2 Beijing - part 1

Summer Palace
Besok paginya, abis sarapan energen , yang seadanya, saya langsung capcus ke Summer Palace. Yah, selera makan saya memang ga patut ditiru kalo lagi travelling. Tidak beraturan , dan males effort jalan jauh .  Seperti yang contekan saya bilang, Summer Palace gampang diakses, keluar dari Line 4 MRT di Beigongmen Station, Lalu langsung belok kiri. 300 meter dari situ sudah ketemu Pintu Selatan Summer Palace.
Summer Palace merupakan perpaduan taman yang sangat besar, dengan berbagai sceneric area: temple, Danau, garden, Suzhou street yang mirip Venicenya Italia. Pas saya kesana banyak orang China yang melakukan Taichi, bahkan ada yang paduan suara. Memang tempat untuk relax. Ikutin aja bukit-bukitnya, sampai nyasar dan akhirnya ketemu pintu keluar lagi.
Suzhou Street di Summer Palace : Masih ada sisa bongkahan es-nya

ada paduan suara di bukit. Nyanyi lagu traditional

suka ama tekstur pohon ini

bongkahan esnya banyak

Garden di Summer Palace

Icon Pagoda, diintip dari balik pintu

Latarnya Kunming Lake


Beijing Zoo
Habis dari Summer Palace, saya pergi ke Beijing Zoo. Demiii…demi melihat Panda dong. Secara masuk dalam salah satu hewan favorit.  Jadi, saya masuk Beijing Zoo langsung menuju ke area Panda. Kirain banyak Panda-pandanya. Ternyata saya cuman liat 2 Panda. Hiks.Gapapa deh. Setidaknya punya alesan lagi untuk dateng ke Sichuan, China buat liat Panda di Research Basenya.  Udah gitu Pandanya mojok dan diem aja lagi. Tambah bikin mereka jadi ga keliatan imut-imut.
Tapi ternyata saya baru tau. Panda yang sejenis sama beruang, dikarenakan aslinya Karnivora namun dengan proses adaptasi jadi makan Bambu. Makan bamboo ini, yang low nutrition, mengakibatkan si Panda harus membatasi interaksi sosialnya dan menghindari membatasi pengeluaran energinya. Ya sudahlah.
Beizing Zoo dicapai dengan naik MRT keluar di Exit A, langsung belok kiri dah ketemu loket tiket masuknya.
Meringkuk

Niujie Mosque
Selepas Beijing Zoo, saya ke Niujie Mosque. Penasaran sama Masjid tapi bentuknya bukan kayak Masjid. Sama cari makan Halal si disekitar Niujie. Turun di Changchun Jie Station. Habis itu jalan jauh sekitar 2 km. Hiks. Harusnya bisa sambung naik bus. Cuman pas keluar station aja saya bingung jalan kearah mana. Nanya orang-orang ga pada tau. Ya sudah, muter-muter nyasar dulu sekitar stasiun, baru setengah jam kemudian dapet arah yang tepat.
bisa ngejanya kan? ;)

Niujie Mosque

ukiran di Mosque

ruang sholat cowo

makam

ini ada di museum dalam lingkungan Niujie Mosque

Masjidnya bener-bener kayak Kuilnya China. Untuk non Muslim, masuk dikenai tiket masuk. Kalo yang Muslim bebas . Model bangunannya juga ga cuman 1, tapi terdiri dari Hall-hall. Prayer Room untuk laki laki dan perempuan beda bangunan. Lalu ada Hall buat Adzan juga. Ada Museum pula di belakang.Lalu ada makam  Jadi mirip kompleks gitu.  Pas di female Mosque, ketemu sama serombongan muslimah dari China tengah. Lucu deh ngeliat muka oriental berjilbab. Tapi tetep juga si mereka exiting ngeliat saya. Ngajak foto bareng segala.Hahaha
I'm at Female Nuijie Mosque

Habis dari Niujie Mosque, saya lalu pergi ke Supermarket Muslim yang dekat situ. Puas jajan-jajan cemilan, abis itu ke foodcourtnya. Akhirnya makan beneran juga hari itu. Hahahaha

satenya enak

0101010-bersambung-010101
 

9 China : First Entry


Selalu bingung untuk mulai darimana! Yang dikepala terlalu banyak, sementara ketika ngetik, jadi blank apa duluan yang harus ditulis. Sama seperti China itu sendiri, sebegitu besar wilayahnya, sampe saya perlu beberapa kali mencoret coret dan mengganti rute dalam perencanaan, karena banyaknya tempat tempat menarik, namun terbatasnya waktu serta kemampuan.  Sengaja saya nyari tiket promo dari kota yang berbeda untuk waktu datang dan pulang. Mendarat di Tianjin, pulang dari Hangzhou (yang saya menyangka Hangzhou itu di Shanghai. Padahal 100 km jarak Hangzhou-Shanghai). Browsing browsing, nemu banyak kota menarik lainnya seperti Xi’an, Chengdu, Huangshan, Suzhou, TongLi, Nanjing. Plan itinerary saya ketika mau berangkat bisa dilihat disini (udah kayak semi buku)
Kenyataannya, saya hanya bisa ke Beijing-Shanghai dan Hangzhou. Pertama karena tiket kereta malam Beijing-Shanghai (14 jam), yang relative murah dan irit biaya menginap, ludes ketika saya mesan pada H-3 sebelum berangkat. Jadi terpaksa saya naik Bullet Train (5 jam lebih dikit) esok harinya yang otomatis mengurangi waktu dihari-hari selanjutnya, karena Bullet Train hanya jalan dari pagi sampe sore. Belum lagi juga harus nambah biaya Hostel (walaupun murah). Dan tiket Bullet Train Beijing-Shanghai yang lumayan (beneran) mahal!  Faktor kedua adalah faktor Sakit setibanya saya di Shanghai.  Cuman Flu, tapi berat. Saya fikir si wajar, sebagai manusia tropis yang biasa kepanasan, tiba-tiba kecemplung di kota yang maksimal suhunya adalah 12 derajat. Walaupun dah pake baju lapis-lapis, tetep aja badan saya ga tahan.Hahaha. Ga bisa terhindari. Akhirnya rute China saya hanya santai ke-3 kota. Eh tunggu? Santai?   Kaki sampai melepuh kebanyakan jalan dibilang santai. Wkwkwkwk
Saya suka musim ketika saya datang ke China. Early Spring. Selain karena saya belum pernah mengalami musim diluar kemarau dan penghujan serta tidak panasnya suhu, saya  suka ketika melihat pohon pohon hanya berbentuk ranting dengan tunas tunas bunga siap muncul, mulai mekar ditambah perpaduan biru langit yang sempurna plus tiupan angin perlahan.  Bahkan hanya untuk duduk diam-doing nothing- saja, sudah jadi kemewahan tersendiri. Kemewahan yang susah didapatkan kalau ikut travel agent. :D. Selain itu, karena udara masih agak dingin, nyaris semua orang berjaket ria. Jadi ga ketemu deh enemi-enemi musim panas yang 'katanya'  ga cukur bulu ketiak dan menjuntai-juntai. hahahaha
mulai mekar


