4 Beijing - part 3

Setelah seharian kemarin mengunjungi bangunan-bangunan kuno china, maka kalau hari ini saya datengin lagi, pasti saya akan bosan tingkat tinggi. Jadi rute saya hari ini adalah mengunjungi Great Wall dan Olympic Stadium

Great Wall

Sebenarnya ada berbagai pilihan tujuan GreatWall yang bisa didatangi, diantaranya Badaling, Mutianyu, Jiankou, Jianshanling, dst. Saya akhirnya capcus memilih yang Badaling dikarenakan paling simple transportnya (dan paling murah), walaupun katanya tourist banget. Sudah saya coba hindari dengan ke Great Wall tidak dihari sabtu/minggu, tetapi Senin, sehingga saya masih bisa mendapat spot-spot kosong di beberapa section Great Wall Badaling.
tiket masuk Great Wall yang berbentuk PostCard
 
Seperti yang saya ceritakan di tulisan lalu, saya ke Badaling dengan nge-follow 2 student dari France, Benjamin dan Antono. Benjamin kuliah di Shanghai sementara si Antono di Beijing ambil Teknik Industri. Riweh berangkat bareng mereka adalah langkah mereka yang panjang sehingga saya harus ekstra langkah untuk ngimbangin langkah mereka.  Kami naik MRT ke Jishuitan, keluar MRT, belok kiri lurus terus hingga ketemu terminal bus. Agak susah juga dicari. Si Benjamin yang bahasa chinanya sedikit lebih bagus dari Antono, harus nanya beberapa kali untuk bisa ketemu terminalnya. Ah, untung saya hanya ngikutin mereka :D. Akhirnya kami ketemu bus no 877 yang langsung membawa sampai Badaling. Ongkos sekali jalan 12 RMB. PP jadi 24 RMB, plus tiket Masuk Badaling seharga 45 RMB. Lucunya, tiket Badaling ini bentuknya kartu pos, jadi saya suka banget dapetnya. hehehehe. Total transport dan tiket ke Badaling jadi hanya 69 RMB untuk ke Great Wall. Bayangkan kalau ikut Travel Agent, minimal adalah 180 RMB dan biasanya sudah paket dengan Badaling+MingTomb. Btw bus ini jumlahnya lumayan banyak.  Tapi maksimal mereka balik dari Badaling ke Beijing itu jam 4 sore.


coretan tinta seniman

ki : Antono, ka : Benjamin
 
Track Badaling ini lumayan seru, seru untuk nanjak dan meluncur. Bahkan ada jalur yang mirip sama papan perosotan. Kalau dilihat, temboknya memang sudah direstorasi . Walau begitu, sambil ketawa, dua bule perancis itu bilang kalo kita lagi jalan diatas kuburan. Kata mereka, coba hitung berapa banyak orang yang meninggal untuk membangun tembok ini. Mungkin satu langkah kita menyusur, 10 orang bisa meninggal disini.
sepi kan? coba kalo weekend..beuhhh

meliuk liuk

yang berbentuk tangga



meniti tepi tembok


section 6 dan 7 direstorasi dengan hibah dari Pakistan

Kami keluar Badaling jam 2 lewat.  Ternyata di antrian bus menuju Beijing, saya ketemu enci’ dari Palembang.  Gimana ga gampang dikenalin, lha wong saya pake batik.hihihi.  Enci’ ini ternyata punya travel agent dan sedang survey jalan untuk tripnya.  Lumayan, kembali berbahasa Indonesia.
Sampai Beijing, setelah say goodbye sama Benjamin dan Antono, saya ke Nuijie lagi untuk cari makanan dan sholat. 

Olympic Stadium

Dari Niujie, saya naik MRT menuju Olympic Sport Center Stadium yang ada di Line 8. Setelah Olympiade Beijing 2008, Olympic Stadium atau dikenal juga dengan Bird Nest (karena mirip sarang burung) menjadi ikon selanjutnya yang didatangi di Beijing.  Satu paketan dengan Bird Nest adalah Water Cube yang posisinya saling berseberangan. Lebih baik dikunjungi senja menjelang malam karena cahaya lampu membuat keduanya jadi tambah keren. BirdNest dengan warna merahnya. Water Cube dengan Birunya.  Dan harus diperhatikan pula posisi batere kamera, karena batere saya habis sebelum saya puas foto-foto di Olympic Stadium.
Add caption

water cube

Bird Nest

Olympic Stadium mengakhiri petualangan saya di Beijing.

4 komentar:

adu catumorli said...

elo-nya kurang maju tik, kecil banget mukanya ngga keliatan :p

atik said...

Maklum du, self poto :))

hilda said...

saya liat ada photo didepan bird nest..apa photo didepannya aja dikenakan biaya masuk?

atik said...

ga mba..gratis kalo ga masuk