3 China : Pulang ke rumah [7]

Penerbangan 4.5 jam dari Chengdu ke Kuala Lumpur berjalan lancar. Karena penerbangan di sore hari, saya tidak tertidur selama di pesawat. Beruntung saya dapat window seat, karena saya lebih bebas memandang keluar dari balik jendela pesawat. Jadi setelah ipod yang terpasang habis memainkan lagunya, video donlotan selesai dimainkan, majalah travel 3sixty-nya Air Asia jadi habis dibaca, saya jadi kebayang enaknya Laksa Penang yang ada di Food Hall nya LCCT.


Sampai LCCT, saya langsung menyeret badan ke Food Hall yang terletak agak dibelakang di dekat parkiran bus bus. FYI, di FoodHall ini makanannya lebih murah dibanding dengan makanan yang ada di terminal utama LCCT. Ternyata saya kurang beruntung. Jam 9 malam itu, stand yang menjual Laksa Penang sudah tutup. Jadi akhirnya saya pasrah aja akhirnya memesan nasi lemak. Daripada KFC coba? :-)

Di LCCT kuala lumpur, saya seperti sampai di sebuah comfort zone milik sendiri. Walaupun bukan di Indonesia, namun dikarenakan bahasa yang mirip, makanan yang bisa makan apa aja, Sholat mushola ada dimana saja. Pergi ke Toilet tidak perlu membawa bawa botol Aqua. Saya juga bisa twitteran dan fesbukan kembali. Nyaman lah. Seperti sudah kembali ke 'rumah'.

Definisi 'rumah' untuk para pejalan memang selalu jadi pembicaraan menarik. Setelah menyelesaikan makan nasi lemak, untuk membunuh waktu menunggu penerbangan esok pagi ke Jakarta, saya tetap duduk duduk di Food Hall. Sebelum tidur tidur ayam di mushola LCCT, lumayan sambil mencharger henpon dan berwifi ria di Foodhall. Sembari sedikit demi sedikit menghabiskan Teh Tarik, secara tidak sengaja saya berbincang bincang dengan seorang Sailorman (bukan Sailormoon) yang juga ingin mencharger henponnya. Tad, 60 year old, transit dari Perth di KL, menunggu esok pagi untuk penerbangan ke Manila. Pertanyaan standar ketika bertemu orang baru adalah 'where are you from?'. Jawaban saya simpel : 'Indonesia'.  Saat pertanyaan tersebut saya tanya balik ke beliau, Tad ternyata menjawab dengan tidak simpel.  Dia memulai dengan menceritakan kisahnya, bahwa dia lahir dan besar sampai menyelesaikan S2nya di Czech Republic. Dia  punya background pendidikan di Telco Engineer (Yes, saya ngecek LinkedInnya dan bener :p). Setelah lulus S2, dikarenakan Czech merupakan negara atheis-yang berkebalikan dengan keyakinan dia, Tad memutuskan menjadi pengungsi ke Inggris. Kemudian di Inggris, situasi yang ada tidak bertambah baik, akhirnya Tad memutuskan mengungsi ke Australia. Setelah sekian tahun menetap di Australia, dia kemudian menjadi warga negara sana dan bepergian dengan Paspor Australianya.

Saya bertanya kembali, "So, your home is in Australia now?"  Dan jawabannya kembali ajaib. Tad bilang dia memiliki sebuah kapal, yang dia sebut sebagai 'rumah', yang saat ini posisinya sedang bersandar di Kudat, satu daerah di Sabah, Malaysia. Di kapal itu, dia punya segala yang dia perlukan. Beberapa potong pakaian, sistem penyulingan air, Sel surya untuk mencukupi kebutuhan listrik secara mandiri, serta kebutuhan pokok yang dianggap perlu lainnya. Terkadang dia bepergian seperti ini, dengan pesawat, untuk kebutuhan bisnisnya, sebagai konsultan IT. Sisanya, dia lebih sering berada bersama kapalnya. Berlayar, memancing, diving, atau bergaul dengan orang lokal di wilayah yang dia singgahi tersebut. Dia hafal nyaris setiap sudut dan terpencil di area Sulawesi, Maluku, Aceh,dan banyak tempat lain di Indonesia, yang ketika dikonfirmasi ke saya, saya bahkan ga tau ada area itu. Menyenangi bergaul dengan orang orang lokal di area area terpencil tersebut, karena menurut dia, orang orang di daerah daerah tersebut, lebih bahagia dibanding orang orang ataupun tetangganya saat dia di Australia. Walaupun secara material kehidupan orang terpencil tersebut kekurangan, "But they're happy. they always smile", katanya. Berbeda dengan kehidupan orang di kota besar, yang cenderung individualistik. Sibuk mencari uang, tapi juga sibuk menghabiskan uang untuk segala ambisinya. Kemudahan yang ada, malah menjerat mereka. Bayar listrik lah, bayar tagihan lah, sampai membuat mereka lupa untuk tersenyum. Atau bahkan lupa bahwa mereka punya keluarga dan tetangga sekitar. Saya bengong dong dengar ceritanya.

