Showing posts with label istanbul. Show all posts
Showing posts with label istanbul. Show all posts

0 Istanbul : Sultan Ahmet Area

Pernah nonton film The Holiday? Yes, itu film lumayan agak lama yang bercerita tentang si Cameron Diaz yang bertukar tempat tinggal dengan Kate Winslet. Kate yang aslinya tinggal di Inggris, kemudian pindah ke rumah Cameron di Amerika yang super duper besar. Cameron pindah ke rumahnya si Kate, yang walaupun kecil tapi nyeni banget.  Ga sih, saya ga lagi ngebahas filmnya :D. Saya  inget salah satu scene di The Holiday, dimana si Cameron Diaz harus nggeret nggeret koper di tengah tengah salju yang tebal. Dan pas mengalamin langsung kejadian menggeret koper ditebalnya salju  abis pertama mendarat Istanbul, saya otomatis ingat adegan tersebut. 

Untuk masuk Turki, warga negara Indonesia harus membuat Visa on Arrival. Pas waktu saya pergi di bulan Desember, VoA nya bisa dibuat di Bandara langsung. Hanya antri, siapkan uang 25 USD serta paspor, langsung deh dapet stiker yang ditempel dipaspor sebagai tanda boleh masuk sebelum ke imigrasi. Tapi sekarang VoA harus diurus online, sudah tidak bisa langsung kayaknya.

Mendarat dan bersalju. Sebagai orang tropis, pertama kali melihat dan mengalami hujan salju pasti jadi norak. Tanpa sadar, di MRT dari airport menuju Sultanahmet saya nanya ke orang sebelah saya, serius ini salju? Excitinggg.. wow, ini salju pertama saya. Tapi salju pertama dengan adegan saya harus menggeret geret koper  mencari posisi hostel bikin saya menyesal kenapa saya membawa koper bukan ransel. Walaupun yaa, walaupun saya menyukai versi kehujanan saljunya yang ga kayak kehujanan air.

Istanbul. Constantinople. Ga kebayang saya bisa menjejakkan kaki di kota bersejarah ini. Kota dengan sejarah panjang, sempat jadi ibukota Romawi Timur, ratusan tahun para penguasa Timur Tengah berusaha menundukkan Cosntantinople yang strategis. Bahkan kemenangan Romawi Timur pun masuk dalam salah satu surat Al-Qur'an, di Surat Ar-Ruum 

didepan Blue Mosque

Panoramic Area Sultan Ahmet
Istanbul. Sultanahmet. saya langsung terpukau dengan kemegahan kota tua di area ini. terpukau dengan bangunan bangunan historiknya. Saya disambut si Masjid Biru aka Blue Mosque yang sedang bedakan dengan salju. Diseberangnya, berdiri dengan megah Haga Sophia. Gereja, yang kemudian diubah menjadi masjid, yang kemudian diubah menjadi museum. Saya hanya bisa bengong di taman antara kedua tempat tersebut. Sepi karena masih pagi buta disertai salju tebal. Saya seperti keluar dari mesin lorong waktu Doraemon, dari Seoul ke Istanbul, dari satu kebudayaan ke  kebudayaan yang berkebalikan 180 derajat. Dari mayoritas manusia korea sipit, ke mayoritas manusia istanbul bermata besar. Sama sama cantik cantik dan ganteng ganteng. Speechless. saya duduk menghadap air mancur didepan saya. Ketika kemudian, anjing anjing yang berkeliaran menggonggong, menyadarkan saya untuk kembali mencari hostel bookingan saya di Istanbulhostel, yang dibrowsing secara cepat dari hostelworld dan ternyata sangat walking distance dari lokasi tempat tempat bersejarah ini. Cukup recomended. Saya dikasih tambahan selimut. Plus pas balik dari muter muter kota kota di turki lainnya, saya dapat diskon besar menginap disini. 


