3 Lika Liku Danau Batur

Pernah merasa nyaris 'mati' ketika lagi travelling?

saya pernah sekali.



 Bermula ketika ada event Bali Marathon 2012 di Gianyar, Bali 22 April 2012 kemarin. Karena geng lari kantor berangkat, saya juga ikut berangkat meramaikan dengan ikut race kelas 10k.Tentang lari dan Bali Marathon sendiri, lebih asik baca tulisan temen saya Bli made disini  yang lebih ber-passion tentang lari :-)

Kami ber-16 dari Telk*m berangkat untuk race tsb. 15 orang ikut race ,sementara 1 orang, katakanlah namanya mba ira, sebagai fotographernya. Karena racenya masih hari minggu, mba ira yang sudah datang dari Jumat, berniat hunting photo hari sabtunya.Sedangkan saya yang datang jumat malam, merasa 'wajib' menemani mba Ira hunting photo hari sabtu tsb, yah..dibanding ikut bapak-bapak itu ngambil racepack, mending ngabur sebentar. You know what I mean. Kesempatan ;)

Mba Ira berencana ke Kintamani pada sabtu itu. Awalnya saya mengajukan usul naik motor aja, hemat. Cuman mengingat peralatan perang mba ira untuk photo lumayan banyak, juga jarak denpasar-kintamani yang nyaris 70 km, mba Ira lebih memilih sewa mobil. Karena cmn berdua, agak sayang juga sewa mobil yang besar. Lalu yang terpick-up adalah mun mun karimun.

Start dari denpasar sekitar jam 11.20an. Karena ga prepare, kami ga bawa peta hard copi. Untung ada teknologi GPS, dituntunlah kami dari denpasar melalui liku likunya jalur menuju Kintamani.Melewati Sukawati, Gianyar, Ubud, Tampaksiring yang panjang, dan akhirnya meliku didaerah Kintamani. Jalanannya sepi. Pas didaerah kintamani, kami sempet dirazia polisi -yang asumsi saya sibuk nyari recehan karena pas tanggal tua-. E ternyata si mun mun karimun ini STNKnya cuman potokopian yang dikasih. Mana udah expired sebulan pula. Polisinya ngotot mau ambil SIM mba Ira. Ga terima, kita juga ngotot balik, siap-siap nelpon rentalnya untuk minta tanggungjawab. Begitu melihat kita siap nelpon, si pak polisi tetiba bilang, udah lanjut jalan aja, kasi tau yang rentalnya ya. Euhh bener-bener nyebelin deh. Sempet melihat depan kita mobil katana putih juga kena panggilan. Ga tau deh nasib mereka gimana. Pelajaran : periksa surat-surat kendaraan meski cuma mobil rentalan.

Jalan dari Denpasar ke Kintamani masih biasa -biasa aja, rata dan agak nanjak dan berkelok kelok. Setiba di Pintu objek wisata danau batur, jalanan bercabang. Untuk menuju ke Danau baturnya, jalan yang diambil   kearah kanan dan menurun. Ok. menurun dan berkelok terjal tepatnya. Mba Ira komen pas turun : Aduh, nanti baliknya nanjak bisa ga ya si mun mun karimun ini. Saya mulai merasakan sudah ada hawa ga enak nih.Pas belokan mau turun ini, pemandangannya kerennnn abeyyzz. Perpaduan gunung batur yang menjulang diselimuti kabut tipis dengan dibawahnya Danau Batur yang kelihatan hijau airnya. Kesalahan saya adalah ga ngambil fotonya. Takjub, tapi sekaligus sedang hati hati dijalan menurun.

Setelah menurun lumayan lama, kami tiba di persimpangan dua arah. Yang ke kanan penunjuk arahnya mengarah ke Trunyan. Yang kiri ke arah pemandian (lupa namanya). Bingung yang kekiri apa kekanan, sementara di belakang truk dan mobil lain menunggu, akhirnya kami ambil kearah kanan tsb. Dengan harapan bisa muterin danau baturnya dan kembali dari arah kiri. Bisalah seputaran danau yang luasnya 16 km2 ini diputari. Kami lalu berhenti sebentar di salah satu sisi danau. Mba Ira ambil photo, saya leyeh-leyeh sambil sesekali jepret dengan G10 saya.