Menginap semalam di Kuala Lumpur, saya berangkat dari Kuala Lumpur jam 08.30 pagi. Lama penerbangan KL- Tianjin sekitar 6 jam. Mendarat di Tianjin pukul 14.30 siang. Kesan ketika melihat dari atas pesawat, Tianjin itu gersang, dan tidak cerah karena ada asap. Baru kemudian saya ingat, bahwa Tianjin merupakan kota Industri. Jadi agak mirip Bekasi Cikarang kalau dibandingkan dengan Jakarta. 
stasiun kereta Tianjin
Dari bandara Tianjin, tersedia bus transfer ke Station kereta Tianjin dengan ongkos 15 RMB. Fyi, kurs 1 RMB sekitar Rp 1400-1500an. Lama tempuhnya 30 menit.  Sepanjang perjalanan ke stasiun, sama sekali saya ga nemu gedung/bangunan dengan warna gonjreng mentereng. Rata-rata warna soft dan sendu.
PR  selanjutnya setelah tiba di stasiun adalah membeli tiket kereta. Jreng jreng. Kan udah dibilang susyee ngomongnya dan ga ada petunjuk di loket dalam Bahasa Inggris.  Jadi saya hanya ikut masuk antrian salah satu line, ngomong : Beijing (sambil ngasi tanda angka 1 pake tangan). Tukang tiketnya  nunjukin kalkulator  harga, kasih passport, bayar. Hahaha. Harga Bullet Train Tianjin-Shanghai ini 55 RMB. Murah untuk kereta dengan kecepatan 300km/jam, lama perjalanan hanya 30 menit. Dapet 1 botol air Tibetan Spring pula. Ibarat Jakarta Bandung 30 menit dan cuman bayar sekitar Rp 75.000. Siapa yang ga doyan. Hahaha. 
Tuh kan, no english di loket :D
tiketnya Tianjin-Beijing..ada nomer paspor juga di kiri bawah
Masuk semua stasiun kereta  di China ternyata prosedurnya sama kayak masuk bandara. Pake harus masukin tas dan semua perlengkapan ke Conveyor Belt dan ngelewatin pintu detector yang bersensor. Plus harus cekin juga, yang dibuka sekitar 15 menit sebelum kereta berangkat. Jadi agak susah kalo dateng ke Stasiun injury time. Selain prosedurnya banyak. Antrian dimana mana juga banyak. Gimana lagi, China masih negeri populasi terbesar didunia. Oiya, gak lupa poto-poto ama si CRH nya. Secara baru pertama naik kereta cepat. *norak deh*.  Pas didalem kereta, merasanya kayak biasa aja. Smooth.  Ga nampak keretanya melaju kencang kalo kita ga liat jendela. Eh, didalem kereta juga ada Panel Info Stasiun selanjutnya,Speed saat itu berapa, temperature diluar berapa. Di masing-masing gerbong juga terdapat Toilet (bersih) juga tersedia Air Panas dan gelas untuk minumnya.
CRH Bullet Train
Outside Temperatur

Speed


Tiba di Beijing, kereta mendarat di Stasiun Beijing South. PR selanjutnya adalah membeli tiket ke Shanghai. Untungnya, di Beijing South, mba Siska dijemput sama pemandunya, Kevin, mahasiswa dari Indonesia. Jadi dengan baik hati, Kevin mau nemenin beli tiket tsb. Sebenernya bukan nemenin, dia yang bilang ke kounter tiket dan dikasi tau  tiket sleeper trainnya habis, dan cuman ada Bullet Train utk tanggal yang saya inginkan. Ga kebayangkan kalo saya sendiri yang beli.hihihi. Selamat..selamat..
Beijing South, selain merupakan stasiun antar kota, juga merupakan point stasiun Subway.  Tapi Relnya terpisah. Stasiunnya juga beda, sebelahan namun terhubung. Jadi ga mungkin ada chaos gangguan seperti yang sering banget kejadian di Gambir. Gara-gara nunggu kereta Jawa, semua KRL jadi terlambat datang. Kadang-kadang saya berfikir, memang perlu tiran utk mbenerin Indonesia ini. Mana bisa Infrastruktur kereta bagus kalo relnya ga pernah dibangun. Hanya mengandalkan rel kereta buatan Belanda. Eh, ngelantur.

