Showing posts with label trip. Show all posts
Showing posts with label trip. Show all posts

2 New Zealand Trip Preparation

Karena sudah memperpanjang domain, saya berjanji untuk mengisi blog ini kembali :)

Ini serie pertama dari New Zealand Trip selama 10 harian pada awal tahun 2015 lalu.  Saya dan 5 orang temen saya, 3 bulan sebelumnya heboh karena ada airlines ke destinasi impian kami yang sale. Tanpa banyak alasan, kami akhirnya buking tiket ke New Zealand tiga bulan sebelum keberangkatan, ber 6, dengan cara menyewa mobil dan roadtrip disana. Maskapai nya adalah Malaysia Airlines (which is kami agak dont care dengan beberapa kejadian yang terjadi dengan MH sebelumnya. Keberangkatan dari Singapore-KL-Auckland pp. Kami mendapat harga yang kalau dikurs kan sekita 5 jutaan untuk keberangkatan dari SG tersebut. Ok, ini salah satu tips mencari tiket murah lagi, jangan hanya mencari dari Jakarta, tapi cara titik titik awal dari negara negara tetangga kita. Misal, ternyata naik MH ke Auckland tersebut jauh lebih murah berangkat dari SG dibanding berangkat dari JKT or dari Kuala Lumpur sebagai base campnya. Keberangkatan dari JKT jika dibandingkan dengan tujuan yg sama bisa 2x lipat lebih.
Jangan lupa beli pesawat sambungannya dari JKT ke SG. 

Karena kami berencana explore South Island, dapat tambahan pula untuk mencari pesawat lokal dari Auckland yang ada di North Island ke Christchurch yang ada di South Island

Masalah tiket beres. Selanjutnya, karena ini adalah murni roadtrip, maka segala sesuatunya jadi agak lama beresnya. Nyaris semuanya injury time. Kami nyaris tidak dapat sewa mobil karena akhir tahun dan awal tahun benar benar peak time ke daerah Selatan. Akhirnya H-2 kami dapat mobilnya. Belum lagi masalah rute harus dipikir secara cermat, maunya kemana aja, 6 kepala dengan beda keinginan masing masing sebisa mungkin diakomodir. Penginapan? tetap saja kita harus kompromi antara nyari penginapan hostel dan berkemah. OK, berkemah memang agak merepotkan, karena itu berarti kami harus mempersiapkan tenda, sleeping bag dan perlengkapan lainnya. Akhirnya, kompromi sepakat kami hanya nenda 2x, sisanya nginap di hostel.

Persiapan sebelumnya, jangan lupa membuat travel insurance. Ini penting sekali. Terutama karena perjalanan kami panjang, serta risiko road trip agak lumayan besar. Dan ternyata langsung terpakai travel insurance ini. 

Masalah Visa? Ini juga injury time. Kami baru submit M-2 Desember untuk keberangkatan 31 Desember. Syarat syarat pengajuan visa NZ standar seperti Visa negara lainnya. Agak cukup mahal biaya visanya sekitar 2 juta rupiah. Sampai seminggu sebelum keberangkatan, Visa belum juga keluar. H-3 kami telpon, Akhirnya keluar. Dan ternyata yang bikin agak lama adalah kami mendapat Multiple Visa untuk masuk NZ dalam periode 2 tahun. Joget joget deh. Agak sedikit Sotoy, kayaknya yang mendapat Visa karena di paspor kami ada tempelan Visa US sebelumnya. Btw, Visa NZ ini agak sedikit sakti juga. Jadi saya bisa masuk Taiwan setelahnya hanya berbekal tempelan visa NZ (atau US atau AUS atau JPN atau Schengen) dengan surat permohonan yang dibuat online. Jadi tidak harus membuat visa ke Taiwan jika memiliki salah satu dari Visa ini.

Hari H keberangkatan. Saya sudah standby di Changi sekitar jam 10 pagi, sibuk eksplore Changi yang banyak hiburannya sambil menunggu jam 7 malam pesawat dari SG ke KL. Sekitar jm 6 sore, kami mendapat notifikasi SMS bahwa pesawat dari KL-AUCKLAND delay sampai jam 11 malam. OK, masih under control lah. Lalu kami terbang ke KL, dan disana langsung melapor ke transit desk untuk kepastian delay. Dan memang delay. Diberitahukan karena adanya gangguan teknis. Kami diberi voucher makan di KLIA


Jam 11 malam kami sudah standby di ruang tunggu. Diberitahukan pesawat masih delay dan dalam perbaikan. Kami sudah tidak tenang, masalahnya kami punya Connecting Flight dengan Air New Zealand dari Auckland ke Christhchurch. Dan dengan delay sampai jam 12 malam ini mepet sekali untuk mengejar connection flight tersebut. Kami minta surat pemberitahuan delay resmi dari MH.

