Kalimantan Selatan, Episode II : Kandangan, Loksado

Kalau anak anak SD ditanya, dimanakan letak pegunungan Himalaya, sebagian besar pasti bisa menyebutkan dengan benar. Tetapi kalau orang dewasa ditanya, dimanakah Pegunungan Meratus, maka sebagian (antara besar atau kecil), nyaris akan melakukan google lokasi tersebut :-)

sama seperti saya...

sebelumnya ga tau dimanakah pegunungan meratus. Padahal pegunungan ini mencakup area nyaris setengah kalimantan selatan dan merupakan area kalsel yang benar-benar ‘kalimantan’ (alias  berupa hutan alami).  Salah satu titik dari pegunungan  meratus yang kami datangi adalah loksado, karena jalur  ini adalah jalur yang paling mudah dilalui  dengan kendaraan umum.

Dari PAL 6 Banjarmasin, kami naik taksi aka angkot menuju Kandangan, kota terdekat dengan loksado. FYI, loksado ini sebuah kecamatan.Namun areanya, makjannn, besar sekali. Sedikit yang agak lucu waktu kami di daerah Malaris-daerah loksado juga, penduduk sekitarnya bertanya ke yang mengantar kami : “darimana?”. “dari loksado”. Pas di Loksado, ada pula yang nanya temen kami : “darimana?” “Dari Kandangan”. Eh pas di kandangan ada pula yang nanya Ableh, Siti dkk : “darimana?”  “ dari Banjarmasin” . Terus berjenjang sampe mentok disaya. “Darimana?” “dari Jakarta * diem sok kalem*” . Padahal ya, Malaris dan Loksado itu satu kecamatan : kecamatan Loksado. Sementara Loksado dan Kandangan satu Kabupaten : Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Tapi masih berasa kalo yang mereka tanyakan adalah lokasi yang juauuhhh banget. Karena areanya yang luas itu. Jadi berasa berkebalikan kalau saya ditanya sama orang Jakarta : “darimana?” “Kebayoran Lama”. Habis perkara, ga ada pertanyaan nambah panjang lagi,  soale kecamatannya kecil.  Lha, kok jadi ngelantur gini. hihihi

Jarak Banjarmasin loksado sendiri sekitar 180 km. Dengan ongkos Rp 30.000, Banjarmasin – Kandangan ditempuh dalam waktu 4 sampai 5 jam.  Lutfi dan Iggy resah gelisah kepanasan diangkot. Saya?  Dua jam terakhir tidur dong, sampai ga sadar udah mau sampe. Hahaha, puas banget ngeliat mereka sirik sama saya.

Karena angkot yang menuju Loksado hanya ada pagi hari. Dan karena kami tiba di Kandangan menjelang magrib,, kami menginep semalam di Sekretariatnya Klub Meratus Hijau. Mas mas yang ada  di sekre itu bilang, baru kali ini sekretariatnya diinepin sama perempuan. Walah, kami jadi merasa istimewa sekali. Yang terkenal dari Kandangan adalah Katupat Kandangan. Ini bukan salah ketik. Disana Ketupatnya itu namanya Katupat.Katupat kandangan ini modelnya Ketupat biasa, berasnya tipe  beras pera, trus dimakan pake kuah santan dan ikan Haruan alias ikan Gabus. Cara makannya juga bukan pake sendok/garpu. Tapi pake tangan, trus ketupatnya itu diremes-remesin sama kuah santannya itu, sampe bentuknya kayak nasi juga. Jadi susah susah dibentuk jadi  ketupat, akhirnya makanya model nasi juga.
Katupat kandangan
sekretariat meratus hijau

Kami juga sempet muterin Masjid Agung Kandangan yang  berdirinya ngalah-ngalahin nyonya meneer, sejak 1906.  Masjidnya posisi ada disamping pasar Kandangan.
masjid agung kandangan