Lanjut dari Beijing South, saya naik MRT menuju hostel Candy Inn . Lokasi hostelnya strategis di daerah Hutong,deket dari Stasiun MRT Yonghegong Lama Temple. Cuman saya ga akan merekomendasikan hostel ini deh. They DIDNT Tell that they already under renovation. So, I didnt get room that match with my booking. Saya mesen female dorm, ternyata mereka cuman punya mix dorm. Tadinya hanya niat sehari disana,besoknya nyari hostel lain. Tapi mengingat tangga stasiun MRT Beijing yang ga terlalu bersahabat buat nenteng-nenteng koper (sudut 45 derajat, udah gitu panjaaaaangg tangganya, Sebagian ber-eskalator, sebagian tidak) lagipula saya cuman numpang tidur malem doang, akhirnya saya tetap menginap 4 hari disana. Dengan 3 orang lainnya cowok-cowok dari China yang memang kerja di Beijing. Tadinya merasa aneh. Bahkan tidurpun dan kekamar mandi kudu berjilbab. Tapi roommate saya untung baik baik. 1 bapak-bapak arsitek, 1 keturunan China dari Inggris, yang baru dapet kerja di Beijing, satu lagi nyaris ga pernah ngomong karena doi selalu diluar internetan di Lobi kalo ga kerja. Dan mereka Ok Ok saja saya sholat nungging-nungging disitu. Malah jadi semacam diskusi sama mereka yang rata-rata agnotis. Satu hal,diantara mereka, saya yang paling rajin mandi dan bangun pagi disitu. Hahahaha. Keknya standar mereka mandi, sehari sekali itu dah bagus.
Eh, kok udah banyak aja. Bersambung lagi deh----

5 The Art of Solo Travelling



Akhir maret lalu, saya menghadiahi diri saya sendiri pengalaman berupa solo travelling ke China bagian timur (Beijing-Shanghai-Hangzhou). Ya, menghadiahi dengan sesuatu yang cukup sulit. Jalan, sendiri, cewek, pake kerudung, Ga mau pake travel agent, dinegeri yang bahasanya beda dimana saya ga bisa sama sekali bahasa mereka dan hamper semua di China tidak mengerti bahasa Inggris. O may..Sudah banyak yang mengingatkan sebelum berangkat, termasuk orang-orang yang ketemu saya di Tempat pengurusan Visa di Kuningan, emang beneran mau kesana sendiri? Susah lho..Dan saya selalu nyengir-nyengir santai saja. Hihihi. Mau diapain lagi, temen-temen yang biasanya diajak jalan pada berhalangan dan ga mau, sementara sayang tiket yang sudah kebeli. Sebenernya lebih dari itu juga si. Saya ingin member i tantangan lebih kepada diri saya sendiri. Last time saya berkunjung ke negeri non-speak English adalah ke Jepang. Tapi itu ber-4 dengan teman. Sementara ternyata, bahasa Inggris orang Jepang kebanyakan itu jauh lebih bagus dari bahasa Inggris orang China. Jadi, kalo saya bisa melewati tantangan ke China sendirian ini, Insya Allah lah ke Negara lain survive (Opo si iki..sok PD banget.:)) Biarin!! )

Jadilah 11 hari saya ngabur sendirian.  Masuk rekor pergi terlama saya dari rumah selain pas Orientasi masuk kantor dulu. Emak saya tau saya pergi, tapi ga saya kasih tau kalo perginya sendiri. Bisa shock dia tekanan darahnya naik. Hihihi

Ternyata ketika dijalani, saya nyaris tidak pernah jalan sendirian selama kepergian saya tersebut. Dari mulai naik Damri dari Gambir, ketemu temen ngobrol cewek Swiss yang abis dari Sumatra, setelah sebelumnya keliling China, Mongolia, asia tengah, tenggara dan masih akan melanjutkan ke Kinabalu, Filipina, New Zealand serta Chile. Bener-bener bikin ngiri dan mupeng tuh anak. Di bandara LCCT KL, ketemu lagi dengan 3 anak dari Indonesia yang mau ke Jepang, lumayan dapet temen ngobrol selama tidur di Musolla dan sarapan pagi. Turun dari pesawat di Tianjin, ketemu mba Siska yang rumahnya juga didepok. Jadi dari Tianjin sampai masuk Beijing, kami jalan berdua, minimal mengurangi shock. Sayangnya mba Siska dan saya beda penginapan. Belum lagi ternyata mba siska sudah memesan tour selama 3 hari dia di Beijing. Jadi saya terpaksa melepaskan harapan jalan bareng mba Siska lagi.  Sempet ketemu mahasiswa Indonesia di MRT Beijing. Tau darimana saya ngenalinnya? Salah seorang mereka memakai kerudung Robbani. Hihihi. Sementara ke-3 lainnya tampangnya bener-bener persis orang local Beijing. Saya tegur pake Bahasa mereka ternyata menanggapi.

Pertemanan dadakan selanjutnya, adalah ketika saya lagi antri tiket kereta ke Great Wall Badaling. Saya datang jam 8, ternyata tiket kereta Sold Out sampe jam 11. Mati gaya deh. Mau langsung berubah arah ganti naik bus. Apa daya, bagian ke Badaling naik bus tidak saya print karena saya terlalu yakin dengan naik kereta. Masih ada catatan di Handphone si, ndilalah Handphone saya Low Batt ga bisa dibuka. Udah nyaris nangis dalam hati. Oii, gemana nih, ini hari terakhir saya di Beijing, besok sudah punya tiket kereta ke Shanghai, tapi masak ga ke GreatWall. (ps catatan: setibanya di Beijing, kl mau ke GreatWall lakukanlah saat pertama kita datang). Pas ternyata, 2 antrian depan saya ada 2 bule yang juga mengantri tiket kereta tsb. Setelah saya  tanya, mereka ternyata juga  inginmerubah haluan menjadi naik bus dari pada menunggu kereta jam 11. Dan salah satu dari mereka ternyata bisa sedikit bahasa China (karena 2-2 nya ternyata Student di China dari France). “Can I go with You? “ jadi kalimat andalan saya untuk bisa ke Badaling pagi itu. Ternyata mereka ok-ok aja saya ikutin seharian ke GreatWall.

Di Shanghai, tak dinyana tak diduga, ketemu Bude dan Pakde sendiri depan Port HuangPu River. O may..sudah sedemikian jauh ngabur, dinegeri orang yang luas dan banyak kotanya, kenapa bisa ketemu bude sendiri pada tempat dan waktu yang sama. Untungnya bude ama rombongannya baru mau naik kapal, sementara saya udah turun kapal sibuk mencari jalan pulang ke hostel.  Saya cuman garuk-garuk kepala yang ga gatel. Its maybe called Serendipity. Its Ok, asal bude gw itu ga ngasi tau emak gw kalo gw jalan sendiri.hihihi.

