Penerbangan 4.5 jam dari Chengdu ke Kuala Lumpur berjalan lancar. Karena penerbangan di sore hari, saya tidak tertidur selama di pesawat. Beruntung saya dapat window seat, karena saya lebih bebas memandang keluar dari balik jendela pesawat. Jadi setelah ipod yang terpasang habis memainkan lagunya, video donlotan selesai dimainkan, majalah travel 3sixty-nya Air Asia jadi habis dibaca, saya jadi kebayang enaknya Laksa Penang yang ada di Food Hall nya LCCT.
Sampai LCCT, saya langsung menyeret badan ke Food Hall yang terletak agak dibelakang di dekat parkiran bus bus. FYI, di FoodHall ini makanannya lebih murah dibanding dengan makanan yang ada di terminal utama LCCT. Ternyata saya kurang beruntung. Jam 9 malam itu, stand yang menjual Laksa Penang sudah tutup. Jadi akhirnya saya pasrah aja akhirnya memesan nasi lemak. Daripada KFC coba? :-)
Di LCCT kuala lumpur, saya seperti sampai di sebuah comfort zone milik sendiri. Walaupun bukan di Indonesia, namun dikarenakan bahasa yang mirip, makanan yang bisa makan apa aja, Sholat mushola ada dimana saja. Pergi ke Toilet tidak perlu membawa bawa botol Aqua. Saya juga bisa twitteran dan fesbukan kembali. Nyaman lah. Seperti sudah kembali ke 'rumah'.
Definisi 'rumah' untuk para pejalan memang selalu jadi pembicaraan menarik. Setelah menyelesaikan makan nasi lemak, untuk membunuh waktu menunggu penerbangan esok pagi ke Jakarta, saya tetap duduk duduk di Food Hall. Sebelum tidur tidur ayam di mushola LCCT, lumayan sambil mencharger henpon dan berwifi ria di Foodhall. Sembari sedikit demi sedikit menghabiskan Teh Tarik, secara tidak sengaja saya berbincang bincang dengan seorang Sailorman (bukan Sailormoon) yang juga ingin mencharger henponnya. Tad, 60 year old, transit dari Perth di KL, menunggu esok pagi untuk penerbangan ke Manila. Pertanyaan standar ketika bertemu orang baru adalah 'where are you from?'. Jawaban saya simpel : 'Indonesia'. Saat pertanyaan tersebut saya tanya balik ke beliau, Tad ternyata menjawab dengan tidak simpel. Dia memulai dengan menceritakan kisahnya, bahwa dia lahir dan besar sampai menyelesaikan S2nya di Czech Republic. Dia punya background pendidikan di Telco Engineer (Yes, saya ngecek LinkedInnya dan bener :p). Setelah lulus S2, dikarenakan Czech merupakan negara atheis-yang berkebalikan dengan keyakinan dia, Tad memutuskan menjadi pengungsi ke Inggris. Kemudian di Inggris, situasi yang ada tidak bertambah baik, akhirnya Tad memutuskan mengungsi ke Australia. Setelah sekian tahun menetap di Australia, dia kemudian menjadi warga negara sana dan bepergian dengan Paspor Australianya.
Saya bertanya kembali, "So, your home is in Australia now?" Dan jawabannya kembali ajaib. Tad bilang dia memiliki sebuah kapal, yang dia sebut sebagai 'rumah', yang saat ini posisinya sedang bersandar di Kudat, satu daerah di Sabah, Malaysia. Di kapal itu, dia punya segala yang dia perlukan. Beberapa potong pakaian, sistem penyulingan air, Sel surya untuk mencukupi kebutuhan listrik secara mandiri, serta kebutuhan pokok yang dianggap perlu lainnya. Terkadang dia bepergian seperti ini, dengan pesawat, untuk kebutuhan bisnisnya, sebagai konsultan IT. Sisanya, dia lebih sering berada bersama kapalnya. Berlayar, memancing, diving, atau bergaul dengan orang lokal di wilayah yang dia singgahi tersebut. Dia hafal nyaris setiap sudut dan terpencil di area Sulawesi, Maluku, Aceh,dan banyak tempat lain di Indonesia, yang ketika dikonfirmasi ke saya, saya bahkan ga tau ada area itu. Menyenangi bergaul dengan orang orang lokal di area area terpencil tersebut, karena menurut dia, orang orang di daerah daerah tersebut, lebih bahagia dibanding orang orang ataupun tetangganya saat dia di Australia. Walaupun secara material kehidupan orang terpencil tersebut kekurangan, "But they're happy. they always smile", katanya. Berbeda dengan kehidupan orang di kota besar, yang cenderung individualistik. Sibuk mencari uang, tapi juga sibuk menghabiskan uang untuk segala ambisinya. Kemudahan yang ada, malah menjerat mereka. Bayar listrik lah, bayar tagihan lah, sampai membuat mereka lupa untuk tersenyum. Atau bahkan lupa bahwa mereka punya keluarga dan tetangga sekitar. Saya bengong dong dengar ceritanya.
