ternyata busnya mogok..wakakakak.. cuss.. mirip banget Kopaja si..Saya cuman bisa pasrah, untung spare waktu cukup. Karena ga berhasil dibenerin, akhirnya penumpang ditransfer ke bus lain. Alhamdulillah, jam 3 kurang saya sudah sampai di Terminal Chiang Rai.


Masih ada waktu sejam lebih, saya keliling-keliling sekitar pasar dan terminal. Banyak tersebar penginapan dan travel-travel agent yang menawarkan paket-paket ke White Temple, Golden Triangle, Akha Tribe. IMO, Chiang Rai ini cukup jadi kota singgah. Lebih enak menginap di Chiang Mai. Lebih banyak yang dapat dilihat.

Green Bus yang membawa balik ke Chiang Mai, ternyata kelasnya diatas yang kemarin. Jadi untuk bus yang ini, saya dapet minum sama snack. Lumayan lah kacang-kacang gitu. Beda harganya sekitar 12 ribu dengan Green Bus saat saya berangkat. Bus juga berhenti di Rest Area untuk ngasih kesempatan penumpang ke toilet atau jajan jajan lainnya.

Jam 19.30an Bus sampai di Arcade Bus Station Chiang Mai. Langsung nyetop Songthaw merah, nanya apakah lewat Night Bazaar. Iya, walaupun saya ga booking penginapan, tapi tetep punya ancer-ancer area mana yang okeh buat tempat menginap :D

Hari yang panjang berakhir di Lanna Thai Guest House. Posisinya dekat sekali dengan Night Bazaar Chiang Mai (yang ramai sekali). Pas dibelakang penginapan juga terdapat Anusarn Night Bazaar. Banyak sekali yang jual makanan halal disini. Saya masuk ke kedai makanan Thai, milih menu Khao soi yang enaakk ini. 









0 Flash trip to Northern Thailand part 1


Ini kedua kali saya ke Thailand. Kali pertama kesana adalah ke Bangkok, kira-kira 4 tahun lalu. Pertama keluar negeri ya ke bangkok itu, dibayarin pula. Dikasi tiket PP Jakarta Bangkok PP by Thai Airways, tapi tiket pulangnya BKK- JKT saya lepas, malah beli tiket Air Asia BKK-Hadyai dari sangu yang masih tersedia. Jadi pertama kali itu pula berasa backpack pas pulangnya. Menyusur Hadyai via Sadao ke Penang, lalu train ke KL, Bus ke Singapore-Ferry ke Batam dan akhirnya plane Batam ke Jakarta. Semuanya flash, paling maksimal hanya 18 jam di satu tempat.

Dan sekarang saya mengulanginya. Kali ini ke arah utara, mulai dari Chiang Mai sampai border Thailand-Myanmar, lalu balik lagi ke Chiang Mai. Jadi jalannya JKT-KL-Chiangmai dan Chiangmai-KL-JKT. Sebenernya rencana tengah jalan saya adalah nembus Laos via Chiangkong. Tiket Vientienne-KL juga udah saya redemp via BIG Point. Apadaya. gara-gara dikantor yang lagi unyu-unyunya, saya membatalkan nembus laosnya. (ijin bos aja baru berani 2 hari sebelum berangkat..hehehe..). Tapi waktunya juga mepet banget kalo seandainya saya jadi ke Laos itu. Harus alokasi waktu sendiri.
yah, kira kira beginilah gambar petanya

Rencana awal jalan ke Chiang Mai ber-2 sama temen kuliah saya. Cuman ternyata pas sebulan sebelumnya dia bilang ga bisa. Ya sudah, kembalilah bersolo-solo ria. Lama-lama kok ya saya merasa lebih asik jalan sendiri. Aishhh...

Jangan tanya kenapa Chiang Mai, saya juga ga tau jawabannya. Rulenya cuman 1, tiket murahnya kemana. Hahaha. Sebenernya sedikit banyak saya tertarik gara-gara novelnya Dee Lestari yang Akar, yang nyebut-nyebut Golden Triangle, sebagai salah satu pusat Opium. Si Bong yang sempet-sempetnya terdampar jadi pemetik opium disana.  Dan kota terdekatnya adalah Chiang Mai untuk bisa ke Golden Triangle tersebut. Kenapa Triangle? karena daerah tersebut adalah perbatasan Tiga Negara, Thailand, Myanmar dan Laos. Jadi yang kebayang di saya duluuuu setaun lalu pas booking tiket adalah masih ada daerah opium disana.Ternyata adalah...*nanti aja*