Surat keterangan delay
Kami dipanggil naik pesawat sekitar jam 12.Saya begitu duduk di kursi, langsung tertidur. Sekitar jam 2 pagi, saya terbangun, melihat sebelah teman saya keliatan marah sekali. Saya tengok jendela, ternyata kami masih di KLIA sodara sodara. Pantes teman saya ngamuk ngamuk. Lalu kami diminta meninggalkan pesawat kembali ke ruang tunggu dengan meninggalkan barang bawaan. Setengah jam kemudian, kami dipanggil lagi untuk naik pesawat, karena katanya telah selesai perbaikan. Ternyata didalam pesawat kami masih menunggu. Dan akhirnya, pesawat benar benar tidak jadi diberangkatkan karena ada sparepart yang masih ditunggu. Itu jam 3 atau jam 4 pagi. Saya lelah sekali hari itu sampai tidak bisa komen apa apa lagi. Dan diberitahukan kami akan diberangkatkan ke Auckland pada 1 Januari jam 6 sore alias 12 jam lebih dari kami diminta turun total dari pesawat. Benar benar surprise di tahun baru. Kami kehilangan 24 jam dari itinerary kami. Connection Flight pasti hilang, penginapan harus reset seluruhnya. itinerary harus diubah. Sewa mobil dimundurkan. Semua harus reschedule ulang.

MH membawa kami diinapkan di Palace of Golden Horses di Selangor. Jauh dari pusat kota dan sulit transportasi umum. Bagasi sudah dipesawat, jadi kami tidak punya pakaian ganti. Krik krik. Pelajaran selanjutnya, siapkan satu buah baju ganti untuk di Handcarry jika memiliki Long Flight. 

view dari kamar di Palace Golden Horses. Itu track lari lho
Sampai Hotel ini, kami sempet tidur dan beberes sebentar, reschedule jika sambil dilakukan. Karena tugas saya adalah booking penginapan, maka saya harus mengimel seluruh hostel hostel yang sudah dibooking untuk bilang pesawat kami delay dan kami harus delay (dan beberapa dibatalkan) penginapan2 tersebut. Yang lain reschedule mobil, atraksi, dsb.

Jam 6 sore akhirnya pesawat berangkat beneran ke Auckland. Akhirnya. Tadinya saya berfikir, ya sudahlah dari KL balik aja ke Jakarta, sudah menyerah dan capek mental. Namun akhirnya pesawat berangkat juga. Sampai Auckland sesuai jadwal sekitar jam 11 siang dan tidak ada masalah. Di Auckland, kami mendatangi counter Air NZ untuk repayment lagi pesawat Auckland - Christchurch. Kami mendapat pesawat jam 3 sore. Dan tetap harus membayar selisih harga tiketnya. 

Kia Ora at Auckland Airport

Pesawat akhirnya sampai di Christchurh jam 5 sore. Dan Alhamdulillah semua lancar sampai di Christchurch. Oiya, ketika naik Air NZ, jangan lupa perhatikan safety instructionnya yang berlatar Hobit dan LOTR.



Hidup dan perjalanan boleh direncanakan, pada akhirnya ada yang Maha Lebih Merencakan dibanding kita. Terima saja apa yang sudah menjadi ketentuan. D akhir tulisan ini, saya ingin berpesan, pilihlah Travel Insurance yang sedikit benar. Untuk kasus saya dan teman teman yang delay parah ini, saya memakai AX* Insurance. Teman saya 1 orang memakai A*G. Dengan kasus yang sama, kompensasi yang diterima A*G jauh lebih besar dibanding AX*. So, im not happy with AX* and now change my travel insurance  to A*G.




4 Why China? (Againn!!)

"Bukannya elo taun lalu udah ke China?"
"Kenapa sekarang ke China lagi?"
"Trus sekarang jalan sendirian lagi juga?"