 Perjalanan terus berlanjut. Ditengah jalan ternyata jalan dialihkan supaya tidak membuat macet karena sedang ada upacara adat. Ternyata pas pengalihan tersebut, ada juga palakan premannya sebesar Rp 5.000.,- Kami ikuti jalur yang ditunjukan, dimana ternyata harus melewati upacara adat. Menikmati para warga sekitar yang turun dari truck didepan pura dengan segala kelengkapan yang mereka bawa.


Ternyata setelah melewati macet tersebut, bagian paling pojok utara tidak bisa diputari. Otomatis kami harus balik arah lagi ketempat semula. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 ketika kami tiba di pelabuhan kecil untuk menyebrang menuju Trunyan. Mba Ira bertanya, mau nyebrang ga? Saya bilang : terserah mba. Akhirnya mba Ira ngambil photo-photo lagi. Saya sholat, kemudian memandangi danau batur yang diselimuti kabut. Apa semua danau itu berkabut ya? Belum banyak danau yang saya kunjungi, tapi tiga diantara tiga yang saya kunjungi semuanya berkabut. Danau Toba, WestLake, dan Danau Batur ini. Entahlah, masih harus bereksplore danau lagi. Danau yang tenang, tanpa beriak, cocok untuk jiwa-jiwa yang tenang. Sementara saya, seperti mati kutu menghadapi para danau ini. Jiwa saya cenderung beriak menghadapi mereka, mereka tetap tenang dalam selimut kabutnya. Beda jika yang didepan laut plus ombak. Seperti ada energi yang tersalurkan keluar bersama deru gemuruh ombak yang datang.

Nyaris maghrib, saya khawatir dengan jalur pulang yang menanjak berkelok. Apalagi ditambah gelap. Tapi mba Ira baru selesai mengambil photo ketika gelap sudah datang. Kami berkemas dan siap pulang ke Denpasar. O..ow.. posisi batere Henpon sebagai sumber GPS juga sekarat. Ditambah gelap pula. Dalam hati saya bilang, nampaknya akan lebih parah dari dugaan saya pas turun tadi. Tidak saya keluarkan, khawatir mengganggu yang mengemudi. Awalnya lumayan, ketika mulai menanjak yang cukup terjal, si mun mun karimun menampakkan tanda-tanda ke-eaaa-annya. Mba Ira juga ikutan panik untuk pindah gigi dan injek gas. Akhirnya bener. Si mun mun karimun mundur di tanjakan. Panik. Dibelakang ada mobil. Karimun bener-bener mundur. Saya keluar bermaksud memberitahukan ke mobil belakang jangan maju dulu. Mba Ira ga pede untuk nanjak karena kejadian mundur ini. Bingung tingkat tinggi sambil dzikir. Akhirnya kami minta tolong salah seorang bapak yang sedang mengemudi balik arah untuk membantu menanjak. Setelah menunggu cukup lama, bapak itu bersedia.  Dan dia menunjukkan bahwa si mun mun karimun ini punya kekuatan untuk menanjak.  Setelah bapaknya menempatkan mobil diposisi agak mendatar, mba Ira mengambil alih kembali. Sambil zikir dalam hati, kami masih harus berlika-liku sampai persimpangan dengan pintu masuk tadi. Kami berdua sama-sama diam. Menghela nafas sesekali. Akhirnya satu tanjakan untuk keluar area gunung batur terlampaui. Alhmadulillah.

Perjalanan kembali ke arah agak normal. Namun baru seperempatan jalan di Kintamani, Batere henpon bener-bener habis. Akhirnya kami sama sekali tanpa pegangan. Maju berdasarkan papan tulisan pinggir jalan. Tapi kejadian juga, kami nyasar. Entah dimana. Ga ada lampu jalan. Gelap. Akhirnya saya turun untuk nanya ke rumah penduduk yang ada di tepi jalan. Ditunjukkan arah kemana ke denpasar.  Setelah melaju,  beberapa saat kemudian saya harus turun lagi untuk bertanya. Dan ujiannya nambah, karena lampu depan si mun mun karimun tidak mau nyala.