Sekitar 17 tahun, Tad sudah menjalani kehidupan sebagai Free Man. Bahwa rumahnya adalah kapalnya. Dia bebas melakukan apa saja. Dia tidak terlalu ambil pusing, ketika saya tanya apa target dia selanjutnya. "Saya ini orang bebas, Atik. Saya akan lakukan yang saya suka untuk lakukan. Saya bahkan tidak punya target dan ambisi untuk mengejar sesuatu. Saya mencari bahagia. Dan itu saya temukan ketika saya mengadakan perjalanan saya ini. Dengan kapal saya, saya melihat orang orang yang bahagia. Ambisi itu biasanya malah ada sama orang orang muda seperti kamu. Yang bahkan kamu sendiri kadang setress jika tidak mendapatkannya. Saya sudah tua, saya sudah mengalami masa masa muda, yang juga penuh ambisi. Tapi apa yang saya dapat? terkadang malah kekosongan."

"Ok", kata saya. "But, where is your family?" tanya saya lanjut. Menurut dia, orangtuanya dan family yang dia punya sudah meninggal. Sempat beberapa kali punya istri, tapi tidak memiliki anak. Secara kondisi, dia menganggap keluarga adalah orang orang terdekatnya yang dia temui ketika dia singgah dari pelayarannya. Saya menanyakan lebih lanjut, apakah dia pernah kangen memiliki rumah, atau kangen memiliki kondisi keluarga. Menurut Tad, terkadang dia mengalami hal tersebut, tapi bertemu dengan orang orang happy selalu membuatnya merasa nyaman berada di 'rumah'nya kembali. "Jadi apa definisi rumah menurut Tad?" Tanya saya lebih lanjut."Rumah adalah situasi atau kondisi yang membuat kita nyaman. Tidak harus sebuah bangunan fisik. Ada banyak hal yang bisa mendefinisikan rumah bagi saya", kata Tad. " I called the boat is my home. You also my home now, in LCCT". Heh? saya bingung. dan surprise dan tersanjung :p "Kok bisa?", tanya saya lagi. "Ya, karena pada awalnya, kita hanya stranger yang kebetulan berada di tempat yang sama, dari penerbangan yang berbeda, menuju penerbangan yang berbeda pula. Tapi bisa berbincang panjang lebar disini, di Food Hall sampai lebih dari 3 jam. Dan saya merasa seperti mengenal teman lama. Itulah salah satu yang saya sebut 'rumah'."

Saya bengong. Lagi. Konsep yang abstrak. Sebagai kategori manusia yang sangat tidak filosofis, mau tidak mau membuat saya berfikir ulang apa yang dimaksud. Mencerna konsep bahagianya, rumahnya, keluarganya, atau bahkan way of lifenya as a free man. Melihat saya bengong, Tad bilang," hey, you can come and visit my boat when you in Kudat or Kota Kinabalu, and see that it's real. Or you can want to try sailing across South East Asia? Or to live in the boat?". Saya tersenyum. "Maybe someday to visit your boat, But I'm not enough crazy to live as a free man", kata saya. Hahaha.

Ketika akhirnya kita berpisah, dia hanya berpesan ke saya : "Pursue your dream, be happy, be smile and let the flow of your life find a way to your sea. You're woman. your different with man. Woman always look for a 'home' from her life. You cannot take a risk life like me, or maybe another man. Woman and man are very different. Don't be stress, let it flow with His way."

Dan saya hanya tersenyum, sambil berusaha mengingat ingat petuahnya. It makes me miss my dad :-)

Ini yang terkadang saya rindukan ketika saya sudah dirumah. Ketemu orang baru, kemudian harus berpisah kembali. Saya tidak bisa mengatur saya bisa ketemu dengan siapa di setiap bagian dari hidup saya. Karena semua orang berjalan melalui jalan lurusnya masing masing. Kita bertemu karena jalan yang kita punya kebetulan bersilangan. Bersilangan, tentu tak bisa selalu sama dan saling seirama. Ada bagian jalan orang yang bersilangan dengan kita kemudian akhirnya harus menjauh kembali, menemukan alurnya sesuai yang sudah digariskan. Konsekwensi ada pertemuan, tentu ada perpisahan. Dan hal tersebut, tidak hanya berlaku di kehidupan on vacation saja. Tapi juga di real life sehari hari. 

Bukankan akhirnya setiap orang akan berpisah? Yang terakhir, tentu saja dipisahkan oleh kematian.

