Showing posts with label panda. Show all posts
Showing posts with label panda. Show all posts

2 China : Panda Breeding Centre & Mt.Qingcheng [5]

Mengunjungi Panda Breeding Centre merupakan salah satu highlight travel saya kali ini. Demi Panda ini, demi ya, saya sengaja mbela-mbelain nyari rute pulang dari Chengdu supaya bisa liat langsung tingkah polah mereka di tempat penangkarannya.


yang asik ngunyah

Rencana awal sudah disusun. Panda Breeding Centre ini terletak agak diluar kota Chengdu. Saya sudah browsing bahwa untuk menuju Panda Base Centre ini dapat dilakukan mandiri. Pilihannya adalah naik bus langsung ke Panda Base dari Xinnamen Bus Station dengan nomer bus 902. Atau opsi lainnya adalah ngeteng bus  dengan dua kali pindah bus. Yang mana saya lupa pindahnya dilokasi apa ;-). Opsi ketiga dan sapu jagat adalah naik Taksi :D. Eh, ada opsi keempat deng : ikut tour dari hostel :D

Dan dari hasil browsing saya juga menemukan bahwa waktu terbaik mengunjungi Panda adalah di pagi hari. Karena panda panda tersebut masih aktif. Agak siangan sedikit, mereka langsung balik ke habit aslinya, si pemalas yang tidur sepanjang hari :-) Enak banget si mereka, kerjaannya cuman makan trus meringkuk tidur :p

Pagi esok harinya, saya bangun dengan semangat.
Pas nengok ke jendela, ternyata hujan :-(


Dan Chengdu yang hari kemarin panas menyengat, dengan ajaibnya berubah jadi dingin yang menggigil.

Duh, masih semangat juga si, walaupun kadarnya udah menurun.
 
Saya buka payung, lalu dari Flip Flop Hostel tempat saya menginap, keluar menuju Xinnamen Bus Station yang cuman 10 menit dengan berjalan kaki. Di Xinnamen Bus Station, lho kok ga ada loket yang menuju Panda Base. Saya lalu pergi ke bagian Informasi. Menanyakan ke petugasnya dimana harus menunggu bus 902 ke Panda Base. Dan ternyata : Doengggg. Petugas Informasinya bilang bus 902 sementara berhenti beroperasi. Jadi saya ga bisa naik bus itu langsung ke Panda Base.

Saya tanya ke beliau, jadi kalau mau ke Panda base, saya harus naik apa? kata dia, naik Taksi. Krik krik. itu semua orang juga tau. Saya bilang, kalau mau naik bus umum gimana rutenya? Akhirnya beliau ngasi catatan kecil dan tulisan China di kertas, bahwa saya harus naik bus ke Zaojuesi Bus Station dengan naik bus nomor 47. Dari Zaojuesi Bus Station, dilanjutkan naik bus 87 ke Panda Base. Tarif taksi bisa mencapai 50-60 RMB atau sekitar 75 rb- 90 rb rupiah. Sementara kalo naik bus umum, maksimal hanya 4 RMB alias 6 ribu perak. :D

Hujan hujanan saya nunggu bus 47 di depan Xinnamen Bus Station. Masih berharap banget hujan berhenti hari itu. Tapi nampaknya tipe hujannya akan awet. Huhuhu. Didalam bus 47, saya ga berhenti melihat jendela, menebak nebak halte manakah itu. Ternyata terminal Zoujuesi merupakan pemberhentian terakhir bus 47. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menitan. Saya turun dalam terminal Zoujuesi.

Didalam terminal,  lha kok bus nomor 87 nya ga ada. Muter muterin terminal ga nemu juga, 15 menit muter muter dalam terminal tetep ga nemu juga. Udahlah,pikir saya,  saya nyambung pake taksi aja ke Panda Basenya. Pas jalan menuju keluar terminal,  Saya ngeliat foreigner lain yang juga lagi megang megang map tampang kebingungan. Saya tanya dia, apa akan pergi ke Panda. Dia bilang iya, tapi ga nemu busnya dimana. Akhirnya kami thawaf bersama di terminal tersebut, Dan ternyata, bus nya parkir diluar terminal doonngggg. Adezighh..busnya model trem udah tua begitu. Kami naik bus 87 tersebut, tarifnya 1.5 yuan.