Itu pertanyaan  yang kayaknya hampir selalu muncul dari orang sekitar saya, pas tau saya mau ngabur .
Ke China lagi..pula..
Dan jawaban saya seperti biasa : Why not? *sambil kasih tampang cengar cengir*

Dan biasanya mereka akan mengiyakan : Ok, China wilayahnya besar, mustahil untuk bisa sekali cukup kesana.Tapi ngapain juga kesana lagi, dalam jangka waktu yang ga lama. Bayar sendiri pula, ga dibayarin kantor kayak temen-temen lain..:p

Ok, my dear friend,
Saya cuman kangen ketika ada di jalannya dalam jangka waktu cukup lamanya (sekitar 10+2 hari)..
Kangen rasanya bertualang, ga tau mau ambil rute mana, atau mau lewat jalan mana...
Kangen rasanya bingung menentukan mau nginep dimana malam ini, atau mau makan apa dan dimana sore ini..(fyi saya buking penginapan cuman 1 malam, malam pertama aja sebagai syarat visa)
Kangen berada di keramaian orang, tapi sebenernya sunyi yang dirasakan..
Kangen terasingnya..
Kangen blocking bahasanya..
Kangen orang orang ngeliat dengan tatapan aneh kesaya.. (hahahaha)
rasa yang ga mungkin saya dapatkan kalau saya dirumah, ikut ritme harian : bangun pagi,  ngereta, ngantor, pulang lagi, mandi, tidur..
Kangen rasa dijalan yang mungkin susah dideskripsikan dengan kata (makin abstrak)

It's not about the destination,
It's about journey...

Walau tetap saja destination menjadi suatu cara mencapai journey tsb

Jadi izinkan saya bercerita makin absurd di tulisan-tulisan selanjutnya : Journey Guilin - Chengdu
And, that's right, they're in China :-)

Apa yang kamu liat, nak?




0 Bangka Belitung [1]

Nama Belitong saya kenal pas SD dulu, ada 1 buku yang saya pinjem (dan sepertinya ga saya kembaliin, tapi ga tau juga ada dimana sekarang) dari Perpus Sekolah. Judulnya "Turut Ayah Ke Pulau Timah". Pengarang lupa, penerbit lupa, isi cerita detailnya juga nyaris lupa. Cuman judulnya yang saya inget, dan jalan ceritanya tentang seorang anak yang ikut transmigrasi orangtuanya ke Belitong. Dibuku itu lebih menggambarkan menderitanya anak itu di pulau belitong sebagai  anak pekerja kasar PN Timah. Namun buku ini sama sekali tidak menceritakan keindahan Pulau Belitung.

Datang dari Jakarta via Bangka, cukup nekat juga kami berangkat untuk kondisi cuaca yang ga bersahabat. Kalo naik pesawat Jakarta-Bangka, mintalah window seat yang barisan kiri ke petugas check-in. Begitu akan mendarat, akan banyak terlihat   danau danau buatan hasil pengerukan timah. Kedalaman danau kerukan akan menentukan tingkat warna yang terpantul. Semakin dalam kerukannya, semakin hijau warna yang muncul.

windows seat view jakarta-bangka

Welcome to Depati Amir Airport

Sampai Bangka, kami ke pelabuhan Tanjung Balam. Rencana untuk naik JetFoil dari Bangka menuju Belitung. Tapi ya tapi. Si JetFoil lagi berhenti beroperasi sementara dikarenakan cuaca yang kurang bagus. Namun ada alternatif naik kapal Roro, yang kebetulan jalan hari itu. Kami berfikir lama. Akhirnya memutuskan naik Kapal Roro tersebut, yang plan berangkatnya jam 3 siang dan sampe Belitung jam 10 malam. Kalo naik JetFoil sendiri, estimasi 4 jam sudah sampai dari Bangka ke Belitung.

Libur dulu

Hello Pangkal Balam

Ini transaksi jual beli. Pembeli diatas kapal, penjual dibawah. Delivery pake kerekan keranjang :))



Ok, sebentar, kapan terakhir saya naik kapal besar? Ehmm, pas ke Karimun Jawa kayaknya.
trus kapan terakhir kali saya mabuk laut? Ehm, pas ke Pulau Biawak, dengan Kapal Nelayan yang dihempas badai 6 jam. Oiya, 6 jam jadi waktu terlama saya naik kapal laut sebelumnya

