Showing posts with label book. Show all posts
Showing posts with label book. Show all posts

2 Reading Walk - Online Delivery Book Rental




Mungkin banyak diantara kita yang sudah biasa membeli buku lewat online bookstore yang ada, inibuku.com, bukukita.com, bukabuku,com. Liat liat buku, pilih bukunya, bayar dengan transfer/CoD lalu buku diantar. Dan buat orang orang yang males jalan di Jakarta seperti saya, ke Gramedia atau ke Kinokuniya paling hanya untuk melihat judul-judul buku yang menarik saja, sisanya lebih banyak beli buku via online.

Kadang-kadang, suka agak sayang  beli buku sekali baca  (maksudnya kategori buku yang cukup dibaca sekali aja,abis itu lempar entah kemana). Lucu lucu ketawa sementara, namun abis itu ga disentuh lagi.

Itu dulu..
Sebelum saya mengenal ReadingWalk ini, Rental Buku Online.
Buku kita pesan online, pilih berapa lama kita akan meminjamnya, bayar/CoD, lalu buku diantar sesuai alamat yang kita masukkan melalui kurir.
Pengembaliannya juga relatif mudah, H-1 sebelum tenggat waktu kita mengembalikan,kita akan di SMS oleh ReadingWalk, apakah kita akan memperpanjang waktu pengembalian atau tetap sesuai jadwal. Jika sesuai Jadwalnya, maka kurir ReadingWalk  akan mengambilnya esok harinya. Simpel.

Variasi bukunya juga lumayan banyak. Dan ga habis-habis. Setiap bulan ada buku barunya.
Oiya, selain bayar perbuku, mereka juga memiliki paket peminjaman unlimited. Kita bisa meminjam sebanyak yang kita mau, dengan maksimal misalnya 10 kali penghantaran(+penjemputan) buku setiap 6 bulan. Karena ga mau rugi juga, saya sama 3 orang teman di kantor, patungan untuk bayar Paket Easy Reading yang 180ribu per 6 bulan dengan maksimal penghantaran 15 kali. Jadi per orang itu selama 6 bulan hanya kena 45 ribu rupiah. Murah kan.Ga kemana mana. Buku diantar ke kantor :-)

Saya ga punya saham apa-apa di ReadingWalk dengan mempromokan ini.
Saya coba share, karena saya merasa :
1. Mengalami kesulitan maintenance buku yang kebanyakan, padahal rumah udah sempit
2. Males keluar duit banyak buat buku buku yang cukup dibaca sekali
3. Males jalan keluar di Jakarta yang polusi
4. Merasa sekali Passion kecintaan buku pada mereka yang buat Reading Walk ini. Semangatnya dan ide mereka bikin rental book online ini buat saya jadi luar biasa
5. Sharing, siapa tau banyak teman-teman yang berusaha untuk cinta baca buku (fisik) lagi namun mengalami masalah 4 diatas seperti saya alami itu ;-)

'The world is a book, and those who do not travel read only one page.' (St. Augustine)

Eh, kenapa tidak kita baca semua halaman buku dan tetap pergi traveling juga :-)

~Postingan dibuat dalam rangka turut meramaikan  Hari Buku Sedunia, dan break dari postingan postingan travel~

0 Para Pemuja Matahari



Foto diatas diambil di karimun jawa, Juli 2010
Saya meng-captionnya : United Colour of Benetton (inget tas)
Tetapi ada satu temen yang komentar di fb terhadap foto tsb sbg Para Penyembah Matahari.
Entah mengapa, sewaktu teman saya Lutfi memberitahu bahwa judul  novel pertamanya yang akan terbit adalah Para Pemuja Matahari, Saya langsung teringat foto diatas, bukannya kebayang suku/bangsa penyembah matahari seeperti Mesir kuno, Jepang, Aztec/Inca/Maya di Amerika Tengah / Selatan. Lalu saya tanya Lutfi mengapa judulnya Para Pemuja Matahari?  Dan jawabnya ternyata ada di novelnya halaman 199 bahwa pemuja matahri iu adalah kaum yang....ah, ga seru nanti :)


Saya pecinta fiksi,
Tapi saya ga pernah punya teman berjenis pekerjaan penulis,
Saya juga ga pernah punya impian jadi penulis, dan sama sekali ga tau ttg dunia publishing di Indonesia.
Maka saya amaze aja waktu lutfi cerita dia mau nerbitin novel perjalanannya yg pertama, dengan cara self publishing...