Thomas akhirnya jadi temen bareng saya seharian itu. Setelah setengah jam lebih di dalam bus dilengkapi beberapa kali nanya dan memastikan ke supir dan penumpang lain kok kami belum sampai juga. Oiya, gaya nanyanya juga lucu. Thomas bisa melafalkan bahasa mandarin Panda (XiongMao), tapi penumpang bus lain ga ngerti apa yang dimaksud. Akhirnya saya ambil petanya Thomas  yang depannya bergambar Panda, dan nunjuk gambar itu. Baru penumpang lain mengerti maksud kami bahwa kami ingin berhenti di Panda base. Dan tempat berhenti kami belum sampai juga.

Bus ternyata berhenti tepat depan Panda Base. Tinggal menyebrang jalan sudah disambut loket masuk.  Tiket masuk ke Panda Base sebesar 60 RMB. Lucky si Thomas, dia punya Student Card Hongkong, jadi dia hanya bayar setengahnya aja. Ngiri deh saya. Si kartu Student Card itu bener-bener bisa mangkas pengeluaran, karena rata-rata tiket masuk tempat-tempat wisata di China ngasi diskon 50% bagi para pemegang student card China.

Sebagai orang yang terobsesi sama Panda, masuk ke Panda Base bener bener amaze buat saya. Ini lokasi Panda ketiga yang saya datangi setelah Beijing dan ChiangMai. Di dua tempat sebelumnya, Pandanya hanya 1 dan itu juga cuman meringkuk aja. Di Panda Base ini, walau hujan-hujan dan ribet ribet payungan,tetep aja saya seneeenggg bangett. Saya dateng pas mereka lagi dikasi makan dan abis itu Panda panda tersebut sedang attractive attractivenya bermain. Guling gulingan sendiri. Naik pohon, ngunyah bamboo muda. ‘Nyerang’ temennya mencoba mencumbunya (lho!). It’s a must place to visit when you in Chengdu. Selain Giant Panda, ada juga jenis Red Panda, yang kayaknya harusnya brown Panda. Red Panda ini jauh lebih kecil, juga lebih lincah. Ada juga Panda Nurse Experience  jika kita ingin pelukan dan ngasi makan Panda. Cuman pas kami kesana udah habis jatah untuk nursering panda dihari itu.  Tapi ya,  bayar untuk meluk meluk dan photo-photoan sama si panda, sekitar 2000 yuan kalo ga salah, untuk aktivitas selama 2 menit. Saya juga ga mungkin partisipasi si (mehong bo! 3 juta rupiah. Menurut Ngana?).


main bareng

guling guling

heyy, ngapain kamuhh?
 
panjat dulu
 
atu tayang tamuhh (tsah)


playground
Red (brown?) Panda

Panda base ini pada dasarnya merupakan taman yang luass sekali. Namun sign arahnya membingungkan. Peta didalam juga ga jelas. Udah muter muter, kok baliknya jadi ga jelas lagi arahnya. Satu lagi si, Toiletnya bersih bangettt. Tumben :D