Melipir dikit dari Shanghai, saya ke Tongli, kota kecil tua yang ditempuh 2 jam by Bus dari Shanghai.  Dari mulai naik bus ini sampai tiba di Tongli, muter-muter Tongli, lalu nunggui bus balik ke Shanghai, saya senasib sependeritaan sama 4 orang cewe cewe Austria. Senasib sependeritaan ga ngerti bahasa China apapun, akhirnya saya masuk koalisi mereka seharian muter-muter Tongli. Ada ga enaknya juga, pas antar sesama mereka ngomong pake bahasa German. Ra mudeng.

Terakhir di Hangzhou, di dorm, saya dapet temen China yang sangat baikkk sekali, menawarkan dirinya boleh diikuti saya, yang memang ga punya ide mau keliling kemana di Hangzhou itu. Akhirnya saya dan Tian keliling WestLake pake kaki, sambil ngobrol2 khas cewe seolah-olah kita dah lama kenal. Tian yang asal Sichuan juga hanya 1 hari di Hangzhou, sorenya dia balik ke Sichuan. Saya malamnya. Tapi dengan carenya dia bener2 memastikan saya dapat bus bandara ke Hangzhou, bus transitnya pake apa serta nungguin sampe saya bener2 Ok balik ke hostel dan berangkat lagi ke Bandara sendirian krn pesawat dia lebih dahulu. Yah, agak susahnya di Hangzhou karena disana MRT baru dibangun, tidak seperti Beijing dan Shanghai yang sudah establish MRTnya. Kemana-mana transport umum di Hangzhou adalah bus, atau sepeda, atau kaki. 

Yah, mereka mungkin teman-teman yang diberi Allah untuk menemani saya selama perjalanan sendiri dengan caranya yang unik masing-masing. Ketika kita yakin kita bisa melakukannya, maka Insya Allah banyak jalan didepan. Kalau saya ditanya lagi, masih mau ke China, sendirian lagi ga? Saya jawab : mau! Dengan berbagai trik persiapan yang harus dilakukan kalau ingin sendirian ke China :

1. Persiapkan segala sesuatu dengan detail, kalau kota besar ingin ke Objek Wisata, persiapan termasuk naik MRT line berapa, turun di stasiun mana, keluar di exit berapa. Keluar exit berapa ini penting sekali , sebab kalo engga, kita bisa salah jalan, dan susah ketemu orang buat nanya )

2. Bawa peta area dan peta MRT dari Indonesia. Bisa ngeprint  dari Internet. Saya tadinya agak meremehkan, karena menganggap seperti Jepang dimana peta available dimana-mana. Ternyata tidak, di China, peta susah didapat dan harus dibeli. Untung saya masih punya print-an peta MRT dan peta fotokopian dari Lonely Planet

3. Ini penting yang ketiga, tulis/print semua yang mau kita tuju pake bahasa Mandarin. Bahasa benar-benar kendala. Bahkan bahasa latin pun jarang yang mengerti. Dengan tulisan china, jadi ketika ingin nanya  sesuatu, tinggal tunjuk tulisan itu.

4. Makan ? yakin deh, susah ) 2 hari di Beijing saya nyambangin supermarket muslim yang ada foodcourtnya. Mesen makanan aja susah bener . Akhirnya pake teknologi nunjuk, tanpa sempat eksplore yang ditunjuk isinya apa aja. Di Shanghai saya ga nemu tempat makan muslim, akhirnya banyakan makan buah dan KFC (sudah menurunkan standar halalnya, tanpa nanyain bumbu KFC nya campur apa). Alhasil selama ke China itu, berat saya langsung turun 4 kg. Padahal itu dah ditunjang bawa Mie Gelas dan Energen.

5. Menginap di dorm. Minimal akan ada teman sekamar yang diajak ngomong ketika malam hari.  Walaupun cocok-cocokan juga. Yang paling dramatis kemarin adalah ketika di Shanghai temen satu kamar di dorm saya drama queen semua. Yang satu dari Kanton, ngejar cowo Spanyol yang akhirnya diacuhkan si Spanyol. Jadi hari pertama datang dia udah nangis-nangis. Saya bengong kan. Sementara 2 cewe lainnya dari German yang hobi ke Bar tiap malam. Satu malam, salah satu si German ini sakit perut, dikasih apapun dia ga mau. Udah merintih-rintih di kamar, eh 1 jam kemudian ketika udah enakan, mereka berdua masih nekat ke Bar, padahal besoknya harus ngejar pesawat pagi untuk balik ke German. Pastilah paginya jadi gubrak gabruk ga jelas telat bangun.

6. Facebook, Twitter, Blogspot dan Youtube tidak berfungsi sodara-sodara ) Beneran di block, even di hostel sendiri. Untung Gtalk dan YM masih bisa. Etapi saya dapet proxy untuk akses FB dari anak2 kaskus. Yatapi hanya berguna utk FB, untuk lainnya tetep ga bisa :D

7. Toilet? Alhamdulillah pas toilet yang saya datengin selalu bersih bersih. Mungkin karena tempat wisata ya. Pernah sekali dapet ‘jackpot’ yang ga disiram di hostel, tapi saya keburu tutup dan pindah ke bilik sebelah. Memang masih si kebiasaan orang china yang kadang lupa siram toilet.

-bersambung-

Published with Blogger-droid v2.0.4

0 Packing

Packing, like a life, is about decide what important that must be bring and unimportantly that must be left..


Bag have maximum capacity, not all pieces  of thing that we want to bring have space inside them. Expand the bag, or left unnecessary


The best part in the first day of twenty nine is finishing packing.

I'm Exciting for next journey tomorrow... *__*


*definisi packing diterjemahkan scr bebas dari buku life traveller, windy ariestanty*


Published with Blogger-droid v2.0.4

0 Almanya, Sebuah perjalanan pulang


Yay, postingan pertama 2012..Ada efek bagus juga Long Wiken dan akhir bulan alias bokek :D

Minggu lalu saya berkesempatan menyaksikan German Cinema, sebuah event yang diselenggarakan oleh Goethe Institute. Pemutaran 10 Film Box Office Jerman di berbagai kota. Jakarta jadi kota urutan pertama untuk pemutaran filmn nya tanggal 14-17 Januari 2012. Selanjutnya, German Cinema pindah pindah kota ke Jogja, Surabaya, Medan dan Makasar. Acaranya gratis.