Pagi jam 9, kami akhirnya naik angkot menuju Loksado. Sopir yang bawa orang Loksado asli.  Dari Kandangan ke Loksado, penumpangnya cuman kami bertiga : Saya, Iggy ama Lutfi. Bedanya angkot ini berhenti bukan untuk menaikkan penumpangnya.Tapi yang naik banyakan adalah Minyak Tanah, Bensin, Solar dll. Jadi kadang-kadang kami angkat kaki begitu saingan kami, si bahan bakar itu mau dinaikin. Jalan menuju Loksado sudah merupakan jalan pegunungan yang naik turun dan berkelok. Tapi enaknya, jalannya halus rata, juga sepi. Mau ngebut sejadi-jadinya juga bisa. Lha  jarang saingannya. Ongkosnya Rp 10.000 saja.
saingan kami di angkot kandangan-loksado

Sampai di Loksado, kami duduk duduk depan warung punya si bapak angkotnya. Pas berada didepan Sungai Amandit, di seberang Wisma Loksado. Abis makan Indomie Limau Kuit, terpengaruh oleh Perahu Kertasnya –Dewi Lestari, iseng saya bikin kapal-kapalan, tulis sesuatu, dan menghanyutkannya di Sungai Amandit.hihihihi..
perahu kertas, di sungai amandit

Tujuan pertama kami adalah menuju Air Terjun Haratai. Lumayan Jauh dari pinggir sungai amandit tadi. Sekitar setengah jam lebih naik motor. Untung ongkos naik motornya gratis :D. Ternyata suasananya sepi. Pengunjungnya cuman kami dan 2 orang orang pribumi lainnya, dan 3 bule yang menuju pulang pas kami baru sampe.
jalan menuju air terjun haratai
air terjun haratai

Kejadian buruk di Air Terjun Haratai ini adalah : Saya kepleset, dan henpon serta kamera sukses masuk ke air. Cakep dah.  Setelah seminggu, Handphonenya mau nyala lagi. Tapi udah sebulan sampe sekarang, Kamera nya blm sukses nyala. Huhuhu. Mesti reparasi ke tokonya. Selamet deh, ga punya gambar sendiri 2 hari sisanya.

Balik dari Air Terjun Haratai, kami mampir ke rumah bentang yang ada disamping Rumah Pak RT disana. Pak RTnya orang Dayak asli. Yaiyalah, namanya juga daerah pedalaman asli. Katanya beliau masuk dalam Dayak Kaharingan. Cerita-cerita banyak, mulai penduduk yang surat suratnya lengkat, KTP,KK, Akte dll, cerita bagaimana laki-laki dayak kalau menikah harus menyediakan uang tunai 20 juta. Sampai cerita bapaknya bisa ngasih ‘aji2an pengasih’ dan terbukti handal kata beliau. wkwkwkwwk.  Rumahnya juga banyak ditempeli poster poster artis era 80-90an. Gaul juga rumahnya. Ada tipi. Dan lagi musimnya mereka menjemur kayumanis untuk dijual lagi. Eh, masih ada Mandau pula. Dan sumpit panahnya. Dan si Pak RT ini ga keberatan kami foto narsis dengan mandaunya.
mandau diantara poto2 artis jadul (*kameranya lutfi*)

Pulang dari Rumah Pak RT, kami balik lagi ke Loksado. Habis itu tujuan kami selanjutnya adalah nginep di Pos Informasi desa Malaris, sekitar 10-15 menit dari loksado naik ojek. Malaris jadi semacam start untuk trekking kalau mau trekking ke Pegunungan Meratus. Nah, pos informasi yang kami tiduri malam harinya itu ternyata adalah semacam secretariat pemuda-pemuda malaris. Mereka punya struktur juga, ketua, seksi A, seksi B segala macem. Nah, si pemuda pemuda Malaris ini, juga jago-jago membuat gelang khas yang pas seukuran pergelangan tangan. Langsung dianyam ditangannya. Yang khas lagi adalah Sirup Kayu manis. Semi Industri kecil. Dijual perbotol hanya Rp 12.000. Harus dicoba dan bawa pulang sebagai oleh-oleh.
menganyam gelang (*kameranya lutfi*)
Malamnya, kami mengunjungi Pemandian Air Panas Tanuhi, sekitar setengah jam dari Loksado, dengan naik motor, ngebut, gerimis, ga pake helm pula. Yeah, kali ini saya kena batunya lagi. Kalo di Jakarta/Depok, suka banget saya nyela orang naik motor ga pake helm, ngebut pula. Sekarang di Loksado nun jauh disana merasakan apa yang dicela itu. Air Panas tanuhi itu ternyata semacam resort yang ada airpanasnya dan betul-betul panas. Ada 3 kolam, 1 air panas lumayan besar, 1 air dingin yang besar, 1 lagi air dingin yang ukurannya kecil. Harusnya masuknya bayar. Tapi sama anak-anak Loksado ini, mereka main masuk aja. Kata mereka, ampe bosen kali penjaganya melihat kami.