Ketika tiba diarea antara Ubud - Gianyar, kami dihadapkan kembali dengan tanjakan tinggi. Dan lagi lagi si mun mun karimun kembali mundur tak terkendali. Panik kembali. Kami sampai membuat sedikit kemacetan. Akhirnya saya turun, Mba Ira menguatkan hatinya untuk menanjak jalan. Mundur kembali. Akhirnya kemuadian berhasil.

Diliputi lampu jalan yang remang-remang, masih kami melaju dengan lampu sorot yang mati. Beberapa kali turun bertanya. Akhirnya ketika nampak tanda-tanda kehidupan kota, kami bersorak. Tiba di Gianyar.

Perjalanan Gianyar-Denpasar seperti melepas beban berat. Leganya luar biasa. Walaupun masih harus turun bertanya dimana posisi Teuku Umar. Akhirnya kami kembali sampai hotel dengan selamat di sekitar pukul 10 malam. Langsung diceramahi bapak-bapak itu : darimana kalian? dihubungi ga bisa?

Kami jawab : kami habis dari nyaris mati

Begitulah ceritaku. Apa ceritamu?

3 Hangzhou


Ini kota terakhir saya di China. Saya membeli tiket ke Hanzhou lewat semacam travel agent yang ada didekat Hostel saya di Shanghai. Saya pergi bersama Yen, roommate saya yang juga ingin pergi ke Hangzho tapi dihari yang berbeda. Pembelian tiket melalui  travel agent dikenakan tambahan ongkos 5 RMB, dari harga tiket sebesar 78 RMB. Jadi total saya membayar 83 RMB untuk Bullet Train Shanghai-Hangzhou. Tapi menurut saya harganya jadi sama aja dibanding harus pergi sendiri ke Stasiun.  Udah gitu penjaga loket di Travel agent juga lumayan bicara bahasa Inggrisnya dibanding penjaga loket di Stasiun.
Jumlah kereta Shanghai – Hangzhou itu banyak sekali. Lebih dari 40an kereta cepat dari pagi sampai malam. Namun saya kurang berani mengambil resiko dengan membeli langsung on the spot. Mengingat walau kereta banyak, orang China juga banyak yang bepergian. Apalagi Shanghai yang kota Internasional ketambahan banyak warga non china yang tinggal disana dan bepergian.  Belum lagi antrian antrian panjang di spot spot dalam stasiun.
Ketika akan berangkat dari Hostel, ternyata Shanghai diguyur hujan dari pagi. Padahal saya sengaja pilih kereta jam 11 siang sehingga saya tidak perlu pagi-pagi sekali untuk berangkat ke Hongqio Stasiun. Godaan berat ketika hujan bertambah karena suhu menjadi lebih dingin. Makin enak meringkuk di tempat tidur. Akhirnya saya berhasil  maksa berangkat menembus hujan ke stasiun MRT East Nanjing Road  jam 09.30. Lanjut Naik MRT Selma 45’. Jam 10.25 Saya sudah duduk manis di Hongqio menunggu panggilan Boarding. Waktu tempuh Shanghai-Hangzhou sekitar 45 menit dengan jarak sekitar 180 km.
Sampai Hangzhou , ternyata masih hujan. Dari stasiun Hangzhou, saya naik bus Y2 untuk sampai ke West Lake Hostel.  Hostel ini rekomen banget deh. Cukup murah. 60 RMB weekend rate untuk 4 bed dorm room. Posisinya strategis depan West Lake. Dari pinggir jalan turun bus sekitar 100 meter jalan. Udah gitu hostelnya Asri, kamar mandi didalam. Dan mereka punya anjing yang cute banget. Saya yang ga suka anjing aja sampe bilang itu anjing lucuu banget.  Karena saya sampe pas hujan, jadi setengah sore saya hanya dikamar, menikmati hujan dari tempat tidur. Seru juga, mana pemandangan dari jendela lumayan sejuk dan segar.
View dari tempat tidur saya