Wow

SELF publishing

I never never imagine that..

Nulis sendiri,nyetak sendiri,layout cari sendiri, editor sendiri, cari komentator sendir,dsb dsb yg saya ga tau apalagi seluk beluk publisher. Seperti kata lutfi, nerbitin novel pertamanya ini ibarat melahirkan bayi pertama. Walau saya jg blm tau gmn rasanya ngelahirin bayi :D

Para Pemuja Matahari menceritakan kisah Naia, gadis 19 tahun yang mencoba keluar dari comfort zone nya, area dimana dia selalu dimanjakan orangtuanya. Naia mencoba mem-breakthroughnya dengan melakukan perjalanan ke beberapa daerah di Jawa dengan cara backpacking. Naia berkunjung ke Jakarta, Badui, Hiking ke Gunung Salak, menyambangi segara anakan di cilacap, memutari kota Semarang, trip ke Karimun Jawa dan akhirnya naia sampai ke Ijen. 

Para Pemuja Matahari menurut kategori saya, bersifat deskriptip antropologis. Banyak keterangan deskriptif yang Lutfi masukkan untuk menceritakan kondisi sosial, budaya serta kehidupan daerah yang dikunjunginya.
Sentilan sentilan ke masyarakat juga banyak disisipkan oleh Lutfi seperti Esensi datang ke museum hanya untuk foto narsis, lalu tentang berubahnya masyarakat badui dalam, sindiran Lutfi terhadap kelakuan turis yang suka menjadikan orang-orang 'traditional' sebagai objek penderita foto, sindiran terhadap lagu "Naik naik ke puncak gunung", sindiran berguna ga si jalan-jalan yang sering dilakukan, sindiran sebegitu kurangnya tontonan bermutu di televisi sampai anak kecil pun terkena imbas merebaknya sinetron di masyarakat, sindiran lingkaran setan pendidikan terkait kreativitas, guru, hafalan bukan pemahaman, lalu sindiran ke warga daerah wisata yang cenderung mengistimewakan turis bule dibanding turis lokal.

Diluar sindiran-sindiran dalam novelnya, Lutfi juga banyak bercerita mengenai kekhasan alam dan budaya area yang Naia lewati, seperti ketika di badui ada daun pohon kirei untuk atap rumah, bunga kahuruam yang kalau dipetik bisa membuat kebakaran dikampung, buah kranji yang harga sekilonya Rp 80.000, lalu ada kertas ciamsi di Kuil SamPoKong Semarang.  

Namun menurut saya, tokoh Naia, masih merupakan tokoh khayalan yang perfect, kaya, cantik, perfeksionis, bawa bawa ensiklopedia di kereta ekonomi, dan terlalu polos untuk jadi anak 19 tahun :). Penokohan dan pendeskripsian Naia di novel dalam bayangan saya masih sangat melekat dengan diri Lutfi sendiri. Penggunaan katanya juga masih melekat dengan penggunaan kata lutfi sehari hari seperti ngobrol ngobrol (ngomong ngomong, kau (kamu), nyebelin, konyol, dan ga bisa berenang. hahahaha..(peace fi)

Tapi tetep, novel ini layak dibaca, jadi silahkan yang berminat hubungi lutfi atau toko buku terdekat :)