Dan ternyata naik kapal Roro dari Bangka ke Belitung ini lumayan "berdarah-darah" #lebay. Maksud saya, karena ombak yang tinggi, walaupun kapalnya sudah besar, tetep aja parah banget perjalanannya. Saya cuman berhasil duduk dan jalan jalan dalam kapal selama kurang lebih 2 jam-an. Habis itu, ya ampunnn, untuk bangun dari tiduran aja ga bisa dkarenakan mual yang amat sangat. Minum Antimo sekaligus 2 juga ga mempan. Dan ga bisa ngapa-ngapain kecuali berbaring di kapal. Duduk sebentar langsung berasa mual. Parahnya, ternyata kapal tidak merapat sampai jam 10 jam 11 malam. Tapi jam 3 pagi kami baru bisa merapat dikarenakan masih ada kapal yang bongkar muat di pelabuhan Belitung. Dan yang mabuk laut payah ternyata bukan saya saja. Nyaris seluruh penumpang bergelimpangan. Oiya, kapal Roro ini tujuan akhirnya Tanjung Priuk. Jadi ke Belitung cuman transit ambil  muatan lagi. Hiii, banyak juga ternyata penumpang yang sampai Tanjung Priuk. GA KEBAYANG mereka gimana nanti lanjutannya. Saya si cukup ya, ga cukup mental dan fisik lagi kalo kudu naik kapal yang sama dan balik lagi dan laut lagi kurang bersahabat pula :)) Cukup 12 jam itu sementara. (Tapi biasanya kapok sambel, kapok kapok ya tetep dijalanin juga)

Sampai Pelabuhan Belitung, kami dijemput temannya mba Rini menuju penginapan.

_bersambung_




2 Bukittinggi ++

It took 2 hour drive from Padang to Bukittinggi. Our minibus stop before Aur kuring terminal, and from there we take an angkot to Jam Gadang area. Many hostel and hotel located at Jam Gadang Area. Surprisingly, in angkot, we hear some people speaking a very uncommon language.They spoke Romanian language. How can I know? One of them can speak Bahasa fluently because he has living in Bogor for almost 6 years. And guest, what are he doing in Bogor? He learnt Pencak Silat!! ckckckck. Not too many conversation that can we made, because they leave angkot first before us. 

 Its heavy rain when we reach Jam Gadang Area. We take a walk to Kampung Cino area, looking for cheap hostel. Finally we get in the Grand Kartini Hotel. Not too cheap for me, but two others friend want to overnight there. And I join with them in this hotel.

Good Morning from Jam Gadang!

 I woke up early morning, take a pray in mosque beside hotel. And then a morning walk to Jam Gadang. Just only a few persons there. A cleaning service did his job. And I take a me time here, until the sun and the people came. After area became so crowded, I left Jam Gadang, going to Ngarai Sianok. Just a 10 minutes walk from Jam Gadang to Taman Panorama. People go to Taman Panorama area to see a beautiful Ngarai Sianok. Ticket office still close, but some Karang Taruna people take retribution from morning visitor. Ngarai Sianok is very worth to visit. There is also so many monkey here.

Ngarai Sianok

Ngarai Sianok

Ngarai Sianok

Monkeys in Taman Panorama, Ngarai Sianok

 There is also Gua Jepang In Taman Panorama. They have underground channels. I try to entering the gua without tour guide. And, I don't like the situation and surround in the undergorund. I almost lost inside the cave. Don't try it at cave alone, people! I back to Taman Panorama upperground. When I look around, a shopkeeper telling me that I can go to down area of Ngarai Sianok. I Just need to follow the path. It's almost 30 minutes to walk down, when finally I reach the rice field surrounding with edges. And there is Itiak Bumbu Lado Ijo restaurant beside the Sianok. Unfortunately, not yet opened when I reach that place. 

Selamat Datang!


Ngarai Sianok

Ngarai Sianok

Add caption


 I back to hotel. After breakfast, I rent motorcycle to go to Harau Valley, near Payakumbuh in Kabupaten 50 Koto, about 60 km from Bukittinggi. Easy road, I just follow the straight path to Payakumbuh, and then to Harau.The scenery is amazing. In some area, I stop the motorcycle, take a photo, and then back to road. Its took more than 1 hour for me to reach Harau Village. Yep, the motorcycle speed only 40-60km/hours. 

On My way to Harau

Pitstop for me

Another Pit Stop


And, Harau for me, its more beautiful and amazing than Ngarai Sianok. I love the waterfalls here. And also the Canyon.Next time going Harau, I want to overnight here.

Harau Waterfall





 I skip my plan to Pagaruyung Palace, because too far with motorcycle for me to go there. Yup, usually I only use motorcycle for only 30 minutes max daily. So I back to Bukittinggi, to Benteng Fort De Kock ( just take sleep on bench's park) and go to Zoo (sad with the elephants). Take a walk to Pasar Ateh (Pasar Atas) and Pasar Bawah. And after that, see million of people in Jam Gadang. I have to say its very different with my morning view in Jam Gadang. Looks like everyone didn't have enough space here. So crowded. My day is perfectly ended at Sate Danguang Danguang before I come back to hotel.