Ga tahan lama, jam 4 saya keluar  hostel walau masih gerimis. Rencananya mau jalan jalan dipinggir danau. Tapi ternyata saya malah ketemu LeiFang Pagoda terlebih dahulu.  Saya naik escalator, dan naik tangga sampai puncak pagoda.  Dari puncak, Westlake nyaris tak terlihat karena diselimuti kabut dan gerimis. Dingin dan angin bertambah seiring saya semakin naik ke lantai lebih tinggi.  Akhirnya setelah ga tahan dingin dan gerimisnya, saya masuk berlindung di bangunan Pagoda, melihat diorama kayu si Bai Su Zhen sang Legenda Ular Putih. Jadi inget Film masa kecil dulu di Indosiar. Btw diorama Bai Su Zhen  keren.  
Leifang Pagoda

WestLake dari atas LeiFang Pagoda

salah satu diorama BaiSuZhen
Esok harinya, setelah bangun pagi, saya meneruskan rencana yang tertunda untuk melihat WestLake. Dannn, sama sekali saya ga menyesal udah bangun pagi, juga cuaca kemarin yang  hujan, yang bikin saya pagi-pagi ke Westlake ini. Pertama karena belum banyak turis. Jadi yang sudah mampir di Westlake jam 7 itu hanya orang-orang yang lari pagi dan para lansia yang sedang jalan-jalan. Bener-bener saya langsung takjub sana pesona danaunya. Menyerap energi capek selama di China sebelumnya. Hihihi. Apalagi pas saya kesana lagi siangnya, sudah banyak turis-turis dan rombongan wisata yang datang. Walaupun masih keren, tapi karena bejubel, jadi kurang puas. Hangzhou memang biasa diakses PP dari Shanghai. Jadi jam 10an lebih, turis-turis yang berangkat naik kereta pagi dari shanghai atau yang ikut tour bus sudah pada dateng.


sakura? cherry? plum? Blossom




asik

Jam 10.30 saya balik ke hostel, packing dan mandi, titip koper, dan cabut lagi. Ga ada hasrat mau kemana lagi, udah bawaan pengen pulang. Hahahaha. Homesick. Tanda-tanda gajelas udah muncul. Semalem dah mimpiin orang-orang yang dikenal. Makan mie sendirian jadi mellow. Ngeliat orang-orang di taman jadi mupeng. Jadi yang tadinya saya mau mengunjungi tempat-tempat lain di Hangzhou akhirnya saya cancel. Juga plan sewa sepeda buat keliling tidak jadi saya lakukan. Saya terima ajakan si Tian yang ingin keliling Westlake lagi. Disaat homesick dan ada teman yang ngajak ngomong, tentu ini jadi pilihan yang lebih bagus dibanding keliling tempat-tempat lainnya sendirian.  Walaupun..walaupun kaki saya jadi ga jelas rasanya, karena ngiterin lagi Westlake yang luasnya 15 km2 pake kaki.



Selesai muterin Westlake, kami mampir Mc. Donald. Another junk food lagi. Tapi Surprisenya, pas lagi asik asik makan, diantara lagu lagu berbahasa china yg diputar, tiba-tiba terputar lagu “Subhanallah, Walhamdulillah, WalailahailaLlah, Wallahu Akbar” yang dinyanyikan lewat kaset McD. Saya ampe bengong, natap Tian,dia asik makan, saya dengerin lagi karena saya pikir saya berhalusinasi, ternyata itu beneran lagu Shalawat yang dinyanyikan anak kecil. Cuman satu lagu itu aja. Abis itu kembali lagu lagu china.Rasanya luarrr biasa sekali bisa ndengernya. Di McD, dikota yang sama sekali bukan kota islami, dan ketika saya udah kangen rumah. Hahaha..Nyaris nangis saya. Hangzhou memang mistis dan ngangenin untuk kembali kesana lagi.
=Selesaiseriofchina=

1 Shanghai

Jam 6 pagi saya sudah checkout hostel dan berangkat menuju Beijing South Station. Tiket Kereta ke Shanghai saya jam 8 pagi. 1500 km jarak Beijing-Shanghai ditempuh dalam waktu 5 jam lebih sedikit. Saya tiba di Hongqiao Station Shanghai pukul 12.30an.