-end-

(saya bikin tulisan penutup china ini, karena bikin tulisan pembuka disini)







10 China : Jiuzhaigou Valley [6]

Butuh waktu agak lama buat saya untuk akhirnya memutuskan berangkat ke Jiuzhaigou. Awalnya banyak faktor bikin ragu untuk pergi kesana, antara lain : perjalanan yang panjang dari chengdu, tiket masuk yang mahal, tempat yang sangat turistik sekali, dan musim saya datang bukan autumn, namun spring,  yang mana katanya autumn merupakan waktu yang terbaik jika kita ingin mengunjungi Jiuzhaigou. Tapi akhirnya saya putuskan juga untuk pergi ke Jiuzhaigou. Pertama, tentu karena saya sudah di Chengdu. Kedua, perbandingan berapa mahalnya harga tiket masuknya Jiuzhaigou dengan tiket pesawat dari Jakarta :-) Ketiga, ya, saya tuh sebenernya kan turis ditempat tempat yang saya datangi. Cuman icip icip beberapa jam atau beberapa hari, kok mau ngaku ngaku sebagai resident. Keempat, saya mau mencicipi aroma Tibet yang (katanya) sangat kental di seputar Jiuzhaigou. Kelima, hey, Jiuzhaigou ini masuk lho dalam World Heritage Sites in China.


Jiuzhaigou ini terletak sekitar 350 km dari Chengdu. Bisa dicapai dengan bus atau pesawat. Opsi pesawat pasti saya coret karena  saya masih mau jalan jalan ke tempat lainnya :D (alias mahal). Sementara jika naik bus lama tempuhnya katanya bisa 10-12 jam dari Chengdu. Bus hanya berangkat pagi hari, karena area perjalanannya melingkari pegunungan dan rentan kecelakaan. Ada dua terminal bus tempat keberangkatan bus ke Jiuzhaigou, pertama di Chadianzie bus station, yang kedua di Xinnamen Bus Station. Pas browsing, saya menemukan bahwa jadwal dari Chadianzie bus station ke Jiuzhagou lebih banyak dibanding jadwal dari Xinnamen Bus Station. Jadi setiba di Chengdu dari Guilin, saya langsung menuju Chadianzie bus station. Memesan tiket bus untuk esok harinya yang seharga 136 Yuan alias 204 ribu rupiah.Dan harga ini ternyata lebih murah sekitar 12 yuan dari harga di Xinnamen Bus Station (Ga penting banget :p). Saya kurang tau pasti apa bus yang berangkat dari Xinnamen lebih nyaman dibanding bus yang berangkat dari Chadianzie, perasaan sama aja (karena pulangnya saya naik bus yang ke Xinnamen). Yang jelas, bus yang berangkat dari Chadianzie ini penumpang lokalnya lebih banyak, dan penumpang asingnya sedikit bisa dihitung dengan sebelah jari.

Karena bus berangkat jam 8 pagi, dan posisi Chadianzie bus terminal sudah agak jauh diutara kota Chengdu, besok paginya, saya keluar penginepan sekitar jam 6.30 pagi. Sampai station MRT, ternyata station MRT nya belum buka, Gubrak deh. Akhirnya saya nunggu sekitar 10 menitan dan ternyata memang ada jamnya MRT di Chenggdu itu buka jam berapa. Ini nih akibat China 1 zona waktu. Jam di 7 di Beijing kan secara matahari beda sama jam 7 di Chengdu. Ibarat di Makasar jam 7, dan di Aceh masih jam 6 dan lebih lambat lagi. Ok, intinya saya bisa sampai terminal bus tepat waktunya. Dan ga ketinggalan bus lagi.

Dan, perjalanan panjang bus menuju Jiuzhaigou ternyata mulus sekali. Kita melewati jalan tol kira-kira dua jaman, kemudian mulai melewati area pegunungan. Jalan di pegunungan tetap mulus lancar. Bus keluar masuk terowongan, melintasi sisa sisa Gempa Sichuan 2008 yang ternyata masih keliatan dampak kerusakannya. Melewati sungai sungai dengan aliran hijau. Pohon pohon pinus, padang padang rumput, serta Yak yang merumput dipadang padang tersebut. Melewati pegunungan yang atapnya masih bersisa putihnya salju (atau salju abadi? ah entah). Dan melewati area area yang secara kultur memang Tibet sekali. Bangunan, pakaian orang yang ditemui, dsb. Sempet juga saya di satu area antah berantah itu melihat tulisan : desa muslim. Amaze banget. Ketika pulang dari Jiuzhaigou ke Chengdu, saya malah melihat sekelompok orang sedang mengadakan pemakaman muslim di satu area antah berantah itu. Selama perjalanan tersebut saya nyaris ga tidur memandang keluar jendela. Bener bener nyenengin mata untuk dilihat. Bus juga berhenti setiap 2 jam sekali untuk memberi kesempatan penumpang ke toilet atau istirahat meregangkan kaki, ataupun yang ingin ngemil ngemil jajan. Sempet liat  di salah satu tempat istirahat hewan Yak putih dikasi pita dan didandanin buat foto dengan penumpang bus, tapi ternyata bus saya ga berhenti di tempat tersebut. Hihihi.  Hey, tapi saya beruntung berkenalan dengan Sunny di bus tersebut. Dia tinggal di Guangzhou dan sedang bisnis trip ke Chengdu. Ada sisa waktu setelah dia selesai meeting sebelum kembali ke Guangzhou. Jadi dia memutuskan jalan ke Jiuzhaigou. Sunny yang ramah, dia menegur saya duluan (kayaknya karena saya bertampang beda, berjilbab, ketauan foreignernya, dibanding penumpang lainnya). Dia nanya, apa saya udah punya penginapan di Jiuzhaigou. Saya jawab belum. Tapi saya bawa selebaran hostel Jiuzhaigou dari hostel saya di Chengdu. Ok, kata dia, mau barengan sama dia ga? Tentu saja saya mau. Bodoh dong  kalo saya ga mau.

