“Wah, ternyata dinginnya mirip
sama Bandung”, dalam hati saya berkata ketika sampai di Airport Guilin.
Pernyataan yang walaupun benar untuk saat mendarat jam 11 siang itu, tapi tetep
sok tau menyamakan cuaca Guilin dengan Bandung. Saya sudah langsung terkesan
dengan karst karst Guilin yang menjulang yang
tampak saat pesawat akan landing. Takjub gimana bisa model tebing tapi
berbentuk tumpeng tumpeng hijau alam ini bersemayam di satu wilayah area.
Guilin sendiri merupakan salah satu kota di Propinsi Guangxi, area China yang
agak selatan. Walaupun bukan ibukota propinsi (Guangxi ibukotanya di Nanning, *hey, bayangkan kalo saya bisa punya
pengetahuan geograpi sedetail ini ketika di sekolah, pasti saya milih masuk IPS
:D* ), Guilin tergolong kota besar dan
cukup banyak gedung bertingkatnya.
 |
| kerucut kerucut kebalik |
Keluar Airport, saya mencari arah yang katanya terdapat shuttle bus menuju
tengah kota. Dan rasa frustasi bahasa mulai dimulai. Karena ga ada seorangpun
yang ngerti busnya dimana, dan dimana
saya harus nunggu. Udah ketahuan ini, lebih parah dari Beijing, Shanghai dan
Hangzhou untuk urusan Blocking bahasanya. Mulai ketawa ketawa gila dalam hati.
Akhirnya berhasil juga saya menemukan
shuttle bus yang dimaksud berkat ngikutin 2 cewe Malaysia yang bertampang China
banget. Shuttle busnya ternyata cuman minivan. Tarifnya sekitar 20 Yuan untuk
sampai tengah kota sejauh 30 km. Didalam shuttle, karena mendengar saya ngobrol
pake bahasa melayu sama 2 anak malaysia ini, ada seseorang yang negur : “mba
darimana mba?”, “ Dari Indonesia.” “Oh,
saya dari Batam. Kuliah mandarin disini”. “ooo” kata saya. “mba bisa mandarin?” “Ga sama sekali kecuali
Ni Hao dan Xie Xie”. “Nekat banget mba”. “*kasih senyum*”. Tapi ternyata si
orang Batam ini cuman sampai bilang nekat aja. Pas saya ribet mau turun dari
shuttle (ribet memastikan saya turun di tempat yang benar”), dia agak agak
tidak memiliki sense membantu menanyakan ke supir apakah ini tempat yang benar.
Ya sudahlah
Dari turun Shuttle ini, berbekal
peta yang diambil dari airport, saya jalan kaki ke Stasiun Kereta Guilin. Ya, karena tiket berangkat dan pulang dari
kota yang beda (berangkat : Guilin, pulang : Chengdu), saya memastikan saya
bisa sampe ke kota untuk pulang nanti. Masuk ke stasiun Guilin yang besar dan
luas, lagi lagi memandang hampa tulisan tulisan china yang bertebaran. Melihat
sekeliling, hmm, tampang tampangnya ga ada yang bisa ditanya bahasa Inggris. Akhirnya
saya keluarin catetan photokopian Lonely planet saya yang ada alphabet china
bertuliskan kata Chengdu. Nanya pake bahasa tubuh dan english ke anak yang
keliatan muda, loket tiket KA ke Chengdu yang sebelah mana. Akhirnya dia ngerti
dan nunjuk antrian yang paling panjang. Oh baiklah, saya ikut di antrian
tersebut. Deg degan pas mulai mendekati loket, iki aku kudu piye, ternyata oh
ternyata, si mba yang jaga loketnya, ngerti bahasa Inggris sedikit. Lega. Dan akhirnya terbelilah
tiket Hard Sleeper Train di bunk paling atas untuk keberangkatan 3 hari kedepan.
Si mba penjaga tiketnya memastikan dengan tampangnya : memang kamu yakin mau
naik kereta ini? Ini lama lho, bisa 20 jam, eh 24 jam malah. Saya jawab pasti : IYA. Oiya tiket keretanya seharga 310 yuan, sekitar 480 ribu rupiah.