Ketika tiba di Shanghai, seolah olah saya tiba di Negara lain yang bukan China. Seolah olah... Beijing seolah menjadi old city yang nuansa Chinanya berasa sekali. Sementara Shanghai begitu metropolis, begitu hiruk pikuk, begitu internasional warganya, dan begitu modis (yeah, siapa yang kenal mode, pergilah ke Shanghai :p). Kalau di Beijing, jarang banget liat perempuan yang dandan, di Shanghai, saya terkagum kagum,cakep-cakep. Belum lagi mereka juga gaya dengan pakaian dinginnya.

Perbedaan lain  yang langsung terlihat adalah tiket MRT :D Kalo di Beijing kan pas 2 RMB mau kemana aja. Single Rate. Sementara kalo di Shanghai, tariff MRT nya berbeda tergantung jarak tempuhnya. Termurah adalah 3 RMB, termahalnya 9 RMB. Ada juga karcis 1 day pass seharga 18 RMB. Kalo seharian muter-muter Shanghai, lebih ok pake 1 day pass ini.

Saya menginap di Blue Mountain International Youth Hostel, hanya sekitar 300 meter dari East Nanjing Road, Pedestrian dan Shopping Area terbesar di China (katanya). Lumayan recommended. Bisa jalan kaki juga ke The Bund. 60 RMB per malam untuk 4 bed dorm Female. 3 penghuni lainnya yang saya bilang Drama semua. Yen dari Guangdong, China, Caroline dan Irene dari German.
Sekarang, mari kita keliling Shanghai dalam 1 halaman ;)

Yuyuan Garden dan Shanghai Old Town
Yuyuan Garden dan Shanghai Old Town ini lumayan mewakili China di Shanghai. Relatif dekat dari hostel saya, bisa jalan kaki, tapi saya milih naik MRT walau hanya 1 stasiun. Menghemat tenaga. Turun di Yuyuan Garden Station,  yang pertama kali terlihat setelah sampai Yuyuan Garden adalah penuhhh orang. Semuanya lagi pose foto-foto diluarnya. Tapi jarang yang masuk gardennya, karena dah mau tutup (tutup jam 5.30, sementara saat itu udah jam 5 kurang).  Saya lalu masuk kedalam yuyuan garden. Menikmati bunga-bunga yang mulai mekar, dan tentu lebih sepi dibanding diluar. Sambil sesekali pengeras suara ngingetin bahwa waktu berkunjung sudah nyaris habis :p


depan Yuyuan Garden

tiket masuk

salah satu sudut didalam yuyuan garden



The Bund dan HuangPu River Cruise
Ini iconnya Shanghai,terletak di tepi HuangPu River dan terdiri dari banyak gedung bertingkat. Area the Bund dan sekitarnya, paling keren didatengin malam hari, sekali lagi karena efek lampunya. Selain jalan-jalan dari sisi pudong, bisa juga menikmati Cruise di HuangPu River. Kira-kira lamanya 1jam-an. Harga tiket Cruisenya 100 RMB.  Ada juga alternative naik ke Oriental Pearl Tower. Harganya juga 100 RMB. Saya pilih ikut cruisenya. Kalau sedang di area The Bund ini, sama sekali tidak merasa di China, saking metropolisnya.
The Bund from HuangPu River