Selesai dari Panda Base, saya bermaksud balik lagi ke Chengdu. Plan saya udah abis mau ngapain, jadi di Chengdu paling rencana saya adalah muterin kotanya, nyari titipan topi panda. Thomas nawarin ikut dia ke The first Irrigation Sytem in China. Whatt? Ngapain ke Irrigation System kata saya. Menurut Thomas, temennya pernah ke irrigation system itu, dan landscapenya bagus. Karena ga ada ide mau ngapain juga, dan topi panda bisa dicari besoknya, saya akhirnya ikut rencananya ke Irigation System itu (baru ngeh namanya Dujiangyan Irrigation System). Jadi saya cuman ngikutin aja. Saya pikir tempatnya di deket deket Panda Base. Karena awalnya Thomas bilang cuman naik bus. Ternyata, kita harus balik lagi ke Chengdu, lalu ke Chandiazie Bus Station, dari sana kemudian naik bus lagi. FYI, Chandiazie ini terminal antar kota. Jadi, kemungkinan besar tempatnya jauh. Hahaha. Kita tiba dan beli tiket di Chandiazie sekitar 13.30. Naik bus sekitar 45 menit lurus terus lewat jalan tol (tiket busnya bayar 17 RMB). Sampai akhirnya kita tiba di terminal Dang Jian. Dari terminal itu, ternyata harus pindah bus lain (nomor 101, each 2.5 RMB) yang menuju ke Dujiangyan Irrigation System. Di bus, Thomas sibuk belajar bahasa mandarin pake Ipadnya. Saya si teler kedinginan dan kelaparan di bus, nyaris ngantuk dan ga merhatiin jalan. Hujan gerimis masih juga awet. Dan setelah 45 menit bus berhenti di last stopnya. Semua penumpang turun. Kami juga disuruh turun. Saya perhatikan sekitar : Lhaa, mana Irrigation Systemnya?

Ternyata saudara-saudara, kami terdampar di Mount Qingcheng. Salah satu Objek wisata lainnya di Sichuan.Kok bisa? Saya juga bingung. Thomas juga bingung. Ya udah terlanjur, mau gimana lagi. Udah jam 3 juga untuk nyari dimana irrigation systemnya. Akhirnya kami masuk dan beli tiket. Lumayan mahal juga tiket masuknya 90 RMB.

tiket masuk Mt.Qingcheng
gerbang depan

Mount Qingcheng ini ternyata terkenal dengan temple temple Taoismenya. Dan kalo judulnya Mount, ya pasti dong aktivitasnya naik gunungnya. Jam 3, dan jam 6 sore bus terakhir dari sini untuk balik ke Chengdu. Mana saya pake celana putih, pake batik,hujan pula. Bener bener tampilan yang geblek buat naik gunung. Ya sudahlah hajar saja. Naik lewat tangga/trailnya sambil gendong payung dan bawa tas. Not bad lah, kami akhirnya sampai juga di puncaknya (kalo ga salah sekitar 1200an meter dpl) dengan lama tempuh 2 jam-an. Pemandangannya bagus, sayang berkabut karena hujan. Sempet amazing juga, kok bisa saya naik sampe atas dengan kondisi kehujanan, sambil megang payung, dan perut cuman disogok sama biscuit aja. Ada beberapa spot berhenti salah satunya di Jianfu Palace. Yatapi malu juga si ngos-ngosan, karena banyak orang China yang sudah sepuh masih naik Mt.Qingcheng ini, dan masih bugar mereka. Oiya, sempet liat gembok gembok cinta juga disini. Kocak.

Tao symbol

dari puncak Mt.Qingcheng
Lovelock

So many of them



Jam 5.30 kami turun kebawah. Karena jalur normal lama, Thomas ngajakin potong jalan lewat bawahnya cable car. Agak ekstrim karena licin dan becek, tapi lebih cepet sampainya. Saya ga tega sama warna celana putih saya bagian bawah. Udah bukan putih atau coklat muda lagi :D.

Menyisir dibawah cable car

Danau-entah-namanya-apa saat menuruni Mt.Qingcheng



Jam 06.30 kami sudah kembali berada di parkiran depan. Bus 101 jelas udah ga ada. Thomas sempet minta tebengan sama salah satu anak muda china yang bawa mobil. Tapi menurut mereka, mobil mereka sudah full. Akhirnya kami ke parkiran bus, dan keliatan ada semacam bus tour (mungkin?) lagi parkir. Setelah nanya, bus tersebut ternyata balik ke Chengdu, dan kami boleh ikut dengan mbayar 30 RMB. Yippieeee!!

