Pernah merasa nyaris 'mati' ketika lagi travelling?
saya pernah sekali.
Bermula ketika ada event Bali Marathon 2012 di Gianyar, Bali 22 April 2012 kemarin. Karena geng lari kantor berangkat, saya juga ikut berangkat meramaikan dengan ikut race kelas 10k.Tentang lari dan Bali Marathon sendiri, lebih asik baca tulisan temen saya Bli made disini yang lebih ber-passion tentang lari :-)
Kami ber-16 dari Telk*m berangkat untuk race tsb. 15 orang ikut race ,sementara 1 orang, katakanlah namanya mba ira, sebagai fotographernya. Karena racenya masih hari minggu, mba ira yang sudah datang dari Jumat, berniat hunting photo hari sabtunya.Sedangkan saya yang datang jumat malam, merasa 'wajib' menemani mba Ira hunting photo hari sabtu tsb, yah..dibanding ikut bapak-bapak itu ngambil racepack, mending ngabur sebentar. You know what I mean. Kesempatan ;)
Mba Ira berencana ke Kintamani pada sabtu itu. Awalnya saya mengajukan usul naik motor aja, hemat. Cuman mengingat peralatan perang mba ira untuk photo lumayan banyak, juga jarak denpasar-kintamani yang nyaris 70 km, mba Ira lebih memilih sewa mobil. Karena cmn berdua, agak sayang juga sewa mobil yang besar. Lalu yang terpick-up adalah mun mun karimun.
Start dari denpasar sekitar jam 11.20an. Karena ga prepare, kami ga bawa peta hard copi. Untung ada teknologi GPS, dituntunlah kami dari denpasar melalui liku likunya jalur menuju Kintamani.Melewati Sukawati, Gianyar, Ubud, Tampaksiring yang panjang, dan akhirnya meliku didaerah Kintamani. Jalanannya sepi. Pas didaerah kintamani, kami sempet dirazia polisi -yang asumsi saya sibuk nyari recehan karena pas tanggal tua-. E ternyata si mun mun karimun ini STNKnya cuman potokopian yang dikasih. Mana udah expired sebulan pula. Polisinya ngotot mau ambil SIM mba Ira. Ga terima, kita juga ngotot balik, siap-siap nelpon rentalnya untuk minta tanggungjawab. Begitu melihat kita siap nelpon, si pak polisi tetiba bilang, udah lanjut jalan aja, kasi tau yang rentalnya ya. Euhh bener-bener nyebelin deh. Sempet melihat depan kita mobil katana putih juga kena panggilan. Ga tau deh nasib mereka gimana. Pelajaran : periksa surat-surat kendaraan meski cuma mobil rentalan.
Jalan dari Denpasar ke Kintamani masih biasa -biasa aja, rata dan agak nanjak dan berkelok kelok. Setiba di Pintu objek wisata danau batur, jalanan bercabang. Untuk menuju ke Danau baturnya, jalan yang diambil kearah kanan dan menurun. Ok. menurun dan berkelok terjal tepatnya. Mba Ira komen pas turun : Aduh, nanti baliknya nanjak bisa ga ya si mun mun karimun ini. Saya mulai merasakan sudah ada hawa ga enak nih.Pas belokan mau turun ini, pemandangannya kerennnn abeyyzz. Perpaduan gunung batur yang menjulang diselimuti kabut tipis dengan dibawahnya Danau Batur yang kelihatan hijau airnya. Kesalahan saya adalah ga ngambil fotonya. Takjub, tapi sekaligus sedang hati hati dijalan menurun.
Setelah menurun lumayan lama, kami tiba di persimpangan dua arah. Yang ke kanan penunjuk arahnya mengarah ke Trunyan. Yang kiri ke arah pemandian (lupa namanya). Bingung yang kekiri apa kekanan, sementara di belakang truk dan mobil lain menunggu, akhirnya kami ambil kearah kanan tsb. Dengan harapan bisa muterin danau baturnya dan kembali dari arah kiri. Bisalah seputaran danau yang luasnya 16 km2 ini diputari. Kami lalu berhenti sebentar di salah satu sisi danau. Mba Ira ambil photo, saya leyeh-leyeh sambil sesekali jepret dengan G10 saya.