Female dorm di Istanbul Hostel
View dari rooftop tempat sarapan di Istanbul Hostel. Salju masih tebal menutup atap
.Untuk menuju area Sultanahmet, dari bandara Istanbul Attaturk, saya naik Metro/MRT sampai pemberhentian terakhir, yaitu Aksaray. Dari Aksaray, saya nyambung naik tram di halte Yusufpasa sampai ke halte Sultanahmet. Ini juga pertama kali saya merasakan naik tram. Tram memiliki  rel yang menyatu dengan jalan raya. Yang menyenangkan, tram ini kadang masih bisa diinterupt sama orang yang lewat menyebrang. Oiya, saya juga masih ingat bunyi konteng kontengnya pertanda tram baru lewat. Pembayaran Metro dan Tram di Istanbul menggunakan jetcoin ataubisa dengan kartu isi ulang mirip kartu Commuterline. Mesin tapnya cuman ada ketika masuk, keluar bebas. Tarifnya jadi sama jauh atau dekat.
Penampakan Trem di Istanbul

Beberapa tempat tempat yang wajib dikunjungi di Turki sebagian besar berlokasi di Area Sultan Ahmet ini. Aya Sophia, yang awalnya gereja, kemudian diubah menjadi masjid, tapi kemudian diubah menjadi Museum.
Didalam Aya Sophia,  masih terdapat interior kristen dan islam yang tidak dihilangkan.  Bangunan lain dekat Aya Sophia adalah Topkapi Palace, sementara didepan Aya Sophia berdiri dengan megah Blue Mosque dengan hipodrome dan taman luas diantaranya. Tak jauh dari area ini juga terdapat lorong bawah tanan Basilica Cintern
Inside Basilica Cintern

depan Aya Sophia
Inside : Jumatan kedua di Blue Mosque

Depan Topkapi Palace..Jangan lupa beli Museum Pass. Lebih murah

Kalau hari cerah, part yang paling menyenangkan buat saya adalah nongkrong di Port depan Yeni Camii didekat Mesir Bazaar. Angin semilir. Burung burung beterbangan. Orang orang mancing. Atau hanya duduk duduk saja. Dalam beberapa hari di Istanbul, nyaris sebagian sorenya saya habiskan untuk sekedar nongkrong. diam. mengamati. memberi kesempatan ke diri sendiri untuk tidak terburu buru. tidak mengejar  sesuatu. Hanya sekedar menikmati. Dan itu jadi bagian liburan yang paling menyenangkan.

Panoramic View dari Galata Bridge
Pemandangan indah begini ga boleh dilewatkan :p

fly as far as you can






0 Cerita Koin

Pernah denger  guyonan bahwa kalo kita masih menyimpan koin suatu negara, suatu saat kita akan balik ke negara tersebut? Saya si ga percaya percaya amat.  Hanya saya memang menyimpan koin koin negara yang pernah saya datangin. Alesannya simpel, malu kalo dituker di money changer, karena recehan dan bunyi krencengnya :D Tapi ternyata banyak temen temen saya yang mengkoleksi koin mata uang negara negara lain itu.


Salah satu koin yang masih saya simpan, yaitu koin Yuan/RMB, mata uangnya China. Dari kedatangan saya ke China pertama kali  tahun 2012 ke Beijing, Shanghai dan Hangzhou, saya kemudian datang  lagi ke China di 2013 ke kota Guilin dan Chengdu.  Saya masih menyimpan koin sisanya. Pulang dari Chengdu, saya belum berminat pergi ke China lagi setidaknya dalam waktu 1 tahun 2 tahun  Sempet punya keinginan ke Urumqi dan bagian barat china lainnya, tapi low priority, antri dengan destinasi  lainnya. Cerita saya kembali  untuk pembuktian (halah) koin selain ke China adalah  ke  Malaysia, Singapore sama Thailand. Dan terulang kembali di akhir tahun 2013 kemarin, meskipun hanya transit, kembali ke China.  Saya naik China Southern dari Seoul menuju Istanbul, transit di Beijing dan Urumqi.

