4 Beijing - part 3

Setelah seharian kemarin mengunjungi bangunan-bangunan kuno china, maka kalau hari ini saya datengin lagi, pasti saya akan bosan tingkat tinggi. Jadi rute saya hari ini adalah mengunjungi Great Wall dan Olympic Stadium

Great Wall

Sebenarnya ada berbagai pilihan tujuan GreatWall yang bisa didatangi, diantaranya Badaling, Mutianyu, Jiankou, Jianshanling, dst. Saya akhirnya capcus memilih yang Badaling dikarenakan paling simple transportnya (dan paling murah), walaupun katanya tourist banget. Sudah saya coba hindari dengan ke Great Wall tidak dihari sabtu/minggu, tetapi Senin, sehingga saya masih bisa mendapat spot-spot kosong di beberapa section Great Wall Badaling.
tiket masuk Great Wall yang berbentuk PostCard
 
Seperti yang saya ceritakan di tulisan lalu, saya ke Badaling dengan nge-follow 2 student dari France, Benjamin dan Antono. Benjamin kuliah di Shanghai sementara si Antono di Beijing ambil Teknik Industri. Riweh berangkat bareng mereka adalah langkah mereka yang panjang sehingga saya harus ekstra langkah untuk ngimbangin langkah mereka.  Kami naik MRT ke Jishuitan, keluar MRT, belok kiri lurus terus hingga ketemu terminal bus. Agak susah juga dicari. Si Benjamin yang bahasa chinanya sedikit lebih bagus dari Antono, harus nanya beberapa kali untuk bisa ketemu terminalnya. Ah, untung saya hanya ngikutin mereka :D. Akhirnya kami ketemu bus no 877 yang langsung membawa sampai Badaling. Ongkos sekali jalan 12 RMB. PP jadi 24 RMB, plus tiket Masuk Badaling seharga 45 RMB. Lucunya, tiket Badaling ini bentuknya kartu pos, jadi saya suka banget dapetnya. hehehehe. Total transport dan tiket ke Badaling jadi hanya 69 RMB untuk ke Great Wall. Bayangkan kalau ikut Travel Agent, minimal adalah 180 RMB dan biasanya sudah paket dengan Badaling+MingTomb. Btw bus ini jumlahnya lumayan banyak.  Tapi maksimal mereka balik dari Badaling ke Beijing itu jam 4 sore.


coretan tinta seniman

ki : Antono, ka : Benjamin
 
Track Badaling ini lumayan seru, seru untuk nanjak dan meluncur. Bahkan ada jalur yang mirip sama papan perosotan. Kalau dilihat, temboknya memang sudah direstorasi . Walau begitu, sambil ketawa, dua bule perancis itu bilang kalo kita lagi jalan diatas kuburan. Kata mereka, coba hitung berapa banyak orang yang meninggal untuk membangun tembok ini. Mungkin satu langkah kita menyusur, 10 orang bisa meninggal disini.
sepi kan? coba kalo weekend..beuhhh

meliuk liuk

yang berbentuk tangga



meniti tepi tembok


section 6 dan 7 direstorasi dengan hibah dari Pakistan

Kami keluar Badaling jam 2 lewat.  Ternyata di antrian bus menuju Beijing, saya ketemu enci’ dari Palembang.  Gimana ga gampang dikenalin, lha wong saya pake batik.hihihi.  Enci’ ini ternyata punya travel agent dan sedang survey jalan untuk tripnya.  Lumayan, kembali berbahasa Indonesia.
Sampai Beijing, setelah say goodbye sama Benjamin dan Antono, saya ke Nuijie lagi untuk cari makanan dan sholat. 

Olympic Stadium

Dari Niujie, saya naik MRT menuju Olympic Sport Center Stadium yang ada di Line 8. Setelah Olympiade Beijing 2008, Olympic Stadium atau dikenal juga dengan Bird Nest (karena mirip sarang burung) menjadi ikon selanjutnya yang didatangi di Beijing.  Satu paketan dengan Bird Nest adalah Water Cube yang posisinya saling berseberangan. Lebih baik dikunjungi senja menjelang malam karena cahaya lampu membuat keduanya jadi tambah keren. BirdNest dengan warna merahnya. Water Cube dengan Birunya.  Dan harus diperhatikan pula posisi batere kamera, karena batere saya habis sebelum saya puas foto-foto di Olympic Stadium.
Add caption

water cube

Bird Nest

Olympic Stadium mengakhiri petualangan saya di Beijing.