Perjalanan terus berlanjut. Ditengah jalan ternyata jalan dialihkan supaya tidak membuat macet karena sedang ada upacara adat. Ternyata pas pengalihan tersebut, ada juga palakan premannya sebesar Rp 5.000.,- Kami ikuti jalur yang ditunjukan, dimana ternyata harus melewati upacara adat. Menikmati para warga sekitar yang turun dari truck didepan pura dengan segala kelengkapan yang mereka bawa.
Ternyata setelah melewati macet tersebut, bagian paling pojok utara tidak bisa diputari. Otomatis kami harus balik arah lagi ketempat semula. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 ketika kami tiba di pelabuhan kecil untuk menyebrang menuju Trunyan. Mba Ira bertanya, mau nyebrang ga? Saya bilang : terserah mba. Akhirnya mba Ira ngambil photo-photo lagi. Saya sholat, kemudian memandangi danau batur yang diselimuti kabut. Apa semua danau itu berkabut ya? Belum banyak danau yang saya kunjungi, tapi tiga diantara tiga yang saya kunjungi semuanya berkabut. Danau Toba, WestLake, dan Danau Batur ini. Entahlah, masih harus bereksplore danau lagi. Danau yang tenang, tanpa beriak, cocok untuk jiwa-jiwa yang tenang. Sementara saya, seperti mati kutu menghadapi para danau ini. Jiwa saya cenderung beriak menghadapi mereka, mereka tetap tenang dalam selimut kabutnya. Beda jika yang didepan laut plus ombak. Seperti ada energi yang tersalurkan keluar bersama deru gemuruh ombak yang datang.
Setelah menurun lumayan lama, kami tiba di persimpangan dua arah. Yang ke kanan penunjuk arahnya mengarah ke Trunyan. Yang kiri ke arah pemandian (lupa namanya). Bingung yang kekiri apa kekanan, sementara di belakang truk dan mobil lain menunggu, akhirnya kami ambil kearah kanan tsb. Dengan harapan bisa muterin danau baturnya dan kembali dari arah kiri. Bisalah seputaran danau yang luasnya 16 km2 ini diputari. Kami lalu berhenti sebentar di salah satu sisi danau. Mba Ira ambil photo, saya leyeh-leyeh sambil sesekali jepret dengan G10 saya.
Perjalanan terus berlanjut. Ditengah jalan ternyata jalan dialihkan supaya tidak membuat macet karena sedang ada upacara adat. Ternyata pas pengalihan tersebut, ada juga palakan premannya sebesar Rp 5.000.,- Kami ikuti jalur yang ditunjukan, dimana ternyata harus melewati upacara adat. Menikmati para warga sekitar yang turun dari truck didepan pura dengan segala kelengkapan yang mereka bawa.
Ternyata setelah melewati macet tersebut, bagian paling pojok utara tidak bisa diputari. Otomatis kami harus balik arah lagi ketempat semula. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 ketika kami tiba di pelabuhan kecil untuk menyebrang menuju Trunyan. Mba Ira bertanya, mau nyebrang ga? Saya bilang : terserah mba. Akhirnya mba Ira ngambil photo-photo lagi. Saya sholat, kemudian memandangi danau batur yang diselimuti kabut. Apa semua danau itu berkabut ya? Belum banyak danau yang saya kunjungi, tapi tiga diantara tiga yang saya kunjungi semuanya berkabut. Danau Toba, WestLake, dan Danau Batur ini. Entahlah, masih harus bereksplore danau lagi. Danau yang tenang, tanpa beriak, cocok untuk jiwa-jiwa yang tenang. Sementara saya, seperti mati kutu menghadapi para danau ini. Jiwa saya cenderung beriak menghadapi mereka, mereka tetap tenang dalam selimut kabutnya. Beda jika yang didepan laut plus ombak. Seperti ada energi yang tersalurkan keluar bersama deru gemuruh ombak yang datang.