Saya yang belum pernah naik sleeper train, merasa excited sudah mendapat tiket
tersebut.
 |
| Guilin Train Station |
Keluar stasiun, tadinya mau
menuju penginapan yang udah saya buking di Guilin untuk malam pertama
kedatangan. Tapi di perempatan jalan, saya bengong. Kayaknya waktunya ga pas deh,
nanti malah ga cukup kalau malam ini saya nginep di Guilin. Akhirnya, saya balik
arah kembali, melewati Stasiun Guilin, lurus terus menuju Terminal Guilin. Wes,
tapi antara Stasiun Guilin ke Terminal Guilin, saya menemukan tulisan Halal di
salah satu pojokan toko. Mata langsung berbinar binar hijau. Dan perut lebih
bersyukur lagi menemukan kejelasan nasib. Akhirnya saya nyangsang dulu di
tempat makan rice noodle ini. Dan sumpah, ENAKKK Banget. I’m a mie lover. Wkwkwkwk.
Oiya, ngobrol pake bahasa ngaco sama tukang mienya, saya baru ngeh, bahwa
muslim di China itu tidak terbatas hanya dari propinsi Xinjiang saja di ujung
barat China. Dia bilang, mereka berasal dari Propinsi Qingdai. Tetap minoritas
juga si.
 |
| Tarik mienya mang |
 |
| slurpppp |
Di Terminal, saya membeli tiket
bus ke Yangshuo. Dari Guilin ke Yangshuo sebenernya ada beberapa opsi pilihan,
pertama : Pake cruise ataupun rakit bambu melewati Li River.Kedua ya pake bus
ini. Pake cruise/rakit ini harganya minimal 250 ribuan. Hihihi. Karena harga
bus Guilin – Yangshuo cuman 33 ribu rupiah, jelaslah saya milih ini. Cukuplah
kalo mau bambu rakit di Indonesia aja
J.
Lagian udah pernah juga pas waktu di Loksado KalSel. Ya walaupun katanya berlayar di Li River itu
keren banget, saya lebih prefer naik bus ke Yangshuo.
 |
| Tiket bus ke Yangshuo |
Saya naik bus jam 2 dari Guilin.
Sampai Yangshuo sekitar jam 4. Menyeret tas melewati West Street (jalan paling
ramai di Yangshuo) mencari penginapan. Akhirnya ketemu penginapan, cukup
bersih, murah (50 yuan), single room, dekat dengan pusat keramaian Yangshuo dan
Access Point WiFi nya tepat di pintu kamar saya (huahahaha..penting ini!). Ok,
maafkan, nama penginapannya di Mandarin. Jadi ga bisa kasih referensi nama.
Yangshuo ini semacam desa Internasional.
Semuanya tumplek ruweh disini. Traveler China sendiri, bule bule, orang asing
ras lain, penjual suvenir, aneka ria tempat makan, apaaja ada kayaknya. Diapit
oleh Landcape kerucut karst serta Li
River yng mengelilinginya. Kota ini tidak secantik Hangzhou, tapi menurut saya,
Calming. Menenangkan. Sore sampai malam itu, saya habiskan keliling Yangshuo
yang masih berbentuk kota.
 |
| Yangshuo |
 |
| Tumplek ruweh |
 |
| Dipinggir Li River |
 |
| Thanks to mini tripod :p |
Besok paginya, saya sewa sepeda
ke penginapan. Murah, seharian cuman 10 yuan. Jam 7 saya udah start (Yes, I’m a
morning person). Dan dingin. Wkwkwkwkwk. Salah itu yang asumsi Bandung. Rencana
saya sesiangan ini adalah pedaling ke country side nya Yangshuo. Bekal peta
udah ada. Bekal saya selanjutnya adalah rasa siap nyasar kemana saja. Oiya, dan
jeruk, pisang, roti serta Air minum.
 |
| Ayo kayuh sepedanya |
Dan saya menyukai nyasar nyasar
saya sepedaan kali ini. Saya ga tau ada dimana, tapi pemandangannya nyegerin
banget. Serasa pengen nambah hari disini untuk keliling keliling Yangshuo lagi. Tapi akhirnya, saya memutuskan cukuplah. Pulang kembali ke Yangshuo yang berbentuk
kota. Oiya, pas perjalanan pulang, saya juga nemu Rice Noodle yang mirip di
Guilin. Pesen menu yang beda. Tapi agak gila ya porsi orang China ini. Banyak.
Tapi mereka makannya cepet banget.
 |
| Bukit bukit kars di Yangshuo County |
 |
| Banyak turis China (Yaiyalah) |
 |
| Aku jadi lapar lagi |
Sampai Yangshuo yang berbentuk
kota kembali, saya muter muter area yang sepertinya belum saya liat kemaren.
Dan akhirnya jam 2 an siang, saya menuju Terminal Yangshuo kembali untuk balik
ke Guilin.
Hmmm.. panjang juga ternyata ...
nyambung ke
sini