Sisa gempan Sichuan 2008

hati hati longsor


dari jendela bus


Di puncak kejauhan masih ada sisa sisa salju

Sisa sisa salju

Yak yang merumput


Tibetan menunggu angkutan di pinggir jalan

Sekitar jam 16.30 sore, bus sudah sampai ke Jiuzhaigou. Kami diturunkan di area penginapan yang ada. Langsung dirubungi sama orang yang menawari penginapannya. Beruntung saya bareng Sunny. Karena menawar dalam mandarin, kami dapat penginapan double bed seharga hanya 60 yuan per malam untuk berdua alias 30 Yuan per masing orang. Ini sih lebih murah dari hostel manapun, kata saya.  Setelah naruh tas, kami kemudian berkeliling keluar, melihat lihat suvenir dan keadaan sekitar area penginapan, serta mencari-cari makan. Dan saya beruntung  karena bertemu dengan gerai makanan halal. Lama ga ketemu nasi, akhirnya saya pasrah mesan nasi goreng. Dan nasi gorengnya enakkk bangettt . Hahaha. Sunny nemenin saya, karena dia mau makan sup.  Akhirnya setelah saya selesai makan, saya gantian nemenin dia makan sup di rumah makan lainnya.

Salah satu toko suvenir di Juizhaigou

Nasi gorengnya yummy...enakk banget..*dasar laper*

Kepala Yak


Senja

Selesai acara muter muter dan makan makan, kami kemudian survey jalan ke Pintu masuk Jiuzhaigou. Ternyata butuh waktu berjalan sekitar 25 menit dari area penginapan kami ke Pintu masuknya. OK, kami juga tanya berapa tiket masuknya, dan apakah bisa dibeli sekarang. Harga tiket masuk Jiuzhaigou, karena April sudah masuk High season, ternyata sebesar 220 Yuan plus biaya bus kelilingnya 90 Yuan. Total 310 Yuan, Kurs rupiahnya untuk  masuknya? Sekitar 465 ribu rupiah. Hmmm. Itu yang saya bilang mahal. Eh tunggu, coba jedotin kepala sendiri kalo bilang mahal pas kamu masuk Universal Studio Singapur, Tik. Hahahaha. Awalnya, Sunny mau 2 hari di Jiuzhaigou, karena mendengar tiket masuk itu bisa untuk 2 day pass. Ternyata sekarang ga berlaku lagi. Tiket segitu ya cuman untuk sehari masuk aja.

Perkenalkan, ini Sunny


Dan ini Atik :D
Dan malem hari di Jiuzhaigou jadi dingiiinnnn bangettt. Mungkin nyaris minus kali suhunya. Outfit baju tidur saya itu udah longjohn, baju tidur, sweeter, kaos kaki, kaos tangan, selimut yang bawa sendiri, dan selimut penginapan. Tapi masih tetep aja kedinginan. Dan tengah malem saya terbangun menggigil. Bener bener norak banget deh.

Pagi pagi jam 7 kami dah bangun dan berburu sarapan. Masih tetap dingin dan menggigil. Sunny juga menggigil, jadi saya ga merasa norak norak banget kedinginannya. Kami kemudian menuju area ke Pintu masuk Jiuzhaigou, sebelum berebutan sama turis turis china lainnya.

Dengan luas area sekitar 720 km2, terbagi menjadi 3 Valley yang membentuk huruh Y. Rize Valley dan Zechawa Valley membentang cabang huruf Y tersebut dari atas dan bertemu ditengah dengan Shuzheng  Valley. Agak tidak mungkin untuk  menjelajah Jiuzhaigau dalam waktu  satu hari tanpa menaiki bus. Maka dari itu, tarif bus di Jiuzhaigou juga dicharge mahal bersamaan dengan tiket masuk. Bus yang berkeliling seputar Jiuzhaigou juga merupakan bus yang 'katanya' ramah lingkungan. Bus akan berangkat membawa turis yang datang ke arah Rize Valley terlebih dahulu, menuju Primeval Forest. Pengunjung akan diturunkan disini, kemudian dapat berjalan ke objek objek yang ada. Untuk objek yang jauh, pengunjung dapat menggunakan bus dengan menunggu di halte halte yang tersedia.