Perjalanan pulang 1.5 jam pun berakhir di Chengdu.





0 Flash Trip to Northern Thailand (last part) : ChiangMai

Bagian terakhir dari trip to Northern Thailand. Dan kita sekarang berada di Chiang Mai.

Hmm..
Sebenernya biasa biasa aja si..
Jadi rutenya hari saya ini di ChiangMai adalah : keliling-keliling Old City, Sewa Motor ke Doi Suthep, Ke Chiang Mai Zoo dan ke Masjid terbesar di Chiang Mai.

Pagi pagi jam setengah 7 saya sudah meluncur keluar dari Lanna Thai Guest House. Niat awal langsung mau sewa motor. Ternyata tempat sewa motor belum ada yang buka sama sekali. Yaiyalah.Pake nanya lagi. Akhirnya dari daerah Night Bazaar, saya masuk ke area Old City Chiang Mai.Jalan kaki masih adem. Langit masih superrr biru. Kota tua yang masih terawat, full of Wat-wat. serta ga ada bangunan tinggi didalam maupun dekatnya, Sangat banyak sekali Wat di area ini. Tiap nengok kayaknya ada wat. Beberapa yang sempet saya capture adalah : 

Tha Pae Gate Old City

Wat in the old city

Wat -old city-

Wat -old city, Chiang Mai-

Patung Tiga Pangeran 



Dua jam-an muterin old city plus istirahat istirahat santainya, saya keluar dari old city, setelah sebelumnya ngePos-in Kartu Pos dahulu. Udah mulai jadi kebiasaan, kalo lagi di LN, saya kirim kartu pos ke Indonesia. Pertama, buat diri sendiri (err..maaph, memang agak aneh). Kedua, buat temen-temen yang mau dikirimin. Udah si itu aja.hihihi. Kantor Pos di Old City terletak deket Thai Pat Gate.
Balik ke arah Night Bazaar, ternyata beberapa sewa motor sudah buka. Capcus nanya harga, 200 Bath untuk Motor Matic selama 24 jam diluar bensin. Saya  dapetnya Mio Matic. Si mbaknya pake khawatir dan ngajarin pula cara make motornya gimana ^^. Errr, pas saya kasi tau saya biasa naik motor di Indonesia, dia langsung kasih helm dan peta sambil bilang *Go Ahead*.

Jalan motor di Chiang Mai itu enak. Jalannya mulus. Kotanya relatif kecil, Dan ga begitu macet juga. Tapi apadaya, tetep aja saya nyasar-nyasar. Yang harusnya mau ke Doi Suthep belok kiri, eh malah lurus. Keterusan sampe Highway antar kota. Dan putaran baliknya jauhhh sekali. 

Nyasar di entah dimana

Buat saya, perjalanan motor menuju Doi Suthep lebih menyenangkan ketimbang sampai di Wat tertinggi di Doi Suthepnya. Angin yang sejuk, kiri kanan hijau, langit biru, dan ga ada saingan di jalan. Selain sewa motor, ada Songthaw dari Chiang Mai juga yang mau nganterin sampai Doi Suthep ini. Yatapi kan harus nunggu loading penumpang sampai penuh. Dan ga bisa berhenti seenaknya pula. Oiya, selain itu ada yang naik sepedah sampai atas Doi Suthep. Krik. Ga kebayang deh. Dari Doi Suthep ini, kita bisa melihat kota Chiang Mai dari ketinggian. Ini sedikit snap shootnya.

Bird Eye View Doi Suthep. Kota Chiang Mai keliatan!

Tangga di Wat Phratat Doi Suthep. Hmm..kayak dejavu sama Tangga di Wat Mae Sai-Tachileik

Bells - Wat Prathat Doi Suthep-

Gini lhoo naik cara mukulnya!

Jangan ditawar lah mister!

Stop over again!

