Sekembali dari muter muter di kota Guilin paginya, saya keluar penginapan, kemudian karena sudah mepet jamnya, lari lari menyebrang jalan ke stasiun kereta. Saya kemudian membeli minum dan snack di toko depan stasiun Guilin. Masuk stasiun di China, prosedurnya masih sama. Masih masukin barang bawaan kita ke conveyer belt and scanner. Setelah itu, saya naik ke lt.2 lalu duduk manis di ruang tunggu yang temaram
Kereta datang sekitar pukul 12.45 siang. Padahal pintu ruang menuju peron kereta belum terbuka, tapi calon penumpang sudah langsung grubak grabuk di depan pintu yang tertutup tersebut. Susah banget disuruh antrinya. Jam 13.00 penumpang pun masuk kereta, saya pun langsung nyobain sleeper bunknya. Panjangnya pas sebadan saya, tapi naasnya, sering kepentok atap kereta :D. Nyesel ga milih bunk yang bawah. Ternyata beda antar bunk cuman 10 yuan alias 15.000 rupiah
Jam 13.20 Kereta berangkat. Saya masih bengong bengong sambil ngatur tas di bunk.Kondektur datang dan minta tiket kita untuk dituker dengan kartu tertentu yang menerangkan posisi kita dimana serta dimana kita akan turun. Abis itu saya tertidur, dan pules.
Sleeping bunk
Ini keran air panas lhoo (free)
Aktivitas yang saya lakukan di kereta selain tidur, yang lainnya adalah turun duduk samping jendela sambil liatin dan motoin pemandangan diluar yang keren sambil ngemil, buka buka potokopian Lonely Planet yang dibawa, buka Note Everythingnya di Handphone, nyanyi nyanyi ga jelasan sendirian, ngemil keripik kuaci, mengkhayal-khayal, memperhatikan penumpang penumpang lainnya. Looping sampai bosen dilakukan aktivitas tersebut. Ga ada yang bisa diajak ngomong sekoridor it. Foreignernya cuman saya (kelihatannya)
Halo bapak, Ni Hao?
Sekelompok keluarga China, Look how they bring the baby :')
Dari jendela, kita bisa liat batas area propinsi Guangxi dan Propinsi
Sichuan. Kalau di Guangxi, maka yang nampak pemandangannya adalah karst
karst menjulang. Sementara di Area Sichuan. yang diliat bukan karst
karst lagi, tapi pegunungan dengan warna air yang hijau. Gak lama, ada
pemandangan gedung gedung tinggi yang keliatan dari jendela. Berarti
kita udah sampe Chongqing, salah satu kota besar yang ada di Sichuan. .
Penumpang lain udah banyak yang turun. Saya masih leyeh leyeh, baik di
bunk atas ataupun kursi di jendela bawah. Kondektur nuker kartu kita
dengan tiket asli kereta kita
Dari balik jendela kereta 1 : Di Guangxi nampaknya
Dari Balik Kereta 2 : Masih di Guangxi juga nampaknya
Dari balik Jendela Kereta 3 : Nah, ini nampaknya dah masuk area Sichuan
Dari balik jendela 4 : Chongqing
Jam 13.25 siangnya, kereta merapat di ChengduDong Station..Sampai juga akhirnya di Ibukota Sichuan ini. Turun station langsung cari jalur MRT Chengdu yang tepat bersebelahan dengan pintu keluar Stasiun Chengdudong. MRT di Chengdu sendiri baru terdiri dari 2 line, namun sedang dalam tahap pengembangan lebih lanjut.
East Chengdu Station MRT
Chengdu
Tidak banyak yang saya lakukan di Chengdu. Setelah menemukan Flip Flop Hostel (yang mana awalnya saya tidak bermaksud mencari hostel ini, namun terjadi salah catat alamat sehingga yang ditemukan malah hostel ini :D). Chengdu menjadi kota transit saya, karena akan menuju Jiuzhaigou. Beberapa interest place yang ada di Chengdu, yang sempat saya mampiri antara lain Tianfu Square, People's Park, Wenshu Monastery Temple, Chunxi Road,Kuanzhaixiangzi Alley, dan Ultimate nya : Panda Breeding Centre (diposting terpisah) :-)
Enjoy the picture !