Saya dan Sunny juga mengikuti rute tersebut, setelah diturunkan di Primeval Forest, kami kemudian berjalan kaki menuju Grass Lake dan Swan Lake (dan ternyata jauh). Kami kemudian naik bus menuju Arrow Bamboo Lake, Panda Lake dan Multicolor Lake. Dari situ kami berjalan dan mendapati si air terjun Pearls Shoal. Kalo ga liat mapnya dan papan namanya pasti bingung. Hehehe. Danau danau ini agak mirip semua. Yang jelas, warnanya. Nyenengin banget buat dilihat. Saya jadi teringat permen Fox yang kristal bening itu. Apalagi yang Chrystal Turquoise. Bening. Jernih. Juga pucuk pucuk bunga yang mulai bermekaran diantara ranting ranting kering pepohonan. Dipadu langit biru yang juga jernih dengan sisa sisa salju di Puncak Pegunungan dikejauhan.  Hey, Surga dunia itu memang benar benar ada.

Sunny , yang hobi fotografi, juga ternyata hobi difoto. Kata dia, setiap cewek pasti hobi difoto. Makanya, disetiap lokasi pasti kami selalu gantian saling memoto. Mungkin stok foto pribadi Juizhaigou saya paling banyak dibanding ke tempat lain. 'Piknik' ke Juizhagou menjadi salah satu piknik saya yang menyenangkan. Tempat yang menyenangkan. Ditemani  orang yang juga menyenangkan.


Ini Swan Lake 

Add caption









Setelah dari Raze Valley, kami kemudian ganti bus menuju arah Zechawa Valley.Jumlah Lake disini tidak sebanyak di Raze Valley. Kalo ga salah, saya hanya mengunjungi Long Lake dan Colorful Pond. Di Zechawa Valley ini, tenaga kami dah ngos ngosan. Setiap ada tangga yang menanjak, pasti kami berhenti. Duduk sambil gigit coklat atau ngunyah biskuit. Sambil ketawa ketawa bego. Betapa semangatnya tadi pagi kami jalan jauh di Raze Valley, dan sekarang seperti orang kurang tenaga di Zechawa Valley.

Selesai dari Zechawa Valley, kami menuju ke arah bawah, kearah Shuzheng Valley. Highlight yang ada di Shuzheng Valley selain Lake yang juga masih berwarna hijau Turquoise adalah adanya Shuzheng Tibetan Village, yang merupakan pemukiman tibet dan banyak  menjual beraneka macam suvenir, beberapa khas tibet. Hiasan kepala Yak, ataupun pengrajin tanduk Yak juga banyak terdapat di Shuzheng Village. Terdapat  pula tibetan temple didepan area tersebut.



Gerbang di Tibetan Culture





Jam 5 sore dan Jiuzhaigou nyaris tutup. Piknik saya berakhir hari itu, untuk kemudian kembali ke Chengdu esok harinya.







2 China : Panda Breeding Centre & Mt.Qingcheng [5]

Mengunjungi Panda Breeding Centre merupakan salah satu highlight travel saya kali ini. Demi Panda ini, demi ya, saya sengaja mbela-mbelain nyari rute pulang dari Chengdu supaya bisa liat langsung tingkah polah mereka di tempat penangkarannya.


yang asik ngunyah

Rencana awal sudah disusun. Panda Breeding Centre ini terletak agak diluar kota Chengdu. Saya sudah browsing bahwa untuk menuju Panda Base Centre ini dapat dilakukan mandiri. Pilihannya adalah naik bus langsung ke Panda Base dari Xinnamen Bus Station dengan nomer bus 902. Atau opsi lainnya adalah ngeteng bus  dengan dua kali pindah bus. Yang mana saya lupa pindahnya dilokasi apa ;-). Opsi ketiga dan sapu jagat adalah naik Taksi :D. Eh, ada opsi keempat deng : ikut tour dari hostel :D

Dan dari hasil browsing saya juga menemukan bahwa waktu terbaik mengunjungi Panda adalah di pagi hari. Karena panda panda tersebut masih aktif. Agak siangan sedikit, mereka langsung balik ke habit aslinya, si pemalas yang tidur sepanjang hari :-) Enak banget si mereka, kerjaannya cuman makan trus meringkuk tidur :p

Pagi esok harinya, saya bangun dengan semangat.
Pas nengok ke jendela, ternyata hujan :-(


Dan Chengdu yang hari kemarin panas menyengat, dengan ajaibnya berubah jadi dingin yang menggigil.

Duh, masih semangat juga si, walaupun kadarnya udah menurun.
 
Saya buka payung, lalu dari Flip Flop Hostel tempat saya menginap, keluar menuju Xinnamen Bus Station yang cuman 10 menit dengan berjalan kaki. Di Xinnamen Bus Station, lho kok ga ada loket yang menuju Panda Base. Saya lalu pergi ke bagian Informasi. Menanyakan ke petugasnya dimana harus menunggu bus 902 ke Panda Base. Dan ternyata : Doengggg. Petugas Informasinya bilang bus 902 sementara berhenti beroperasi. Jadi saya ga bisa naik bus itu langsung ke Panda Base.

