0 Cerita Koin

Pernah denger  guyonan bahwa kalo kita masih menyimpan koin suatu negara, suatu saat kita akan balik ke negara tersebut? Saya si ga percaya percaya amat.  Hanya saya memang menyimpan koin koin negara yang pernah saya datangin. Alesannya simpel, malu kalo dituker di money changer, karena recehan dan bunyi krencengnya :D Tapi ternyata banyak temen temen saya yang mengkoleksi koin mata uang negara negara lain itu.


Salah satu koin yang masih saya simpan, yaitu koin Yuan/RMB, mata uangnya China. Dari kedatangan saya ke China pertama kali  tahun 2012 ke Beijing, Shanghai dan Hangzhou, saya kemudian datang  lagi ke China di 2013 ke kota Guilin dan Chengdu.  Saya masih menyimpan koin sisanya. Pulang dari Chengdu, saya belum berminat pergi ke China lagi setidaknya dalam waktu 1 tahun 2 tahun  Sempet punya keinginan ke Urumqi dan bagian barat china lainnya, tapi low priority, antri dengan destinasi  lainnya. Cerita saya kembali  untuk pembuktian (halah) koin selain ke China adalah  ke  Malaysia, Singapore sama Thailand. Dan terulang kembali di akhir tahun 2013 kemarin, meskipun hanya transit, kembali ke China.  Saya naik China Southern dari Seoul menuju Istanbul, transit di Beijing dan Urumqi.

Ke Istanbul dari Seoul adalah pengalaman impulsif saya yang paling ga waras. Memanfaatkan cuti yang lumayan lama dan hampir expired, awalnya sehabis dari Seoul, saya berniat pulang ke Indonesia melewati Jepang atau Taiwan atau Hongkong. Saya udah mempersiapkan  photo dan dokumen syarat-syarat  untuk membuat visa Jepang ataupun Taiwan. Jadi seandainya saya ingin ke Jepang dari Seoul, saya akan  membuat visanya di Korea.  Di Seoul, saya malah males mengurus visa. Tambahannya, saya juga lagi agak bosan dengan budaya negara negara timur.  Bos saya mengajukan usul, ke Turki aja tik. VoA pula. Seperti mendapat ilham (halah), Saya : Oh, iya yah. Bisa dicoba. Saya kemudian mengecek harga tiket via Skyscanner! Dan Jedeng : Mahalll.. wkwkwkwk. Mulai ragu, mundur dan pelit jadi satu. 

Tapi karena kepikiran, saya nambah mikir mikir dalam 2 hari. Akhirnya H-4 saya nemu Maskapai China Southern yang harganya lumayan lebih murah dibanding maskapai maskapai lainnya macam Turkish Airlines, Qatar, atau Emirates. Awalnya agak ragu dan ga yakin juga pake Maskapai China. Tapi demi selisih harga yang jauh, akhirnya H-3 berangkat saya Booking tiket Seoul-Istanbul, dengan transit 2x di Beijing dan Urumqi. Ceritanya masih rule of coin :))

Masih masalah koin, pas sampai Beijing, tau sendiri  kalo security di Bandara sana memeriksa dengan super duper teliti. Saya udah mengeluarkan semua yang berjenis logam dari tas, tetep aja masih bunyi dan masih diperiksa ulang. Ternyata yang bikin bunyi adalah segerentengan koin won korea yang jumlahnya bisa ditadah pake dua tangan. Di money belt saya juga masih ada koin Ringgit, SGD serta yuan yang masih kebawa. Petugas screeningnya ketawa tawa dan nanya koin mana  saja ini sambil merhatiin satu satu koinnya. Melihat mereka yang curious, saya bilang, ambil aja beberapa, gapapa kok. Hahaha.

Transit kedua di Urumqi ditulisnya teknikal transit. Tadinya saya pikir, sebagai kota yang sangat jauh dari Beijing, bandara Urumqi akan sedikit jelek. Nyatanya, pemerintah China memang keren dalam masalah pembangungan. Bandara Urumqi malah sebagus bandara bandara di china bagian barat. Juga  lebih bagus dari bandara Soekarno Hatta. Mungkin karena Urumqi kota terbesar di ujung China Barat, yang merupakan penghubung untuk kota kota china lainnya dan juga negara negara sekitar di Asia tengah, Russia dan Timur Tengah.

Urumqi, ibukota propinsi Xinjiang penduduknya rata rata beragama Islam. Raut muka mereka juga sudah berbeda dengan China sebelah timur dan tengah. Bandara urumqi ternyata ramai, selain penumpang china dan sedikit turis yang transit seperti saya, terlihat juga muka muka Rusia. Penerbangan memakan waktu yang tidak berganti jam dari Urumqi ke Istanbul , berangkat jam 12 malam (GMT+8) waktu China dan tiba jam 12 malam (GMT+2) Istambul. Saya sukses ditegur cerocos pake bahasa Arab sama penumpang dari Urumqi. saya langsung bilang, saya ga bisa bahasa Arab. Intinya si mas penumpang ini mau bilang, bahwa dia dan keluarganya dari Xinjiang dan mau pergi jalan jalan ke Istanbul. Dia menegur karena melihat saya pakai jilbab, muslim, dan langsung mengasosiasikan bisa berbahasa Arab karena rata rata muslim Xinjiang bisa berbahasa Arab. Oalaaaahhhh.

Tapi saya masih berharap, cerita koin yuan ini berhenti dulu sejenak. Saya sedang tidak ingin pergi ke China dalam jangka waktu dekat. :))

0 komentar: