2 Istanbul : Istiklal Caddesi

"No woman no cryyy..
  No woman no cryy.."

Bukan lirik lagu suara pengamen di Istiklal Caddesi yang menyanyikan lagu Bob Marley yang sangat terkenal itu yang membuat saya menoleh. Tetapi potongan kardus diatas tempat gitar kecil yang tertulis : singing to travel all over world yang membuat saya tertarik. Saya kemudian berhenti sejenak. Mengambil duduk dekat si pengamen ini, menikmati dia menyanyikan lagu bob marleynya sampai habis. Mengasungkan beberapa lira ke kotak gitarnya . Untuk kemudian menanyakan : are you really singing for travelling the world?  Yes, he said.

Hello, Haruki!

Haruki, nama yang kemudian diperkenalkan, Seorang Jepang. Memulai perjalanan dari Jepang ke Vietnam, kemudian menyusur Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia, Singapore. Sayangnya dia tidak (belum) berbelok ke Indonesia. Dari Singapore dia terbang ke India, kemudia lanjut ke Turki. Plannya selanjutnya adalah ke Israel dan tembus ke Afrika.

Saya sering membaca berbagai cara kecil seseorang untuk bisa mewujudkannya keliling dunia, dengan menjual postcard, menjual bros, art performance, atau apalah. Tapi baru kali ini saya bertemu langsung orang dengan mengamen sedang dan berusaha mewujudkan mimpinya. I envy you, but I cannot singing, kata saya ke Haruki. Dan dia cuman ketawa, you can do it if you want, of course with your style and skill, katanya. Hahaha

Haruki merupakan salah satu fragmen yang saya temui di Istiklal Caddesi, pedestrian street serta shopping street paling terkenal di Istanbul. Saya rasanya bisa menemui semua hal disini. Semua kebangsaan nampak ada. Keren keren gayanya. Iya, terlalu keren keren dan cantik cantik mereka. Saya jadi minder dengan jaket lontong saya. Kiri kanan toko toko, shopping mall ternama, cafe, restoran, toko buku, toko music, toko coklat, apapun berderet deret. Belum lagi berbagai street food yang ada. Ngulik ngulik masuk gang gangnya, rumah makan ataupun toko toko suvenir bertebaran. Dan tentu saja, penguasa istiklal caddesi, the old red lady, yang mondar mandir dengan kentongannya.
Suasana Istiklal Caddesi
Kebab Dulu

Taksim Tunnel, penguasa Istiklal Caddesi

Pada ujung Istiklal Caddesi terdapat Taksim Square, meeting point berbagai sudut, berbagai manusia, serta burung burung. Ditengah tengah Taksim Square terdapat Republic Monument.

panoramic Taksim Square

Meeting Point para burung

On the way menuju Istiklal Caddesi saya bertemu dengan Galata Tower, salah satu icon terkenal di Turki juga. Saya memutuskan akan naik keatas tower saat waktu senja. Dan antrian naik galata tower ternyata panjang dengan tiket yang agak lumayan mahal :)) (saya lupa angkanya). Kami naik lift ke atas untuk kemudian dapat melihat pemandangan kota Istanbul dari balkon Galata Tower. Walaupun mendung dan matahari tidak keliatan, bias jingga cahayanya menyambut malam yang datang cukup membuat para pengunjung yang memenuhi balkon galata tower tidak mau beranjak sebelum benar benar lenyap.

galata tower

dari atas Galata Tower


Setelah mondar mandir di Istiklal Caddesi, pulangnya saya akhirnya mencoba naik Marmaray, bolak balik dari Sirkeci station ke Uskudar station. Cuman satu stasiun dan kemudian balik lagi. Norak, tapi saya cuma mau ngerasain, naik kereta dibawah Selat Bhosphorus, yang katanya 60 meter dibawah permukaan air, belum lagi, marmaray juga rail connected pertama yang menghubungkan benua Asia dan benua Eropa. Rasanya si sama aja, tapi berhubung Marmaray baru diresmikan sebulan sebelumnya, ya jadi saya iseng iseng naik.

Marmaray




Info Marmaray Project