Tulisan ini digenerate dari dua hal :
- Pembicaraan di salah satu milist yang menanyakan bagaimana kualitas sebuah trip, apa hanya secara kuantitas namun tidak berkualitas atau bagaimana
- Beberapa teman yang saya kenal yang hobi sekali dengan short trip, dimana nyaris minimal 2 minggu sekali pasti melakukan trip pendek (berangkat jumat pulang minggu)
Bukan..bukan..ini bukan pembicaraan yang berat..yang ini ringan2 saja seperti biasanya :D
Selain kedua hal tersebut diatas, saya terinspirasi oleh sebuah buku (eh apa novel ya kategorinya?) atau catperlah atau bisa dibilang catatan eksplorasi perjalanan seorang agustinus wibowo melintasi negeri-negeri stan (Afganistan, Pakistan, Tajikistan, dll) yang judulnya Selimut Debu. Buku itu jauh melampaui expectasi saya terhadap buku-buku bergenre travelling yang pernah saya baca. buku ini, walaupun baru separoh saya membacanya , memberi informasi dan inspirasi bagaimana sebaiknya kita memaknai perjalanan2 yang kita lakukan. Entah itu trip singkat ataupun perjalanan berbulan2.
Saya terkadang sering menanyakan ke diri sendiri : Kalau saya suka jalan2, trus apa yang saya dapat dari jalan2 tersebut? Apa hasilnya? Hanya poto2 ? Cukupkah? Atau hanya sekedar stempel : Ihh, gw pernah lo dateng kesana.. Trus?
Si Agustinus ini, lewat bukunya sedikit banyak mengajarkan bahwa perjalanan itu bukan hanya urusan foto memfoto (walaupun hasil foto2 dia bagus2 , Cekidot here ). Bahwa perjalanan adalah proses mengeksplorasi dan mengenal serta belajar dengan kondisi sekitar. Bahwa ada proses yang terkadang sulit.hal-hal diluar prediksi yang harus dihadapi. Bahwa ada masalah pengasahan nurani, bagaiman kita dapat membaca dan merespons masyarakat secara lebih mendalam.
Ah, saya iri sama si agustinus ini. Umur hanya beda 2 tahun dari saya, tapi sarat pengalaman, kaya hikmah dan berani melangkah mengeksplorasi negara2 stan tersebut.
Saya agak teringat, teman konsultasi saya, si dewi ndoet, juga pernah bilang : Heii,, ga penting apa yang elo ambil poto2nya..yang penting semuanya kerekam jadi memori di otak! hehe, dia bilang itu pas kita lagii meluncur di aliran Green Canyon dimana gw menyayangkan ga bisa moto2 karena bakal kebasahan kameranya.
Eh, trus saya nemu catpernya salah satu reporter jelajah transTV disini yang sedang menceritakan tentang pulau biawak di Indramyu. Ya, dia dalam blog tsb sebagian bercerita tentang pulau biawak..Namun yang saya tangkap, dia lebih menekankan ada kesendirian disana buat sang penjaga mercusuar pak slamet, serta kesendirian dalam julangan mercusuar itu sendiri. Layaknya pulau2 yang memang jauh dari pulau2 besar negeri ini. Sang reporter agak menyayangkan knp tidak ada yang mengobrol/mendengarkan cerita pak slamet tersebut, bagaimana perasaan dia disana sebenarnya. Tim yag datang lebih cenderung untuk mengeluh capek atas perjalanan yangh dia lakukan, tak adakah yang menanyakan bagaimana capeknya pak slamet dalam kesendiriannya di pulau biawak tersebut?
Sekali lagi saya terinspirasi tulisan mba reporter ini..
Ah...saya butuh sedikit demi sedikit memaknai perjalanan2 saya.
Selain kedua hal tersebut diatas, saya terinspirasi oleh sebuah buku (eh apa novel ya kategorinya?) atau catperlah atau bisa dibilang catatan eksplorasi perjalanan seorang agustinus wibowo melintasi negeri-negeri stan (Afganistan, Pakistan, Tajikistan, dll) yang judulnya Selimut Debu. Buku itu jauh melampaui expectasi saya terhadap buku-buku bergenre travelling yang pernah saya baca. buku ini, walaupun baru separoh saya membacanya , memberi informasi dan inspirasi bagaimana sebaiknya kita memaknai perjalanan2 yang kita lakukan. Entah itu trip singkat ataupun perjalanan berbulan2.
Saya terkadang sering menanyakan ke diri sendiri : Kalau saya suka jalan2, trus apa yang saya dapat dari jalan2 tersebut? Apa hasilnya? Hanya poto2 ? Cukupkah? Atau hanya sekedar stempel : Ihh, gw pernah lo dateng kesana.. Trus?
Si Agustinus ini, lewat bukunya sedikit banyak mengajarkan bahwa perjalanan itu bukan hanya urusan foto memfoto (walaupun hasil foto2 dia bagus2 , Cekidot here ). Bahwa perjalanan adalah proses mengeksplorasi dan mengenal serta belajar dengan kondisi sekitar. Bahwa ada proses yang terkadang sulit.hal-hal diluar prediksi yang harus dihadapi. Bahwa ada masalah pengasahan nurani, bagaiman kita dapat membaca dan merespons masyarakat secara lebih mendalam.
Ah, saya iri sama si agustinus ini. Umur hanya beda 2 tahun dari saya, tapi sarat pengalaman, kaya hikmah dan berani melangkah mengeksplorasi negara2 stan tersebut.
Saya agak teringat, teman konsultasi saya, si dewi ndoet, juga pernah bilang : Heii,, ga penting apa yang elo ambil poto2nya..yang penting semuanya kerekam jadi memori di otak! hehe, dia bilang itu pas kita lagii meluncur di aliran Green Canyon dimana gw menyayangkan ga bisa moto2 karena bakal kebasahan kameranya.
Eh, trus saya nemu catpernya salah satu reporter jelajah transTV disini yang sedang menceritakan tentang pulau biawak di Indramyu. Ya, dia dalam blog tsb sebagian bercerita tentang pulau biawak..Namun yang saya tangkap, dia lebih menekankan ada kesendirian disana buat sang penjaga mercusuar pak slamet, serta kesendirian dalam julangan mercusuar itu sendiri. Layaknya pulau2 yang memang jauh dari pulau2 besar negeri ini. Sang reporter agak menyayangkan knp tidak ada yang mengobrol/mendengarkan cerita pak slamet tersebut, bagaimana perasaan dia disana sebenarnya. Tim yag datang lebih cenderung untuk mengeluh capek atas perjalanan yangh dia lakukan, tak adakah yang menanyakan bagaimana capeknya pak slamet dalam kesendiriannya di pulau biawak tersebut?
Sekali lagi saya terinspirasi tulisan mba reporter ini..
Ah...saya butuh sedikit demi sedikit memaknai perjalanan2 saya.