Saya cuman nonton 2 film dari 10 film yang tayang, Poll dan Almanya. Poll, yang bercerita tentang kisah nyata sastrawan Jerman Oda von Siering buat saya jadi terlalu sedih karena plotnya, juga karena banyak organ-organ manusia yang vulgar ditampilkan. Maksud saya : otak manusia, tengkorak, bayi kembar dampit diawetkan, lalu sedikit digambarkan gmn si bapaknya oda itu menggergaji batok kepala untuk mengambil otaknya :|

Jadi mari kita lewat saja langsung ke Almanya.

Beda sama Poll, Almanya karakteristiknya berkebalikan. Hidup, hangat, sedikit komedi, tapi pesan filmnya banyak. Almanya menceritakan kisah tentang keluarga imigran Turki yang ada di Jerman. Kakek  mereka, Huseyn, pindah dari Turki ke Jerman dengan 3 anak mereka.Di Jerman anaknya bersekolah dan tumbuh dewasa dalam lingkungan budaya jerman, ikut-ikut ingin mendapet kado natal dengan versi dari sinterklaus, jadi pake diumpetin, pake ditaruh dibawah pohon natal.  Ibu mereka yang bingung dan alakadarnya,yang akhirnya bikin lucu.

Saat liburan, keluarga Huseyn mencoba liburan dari Jerman kembali melihat rumah mereka di Turki, namun mereka melihat keadaan rumahnya dan akhirnya merasa bahwa rumah mereka adalah di Jerman. Jadilah setelah mereka balik dari liburan itu, mereka membeli rumah di Jerman. Lama mereka menjadi imigran di Jerman, memberi efek kepada anggota keluarga (termasuk cucu mereka : 2 orang cucu, yang pertama anak kecil berusia 6 atau 7 tahun : Cenk dan cucu lainnya si Canan yang mahasiswi). Menjadikan sang cucu blunder apakah mereka orang Jerman atau Turki. Paspor mereka jelas paspor Jerman.

45 tahun kakek Huseyn tinggal di Jerman, lalu beliau mengabarkan ke keluarganya bahwa beliau membeli rumah di Turki. Keluarga besar ini berkesempatan untuk mengunjungi rumah mereka di Turki, juga karena ada undangan dari Kanselir Jerman, Angela Markel,dimana huseyn yang masuk kategori imingran2 pertama di Jerman diberi kesempatan memberikan 'speech' sebelum Angela Markel di hadapan pertemuan para imigran di Turki. Mereka berangkat naik pesawat dan darisana menyewa mobil untuk sampai ke rumah yang telah diberi Huseyn di turki.

Dalam perjalanan daratnya, mereka mengalami beberapa kejadian : Kakek Huseyn dan Cenk melakukan rehersal pidato Huseyn di tukang pangkas rambut, dengan Cenk lebih banyak bersifat sebagai pengatur dan pengedit pidato. Bahasa Jerman Cenk juga lebih bagus dibanding Bahasa Jerman Huseyn. Lalu penjelasan kakek secara tak langsung kepada Cenk bahwa Cenk tidak merasa perlu berbeda dengan seorang anak Turki yang ditemui di SPBU.Mengajarkan secara tidak langsung jangan sampai Cenk terbatasi oleh kendala : saya orang Jerman, bukan orang Turki, tidak perlu dipermasalahkan perbedaannya. Lalu ada sesi kakek Huseyn berhasil menebak kegalauan Canan yang ternyata telah lebih dahulu hamil oleh Pacar inggrisnya, dan membuat Canan takut mengakuinya karena Canan orang Turki, dan pacarnya orang Inggris. Namun puncak kejadian adalah ketika tiba2 kakek Huseyn meninggal karena serangan jantung. Ini bener2 membuat sekeluarga mereka sedih (dan juga penontonnya)

Bahkan untuk urusan pemakaman di Turki saja, keluarga yg berpaspor Jerman ini disulitkan walau jelas-jelas mereka orang turki dan punya rumah di Turki.

Almanya mencoba menggambarkan bagaimana sebuah keluarga imigran mencari apa itu 'home'. Dimana rumah mereka. Apa dengan meninggalkan suatu kampung halaman, itu berarti kampung halamannya sudah tidak menjadi 'home' lagi.Dan apakah 'home' bagi mereka hanya ada di Jerman.Tidak semudah itu ternyata :-)

Berbarengan dengan nonton Almanya ini, saya juga sedang membaca bukunya kakak @windyariestanty judulnya Life Traveller. Agak menyesal saya pernah mentwit bahwa buku ini jauh dari expectasi ketika saya baru menyelesaikan sedikit bagian saja. Buku ini termasuk yg masuk kategori buku genre travelling yg masuk kategori layak baca dan akan dibaca ulang buat saya (iya, saya jarang nemu buku traveller yg bisa dibaca ulang, paling baru nemu bukunya Agustinus Wibowo, bukunya adhitya mulya yang Belok kanan Barcelona. Yang lain? mainstream). Salah satu bab akhir buku ini , menggambarkan apa itu 'home' bagi windy yang didapat dari seorang nenek di suatu kedai di amerika. "Home is a place where you feel more comfortable. Home is a place where you can be and find yourself, Home is a place where you can find your love"

Dan Almanya menjelaskan itu. 'Home' mereka di Jerman, 'home' mereka diturki dan bahkan 'home' di akhirat, sebagai kampung halaman hakiki.

Ah, mau nonton almanya lagi..tapi nyari bajakannya ga nemu *mellow*


Published with Blogger-droid v2.0.3--yang awal2 msh error

10 Kalimantan Selatan, Episode II : Kandangan, Loksado

Kalau anak anak SD ditanya, dimanakan letak pegunungan Himalaya, sebagian besar pasti bisa menyebutkan dengan benar. Tetapi kalau orang dewasa ditanya, dimanakah Pegunungan Meratus, maka sebagian (antara besar atau kecil), nyaris akan melakukan google lokasi tersebut :-)

sama seperti saya...

sebelumnya ga tau dimanakah pegunungan meratus. Padahal pegunungan ini mencakup area nyaris setengah kalimantan selatan dan merupakan area kalsel yang benar-benar ‘kalimantan’ (alias  berupa hutan alami).  Salah satu titik dari pegunungan  meratus yang kami datangi adalah loksado, karena jalur  ini adalah jalur yang paling mudah dilalui  dengan kendaraan umum.