Saya tanya ke beliau, jadi kalau mau ke Panda base, saya harus naik apa? kata dia, naik Taksi. Krik krik. itu semua orang juga tau. Saya bilang, kalau mau naik bus umum gimana rutenya? Akhirnya beliau ngasi catatan kecil dan tulisan China di kertas, bahwa saya harus naik bus ke Zaojuesi Bus Station dengan naik bus nomor 47. Dari Zaojuesi Bus Station, dilanjutkan naik bus 87 ke Panda Base. Tarif taksi bisa mencapai 50-60 RMB atau sekitar 75 rb- 90 rb rupiah. Sementara kalo naik bus umum, maksimal hanya 4 RMB alias 6 ribu perak. :D

Hujan hujanan saya nunggu bus 47 di depan Xinnamen Bus Station. Masih berharap banget hujan berhenti hari itu. Tapi nampaknya tipe hujannya akan awet. Huhuhu. Didalam bus 47, saya ga berhenti melihat jendela, menebak nebak halte manakah itu. Ternyata terminal Zoujuesi merupakan pemberhentian terakhir bus 47. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menitan. Saya turun dalam terminal Zoujuesi.

Didalam terminal,  lha kok bus nomor 87 nya ga ada. Muter muterin terminal ga nemu juga, 15 menit muter muter dalam terminal tetep ga nemu juga. Udahlah,pikir saya,  saya nyambung pake taksi aja ke Panda Basenya. Pas jalan menuju keluar terminal,  Saya ngeliat foreigner lain yang juga lagi megang megang map tampang kebingungan. Saya tanya dia, apa akan pergi ke Panda. Dia bilang iya, tapi ga nemu busnya dimana. Akhirnya kami thawaf bersama di terminal tersebut, Dan ternyata, bus nya parkir diluar terminal doonngggg. Adezighh..busnya model trem udah tua begitu. Kami naik bus 87 tersebut, tarifnya 1.5 yuan.

Thomas akhirnya jadi temen bareng saya seharian itu. Setelah setengah jam lebih di dalam bus dilengkapi beberapa kali nanya dan memastikan ke supir dan penumpang lain kok kami belum sampai juga. Oiya, gaya nanyanya juga lucu. Thomas bisa melafalkan bahasa mandarin Panda (XiongMao), tapi penumpang bus lain ga ngerti apa yang dimaksud. Akhirnya saya ambil petanya Thomas  yang depannya bergambar Panda, dan nunjuk gambar itu. Baru penumpang lain mengerti maksud kami bahwa kami ingin berhenti di Panda base. Dan tempat berhenti kami belum sampai juga.

Bus ternyata berhenti tepat depan Panda Base. Tinggal menyebrang jalan sudah disambut loket masuk.  Tiket masuk ke Panda Base sebesar 60 RMB. Lucky si Thomas, dia punya Student Card Hongkong, jadi dia hanya bayar setengahnya aja. Ngiri deh saya. Si kartu Student Card itu bener-bener bisa mangkas pengeluaran, karena rata-rata tiket masuk tempat-tempat wisata di China ngasi diskon 50% bagi para pemegang student card China.

Sebagai orang yang terobsesi sama Panda, masuk ke Panda Base bener bener amaze buat saya. Ini lokasi Panda ketiga yang saya datangi setelah Beijing dan ChiangMai. Di dua tempat sebelumnya, Pandanya hanya 1 dan itu juga cuman meringkuk aja. Di Panda Base ini, walau hujan-hujan dan ribet ribet payungan,tetep aja saya seneeenggg bangett. Saya dateng pas mereka lagi dikasi makan dan abis itu Panda panda tersebut sedang attractive attractivenya bermain. Guling gulingan sendiri. Naik pohon, ngunyah bamboo muda. ‘Nyerang’ temennya mencoba mencumbunya (lho!). It’s a must place to visit when you in Chengdu. Selain Giant Panda, ada juga jenis Red Panda, yang kayaknya harusnya brown Panda. Red Panda ini jauh lebih kecil, juga lebih lincah. Ada juga Panda Nurse Experience  jika kita ingin pelukan dan ngasi makan Panda. Cuman pas kami kesana udah habis jatah untuk nursering panda dihari itu.  Tapi ya,  bayar untuk meluk meluk dan photo-photoan sama si panda, sekitar 2000 yuan kalo ga salah, untuk aktivitas selama 2 menit. Saya juga ga mungkin partisipasi si (mehong bo! 3 juta rupiah. Menurut Ngana?).


main bareng

guling guling

heyy, ngapain kamuhh?
 