Chunxi Road, CHengdu
In front of Tianfu Square, Chengdu
Ini Mesjid Lho..lokasinya deket banget sama Tianfu Square
Dibawah mesjidnya ada gerai restoran halal (tapi mahal!). Saya ga jadi beli disitu
Beli makannya malah sama mba mba pinggir jalan ini, di gang samping masjid
Plus Kebab dari Bapak ini
di salah satu sudut Kuanzhai Alley, Chengdu. Lucu ya, surat, kotak surat, sepedah :)
Selalu
bingung untuk mulai darimana! Yang dikepala terlalu banyak, sementara ketika
ngetik, jadi blank apa duluan yang harus ditulis. Sama seperti China itu
sendiri, sebegitu besar wilayahnya, sampe saya perlu beberapa kali mencoret
coret dan mengganti rute dalam perencanaan, karena banyaknya tempat tempat
menarik, namun terbatasnya waktu serta kemampuan. Sengaja saya nyari tiket promo dari kota yang
berbeda untuk waktu datang dan pulang. Mendarat di Tianjin, pulang dari
Hangzhou (yang saya menyangka Hangzhou itu di Shanghai. Padahal 100 km jarak
Hangzhou-Shanghai). Browsing browsing, nemu banyak kota menarik lainnya seperti
Xi’an, Chengdu, Huangshan, Suzhou, TongLi, Nanjing. Plan itinerary saya ketika
mau berangkat bisa dilihat disini (udah kayak semi buku)
Kenyataannya,
saya hanya bisa ke Beijing-Shanghai dan Hangzhou. Pertama karena tiket kereta
malam Beijing-Shanghai (14 jam), yang relative murah dan irit biaya menginap,
ludes ketika saya mesan pada H-3 sebelum berangkat. Jadi terpaksa saya naik
Bullet Train (5 jam lebih dikit) esok harinya yang otomatis mengurangi waktu
dihari-hari selanjutnya, karena Bullet Train hanya jalan dari pagi sampe sore.
Belum lagi juga harus nambah biaya Hostel (walaupun murah). Dan tiket Bullet
Train Beijing-Shanghai yang lumayan (beneran) mahal! Faktor kedua adalah faktor Sakit
setibanya saya di Shanghai. Cuman Flu, tapi
berat. Saya fikir si wajar, sebagai manusia tropis yang biasa kepanasan,
tiba-tiba kecemplung di kota yang maksimal suhunya adalah 12 derajat. Walaupun
dah pake baju lapis-lapis, tetep aja badan saya ga tahan.Hahaha. Ga bisa
terhindari. Akhirnya rute China saya hanya santai ke-3 kota. Eh tunggu?
Santai? Kaki sampai melepuh kebanyakan jalan dibilang
santai. Wkwkwkwk
Saya
suka musim ketika saya datang ke China. Early Spring. Selain karena saya belum
pernah mengalami musim diluar kemarau dan penghujan serta tidak panasnya suhu,
saya suka ketika melihat pohon pohon
hanya berbentuk ranting dengan tunas tunas bunga siap muncul, mulai mekar
ditambah perpaduan biru langit yang sempurna plus tiupan angin perlahan. Bahkan hanya untuk duduk diam-doing nothing- saja, sudah jadi kemewahan tersendiri. Kemewahan yang susah didapatkan kalau ikut
travel agent. :D. Selain itu, karena udara masih agak dingin, nyaris semua orang berjaket ria. Jadi ga ketemu deh enemi-enemi musim panas yang 'katanya' ga cukur bulu ketiak dan menjuntai-juntai. hahahaha
mulai mekar
Menginap
semalam di Kuala Lumpur, saya berangkat dari Kuala Lumpur jam 08.30 pagi. Lama
penerbangan KL- Tianjin sekitar 6 jam. Mendarat di Tianjin pukul 14.30 siang. Kesan
ketika melihat dari atas pesawat, Tianjin itu gersang, dan tidak cerah karena
ada asap. Baru kemudian saya ingat, bahwa Tianjin merupakan kota Industri. Jadi
agak mirip Bekasi Cikarang kalau dibandingkan dengan Jakarta.
stasiun kereta Tianjin
Dari
bandara Tianjin, tersedia bus transfer ke Station kereta Tianjin dengan ongkos
15 RMB. Fyi, kurs 1 RMB sekitar Rp 1400-1500an. Lama tempuhnya 30 menit. Sepanjang perjalanan ke stasiun, sama sekali saya ga
nemu gedung/bangunan dengan warna gonjreng mentereng. Rata-rata warna soft dan
sendu.
PR selanjutnya setelah tiba di stasiun adalah
membeli tiket kereta. Jreng jreng. Kan udah dibilang susyee ngomongnya dan ga
ada petunjuk di loket dalam Bahasa Inggris. Jadi saya hanya ikut masuk antrian salah satu
line, ngomong : Beijing (sambil ngasi tanda angka 1 pake tangan). Tukang
tiketnya nunjukin kalkulator harga, kasih passport, bayar. Hahaha. Harga
Bullet Train Tianjin-Shanghai ini 55 RMB. Murah untuk kereta dengan kecepatan
300km/jam, lama perjalanan hanya 30 menit. Dapet 1 botol air Tibetan Spring
pula. Ibarat Jakarta Bandung 30 menit dan cuman bayar sekitar Rp 75.000. Siapa
yang ga doyan. Hahaha.