Nyaris maghrib, saya khawatir dengan jalur pulang yang menanjak berkelok. Apalagi ditambah gelap. Tapi mba Ira baru selesai mengambil photo ketika gelap sudah datang. Kami berkemas dan siap pulang ke Denpasar. O..ow.. posisi batere Henpon sebagai sumber GPS juga sekarat. Ditambah gelap pula. Dalam hati saya bilang, nampaknya akan lebih parah dari dugaan saya pas turun tadi. Tidak saya keluarkan, khawatir mengganggu yang mengemudi. Awalnya lumayan, ketika mulai menanjak yang cukup terjal, si mun mun karimun menampakkan tanda-tanda ke-eaaa-annya. Mba Ira juga ikutan panik untuk pindah gigi dan injek gas. Akhirnya bener. Si mun mun karimun mundur di tanjakan. Panik. Dibelakang ada mobil. Karimun bener-bener mundur. Saya keluar bermaksud memberitahukan ke mobil belakang jangan maju dulu. Mba Ira ga pede untuk nanjak karena kejadian mundur ini. Bingung tingkat tinggi sambil dzikir. Akhirnya kami minta tolong salah seorang bapak yang sedang mengemudi balik arah untuk membantu menanjak. Setelah menunggu cukup lama, bapak itu bersedia. Dan dia menunjukkan bahwa si mun mun karimun ini punya kekuatan untuk menanjak. Setelah bapaknya menempatkan mobil diposisi agak mendatar, mba Ira mengambil alih kembali. Sambil zikir dalam hati, kami masih harus berlika-liku sampai persimpangan dengan pintu masuk tadi. Kami berdua sama-sama diam. Menghela nafas sesekali. Akhirnya satu tanjakan untuk keluar area gunung batur terlampaui. Alhmadulillah.
Perjalanan kembali ke arah agak normal. Namun baru seperempatan jalan di Kintamani, Batere henpon bener-bener habis. Akhirnya kami sama sekali tanpa pegangan. Maju berdasarkan papan tulisan pinggir jalan. Tapi kejadian juga, kami nyasar. Entah dimana. Ga ada lampu jalan. Gelap. Akhirnya saya turun untuk nanya ke rumah penduduk yang ada di tepi jalan. Ditunjukkan arah kemana ke denpasar. Setelah melaju, beberapa saat kemudian saya harus turun lagi untuk bertanya. Dan ujiannya nambah, karena lampu depan si mun mun karimun tidak mau nyala.
Ketika tiba diarea antara Ubud - Gianyar, kami dihadapkan kembali dengan tanjakan tinggi. Dan lagi lagi si mun mun karimun kembali mundur tak terkendali. Panik kembali. Kami sampai membuat sedikit kemacetan. Akhirnya saya turun, Mba Ira menguatkan hatinya untuk menanjak jalan. Mundur kembali. Akhirnya kemuadian berhasil.
Diliputi lampu jalan yang remang-remang, masih kami melaju dengan lampu sorot yang mati. Beberapa kali turun bertanya. Akhirnya ketika nampak tanda-tanda kehidupan kota, kami bersorak. Tiba di Gianyar.
Perjalanan Gianyar-Denpasar seperti melepas beban berat. Leganya luar biasa. Walaupun masih harus turun bertanya dimana posisi Teuku Umar. Akhirnya kami kembali sampai hotel dengan selamat di sekitar pukul 10 malam. Langsung diceramahi bapak-bapak itu : darimana kalian? dihubungi ga bisa?
Kami jawab : kami habis dari nyaris mati
Begitulah ceritaku. Apa ceritamu?
3 komentar:
hemmm seru juga sepertinya menyetir mobil sambil mundur wakakakakaka :P
ini cerita ku tante ttg almost dead
http://tjuputography.blogspot.com/2012/03/papandayan-im-in-lost.html
Boleh dicoba thur, tp di tanjakan dan gelap ya :-)
Aku menuju tekape mu.
mau liat danau lebih banyak? main ke kampung gw deh tik... ga cuma ada 1,2 atau 3... tapi ada 4 danau.. hehe... iklan bgt deh gw :P
Post a Comment