 *PS : tidak terima polisi grammar :))*

1 Hello, Padang!


"Emang kemaren lo dapet tiket berapa ke padang"
"60.200 bang"
"Ah, gw cuman 10.200"
"Kok bisa bang?"
"iya, bayarnya pake voucher mandala, ga pake kartu kredit, jadi bebas biaya cc yang 50.000"
*gw : tepok jidat*
"Aku ampe beli 5 kali pp jakarta padang, 60 ribu pake kembali pula"

Sepenggal percakapan aneh tersebut, jadi pembuka bincang bincang saya dengan salah seorang teman baru di Soetta ,yang ternyata sama-sama teman member Backpacker Dunia di Facebook, yang walaupun level kememberan saya disitu (nyaris) pasif.

Padang kota ketiga di Sumatra yang saya kunjungi, setelah Medan dan Batam (Batam sumatra juga kan? :p) Jadwal pesawat pagi yang jam 5.25, bikin saya nginep di Terminal 3 Soetta malamnya. Abis ga rela si. Tiket 60ribu, masak taksinya 200ribu sekali jalan (tuing..tuing..). Kalo ada yang mau coba menginap, di Terminal 3 banyak spot buat tidur dibandara.Jadi ketika sampai Terminal 3, langsung masuk aja ke bagian dalem via pintu visitor (bukan pintu cek-in), lalu tinggal masukin tas ke Conveyor. Udah, ga pake ditanya tiket jam berapa ama petugasnya. Nah, beberapa spot tidur yang bisa ditempati diantaranya : spot pertama di kursi panjang luar yang sebelum pintu masuk. Tapi disini kita akan langsung kena angin dingin malem. Ga enak. Udah gitu saingan juga ama bule bule. Spot tidur kedua di terminal 3 ada  di playgroundnya anak-anak. Ini menurut saya juga ga enak karena terlalu keliatan (ada chargeran listriknya).Udah gitu, walau udah malem, masih aja ada anak yang diajak jemput orangtuanya trus make playgroundnya pula (bukan salah mereka juga si! :)) ). Spot tidur  ketiga diMushola. Musholanya bisa yang dilantai 1, bisa juga di lantai 2. Kalo yang di lantai 1 musholanya campur, dan AC nya dingin banggetttss. Nah, kalo saya lebih suka yang di mushola lt.2. Posisinya, abis naik eskalator langsung balik arah deket cafe-cafe dan lounge.Mushola pisah utk perempuan dan laki-laki. Lebih sepi. AC ga terlalu dingin. Dan jarang yang notice. Hahaha.

Jadwal pesawat yang saya naikin ini ternyata Inagural Flight Tiger Jakarta-Padang, yang kemudian lanjut Padang-Spore, Spore-Bali, Bali-Surabaya. Bolak balik. Karena inagural flight, penumpang dapet Snak lengkap, cendermata Bagtag Tiger, Ada Sandiago Uno dan CEO nya Tiger yang ikut naik pula. Ada juga undian voucher tiket mandala pp buat 3 orang yang beruntung (yang sayangnya bukan nama saya).
Inagural FLight Mandala Jakarta Padang

Gerimis menyambut ketika landing

Khas Atap Minang di BIM
Begitu mendarat di Minangkabau International Airport, ada banyak pilihan mau kemana aja. Dan tanpa harus taksi. Kalau kita mau ke kota Padang, ada Damri langsung dari Bandara sampe Pasar Raya Padang. Ongkosnya Rp.18000. Atau, kl mau lebih irit, naik ojek sampe Jalan layang perempatan simpang bandara (kira-kira 3 km dari bandara. Ongkos ojeknya tawar sampe Rp 10.000) Trus ada Angkot orange jurusan Lubuk Buaya. Itu juga sampe kota padang. Ongkos angkotnya Rp 2.000. Opsi naik ojek sampe perempatan simpang bandara itu bisa diganti sama jalan kaki, atau lari (jika lo runner, pasti 3km keciilll.) atau hitchiking mobil yg abis nganterin orang (ngookkk). Dari Simpang Bandara ini juga ada Travel langsung ke Bukittinggi atau kota kota padang lainnya. Travel dari situ ke Bukittinggi ongkosnya Rp 16.000. Kalo naik travel langsung dari bandara ke Bukittinggi, Rp 60.000 yang ditawarin. Kalo taksi sampe Bukittinggi? 200 ribuan lah. Hahaha..Jadi silahkan dipilih sendiri.