panjat dulu
 
atu tayang tamuhh (tsah)


playground
Red (brown?) Panda

Panda base ini pada dasarnya merupakan taman yang luass sekali. Namun sign arahnya membingungkan. Peta didalam juga ga jelas. Udah muter muter, kok baliknya jadi ga jelas lagi arahnya. Satu lagi si, Toiletnya bersih bangettt. Tumben :D

Selesai dari Panda Base, saya bermaksud balik lagi ke Chengdu. Plan saya udah abis mau ngapain, jadi di Chengdu paling rencana saya adalah muterin kotanya, nyari titipan topi panda. Thomas nawarin ikut dia ke The first Irrigation Sytem in China. Whatt? Ngapain ke Irrigation System kata saya. Menurut Thomas, temennya pernah ke irrigation system itu, dan landscapenya bagus. Karena ga ada ide mau ngapain juga, dan topi panda bisa dicari besoknya, saya akhirnya ikut rencananya ke Irigation System itu (baru ngeh namanya Dujiangyan Irrigation System). Jadi saya cuman ngikutin aja. Saya pikir tempatnya di deket deket Panda Base. Karena awalnya Thomas bilang cuman naik bus. Ternyata, kita harus balik lagi ke Chengdu, lalu ke Chandiazie Bus Station, dari sana kemudian naik bus lagi. FYI, Chandiazie ini terminal antar kota. Jadi, kemungkinan besar tempatnya jauh. Hahaha. Kita tiba dan beli tiket di Chandiazie sekitar 13.30. Naik bus sekitar 45 menit lurus terus lewat jalan tol (tiket busnya bayar 17 RMB). Sampai akhirnya kita tiba di terminal Dang Jian. Dari terminal itu, ternyata harus pindah bus lain (nomor 101, each 2.5 RMB) yang menuju ke Dujiangyan Irrigation System. Di bus, Thomas sibuk belajar bahasa mandarin pake Ipadnya. Saya si teler kedinginan dan kelaparan di bus, nyaris ngantuk dan ga merhatiin jalan. Hujan gerimis masih juga awet. Dan setelah 45 menit bus berhenti di last stopnya. Semua penumpang turun. Kami juga disuruh turun. Saya perhatikan sekitar : Lhaa, mana Irrigation Systemnya?

Ternyata saudara-saudara, kami terdampar di Mount Qingcheng. Salah satu Objek wisata lainnya di Sichuan.Kok bisa? Saya juga bingung. Thomas juga bingung. Ya udah terlanjur, mau gimana lagi. Udah jam 3 juga untuk nyari dimana irrigation systemnya. Akhirnya kami masuk dan beli tiket. Lumayan mahal juga tiket masuknya 90 RMB.

tiket masuk Mt.Qingcheng
gerbang depan

Mount Qingcheng ini ternyata terkenal dengan temple temple Taoismenya. Dan kalo judulnya Mount, ya pasti dong aktivitasnya naik gunungnya. Jam 3, dan jam 6 sore bus terakhir dari sini untuk balik ke Chengdu. Mana saya pake celana putih, pake batik,hujan pula. Bener bener tampilan yang geblek buat naik gunung. Ya sudahlah hajar saja. Naik lewat tangga/trailnya sambil gendong payung dan bawa tas. Not bad lah, kami akhirnya sampai juga di puncaknya (kalo ga salah sekitar 1200an meter dpl) dengan lama tempuh 2 jam-an. Pemandangannya bagus, sayang berkabut karena hujan. Sempet amazing juga, kok bisa saya naik sampe atas dengan kondisi kehujanan, sambil megang payung, dan perut cuman disogok sama biscuit aja. Ada beberapa spot berhenti salah satunya di Jianfu Palace. Yatapi malu juga si ngos-ngosan, karena banyak orang China yang sudah sepuh masih naik Mt.Qingcheng ini, dan masih bugar mereka. Oiya, sempet liat gembok gembok cinta juga disini. Kocak.

Tao symbol

dari puncak Mt.Qingcheng
Lovelock

So many of them



Jam 5.30 kami turun kebawah. Karena jalur normal lama, Thomas ngajakin potong jalan lewat bawahnya cable car. Agak ekstrim karena licin dan becek, tapi lebih cepet sampainya. Saya ga tega sama warna celana putih saya bagian bawah. Udah bukan putih atau coklat muda lagi :D.

Menyisir dibawah cable car

Danau-entah-namanya-apa saat menuruni Mt.Qingcheng



Jam 06.30 kami sudah kembali berada di parkiran depan. Bus 101 jelas udah ga ada. Thomas sempet minta tebengan sama salah satu anak muda china yang bawa mobil. Tapi menurut mereka, mobil mereka sudah full. Akhirnya kami ke parkiran bus, dan keliatan ada semacam bus tour (mungkin?) lagi parkir. Setelah nanya, bus tersebut ternyata balik ke Chengdu, dan kami boleh ikut dengan mbayar 30 RMB. Yippieeee!!

Perjalanan pulang 1.5 jam pun berakhir di Chengdu.