Oiya, ini juga adalah travel pertama saya tanpa booking mau nginep di hostel apa..hahaha..abis bingung juga. Tujuan utama saya kan bukan Chiang Mai nya. tapi kota kota diatasnya. Dan dari yang saya baca-baca, bus dari Chiang Mai ke Chiang Rai itu biasanya banyak peminatnya, jadi ga bisa diprediksi juga saya bisa dapet bus di hari apa. Belum lagi saya ga tau dari Chiang Rai ke MaeSai nya busnya ada sampe jam berapa. Sayang kan kalo udah booking penginapan  trus batal. Hahaha..Tadinya malah nyaris menyerah. Udahlah tik, sampe ke Chiang Mai aja, booking penginapan 3 hari disana, trus tinggal ambil paket One Day Tour Chiang Rai dan Golden Triangle. Tapi akhirnya sisi sebelahnya yang menang. Pake tour? Mau dapet kesan apa selama perjalanan. Tambah lagi tournya mahallll (sekitar 1500-2000 Bath, aka 450.000-600.000 rupiah). Ya sudah, jadinya saya ngeteng bus.

Setelah menginap di KL, pagi jam 06.50 pesawat ke ChiangMai sudah boarding berangkat. Sampai Bandara Chiang Mai sekitar jam 09.00. Dari bandara, saya naik Taksi ke Arcade Bus Station. Dipatok harganya 170 B. Masuk terminal, ambil nomer antrian di counternya Green Bus yang melayani rute CHiang Mai ke Chiang Rai. Ternyata sistem bus di Thailand adalah satu perusahaan bus satu tujuan. Jadi bus ke chiangrai cuman oleh 1 perusahaan yaitu Green Bus, bus ke Bangkok oleh perusahaan B, bus ke kota lain , misal perusahaan C.  Jadi ga ada armada lain kalau Green Bus itu udah fully booked.
Saya antri jam 09.30 itu ternyata dapet jatah berangkat yang jam 11.30. Harga untuk Chiang Mai-Chiang Rai untuk kelas biasa (bukan VVIP) sekitar 144 Bath alias Rp 43.500. Busnya bagus dan AC. Lama perjalanan sekitar 3 jam. 

Saya minta sama supirnya untuk turun di White Temple. Awalnya dia bingung, tapi akhirnya ngerti juga.Hahaha. White Temple (Wat Rong Khung) itu memang terletak agak di tepi jalan, sekitar 13 km sebelum Chiang Rai. Tapi ga keliatan banget juga si. Harus masuk jalan sedikit. 

Udah seneng-seneng pas saya datang templenya sepi, etapi abis ditinggal ke Toilet, langsung deh banyak serbuan turis-turis. Yasudahlah puas tidak bernarsis ria disini. White Temple ini ternyata Temple yang relatif baru. Kompleknya dibikin sama artis terkenal Thailand, yang pengen Chiangrai  punya icon seperti AngkorWatt di Cambodia. Dia membangun temple dengan dana pribadinya, karena merasa kalo dia dapat sumbangan dari pihak lain, akan terjadi kecendrungan kepentingan. Patut ditiru nih prinsipnya.
White Temple Chiang Rai

penadah-penadah lemparan koinnya di White Temple

Ini Toilett!..geleng geleng kepala pas tau...kirain gedung serbaguna atau Wat apa gituuu..*masih diarea White Temple*

Seolah olah kayak Thai Languange,,padahal bahasa latin

Dari White Temple, saya tanya mbak-mbak yang jaga souvenir, dimana saya bisa nyegat Songthaew (aka Angkot) ke terminal bus Chiang Rai. Mbak-mbaknya kaget, dia bilang, jadi Anda ga punya taksi disini? Saya geleng kepala. Trus dia nelpon nelpon. Dan akhirnya bilang, ke gedung sebelah, ada 1 taksi temen saya nunggu disitu. Lha kan saya nanyanya angkot, bukan taksi *sambil garuk kepala*. Akhirnya keluar lah mencari jalan raya tadi, dan dengan modal tampang bego ada ibu-ibu yang ngasi tau kalo nunggunya ya ditempat ini. Oiya ngomongnya pake bahasa tubuh. Karena dia nyerocos terus dalam bahasa Thai. Sementara saya bengong bengong aja berusaha mengerti yang dia maksud. Si Songthaw biru ke Terminal Bus Chiang Rai datang 10 menit kemudian.