Saya naik damri sampai sampe nyaris terakhir bus berhenti. Turun di Simpangan yang mau ke Dermaga Bahari. Niat awal nengokin si AW Restoran, tempat mangkalnya NewSikuaiIsland tour one day. Soalnya saya coba telpon dan email dari Jakarta, ga pernah diangkat. dan dibalas .Ternyata oh ternyata, ke pulau Sikuai via Sikuai Island Tour itu lagi tutup sampai batas waktu yang tidak jelas karena ada masalah sengketa alih kelola resort. Tanya pegawai yang kebetulan melintas juga ga tau kapan bukanya. Saya yang pas di Damri, barengan ketemu 2 cewek, Achi dan Dewi, yang juga mau ke Sikuai, balik arah kembali. Kami ketemu nelayan disana yang menawarkan ke Pulau Pagang, yang posisinya terletak dibelakang Pulau Sikuai. Kata beliau, lebih bagus kak, cuman bedanya ga masuk Internet aja kayak Pulau Sikuai itu. Si Bapak nawarin perahu 1.2juta pp one day. Kita cuman bertiga. Mikir agak lama.Nawar. Akhirnya kena di harga 1 juta PP. Udah sampe Padang. Yaudahlah. Hahahaha. Kalo mau nginep, beliau minta tambah jadi 1.5 juta. Lalu tempat nginepnya di Pulau Pagang menurutnya sekitar Rp 200.000 per malam. Sebelum berangkat, beli bekel maksi sama minum dulu di deket dermaga.

Dermaga Bahari


Perjalanan dari Dermaga Bahari ke Pulau Pagang sekitar satu jam by Jet Boat (yang mesinnya 2, dan dibanggakan sama bapaknya). Ga pake lifevest :| Agak nekat. Emang. Tapi mereka ga punya. Berangkat Alhamdulillah aman. Pas pulang dong, yang lautnya bergejolak. Mirip naik Kora-kora low level.Kita ngelewatin Pulau Sikuai, dan beberapa pulau sebelumnya. Dan akhirnya tiba di Pulau Pagang ini.

si Pak Iin pamer 2 mesinnya

Sikuai Island dari atas kapal
Pengunjung Pulau Pagang ternyata hanya kita bertiga. Jadi kayak Private island. Kata bapak penunggu Pulau, biasanya banyak bule bule yang kesini. Namun seminggu itu sepi karena hari hujan terus.Pemandangan Pulau Pagang catchy banget dimata.Pasirnya dongg..Halusss banget kayak bedak bayi. Sampai sana buka bekal makan, sambil diliatin doggy doggy unyuu yang pasang mata melas. Hohoho. Selesai makan, kita muterin Pulau yang kecil ini. Foto-foto, bikin tag nama di pantai. Saya sempet tidur siang di ayunan temalinya. Sunyi senyap, ditemani suara ombak, ditambah malamnya yang ga pules tidur di Bandara. Damai. Wkwkwkwk. Bangun karena diajak pulang balik ke Padang sama 2 temen saya. Trus dengan bodohnya saya tanya lagi, " Emang tadi aku tidur ya?" Langsung disorakin sama mereka.Hahaha

Markas di Pulau Pagang

Pantai Pulau Pagang

mantek nama

Pulau Pagang

Achie n dewi, my travel mate to Pagang

Balik ke Padang lagi, kami kemudian nyantol di Sate Padang dan Cendol Mutiara. Selesai Sate Padangnya yang emang maknyusss, kami ke area ngetem travel menuju Bukittinggi. Areanya namanya BasKo. Awalnya saya pikir itu Bakso yang tertukar. Ternyata Basko itu nama Supermarket sodara sodara. Travel ke Bukittingi dari Basko banyak sekali. Ada juga mobil pribadi yang nyaru jadi travel.Pas turun angkot, kita sempet digeret geret untuk naik mobil pribadi travel ini Jadi agak hati-hati aja milih yang mana. Pastiin pas naik travelnya udah ada orang yang naik terlebih dahulu. Dan pastiin juga ongkos travelnya cuman Rp 16.000. .Tadinya saya fikir akan seharga travel Jakarta Bandung yang minimal Rp 50.000. Gila kan. murah!!

Sate Padang Patimura