1 Memaknai Sebuah Perjalanan

Tulisan ini digenerate dari dua hal :
  • Pembicaraan di salah satu milist yang menanyakan bagaimana kualitas sebuah trip, apa hanya secara kuantitas namun tidak berkualitas atau bagaimana
  • Beberapa teman yang saya kenal yang hobi sekali dengan short trip, dimana nyaris minimal 2 minggu sekali pasti melakukan trip pendek (berangkat jumat pulang minggu)
Bukan..bukan..ini bukan pembicaraan yang berat..yang ini ringan2 saja seperti biasanya :D

Selain kedua hal tersebut diatas, saya terinspirasi oleh sebuah buku (eh apa novel ya kategorinya?) atau catperlah atau bisa dibilang catatan eksplorasi perjalanan seorang agustinus wibowo melintasi negeri-negeri stan (Afganistan, Pakistan, Tajikistan, dll) yang judulnya Selimut Debu. Buku itu jauh melampaui expectasi saya terhadap buku-buku bergenre travelling yang pernah saya baca. buku ini, walaupun baru separoh saya membacanya , memberi informasi dan inspirasi bagaimana sebaiknya kita memaknai perjalanan2 yang kita lakukan. Entah itu trip singkat ataupun perjalanan berbulan2.

Saya terkadang sering menanyakan ke diri sendiri : Kalau saya suka jalan2, trus apa yang saya dapat dari jalan2 tersebut? Apa hasilnya? Hanya poto2 ? Cukupkah? Atau hanya sekedar stempel : Ihh, gw pernah lo dateng kesana.. Trus?

Si Agustinus ini, lewat bukunya sedikit banyak mengajarkan bahwa perjalanan itu bukan hanya urusan foto memfoto (walaupun hasil foto2 dia bagus2 , Cekidot here ). Bahwa perjalanan adalah proses mengeksplorasi dan mengenal serta belajar dengan kondisi sekitar. Bahwa ada proses yang terkadang sulit.hal-hal diluar prediksi yang harus dihadapi. Bahwa ada masalah pengasahan nurani, bagaiman kita dapat membaca dan merespons masyarakat secara lebih mendalam.

Ah, saya iri sama si agustinus ini. Umur hanya beda 2 tahun dari saya, tapi sarat pengalaman, kaya hikmah dan berani melangkah mengeksplorasi negara2 stan tersebut.

Saya agak teringat, teman konsultasi saya, si dewi ndoet, juga pernah bilang : Heii,, ga penting apa yang elo ambil poto2nya..yang penting semuanya kerekam jadi memori di otak! hehe, dia bilang itu pas kita lagii meluncur di aliran Green Canyon dimana gw menyayangkan ga bisa moto2 karena bakal kebasahan kameranya.

Eh, trus saya nemu catpernya salah satu reporter jelajah transTV disini yang sedang menceritakan tentang pulau biawak di Indramyu. Ya, dia dalam blog tsb sebagian bercerita tentang pulau biawak..Namun yang saya tangkap, dia lebih menekankan ada kesendirian disana buat sang penjaga mercusuar pak slamet, serta kesendirian dalam julangan mercusuar itu sendiri. Layaknya pulau2 yang memang jauh dari pulau2 besar negeri ini. Sang reporter agak menyayangkan knp tidak ada yang mengobrol/mendengarkan cerita pak slamet tersebut, bagaimana perasaan dia disana sebenarnya. Tim yag datang lebih cenderung untuk mengeluh capek atas perjalanan yangh dia lakukan, tak adakah yang menanyakan bagaimana capeknya pak slamet dalam kesendiriannya di pulau biawak tersebut?
Sekali lagi saya terinspirasi tulisan mba reporter ini..

Ah...saya butuh sedikit demi sedikit memaknai perjalanan2 saya.

0 [salem falls]



"Tahukah kau susunan abjad itu sebenernya keliru?", tanya Thomas

"maaf ", sahut Chelsea

"Huruf-hurufnya tercampur aduk. U dan I harusnya berdampingan."

maksud Thomas Kau dan Aku


-taken from salem falls by Jodi Picoult-