Sekitar 17 tahun, Tad sudah menjalani kehidupan sebagai Free Man. Bahwa rumahnya adalah kapalnya. Dia bebas melakukan apa saja. Dia tidak terlalu ambil pusing, ketika saya tanya apa target dia selanjutnya. "Saya ini orang bebas, Atik. Saya akan lakukan yang saya suka untuk lakukan. Saya bahkan tidak punya target dan ambisi untuk mengejar sesuatu. Saya mencari bahagia. Dan itu saya temukan ketika saya mengadakan perjalanan saya ini. Dengan kapal saya, saya melihat orang orang yang bahagia. Ambisi itu biasanya malah ada sama orang orang muda seperti kamu. Yang bahkan kamu sendiri kadang setress jika tidak mendapatkannya. Saya sudah tua, saya sudah mengalami masa masa muda, yang juga penuh ambisi. Tapi apa yang saya dapat? terkadang malah kekosongan."
"Ok", kata saya. "But, where is your family?" tanya saya lanjut. Menurut dia, orangtuanya dan family yang dia punya sudah meninggal. Sempat beberapa kali punya istri, tapi tidak memiliki anak. Secara kondisi, dia menganggap keluarga adalah orang orang terdekatnya yang dia temui ketika dia singgah dari pelayarannya. Saya menanyakan lebih lanjut, apakah dia pernah kangen memiliki rumah, atau kangen memiliki kondisi keluarga. Menurut Tad, terkadang dia mengalami hal tersebut, tapi bertemu dengan orang orang happy selalu membuatnya merasa nyaman berada di 'rumah'nya kembali. "Jadi apa definisi rumah menurut Tad?" Tanya saya lebih lanjut."Rumah adalah situasi atau kondisi yang membuat kita nyaman. Tidak harus sebuah bangunan fisik. Ada banyak hal yang bisa mendefinisikan rumah bagi saya", kata Tad. " I called the boat is my home. You also my home now, in LCCT". Heh? saya bingung. dan surprise dan tersanjung :p "Kok bisa?", tanya saya lagi. "Ya, karena pada awalnya, kita hanya stranger yang kebetulan berada di tempat yang sama, dari penerbangan yang berbeda, menuju penerbangan yang berbeda pula. Tapi bisa berbincang panjang lebar disini, di Food Hall sampai lebih dari 3 jam. Dan saya merasa seperti mengenal teman lama. Itulah salah satu yang saya sebut 'rumah'."
Saya bengong. Lagi. Konsep yang abstrak. Sebagai kategori manusia yang sangat tidak filosofis, mau tidak mau membuat saya berfikir ulang apa yang dimaksud. Mencerna konsep bahagianya, rumahnya, keluarganya, atau bahkan way of lifenya as a free man. Melihat saya bengong, Tad bilang," hey, you can come and visit my boat when you in Kudat or Kota Kinabalu, and see that it's real. Or you can want to try sailing across South East Asia? Or to live in the boat?". Saya tersenyum. "Maybe someday to visit your boat, But I'm not enough crazy to live as a free man", kata saya. Hahaha.
Ketika akhirnya kita berpisah, dia hanya berpesan ke saya : "Pursue your dream, be happy, be smile and let the flow of your life find a way to your sea. You're woman. your different with man. Woman always look for a 'home' from her life. You cannot take a risk life like me, or maybe another man. Woman and man are very different. Don't be stress, let it flow with His way."
Dan saya hanya tersenyum, sambil berusaha mengingat ingat petuahnya. It makes me miss my dad :-)
Ini yang terkadang saya rindukan ketika saya sudah dirumah. Ketemu orang baru, kemudian harus berpisah kembali. Saya tidak bisa mengatur saya bisa ketemu dengan siapa di setiap bagian dari hidup saya. Karena semua orang berjalan melalui jalan lurusnya masing masing. Kita bertemu karena jalan yang kita punya kebetulan bersilangan. Bersilangan, tentu tak bisa selalu sama dan saling seirama. Ada bagian jalan orang yang bersilangan dengan kita kemudian akhirnya harus menjauh kembali, menemukan alurnya sesuai yang sudah digariskan. Konsekwensi ada pertemuan, tentu ada perpisahan. Dan hal tersebut, tidak hanya berlaku di kehidupan on vacation saja. Tapi juga di real life sehari hari.
Bukankan akhirnya setiap orang akan berpisah? Yang terakhir, tentu saja dipisahkan oleh kematian.
-end-
(saya bikin tulisan penutup china ini, karena bikin tulisan pembuka disini)