Dari PAL 6 Banjarmasin, kami naik taksi aka angkot menuju Kandangan, kota terdekat dengan loksado. FYI, loksado ini sebuah kecamatan.Namun areanya, makjannn, besar sekali. Sedikit yang agak lucu waktu kami di daerah Malaris-daerah loksado juga, penduduk sekitarnya bertanya ke yang mengantar kami : “darimana?”. “dari loksado”. Pas di Loksado, ada pula yang nanya temen kami : “darimana?” “Dari Kandangan”. Eh pas di kandangan ada pula yang nanya Ableh, Siti dkk : “darimana?”  “ dari Banjarmasin” . Terus berjenjang sampe mentok disaya. “Darimana?” “dari Jakarta * diem sok kalem*” . Padahal ya, Malaris dan Loksado itu satu kecamatan : kecamatan Loksado. Sementara Loksado dan Kandangan satu Kabupaten : Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Tapi masih berasa kalo yang mereka tanyakan adalah lokasi yang juauuhhh banget. Karena areanya yang luas itu. Jadi berasa berkebalikan kalau saya ditanya sama orang Jakarta : “darimana?” “Kebayoran Lama”. Habis perkara, ga ada pertanyaan nambah panjang lagi,  soale kecamatannya kecil.  Lha, kok jadi ngelantur gini. hihihi

Jarak Banjarmasin loksado sendiri sekitar 180 km. Dengan ongkos Rp 30.000, Banjarmasin – Kandangan ditempuh dalam waktu 4 sampai 5 jam.  Lutfi dan Iggy resah gelisah kepanasan diangkot. Saya?  Dua jam terakhir tidur dong, sampai ga sadar udah mau sampe. Hahaha, puas banget ngeliat mereka sirik sama saya.

Karena angkot yang menuju Loksado hanya ada pagi hari. Dan karena kami tiba di Kandangan menjelang magrib,, kami menginep semalam di Sekretariatnya Klub Meratus Hijau. Mas mas yang ada  di sekre itu bilang, baru kali ini sekretariatnya diinepin sama perempuan. Walah, kami jadi merasa istimewa sekali. Yang terkenal dari Kandangan adalah Katupat Kandangan. Ini bukan salah ketik. Disana Ketupatnya itu namanya Katupat.Katupat kandangan ini modelnya Ketupat biasa, berasnya tipe  beras pera, trus dimakan pake kuah santan dan ikan Haruan alias ikan Gabus. Cara makannya juga bukan pake sendok/garpu. Tapi pake tangan, trus ketupatnya itu diremes-remesin sama kuah santannya itu, sampe bentuknya kayak nasi juga. Jadi susah susah dibentuk jadi  ketupat, akhirnya makanya model nasi juga.
Katupat kandangan
sekretariat meratus hijau

Kami juga sempet muterin Masjid Agung Kandangan yang  berdirinya ngalah-ngalahin nyonya meneer, sejak 1906.  Masjidnya posisi ada disamping pasar Kandangan.
masjid agung kandangan

Pagi jam 9, kami akhirnya naik angkot menuju Loksado. Sopir yang bawa orang Loksado asli.  Dari Kandangan ke Loksado, penumpangnya cuman kami bertiga : Saya, Iggy ama Lutfi. Bedanya angkot ini berhenti bukan untuk menaikkan penumpangnya.Tapi yang naik banyakan adalah Minyak Tanah, Bensin, Solar dll. Jadi kadang-kadang kami angkat kaki begitu saingan kami, si bahan bakar itu mau dinaikin. Jalan menuju Loksado sudah merupakan jalan pegunungan yang naik turun dan berkelok. Tapi enaknya, jalannya halus rata, juga sepi. Mau ngebut sejadi-jadinya juga bisa. Lha  jarang saingannya. Ongkosnya Rp 10.000 saja.
saingan kami di angkot kandangan-loksado

Sampai di Loksado, kami duduk duduk depan warung punya si bapak angkotnya. Pas berada didepan Sungai Amandit, di seberang Wisma Loksado. Abis makan Indomie Limau Kuit, terpengaruh oleh Perahu Kertasnya –Dewi Lestari, iseng saya bikin kapal-kapalan, tulis sesuatu, dan menghanyutkannya di Sungai Amandit.hihihihi..
perahu kertas, di sungai amandit

Tujuan pertama kami adalah menuju Air Terjun Haratai. Lumayan Jauh dari pinggir sungai amandit tadi. Sekitar setengah jam lebih naik motor. Untung ongkos naik motornya gratis :D. Ternyata suasananya sepi. Pengunjungnya cuman kami dan 2 orang orang pribumi lainnya, dan 3 bule yang menuju pulang pas kami baru sampe.
jalan menuju air terjun haratai
air terjun haratai

Kejadian buruk di Air Terjun Haratai ini adalah : Saya kepleset, dan henpon serta kamera sukses masuk ke air. Cakep dah.  Setelah seminggu, Handphonenya mau nyala lagi. Tapi udah sebulan sampe sekarang, Kamera nya blm sukses nyala. Huhuhu. Mesti reparasi ke tokonya. Selamet deh, ga punya gambar sendiri 2 hari sisanya.