5 Beijing - part 2


Yonghegong/Lama Temple
Hari ke 2 di Beijing, saya berangkat agak siangan. Ini gara-gara si Brazil yang satu hostel merekomendasikan untuk dateng ke Lama Temple yang cuman 100 meter dari hostel. Padahal tadinya saya ga minat kesana. Akhirnya karena direkomendasikan bagus dan cuman ‘selangkah’ dari hostel, saya jalan ke Lama Temple yang baru buka jam 9.  Tiket masuknya lumayan mahal untuk ukuran Temple. 40 RMB, atau sekitar Rp 60.000,- Dapet cd kecil, tapi saya belum pernah buka CD nya sampe sekarang :D.  Ternyata saya baru tau kalo Lama Temple itu merupakan Tibetan Temple. Jadi itu mungkin penghubung Lama dengan Lama pada Dalai Lama.  Hall-hall di Lama Temple disusun berdasarkan garis lurus Utara-Selatan.  
hall depan lama temple

tiket masuk

semacam taplak meja, tapi miniatur 



Temple of Heaven
Dari Lama Temple, saya ke Temple of Heaven alias Tian Tan alias si Kuil Surga. Naik MRT line 5, turun di Tiantan Dongmen Station. Karena terjadi  salah orientasi arah, terpaksa saya muter jauh. Temple of Heaven ini iconic Beijing sekali, selain GreatWall dan Forbidden City. Photo-photo Temple of Heaven yang sering dilihat bangunan melingkar  kerucut itu sebenernya bagian dari Temple of Heaven, namanya Hall of Prayer for Good Harvests. Bangunan ini murni dari kayu semuanya. Keren.
dari jendela pintu


Hall of Prayer for Good Harvests
Miniatur : menunjukkan semua dari kayu

katanya ini ruangan tempat si kaisar ganti baju sebelum ada acara
Jembatan matematik
Ini sebenernya ga sengaja ngeliat pas saya Jalan dari Temple of Heaven ke Forbidden City (kapok,5 kiloan dalam kondisi capek, jadi jauh banget terasa jalannya J ). Lewatin hutong-hutong Beijing, eh tau tau di perempatan ada persamaan matematik ini : 
Yeahh, untung ga ada lambang integral disitu

Tiananmen Square &Forbidden City

Begitu melihat gambar Mao Zedong dari jauh, “akhirnya sampai juga!” kata saya dalam hati.  Yang saya inget ketika sampai di Forbidden City adalah Film The Last Emperor, yang menggambarkan kaisar PuYi, kaisar terakhir China yang hanya bisa berkuasa disekitar Inner Court dari Forbidden City, sementara yang bagian luarnya diserahkan  untuk kepentingan umum.  Dan Forbidden City merupakan area yang luasss banget, terdiri dari banyak Hall dan museum. Jangan suruh saya nyebutin nama-nama Hall-nya, karena sama sekali ga hafal.  Yang jelas, Tiananmen Square dan Forbidden City jadi semacam symbol politisnya dengan adanya Tiananmen Square Protest tahun 1989. Jadi, menurut yang saya dengar kemarin, sekarang segala macam kumpul-kumpul yang agak melibatkan orang banyak dilarang dilakukan, dikarenakan pemerintah China takut terjadi protes seperti tahun 1989 itu.

mukanya dingin banget
om Mao gambarnya dah keliatan

baru masuk area inner dari Forbidden City


tembok yang mengelilingi Forbidden City

WangFuJing Street
Keluar dari Tiananmen dan forbidden city, saya ke WangFujing Street, yang merupakan salah satu Shopping Street besar di China.  Menurut saya, yang ngalahin WangFujing itu cuman East Nanjing Road di Shanghai, yang juga sama-sama shopping street besar.  Karena saya sangat tidak bermaksud untuk belanja, jadi saya hanya menyusur saya WangFuJing Street yang dihiasi lampu lampu malam yang keren. Ketika belok, saya nemu WangFuJing Snack street, berupa kios kios yang menjual berbagai macam makanan. Dari mulai yang standar sampai yang aneh-aneh macam bintang laut, kalajengking, silkworm pupa. 
wangfujing Street

wangfujing snack market

baru starfish

ini yang jijay jijay
Ketika balik ke Hostel, roommate saya kaget dengan terlalu banyaknya tujuan saya hari ini.