Pagi besoknya, kami akhirnya berbamboo-rafting ria.  Ini sebenernya agak pemaksaan saya, karena lutfi tadinya ga mau dengan alasan banyak gethek di jogja. Lha, yang dimana mana kalo kalsel yang terkenal cuman pasar terapung sama bamboo rafting. Ini kok malah ga nyobain. Akhirnya menanglah saya. Dan kita berbamboo rafting ria di sungai Amandit ini. Tarifnya Rp 250.000 untuk satu bamboo rafting dengan lama tempuh rafting selama kira-kira 3jam-an. Satu bamboo cuman bisa buat maksimal 3orang ditambah 1 orang bapak yang ngayuhnya. Tergantung aliran airnya juga si. Kasian, kalo airnya dangkal, bapaknya kesulitan ngatur rakitnya.
bamboo rafting loksado (*kameranya lutfi*)

narsis (*kameranya lutfi*)

dari sungai amandit (*kameranya lutfi*)

3 Jam itu bener-bener berasa. Berasa excited, berasa keren pemandangannya, berasa kelamaan juga, berasa panas ,berasa mati gaya ampe bisa tiduran di bambunya, karokean full edition, akhirnya capek dan diem lagi. Di bamboo rafting juga ketemu rombongannya anas, anak kalsel yang sebelumnya kami email-emailan buat nanya-nanya rute disana.

Selesai Bamboo Rafting, kami balik ke desa malaris, lutfi minta dibikinin anyaman gelang. Saya yang ga kebagian jatah alat produksi buat bikin gelang lanjut mandi dan ngepack-ngepack barang dan habis itu, siap-siap perjalananan panjang balik ke Banjarbaru via Kandangan.

“Traveling is a brutality. It forces you to trust strangers and to lose sight of all that familiar comfort of home and friends. You are constantly off balance. Nothing is yours except the essential things – air, sleep, dreams, the sea, the sky – all things tending towards the eternal or what we imagine of it.” – Cesare Pavese

-Selesai-

8 komentar:

bukanilusi tapi sebuah rekayasa said...

hehehehe :D
kapan lagi ke kalsel ???

Atik Ariyani said...

Ahooonnnkkk...ke rumahmu dikalimantan tengah, masih mau nampung kami ga? hahahahaha

bukanilusi tapi sebuah rekayasa said...

akh gampang urusan itu,,, hahaha :D

iggytimothy said...

ketupatna bikin namabah....

antara lokbaintan - loksado, kerjaan gak boleh ganggu liburannnn

Bayu Apache said...

Ntar kalo ke Kalteng tak temenin lagi Mba..

monsteroom said...

atik mau komen,, pake verifikasi segala, jadi ribedd,,,

bayu : emang kapan pada mau ke kalteng?? asyiiiikkkk ngaju...

Atik Ariyani said...

@monsteroom : iya, sengaja pake verifikasi, biar ga kebanyakan kena Spam. Pernah ngelepas verifikasinya , eh langsung diserang spam bertubu2 :D

Ke Kalteng? Punya rencana boleh dong..implementasinya, seperti biasa, kapan2 :D

Alamku Nan Indah said...

@monsteroom: aku asli kalteng mas bro...