Kelar dari Wat tertinggi di Doi Suthep itu (Yes, I failed to remember name of the Wat, after google : Wat Prathat), harusnya bisa naik ke ketinggian atas lagi. Tapi si motor bensinnya menipis. Walhasil saya putar balik aja. Akhirnya saya melipir masuk ke Chiang Mai Zoo yang ada di kaki bukit Doi Suthep. Etapi, masuk zoo itu bukan suatu  kelainan kan buat orang dewasa? Difikir-fikir, nyaris di setiap negara, saya hampir selalu masuk ke tempat yang ada unsur binatangnya. Kaiyukan di Osaka lah, Beijing Zoo lah, trus Chiang Mai Zoo ini.

Dan SAMA sekali ga nyesel masuk CM Zoo. Recomended. Kebun Binatang yang sangat berkonsep, tertata, apik, rapi, bersih, adem. Entrance Zoo nya sekitar 30 ribu rupiah. Lalu didalam, ada bus dan Monorel untuk keliling Zoo. Bayar bus dan nonorel itu cuman 70 B alias 20 ribuan untuk sepanjang hari. Lumayan menghemat energi kaki sedikit. Ada house of Panda (karena ini saya tertarik masuk :D), yang harus bayar ongkos tambahan lagi untuk masuk ke rumah Panda tersebut. Etapi curangnya si Thailand ini adalah, harga buat lokal dibedain sama harga buat asing. Masalahnya, harga yang buat lokal ditulis dalam aksara Thai semua, jadi ga bisa nebak-nebak dong-dong. Pas masuk House of Panda ini, foreigner kan harusnya bayar 100 Bath. Bapak penjaga karcisnya ngomong sesuatu dalam bahasa Thai yang ga jelas ke saya. Saya cuman diem, ngangguk, ngasi selembar uang 100 Bath (dan ga berharap dapet kembalian), dan ternyata dapet kembalian 50 Bath. Pas saya liat, tiket saya beda ama tiket foreigner depan saya tadi. Alhamdulillah. Hemat 15 ribu. wkwkwkwkwk. Oiya, si Panda yang hijrah dari China ke Chiang Mai ini kan sepasang, dan mereka sudah berhasil mendapatkan 1 anak panda di negeri Chiang Mai ini, dan dikasih nama Ling Ping. Katanya Ling Ping ini adalah Panda pertama di dunia, yang lahir diluar China hasil hijrah Ibu Bapaknya. 

Chuang chuang - bapaknya Ling Ping- yang dihijrahkan dari China ke Chiang Mai

Ling Ping -Panda- lahir seukuran ini

Tiket orang lokal yang 50 B *lucky me*


Gaya tidur nih koala ngingetin sama..gue sendiri..errr




Dari Chiang Mai Zoo, saya ke Baan Haw Mosque. Areanya masih dekat dengan Night Bazaar Chiang Mai. Masjidnya besar. Cukup modern. Di lantai 2, tempat muslimah, ada LCD yang dinyalakan ketika sholat Jamaah, Jadi Jamaah Muslimah bisa melihat imam yang dibawah melalui LCD tersebut. Oiya, sekitar masjid banyak sekali tempat makan halal dan para penjual souvenir yang muslim. Saya akhirnya nyangkut di salah satu rumah makan halal yang plangnya mencantumkan menu Spagheti. wkwkwkwk. Si bapak ini kakeknya dari India dan udah puluhan tahun menetap jadi WN Thailand. 


tempat wudhu

di kiri itu LCD kecilnya

Sepi ya? 

Kalender 3 penaggalan : Thai, Masehi, Hijriah

Qur'an dan terjemahnya dalam Thai Language

Spagetti cusss..20 ribu plus es jeruk :D
Overall, saya menyenangi Chiang Mai, yang walaupun kota nomer 2 terbesar di Thailand, tapi suasananya tidak sehiruk pikuk Bangkok. Menyenangkan. Pas untuk liburan. Belum lagi Night Bazaarnya. Makanan Halal juga gampang :-)

See you in other cities!