Balik dari Air Terjun Haratai, kami mampir ke rumah bentang yang ada disamping Rumah Pak RT disana. Pak RTnya orang Dayak asli. Yaiyalah, namanya juga daerah pedalaman asli. Katanya beliau masuk dalam Dayak Kaharingan. Cerita-cerita banyak, mulai penduduk yang surat suratnya lengkat, KTP,KK, Akte dll, cerita bagaimana laki-laki dayak kalau menikah harus menyediakan uang tunai 20 juta. Sampai cerita bapaknya bisa ngasih ‘aji2an pengasih’ dan terbukti handal kata beliau. wkwkwkwwk.  Rumahnya juga banyak ditempeli poster poster artis era 80-90an. Gaul juga rumahnya. Ada tipi. Dan lagi musimnya mereka menjemur kayumanis untuk dijual lagi. Eh, masih ada Mandau pula. Dan sumpit panahnya. Dan si Pak RT ini ga keberatan kami foto narsis dengan mandaunya.
mandau diantara poto2 artis jadul (*kameranya lutfi*)

Pulang dari Rumah Pak RT, kami balik lagi ke Loksado. Habis itu tujuan kami selanjutnya adalah nginep di Pos Informasi desa Malaris, sekitar 10-15 menit dari loksado naik ojek. Malaris jadi semacam start untuk trekking kalau mau trekking ke Pegunungan Meratus. Nah, pos informasi yang kami tiduri malam harinya itu ternyata adalah semacam secretariat pemuda-pemuda malaris. Mereka punya struktur juga, ketua, seksi A, seksi B segala macem. Nah, si pemuda pemuda Malaris ini, juga jago-jago membuat gelang khas yang pas seukuran pergelangan tangan. Langsung dianyam ditangannya. Yang khas lagi adalah Sirup Kayu manis. Semi Industri kecil. Dijual perbotol hanya Rp 12.000. Harus dicoba dan bawa pulang sebagai oleh-oleh.
menganyam gelang (*kameranya lutfi*)
Malamnya, kami mengunjungi Pemandian Air Panas Tanuhi, sekitar setengah jam dari Loksado, dengan naik motor, ngebut, gerimis, ga pake helm pula. Yeah, kali ini saya kena batunya lagi. Kalo di Jakarta/Depok, suka banget saya nyela orang naik motor ga pake helm, ngebut pula. Sekarang di Loksado nun jauh disana merasakan apa yang dicela itu. Air Panas tanuhi itu ternyata semacam resort yang ada airpanasnya dan betul-betul panas. Ada 3 kolam, 1 air panas lumayan besar, 1 air dingin yang besar, 1 lagi air dingin yang ukurannya kecil. Harusnya masuknya bayar. Tapi sama anak-anak Loksado ini, mereka main masuk aja. Kata mereka, ampe bosen kali penjaganya melihat kami.

Pagi besoknya, kami akhirnya berbamboo-rafting ria.  Ini sebenernya agak pemaksaan saya, karena lutfi tadinya ga mau dengan alasan banyak gethek di jogja. Lha, yang dimana mana kalo kalsel yang terkenal cuman pasar terapung sama bamboo rafting. Ini kok malah ga nyobain. Akhirnya menanglah saya. Dan kita berbamboo rafting ria di sungai Amandit ini. Tarifnya Rp 250.000 untuk satu bamboo rafting dengan lama tempuh rafting selama kira-kira 3jam-an. Satu bamboo cuman bisa buat maksimal 3orang ditambah 1 orang bapak yang ngayuhnya. Tergantung aliran airnya juga si. Kasian, kalo airnya dangkal, bapaknya kesulitan ngatur rakitnya.
bamboo rafting loksado (*kameranya lutfi*)

narsis (*kameranya lutfi*)

dari sungai amandit (*kameranya lutfi*)

3 Jam itu bener-bener berasa. Berasa excited, berasa keren pemandangannya, berasa kelamaan juga, berasa panas ,berasa mati gaya ampe bisa tiduran di bambunya, karokean full edition, akhirnya capek dan diem lagi. Di bamboo rafting juga ketemu rombongannya anas, anak kalsel yang sebelumnya kami email-emailan buat nanya-nanya rute disana.

Selesai Bamboo Rafting, kami balik ke desa malaris, lutfi minta dibikinin anyaman gelang. Saya yang ga kebagian jatah alat produksi buat bikin gelang lanjut mandi dan ngepack-ngepack barang dan habis itu, siap-siap perjalananan panjang balik ke Banjarbaru via Kandangan.

“Traveling is a brutality. It forces you to trust strangers and to lose sight of all that familiar comfort of home and friends. You are constantly off balance. Nothing is yours except the essential things – air, sleep, dreams, the sea, the sky – all things tending towards the eternal or what we imagine of it.” – Cesare Pavese

-Selesai-

4 Kalimantan Selatan, Episode I : Banjarmasin, Banjarbaru, Martapura

Wulan, teman sebelah meja saya di kantor, geleng geleng kepala pas tau saya abis booking tiket Citilink Jakarta Banjarmasin . Saya cengar cengir aja pas ditanya ama dia disana mau ngapain, ada objek apa dll. Dari Jakarta  berangkat sendiri  terbang 1,5 jam. Di Banjarmasin nungguin lutfi dari Jogja yang baru datang tengah malamnya.
pasar terapung Lok Baintan
Selintas, kalsel itu tidak berasa Kalimantan yang dalam imaginasi dan kenyataan adalah salah satu hutan tropis  penyangga dunia. Kalsel, terutama Banjarmasin dan daerah sekitarnya, masih mirip dengan kota-kota di Jawa.  Sedikit berbeda ketika akan mendarat, liat kebawah dari pintu pesawat, terpampang sungai besar  yang ditengah-tengahnya ada daratan luas menyerupai  pulau dibawah kita. Sungainya sampai punya pulau, decak kagum saya dalam hati. Karena dialiri banyak sungai, dengan 2 sungai besarnya, Barito dan Martapura, Banjarmasin mendapat  julukan Venice of Asia atau juga  Kota 1000 sungai. Selain sebagai mode transportasi, sungai-sungai di Banjarmasin juga masih digunakan untuk kebutuhan hidup yang memerlukan air : mandi dan mencuci.  Awal ketika datang, saya ga membayangkan gimana bisa mandi dan mencuci benar-benar dipinggir sungai.  Tapi, akhirnya kebayang setelah kecemplung dihari terakhir  diBanjarmasin. Jadi hari terakhir saya di Banjarmasin, air PAM Banjarmasin mati. Jederr.. Dan akhirnya nyobainlah saya mandi pake air sungai itu. Cukup sekali aja mandi pake air pinggir sungai Banjarmasin itu.