Setau saya ada 2 jenis Songthaw yang ada diarea northern Thailand ini, pertama yang warnanya biru, melayani rute yang fix, misal yang saya naikin dari White temple ke bus station Chiang Rai. Atau rute lainnya yang saya naikin adalah dari MaeSai ke Chiang Saen. Lalu Songthaw yang warna merah, melayani rute terserah supirnya. Jadi kalo yang merah, kita harus nanya dulu, ngelewatin daerah A ga? kalo iya berapa ongkosnya..hahaha..unyuuu kan..

lanjut lagi..

Dari terminal bus Chiang Rai, ternyata banyak bus menuju MaeSai,  agak mirip kopaja, cuman kursinya terawat..dan pake kipas angin..Untuk perjalanan 2 jam, harga 35 Bath atau 10.000an rupiah jadi murah banget. Bus juga ngangkut sembarang penumpang dijalan.Perjalanannya mirip perjalanan ke kota-kota kecil di Indonesia, lancar jaya, kiri kanan kadang sawah dengan langit birunya yang keren Dan ada pemeriksaan polisi. 2 kali. hihihi..Bus berhenti, polisi masuk..semua orang sibuk ngasi liat IDnya. Kayaknya si mungkin karena daerah perbatasan, jadi bener-bener sweeping. Pas pemeriksaan pertama polisinya ngelewatin saya. Jadi saya cuek cuek aja ga ngeluarin paspor. Eee.pas pemeriksaan kedua polisi yang selanjutnya malah berhenti lama. Nagih paspor, bolak balik, ngeliatin muka saya. Tenang pak..tenang..saya bukan teroris. Dan akhirnya dibalikin lagi.  Setelah balik mau keluar dari Mae Sai, banyak pemeriksaan lagi, pas saya di Songhtaw menuju ChiangSaen. Fenomena perbatasan. Warga Burma ternyata bisa bolak balik jalan Tachileik - Mae Sai cuman dengan selembar kertas kartos. Bahkan ada yang cuman ngasi kertas kayak fotokopian.


'Kopaja' antar kota Chiang Rai-Mae Sai

Sampe terminal Mae Sai sudah jam 5.30 sore. Hujan turun gede. Neduh di Songthaw merah, yang mau dinaikin sampe daerah batas. Ngobrol ama ibu-ibu Burma. Trus kata dia, mending masuk dulu terminal untuk nyari tiket bus balik buat besok. Yaudah, saya buka payung, dan nanya ke counter Green Bus. Kata mbaknya yang jaga, Bus MaeSai-ChiangMai untuk besok cuman 1 yang beroperasi. Itu juga udah full booked. Akhirnya dia ngasi saran, kamu berangkat dari CHiangRai aja untuk balik ke ChiangMai. Tapi tiketnya bisa pesen disini. Baiklah mba, saya ngikut aja...

Abis dapet tiket, balik lagi ke  Songthaw merah yang belum jalan juga dan hujan belum berhentii juga. Si ibu Burma masih disitu dan keliatan panik, karena katanya Border tutup jam 6, sementara si Songthaw belum jalan jalan juga. Akhirnya kami dioper ke Songthaw lain, dan langsung jalan. Hahahaha. Deket kok ternyata, paling 1.5-2 km. Ongkosnya 10 Bath saja.

Turun dari Sangthaw, saya nanya2 penginapan di deket-deket Border. Ketemu yang harga 300 Bath pake TV, fan dan air panas. Malemnya abis mandi, keluar mau cari makan, tapi ternyata, warung-warung halal sudah pada tutup. Nyaris cuman makan sayur acar sama telor doang. Eh, untung ketemu tukang rotee martabak yang urbanisasi dari Burma dan udah menetap di Mae Sai 15 tahunan. Sempet liat mirip dimsum di abang abang pinggir jalan, pas saya baru ngeliatin, eh mamangnya udah langsung bilang : You islam, no..this is Pig, Not for you.. hahaha..Sepenglihatan saya, jumlah muslim di Mae Sai ga terlalu sedikit juga, terbukti dari beberapa restoran halal yang ada, lalu awareness tukang tukang jualan pinggir jalan itu sama orang berjilbab (dan tau itu muslim). Saya ga tau si dasar asli keturunan muslimnya darimana. Dari Burma, ada juga yang Thai Chinnese Moslem. Yang jelas, ucapan pak supir taksi dari Bandara ke Terminal Arcade di ChiangMai tadi pagi terbukti. Menurut dia, buat saya, lebih enak menginap di MaeSai ketimbang di Chiang Saen, karena lebih banyak makanan halal di Mae Sai. Thank You Pak Supir.

Not Bad lah, makan malam yang ketinggalan


*bersambung