semacam bunderan HInya

Shanghai Museum
Shanghai Museum terletak dekat People Park. Shanghai Museum ini worthed untuk dikunjungi. Pertama : gratis :D. Tapi walaupun gratis, yang masuk tetap dibatasi.  Setelah jumlah sekian, maka jumlah pengunjung akan distop. Jadi lebih baik pergi pagi kalau ingin ke Shanghai Museum. Koleksi Shanghai Museum juga lumayan lengkap, mulai dari keramik, perunggu, kaligrafi, furniture, giok, koin dan mata uang, painting, lalu ada art dari suku suku minoritas di china. Saya paling suka mantengin painting dan art chinesse minority. Keren banget ngeliatin pakaian-pakaian dan asesoris traditional suku-suku tersebut.
ini salah satu yang saya suka, model2 pakaian traditional

wohoo ada Onta, nerangin kalau ada hubungan dagang dengan arab


Fu You Mosque
Masjid Fu You ini terletak didekat YuYuan Garden, kalau keluar station MRT, ke Yuyuan adalah kekanan, maka Fu You Road ini arahnya ke kiri. Fu You Road ini jalan satu arah yang tidak begitu besar. Saya nemunya juga ga sengaja, ditunjukin arah Fu You Road sama salah satu mahasiswa China yang pagi practice English.  Bentuk luar Masjidnya mirip ruko.  Tapi dalamnya masjid dengan nuansa ukiran China. Saya nemu pula AlQur’an dengan terjamahan bahasa mandarin.


Innal muttaqiina fii jannatiwwana'im (depan Fu You Mosque)

translate with mandarin

area Imam Sholat di Fu You Mosque, Shanghai




French Concession
French Concession ini, dulunya  merupakan area di Shanghai yang diperuntukkan sebagai pemukiman orang-orang Perancis di Shanghai.  Format jalan di area French Concession ini sangat bernuansa Eropa. Selain bangunan bangunan yang bernuansa eropa, terdapat pula rumahnya Sun Yat Sen di area French Concession ini. 
Saya turun MRT di South Saanxi Road, lalu keluar dan jalan kaki berpegang peta menyusuri area ini. Setelah nyaris satu jam jalan, saya ketemu Taikang Road, jalan yang full dengan great café dan interestip shop lainnya. Café nya unik unik dan lucu dekorasinya.  Betul betul area yang nyaman untuk jalan kaki.
ga kayak di china

Taikang Road : Full of  Cafe

Kebaca ga papan " Bali&Bali" ?



TongLi
TongLi sebenarnya bukan di Shanghai. Tapi karena saya pp dari Shanghai ke Tongli dalam waktu sehari, maka saya masukkan dalam grup-nya Shanghai ini.  Jarak Shanghai TongLi sekitar 100 km, dengan perjalanan menggunakan bus nyaris selama 2 jam.
Untuk ke TongLi dari Shanghai, terdapat bus yang berangkat dari Shanghai Sightseeing Bus Station yang ada di Shanghai Stadium. Jadi saya ke MRT Shanghai Stadium , kemudian keluar menuju Shanghai Sightseeing Bus yang kira-kira ada di sector 5 nya Shanghai Stadium. Bus berangkat jam 8.30 dan dari TongLi kembali jam 16.30. Tiket bus plus tiket masuk Tongli sebesar 130 RMB.
TongLi merupakan kota tua yang terkenal dengan system kanalnya. TongLi juga terdapat banyak stone bridges, private garden, temple dan juga rumah/bangunan tua yang terpelihara. Yang terkenal selain itu di TongLi adalah China Sex Museumnya. 


kanal di tongli


kota tua
turis menyusuri kanal

TuiSi Garden di TongLi


wanna go there? ;)

Satu dari banyak Stone Bridge


Yah, Shanghai mungkin ga terlalu spesifik ditulis.Setidaknya bisa membantu pancingan untuk meng-gugel lebih lanjut ;)

4 Beijing - part 3

Setelah seharian kemarin mengunjungi bangunan-bangunan kuno china, maka kalau hari ini saya datengin lagi, pasti saya akan bosan tingkat tinggi. Jadi rute saya hari ini adalah mengunjungi Great Wall dan Olympic Stadium

