Kalimantan Selatan, Episode I : Banjarmasin, Banjarbaru, Martapura

Wulan, teman sebelah meja saya di kantor, geleng geleng kepala pas tau saya abis booking tiket Citilink Jakarta Banjarmasin . Saya cengar cengir aja pas ditanya ama dia disana mau ngapain, ada objek apa dll. Dari Jakarta  berangkat sendiri  terbang 1,5 jam. Di Banjarmasin nungguin lutfi dari Jogja yang baru datang tengah malamnya.
pasar terapung Lok Baintan
Selintas, kalsel itu tidak berasa Kalimantan yang dalam imaginasi dan kenyataan adalah salah satu hutan tropis  penyangga dunia. Kalsel, terutama Banjarmasin dan daerah sekitarnya, masih mirip dengan kota-kota di Jawa.  Sedikit berbeda ketika akan mendarat, liat kebawah dari pintu pesawat, terpampang sungai besar  yang ditengah-tengahnya ada daratan luas menyerupai  pulau dibawah kita. Sungainya sampai punya pulau, decak kagum saya dalam hati. Karena dialiri banyak sungai, dengan 2 sungai besarnya, Barito dan Martapura, Banjarmasin mendapat  julukan Venice of Asia atau juga  Kota 1000 sungai. Selain sebagai mode transportasi, sungai-sungai di Banjarmasin juga masih digunakan untuk kebutuhan hidup yang memerlukan air : mandi dan mencuci.  Awal ketika datang, saya ga membayangkan gimana bisa mandi dan mencuci benar-benar dipinggir sungai.  Tapi, akhirnya kebayang setelah kecemplung dihari terakhir  diBanjarmasin. Jadi hari terakhir saya di Banjarmasin, air PAM Banjarmasin mati. Jederr.. Dan akhirnya nyobainlah saya mandi pake air sungai itu. Cukup sekali aja mandi pake air pinggir sungai Banjarmasin itu.

aktivitas dipinggir sungai

Sungai pula yang dimanfaatkan RCTI untuk membuat ikon RCTI OK di pasar terapung yang ada di Banjarmasin.  Pasar Terapung Lok Baintan, tujuan pertama kami di Banjarmasin.Oiya, saya dan lutfi ini berbagi tugas. Saya hanya mencari tujuan yang didatangi dan rute. Lutfi yang nyari penginapan atau tebengan. Bersama Lutfi, dan teman-teman hasil pencarian Lutfi , Ableh, Siti dan Iggy yang temennya ableh, kami ke Lok Baintan pagi-pagi sekali esok harinya. Ada 2 pasar terapung yang ada di Banjarmasin. Pertama Pasar Terapung Lok Baintan, yang posisinya agak sedikit di luar kota Banjarmasin. Kedua  Pasar Terapung Muara Kuin yang relative tidak begitu jauh dari Banjarmasin.  Saya hanya datang ke Lok Baintan saja.  Kami naik motor sampai dermaga penyewaan kapal, dilanjutkan sekitar 30 menit perjalanan  naik kapal sampai ke Lok Baintan Port, tempat berlangsungnya transaksi  pasar. Penyewaan kapalnya juga bisa dari Banjarmasin, tapi selisih harganya bisa 100-150 ribu dari dermaga yang kemarin kami sewa. Yak, dan sampailah kami di Lok Baintan Port.  Dibalik topeng belanja beberapa buahnya, anak-anak ini ternyata punya maksud foto di kapal ‘acil-acil’ penjualnya. Nemu buah semi mangga (namanya lupa, sejenis mangga tapi makannya dengan cara ‘diberakot’. Di Jakarta kayaknya ga ada, di Jogja kata lutfi juga ga ada. Eh, tapi jangan percaya lutfi, dia liat kecapi aja masih takjub :D)
dermaga lok baintan
diperahunya ada cap : pasar terapung
transaksi ikan
Jembatan Lok Baintan
buah semi mangga, lupa namanya, makannya diberakot gitu
 Puas dari Lok Baintan, ceritanya kami mau mampir ke Soto Bang Amat yang katanya terkenal itu. Apa daya, ternyata hari itu hari Jumat, dan Warung Soto Bang Amat tutup pas hari Jumat. Akhirnya kami lanjut dan Iggy akhirnya merekomendasikan warung yang jual serabi dan sejenisnya di daerah deket pasar lama. Dan inilah menunya :   

surabiiii dan teman temannya

tutup ceuu...