Ke Istanbul dari Seoul adalah pengalaman impulsif saya yang paling ga waras. Memanfaatkan cuti yang lumayan lama dan hampir expired, awalnya sehabis dari Seoul, saya berniat pulang ke Indonesia melewati Jepang atau Taiwan atau Hongkong. Saya udah mempersiapkan  photo dan dokumen syarat-syarat  untuk membuat visa Jepang ataupun Taiwan. Jadi seandainya saya ingin ke Jepang dari Seoul, saya akan  membuat visanya di Korea.  Di Seoul, saya malah males mengurus visa. Tambahannya, saya juga lagi agak bosan dengan budaya negara negara timur.  Bos saya mengajukan usul, ke Turki aja tik. VoA pula. Seperti mendapat ilham (halah), Saya : Oh, iya yah. Bisa dicoba. Saya kemudian mengecek harga tiket via Skyscanner! Dan Jedeng : Mahalll.. wkwkwkwk. Mulai ragu, mundur dan pelit jadi satu. 

Tapi karena kepikiran, saya nambah mikir mikir dalam 2 hari. Akhirnya H-4 saya nemu Maskapai China Southern yang harganya lumayan lebih murah dibanding maskapai maskapai lainnya macam Turkish Airlines, Qatar, atau Emirates. Awalnya agak ragu dan ga yakin juga pake Maskapai China. Tapi demi selisih harga yang jauh, akhirnya H-3 berangkat saya Booking tiket Seoul-Istanbul, dengan transit 2x di Beijing dan Urumqi. Ceritanya masih rule of coin :))

Masih masalah koin, pas sampai Beijing, tau sendiri  kalo security di Bandara sana memeriksa dengan super duper teliti. Saya udah mengeluarkan semua yang berjenis logam dari tas, tetep aja masih bunyi dan masih diperiksa ulang. Ternyata yang bikin bunyi adalah segerentengan koin won korea yang jumlahnya bisa ditadah pake dua tangan. Di money belt saya juga masih ada koin Ringgit, SGD serta yuan yang masih kebawa. Petugas screeningnya ketawa tawa dan nanya koin mana  saja ini sambil merhatiin satu satu koinnya. Melihat mereka yang curious, saya bilang, ambil aja beberapa, gapapa kok. Hahaha.

Transit kedua di Urumqi ditulisnya teknikal transit. Tadinya saya pikir, sebagai kota yang sangat jauh dari Beijing, bandara Urumqi akan sedikit jelek. Nyatanya, pemerintah China memang keren dalam masalah pembangungan. Bandara Urumqi malah sebagus bandara bandara di china bagian barat. Juga  lebih bagus dari bandara Soekarno Hatta. Mungkin karena Urumqi kota terbesar di ujung China Barat, yang merupakan penghubung untuk kota kota china lainnya dan juga negara negara sekitar di Asia tengah, Russia dan Timur Tengah.

Urumqi, ibukota propinsi Xinjiang penduduknya rata rata beragama Islam. Raut muka mereka juga sudah berbeda dengan China sebelah timur dan tengah. Bandara urumqi ternyata ramai, selain penumpang china dan sedikit turis yang transit seperti saya, terlihat juga muka muka Rusia. Penerbangan memakan waktu yang tidak berganti jam dari Urumqi ke Istanbul , berangkat jam 12 malam (GMT+8) waktu China dan tiba jam 12 malam (GMT+2) Istambul. Saya sukses ditegur cerocos pake bahasa Arab sama penumpang dari Urumqi. saya langsung bilang, saya ga bisa bahasa Arab. Intinya si mas penumpang ini mau bilang, bahwa dia dan keluarganya dari Xinjiang dan mau pergi jalan jalan ke Istanbul. Dia menegur karena melihat saya pakai jilbab, muslim, dan langsung mengasosiasikan bisa berbahasa Arab karena rata rata muslim Xinjiang bisa berbahasa Arab. Oalaaaahhhh.

Tapi saya masih berharap, cerita koin yuan ini berhenti dulu sejenak. Saya sedang tidak ingin pergi ke China dalam jangka waktu dekat. :))