Great Wall

Sebenarnya ada berbagai pilihan tujuan GreatWall yang bisa didatangi, diantaranya Badaling, Mutianyu, Jiankou, Jianshanling, dst. Saya akhirnya capcus memilih yang Badaling dikarenakan paling simple transportnya (dan paling murah), walaupun katanya tourist banget. Sudah saya coba hindari dengan ke Great Wall tidak dihari sabtu/minggu, tetapi Senin, sehingga saya masih bisa mendapat spot-spot kosong di beberapa section Great Wall Badaling.
tiket masuk Great Wall yang berbentuk PostCard
 
Seperti yang saya ceritakan di tulisan lalu, saya ke Badaling dengan nge-follow 2 student dari France, Benjamin dan Antono. Benjamin kuliah di Shanghai sementara si Antono di Beijing ambil Teknik Industri. Riweh berangkat bareng mereka adalah langkah mereka yang panjang sehingga saya harus ekstra langkah untuk ngimbangin langkah mereka.  Kami naik MRT ke Jishuitan, keluar MRT, belok kiri lurus terus hingga ketemu terminal bus. Agak susah juga dicari. Si Benjamin yang bahasa chinanya sedikit lebih bagus dari Antono, harus nanya beberapa kali untuk bisa ketemu terminalnya. Ah, untung saya hanya ngikutin mereka :D. Akhirnya kami ketemu bus no 877 yang langsung membawa sampai Badaling. Ongkos sekali jalan 12 RMB. PP jadi 24 RMB, plus tiket Masuk Badaling seharga 45 RMB. Lucunya, tiket Badaling ini bentuknya kartu pos, jadi saya suka banget dapetnya. hehehehe. Total transport dan tiket ke Badaling jadi hanya 69 RMB untuk ke Great Wall. Bayangkan kalau ikut Travel Agent, minimal adalah 180 RMB dan biasanya sudah paket dengan Badaling+MingTomb. Btw bus ini jumlahnya lumayan banyak.  Tapi maksimal mereka balik dari Badaling ke Beijing itu jam 4 sore.


coretan tinta seniman

ki : Antono, ka : Benjamin
 
Track Badaling ini lumayan seru, seru untuk nanjak dan meluncur. Bahkan ada jalur yang mirip sama papan perosotan. Kalau dilihat, temboknya memang sudah direstorasi . Walau begitu, sambil ketawa, dua bule perancis itu bilang kalo kita lagi jalan diatas kuburan. Kata mereka, coba hitung berapa banyak orang yang meninggal untuk membangun tembok ini. Mungkin satu langkah kita menyusur, 10 orang bisa meninggal disini.
sepi kan? coba kalo weekend..beuhhh

meliuk liuk

yang berbentuk tangga



meniti tepi tembok


section 6 dan 7 direstorasi dengan hibah dari Pakistan

Kami keluar Badaling jam 2 lewat.  Ternyata di antrian bus menuju Beijing, saya ketemu enci’ dari Palembang.  Gimana ga gampang dikenalin, lha wong saya pake batik.hihihi.  Enci’ ini ternyata punya travel agent dan sedang survey jalan untuk tripnya.  Lumayan, kembali berbahasa Indonesia.
Sampai Beijing, setelah say goodbye sama Benjamin dan Antono, saya ke Nuijie lagi untuk cari makanan dan sholat. 

Olympic Stadium

Dari Niujie, saya naik MRT menuju Olympic Sport Center Stadium yang ada di Line 8. Setelah Olympiade Beijing 2008, Olympic Stadium atau dikenal juga dengan Bird Nest (karena mirip sarang burung) menjadi ikon selanjutnya yang didatangi di Beijing.  Satu paketan dengan Bird Nest adalah Water Cube yang posisinya saling berseberangan. Lebih baik dikunjungi senja menjelang malam karena cahaya lampu membuat keduanya jadi tambah keren. BirdNest dengan warna merahnya. Water Cube dengan Birunya.  Dan harus diperhatikan pula posisi batere kamera, karena batere saya habis sebelum saya puas foto-foto di Olympic Stadium.
Add caption

water cube

Bird Nest

Olympic Stadium mengakhiri petualangan saya di Beijing.