aktivitas dipinggir sungai

Sungai pula yang dimanfaatkan RCTI untuk membuat ikon RCTI OK di pasar terapung yang ada di Banjarmasin.  Pasar Terapung Lok Baintan, tujuan pertama kami di Banjarmasin.Oiya, saya dan lutfi ini berbagi tugas. Saya hanya mencari tujuan yang didatangi dan rute. Lutfi yang nyari penginapan atau tebengan. Bersama Lutfi, dan teman-teman hasil pencarian Lutfi , Ableh, Siti dan Iggy yang temennya ableh, kami ke Lok Baintan pagi-pagi sekali esok harinya. Ada 2 pasar terapung yang ada di Banjarmasin. Pertama Pasar Terapung Lok Baintan, yang posisinya agak sedikit di luar kota Banjarmasin. Kedua  Pasar Terapung Muara Kuin yang relative tidak begitu jauh dari Banjarmasin.  Saya hanya datang ke Lok Baintan saja.  Kami naik motor sampai dermaga penyewaan kapal, dilanjutkan sekitar 30 menit perjalanan  naik kapal sampai ke Lok Baintan Port, tempat berlangsungnya transaksi  pasar. Penyewaan kapalnya juga bisa dari Banjarmasin, tapi selisih harganya bisa 100-150 ribu dari dermaga yang kemarin kami sewa. Yak, dan sampailah kami di Lok Baintan Port.  Dibalik topeng belanja beberapa buahnya, anak-anak ini ternyata punya maksud foto di kapal ‘acil-acil’ penjualnya. Nemu buah semi mangga (namanya lupa, sejenis mangga tapi makannya dengan cara ‘diberakot’. Di Jakarta kayaknya ga ada, di Jogja kata lutfi juga ga ada. Eh, tapi jangan percaya lutfi, dia liat kecapi aja masih takjub :D)
dermaga lok baintan
diperahunya ada cap : pasar terapung
transaksi ikan
Jembatan Lok Baintan
buah semi mangga, lupa namanya, makannya diberakot gitu
 Puas dari Lok Baintan, ceritanya kami mau mampir ke Soto Bang Amat yang katanya terkenal itu. Apa daya, ternyata hari itu hari Jumat, dan Warung Soto Bang Amat tutup pas hari Jumat. Akhirnya kami lanjut dan Iggy akhirnya merekomendasikan warung yang jual serabi dan sejenisnya di daerah deket pasar lama. Dan inilah menunya :   

surabiiii dan teman temannya

tutup ceuu...

Hari terakhir, saya akhirnya  menjabani Warung Soto Bang Amat lagi. Ternyata rasanya so so lah..*lidah saya yang salah apa engga, ga tau deh :D*
sotonya bang amat
disoto bang amat, diiringi orkestra
 Dari sarapan kedua ini, kami kemudian pergi ke Pantai Cinta. Maksudnya, area yang ada di tepi sungai yang disekitar pusat kota, katanya biasanya dijadikan tempat  nongkrong anak-anak Banjarmasin. Ramai kalau malam. Karena daerah pusat kota, area sekitar pantai cinta ini juga jadi tempat diadain acara nontong bareng bola saat SemiFinal dan Final Sea Games kemarin.

masjid raya Sabilal Muhtadi..*cuman dari kamera henpon*
Selain sungai, ikon lain dari Banjarmasin adalah Masjid. Dimana mana terdapat banyak masjid dengan ukuran kubah yang besar besar serta tiang menara yang menjulang.  Kadang-kadang saya salah menganggap masjid karena ukuran besarnya, namun ternyata hanya dilabeli Musholla.

30 km dari Banjarmasin, terletak kota Banjarbaru. Bandara Samsudin Noor itu tepatnya  berlokasi di banjarbaru ini. Di banjarbaru, kami menginap di Rumah bayu. Oleh bayu dan teman-temannya, kami diantar ke MandiAngin, semacam hutan kota, tapi luas dan tinggi. Fasilitasnya cukup lengkap untuk kemping dan outbond. Ada menu jalan di atas tali antar pohon juga. Ada pula kolam Belanda, tempat dulu Belanda menyiksa pribumi. Dari atas mandiangin, kami bisa melihat kota Banjarbaru secara keseluruhan. 
Kolam Belanda di mandiangin

mana pilihan anda

dimandiangin, serasa di flores, panas dan abis ada yg kebakaran *dari kamera lutfi*
 Lepas mandiangin, Saya dan Lutfi mampir ke Martapura. Sekitar 15-20 menit dari Banjarbaru. Ceritanya ke martapura ini pengen liat batu-batu permata dan pernak pernik kalung/gelang yang ada. Ujung-ujungnya ke pasar martapura dan belanja belanji barang-barang pernak pernik. Melenceng dari tujuan awal ngeliat batu permata murah. 

pernak pernik di salah satu toko di pasar martapura
Kami ga lama di martapura, Nyaris jam 4 sore, kami pindah ke Cempaka. Cempaka ini terkenal dengan penambangan intan menggunakan cara tradisional. Diangkot menuju cempaka, ibu ibu penumpang lainnya udah ngasi tau dan agak sedikit nakut-nakutin bahwa cempaka udah tutup. Pekerjanya udah pulang karena udah nyaris jam 5. Saya dan Lutfi akhirnya nekat aja, lha abis besoknya saya udah pulang. Minimal ngeliat lah tempatnya kayak apa. Ternyata pas kami disana, masih ada beberapa pekerja yang ngayak adonan kuenya. Eh, maksudnya beberapa pekerja ngayak pasir memakai semacam ayakan yang mirip topi pak tani yang kebalik. Mereka ngayak sampai nemu intan yang kecil-kecil. Pas disana juga kebetulan ada Pak Haji pemilik penambangan tersebut. Jadilah kami semi mewawancarai pak Haji itu, dan akhirnya mampir kerumah beliau melihat beliau bertransaksi, ngukur dan ngitung berapa berat intan dan emas emas yang didapat. Sayang, no photo available. Bukan karena ga boleh motret, tapi kamera saya kecebur sungai hari sebelumnya. :D

-bersambung