2 Beijing - part 1

Summer Palace
Besok paginya, abis sarapan energen , yang seadanya, saya langsung capcus ke Summer Palace. Yah, selera makan saya memang ga patut ditiru kalo lagi travelling. Tidak beraturan , dan males effort jalan jauh .  Seperti yang contekan saya bilang, Summer Palace gampang diakses, keluar dari Line 4 MRT di Beigongmen Station, Lalu langsung belok kiri. 300 meter dari situ sudah ketemu Pintu Selatan Summer Palace.
Summer Palace merupakan perpaduan taman yang sangat besar, dengan berbagai sceneric area: temple, Danau, garden, Suzhou street yang mirip Venicenya Italia. Pas saya kesana banyak orang China yang melakukan Taichi, bahkan ada yang paduan suara. Memang tempat untuk relax. Ikutin aja bukit-bukitnya, sampai nyasar dan akhirnya ketemu pintu keluar lagi.
Suzhou Street di Summer Palace : Masih ada sisa bongkahan es-nya

ada paduan suara di bukit. Nyanyi lagu traditional

suka ama tekstur pohon ini

bongkahan esnya banyak

Garden di Summer Palace

Icon Pagoda, diintip dari balik pintu

Latarnya Kunming Lake


Beijing Zoo
Habis dari Summer Palace, saya pergi ke Beijing Zoo. Demiii…demi melihat Panda dong. Secara masuk dalam salah satu hewan favorit.  Jadi, saya masuk Beijing Zoo langsung menuju ke area Panda. Kirain banyak Panda-pandanya. Ternyata saya cuman liat 2 Panda. Hiks.Gapapa deh. Setidaknya punya alesan lagi untuk dateng ke Sichuan, China buat liat Panda di Research Basenya.  Udah gitu Pandanya mojok dan diem aja lagi. Tambah bikin mereka jadi ga keliatan imut-imut.
Tapi ternyata saya baru tau. Panda yang sejenis sama beruang, dikarenakan aslinya Karnivora namun dengan proses adaptasi jadi makan Bambu. Makan bamboo ini, yang low nutrition, mengakibatkan si Panda harus membatasi interaksi sosialnya dan menghindari membatasi pengeluaran energinya. Ya sudahlah.
Beizing Zoo dicapai dengan naik MRT keluar di Exit A, langsung belok kiri dah ketemu loket tiket masuknya.
Meringkuk

Niujie Mosque
Selepas Beijing Zoo, saya ke Niujie Mosque. Penasaran sama Masjid tapi bentuknya bukan kayak Masjid. Sama cari makan Halal si disekitar Niujie. Turun di Changchun Jie Station. Habis itu jalan jauh sekitar 2 km. Hiks. Harusnya bisa sambung naik bus. Cuman pas keluar station aja saya bingung jalan kearah mana. Nanya orang-orang ga pada tau. Ya sudah, muter-muter nyasar dulu sekitar stasiun, baru setengah jam kemudian dapet arah yang tepat.
bisa ngejanya kan? ;)

Niujie Mosque

ukiran di Mosque

ruang sholat cowo

makam

ini ada di museum dalam lingkungan Niujie Mosque

Masjidnya bener-bener kayak Kuilnya China. Untuk non Muslim, masuk dikenai tiket masuk. Kalo yang Muslim bebas . Model bangunannya juga ga cuman 1, tapi terdiri dari Hall-hall. Prayer Room untuk laki laki dan perempuan beda bangunan. Lalu ada Hall buat Adzan juga. Ada Museum pula di belakang.Lalu ada makam  Jadi mirip kompleks gitu.  Pas di female Mosque, ketemu sama serombongan muslimah dari China tengah. Lucu deh ngeliat muka oriental berjilbab. Tapi tetep juga si mereka exiting ngeliat saya. Ngajak foto bareng segala.Hahaha
I'm at Female Nuijie Mosque