Hari terakhir, saya akhirnya  menjabani Warung Soto Bang Amat lagi. Ternyata rasanya so so lah..*lidah saya yang salah apa engga, ga tau deh :D*
sotonya bang amat
disoto bang amat, diiringi orkestra
 Dari sarapan kedua ini, kami kemudian pergi ke Pantai Cinta. Maksudnya, area yang ada di tepi sungai yang disekitar pusat kota, katanya biasanya dijadikan tempat  nongkrong anak-anak Banjarmasin. Ramai kalau malam. Karena daerah pusat kota, area sekitar pantai cinta ini juga jadi tempat diadain acara nontong bareng bola saat SemiFinal dan Final Sea Games kemarin.

masjid raya Sabilal Muhtadi..*cuman dari kamera henpon*
Selain sungai, ikon lain dari Banjarmasin adalah Masjid. Dimana mana terdapat banyak masjid dengan ukuran kubah yang besar besar serta tiang menara yang menjulang.  Kadang-kadang saya salah menganggap masjid karena ukuran besarnya, namun ternyata hanya dilabeli Musholla.

30 km dari Banjarmasin, terletak kota Banjarbaru. Bandara Samsudin Noor itu tepatnya  berlokasi di banjarbaru ini. Di banjarbaru, kami menginap di Rumah bayu. Oleh bayu dan teman-temannya, kami diantar ke MandiAngin, semacam hutan kota, tapi luas dan tinggi. Fasilitasnya cukup lengkap untuk kemping dan outbond. Ada menu jalan di atas tali antar pohon juga. Ada pula kolam Belanda, tempat dulu Belanda menyiksa pribumi. Dari atas mandiangin, kami bisa melihat kota Banjarbaru secara keseluruhan. 
Kolam Belanda di mandiangin

mana pilihan anda

dimandiangin, serasa di flores, panas dan abis ada yg kebakaran *dari kamera lutfi*
 Lepas mandiangin, Saya dan Lutfi mampir ke Martapura. Sekitar 15-20 menit dari Banjarbaru. Ceritanya ke martapura ini pengen liat batu-batu permata dan pernak pernik kalung/gelang yang ada. Ujung-ujungnya ke pasar martapura dan belanja belanji barang-barang pernak pernik. Melenceng dari tujuan awal ngeliat batu permata murah. 

pernak pernik di salah satu toko di pasar martapura
Kami ga lama di martapura, Nyaris jam 4 sore, kami pindah ke Cempaka. Cempaka ini terkenal dengan penambangan intan menggunakan cara tradisional. Diangkot menuju cempaka, ibu ibu penumpang lainnya udah ngasi tau dan agak sedikit nakut-nakutin bahwa cempaka udah tutup. Pekerjanya udah pulang karena udah nyaris jam 5. Saya dan Lutfi akhirnya nekat aja, lha abis besoknya saya udah pulang. Minimal ngeliat lah tempatnya kayak apa. Ternyata pas kami disana, masih ada beberapa pekerja yang ngayak adonan kuenya. Eh, maksudnya beberapa pekerja ngayak pasir memakai semacam ayakan yang mirip topi pak tani yang kebalik. Mereka ngayak sampai nemu intan yang kecil-kecil. Pas disana juga kebetulan ada Pak Haji pemilik penambangan tersebut. Jadilah kami semi mewawancarai pak Haji itu, dan akhirnya mampir kerumah beliau melihat beliau bertransaksi, ngukur dan ngitung berapa berat intan dan emas emas yang didapat. Sayang, no photo available. Bukan karena ga boleh motret, tapi kamera saya kecebur sungai hari sebelumnya. :D

-bersambung

2 komentar:

Atik Ariyani said...

Nama buahnya ternyata kesturi *baru baca twitnya @UntukAlam

@Untuk Alam : Sahabat Alam, banjarmasin terkenal dgn buah Kasturi. Kecil sebesar telor bebek dgn kulit berwarna ungu gelap dan daging buah berwarna orange

@UntukAlam : Buah kesturi ini memiliki rasa yg manis walaupun ada sedikit rasa asem dan harumnya seperti mangga dan kuini.

Alamku Nan Indah said...

Pernah gak makan MANDAY dari kulit cempedak ??

Hee