Tuh kan, no english di loket :D
tiketnya Tianjin-Beijing..ada nomer paspor juga di kiri bawah
Masuk
semua stasiun kereta di China ternyata
prosedurnya sama kayak masuk bandara. Pake harus masukin tas dan semua
perlengkapan ke Conveyor Belt dan ngelewatin pintu detector yang bersensor. Plus
harus cekin juga, yang dibuka sekitar 15 menit sebelum kereta berangkat. Jadi
agak susah kalo dateng ke Stasiun injury time. Selain prosedurnya banyak.
Antrian dimana mana juga banyak. Gimana lagi, China masih negeri populasi
terbesar didunia. Oiya, gak lupa poto-poto ama si CRH nya. Secara baru pertama
naik kereta cepat. *norak deh*. Pas
didalem kereta, merasanya kayak biasa aja. Smooth. Ga nampak keretanya melaju kencang kalo kita
ga liat jendela. Eh, didalem kereta juga ada Panel Info Stasiun selanjutnya,Speed
saat itu berapa, temperature diluar berapa. Di masing-masing gerbong juga terdapat
Toilet (bersih) juga tersedia Air Panas dan gelas untuk minumnya.
CRH Bullet Train
Outside Temperatur
Speed
Tiba
di Beijing, kereta mendarat di Stasiun Beijing South. PR selanjutnya adalah
membeli tiket ke Shanghai. Untungnya, di Beijing South, mba Siska dijemput sama
pemandunya, Kevin, mahasiswa dari Indonesia. Jadi dengan baik hati, Kevin mau
nemenin beli tiket tsb. Sebenernya bukan nemenin, dia yang bilang ke kounter tiket dan dikasi tau
tiket sleeper trainnya habis, dan cuman ada Bullet Train utk tanggal yang saya
inginkan. Ga kebayangkan kalo saya sendiri yang beli.hihihi. Selamat..selamat..
Beijing
South, selain merupakan stasiun antar kota, juga merupakan point stasiun Subway. Tapi Relnya terpisah. Stasiunnya juga beda,
sebelahan namun terhubung. Jadi ga mungkin ada chaos gangguan seperti yang
sering banget kejadian di Gambir. Gara-gara nunggu kereta Jawa, semua KRL jadi
terlambat datang.
Kadang-kadang saya berfikir, memang perlu tiran utk mbenerin Indonesia ini. Mana bisa
Infrastruktur kereta bagus kalo relnya ga pernah dibangun. Hanya mengandalkan
rel kereta buatan Belanda. Eh, ngelantur.
Lanjut
dari Beijing South, saya naik MRT menuju hostel Candy Inn .
Lokasi hostelnya strategis di daerah Hutong,deket dari Stasiun MRT Yonghegong
Lama Temple. Cuman saya ga akan merekomendasikan hostel ini deh. They DIDNT
Tell that they already under renovation. So, I didnt get room that match with my
booking. Saya mesen female dorm, ternyata mereka cuman punya mix dorm. Tadinya
hanya niat sehari disana,besoknya nyari hostel lain. Tapi mengingat tangga
stasiun MRT Beijing yang ga terlalu bersahabat buat nenteng-nenteng koper
(sudut 45 derajat, udah gitu panjaaaaangg tangganya, Sebagian ber-eskalator, sebagian tidak) lagipula saya cuman numpang
tidur malem doang, akhirnya saya tetap menginap 4 hari disana. Dengan 3 orang
lainnya cowok-cowok dari China yang memang kerja di Beijing. Tadinya merasa
aneh. Bahkan tidurpun dan kekamar mandi kudu berjilbab. Tapi roommate saya
untung baik baik. 1 bapak-bapak arsitek, 1 keturunan China dari Inggris, yang
baru dapet kerja di Beijing, satu lagi nyaris ga pernah ngomong karena doi
selalu diluar internetan di Lobi kalo ga kerja. Dan mereka Ok Ok saja saya
sholat nungging-nungging disitu. Malah jadi semacam diskusi sama mereka yang rata-rata agnotis. Satu hal,diantara mereka, saya yang paling rajin mandi dan
bangun pagi disitu. Hahahaha. Keknya standar mereka mandi, sehari sekali
itu dah bagus.