0 China : Chengdu [4]

Train Guilin - Chengdu


Sekembali  dari muter muter di kota Guilin paginya, saya keluar penginapan, kemudian  karena sudah mepet jamnya, lari lari menyebrang jalan ke stasiun kereta. Saya kemudian membeli minum dan snack di toko depan stasiun Guilin. Masuk stasiun di China, prosedurnya masih sama. Masih masukin barang bawaan kita ke conveyer belt and scanner. Setelah itu, saya  naik ke lt.2 lalu duduk manis di ruang tunggu yang temaram

Kereta datang sekitar pukul 12.45 siang. Padahal pintu ruang menuju peron kereta belum terbuka, tapi calon penumpang sudah langsung grubak grabuk di depan pintu yang tertutup tersebut. Susah banget disuruh antrinya. Jam 13.00 penumpang pun masuk kereta, saya pun langsung nyobain sleeper bunknya. Panjangnya pas sebadan saya, tapi naasnya, sering kepentok atap kereta :D. Nyesel ga milih bunk yang bawah. Ternyata beda antar bunk cuman 10 yuan alias 15.000 rupiah

Jam 13.20 Kereta berangkat. Saya masih bengong bengong sambil ngatur tas di bunk.Kondektur datang dan  minta tiket kita untuk dituker dengan kartu tertentu yang menerangkan posisi kita dimana serta dimana kita akan turun. Abis itu saya tertidur, dan pules.

Sleeping bunk

Ini keran air panas lhoo (free)

Aktivitas yang saya lakukan di kereta selain tidur, yang lainnya adalah turun duduk samping jendela sambil liatin dan motoin pemandangan diluar  yang keren sambil ngemil, buka buka potokopian Lonely Planet yang dibawa, buka Note Everythingnya di Handphone, nyanyi nyanyi ga jelasan sendirian, ngemil keripik kuaci, mengkhayal-khayal, memperhatikan penumpang penumpang lainnya. Looping sampai bosen dilakukan aktivitas tersebut. Ga ada yang bisa diajak ngomong sekoridor it. Foreignernya cuman saya (kelihatannya) 

Halo bapak, Ni Hao?
Sekelompok keluarga China, Look how they bring the baby :')
 
Dari jendela, kita bisa liat batas area propinsi Guangxi dan Propinsi Sichuan. Kalau di Guangxi, maka yang nampak pemandangannya adalah karst karst menjulang. Sementara di Area Sichuan. yang diliat bukan karst karst lagi, tapi pegunungan dengan warna air yang hijau. Gak lama, ada pemandangan gedung gedung tinggi yang keliatan dari jendela. Berarti kita udah sampe Chongqing, salah satu kota besar yang ada di Sichuan. . Penumpang lain udah banyak yang turun. Saya masih leyeh leyeh, baik di bunk atas ataupun  kursi di jendela bawah. Kondektur nuker kartu kita dengan tiket asli kereta kita

Dari balik jendela kereta 1 : Di Guangxi nampaknya

Dari Balik Kereta 2 : Masih di Guangxi juga nampaknya
Dari balik Jendela Kereta 3 : Nah, ini nampaknya dah masuk area Sichuan

Dari balik jendela 4 : Chongqing

Jam 13.25 siangnya, kereta merapat di ChengduDong Station..Sampai juga akhirnya di Ibukota Sichuan ini. Turun station langsung cari jalur MRT Chengdu yang tepat bersebelahan dengan pintu keluar Stasiun Chengdudong. MRT di Chengdu sendiri baru terdiri dari 2 line, namun sedang dalam tahap pengembangan lebih lanjut.

East Chengdu Station MRT


Chengdu

Tidak banyak yang saya lakukan di Chengdu. Setelah menemukan Flip Flop Hostel (yang mana awalnya saya tidak bermaksud mencari hostel ini, namun terjadi salah catat alamat sehingga yang ditemukan malah hostel ini :D). Chengdu menjadi kota transit saya, karena akan menuju Jiuzhaigou. Beberapa interest place yang ada di Chengdu, yang sempat saya mampiri antara lain Tianfu Square, People's Park, Wenshu Monastery Temple, Chunxi Road,Kuanzhaixiangzi Alley, dan Ultimate nya : Panda Breeding Centre (diposting terpisah) :-)

Enjoy the picture !
Chunxi Road, CHengdu


In front of Tianfu Square, Chengdu
Ini Mesjid Lho..lokasinya deket banget sama Tianfu Square

Dibawah mesjidnya ada gerai restoran halal (tapi mahal!). Saya ga jadi beli disitu

Beli makannya malah sama mba mba pinggir jalan ini, di gang samping masjid

Plus Kebab dari Bapak ini

di salah satu sudut Kuanzhai Alley, Chengdu. Lucu ya, surat, kotak surat, sepedah :)


Unique exterior Starbuck in Kuanzhai Alley


People pray in Wenshu Temple

One of gate in Wenshu Temple, Chengdu

Hey, what are they looking?