Habis dari Niujie Mosque, saya lalu pergi ke Supermarket Muslim yang dekat situ. Puas jajan-jajan cemilan, abis itu ke foodcourtnya. Akhirnya makan beneran juga hari itu. Hahahaha

satenya enak

0101010-bersambung-010101
 

9 China : First Entry


Selalu bingung untuk mulai darimana! Yang dikepala terlalu banyak, sementara ketika ngetik, jadi blank apa duluan yang harus ditulis. Sama seperti China itu sendiri, sebegitu besar wilayahnya, sampe saya perlu beberapa kali mencoret coret dan mengganti rute dalam perencanaan, karena banyaknya tempat tempat menarik, namun terbatasnya waktu serta kemampuan.  Sengaja saya nyari tiket promo dari kota yang berbeda untuk waktu datang dan pulang. Mendarat di Tianjin, pulang dari Hangzhou (yang saya menyangka Hangzhou itu di Shanghai. Padahal 100 km jarak Hangzhou-Shanghai). Browsing browsing, nemu banyak kota menarik lainnya seperti Xi’an, Chengdu, Huangshan, Suzhou, TongLi, Nanjing. Plan itinerary saya ketika mau berangkat bisa dilihat disini (udah kayak semi buku)
Kenyataannya, saya hanya bisa ke Beijing-Shanghai dan Hangzhou. Pertama karena tiket kereta malam Beijing-Shanghai (14 jam), yang relative murah dan irit biaya menginap, ludes ketika saya mesan pada H-3 sebelum berangkat. Jadi terpaksa saya naik Bullet Train (5 jam lebih dikit) esok harinya yang otomatis mengurangi waktu dihari-hari selanjutnya, karena Bullet Train hanya jalan dari pagi sampe sore. Belum lagi juga harus nambah biaya Hostel (walaupun murah). Dan tiket Bullet Train Beijing-Shanghai yang lumayan (beneran) mahal!  Faktor kedua adalah faktor Sakit setibanya saya di Shanghai.  Cuman Flu, tapi berat. Saya fikir si wajar, sebagai manusia tropis yang biasa kepanasan, tiba-tiba kecemplung di kota yang maksimal suhunya adalah 12 derajat. Walaupun dah pake baju lapis-lapis, tetep aja badan saya ga tahan.Hahaha. Ga bisa terhindari. Akhirnya rute China saya hanya santai ke-3 kota. Eh tunggu? Santai?   Kaki sampai melepuh kebanyakan jalan dibilang santai. Wkwkwkwk
Saya suka musim ketika saya datang ke China. Early Spring. Selain karena saya belum pernah mengalami musim diluar kemarau dan penghujan serta tidak panasnya suhu, saya  suka ketika melihat pohon pohon hanya berbentuk ranting dengan tunas tunas bunga siap muncul, mulai mekar ditambah perpaduan biru langit yang sempurna plus tiupan angin perlahan.  Bahkan hanya untuk duduk diam-doing nothing- saja, sudah jadi kemewahan tersendiri. Kemewahan yang susah didapatkan kalau ikut travel agent. :D. Selain itu, karena udara masih agak dingin, nyaris semua orang berjaket ria. Jadi ga ketemu deh enemi-enemi musim panas yang 'katanya'  ga cukur bulu ketiak dan menjuntai-juntai. hahahaha
mulai mekar


Menginap semalam di Kuala Lumpur, saya berangkat dari Kuala Lumpur jam 08.30 pagi. Lama penerbangan KL- Tianjin sekitar 6 jam. Mendarat di Tianjin pukul 14.30 siang. Kesan ketika melihat dari atas pesawat, Tianjin itu gersang, dan tidak cerah karena ada asap. Baru kemudian saya ingat, bahwa Tianjin merupakan kota Industri. Jadi agak mirip Bekasi Cikarang kalau dibandingkan dengan Jakarta. 
stasiun kereta Tianjin
Dari bandara Tianjin, tersedia bus transfer ke Station kereta Tianjin dengan ongkos 15 RMB. Fyi, kurs 1 RMB sekitar Rp 1400-1500an. Lama tempuhnya 30 menit.  Sepanjang perjalanan ke stasiun, sama sekali saya ga nemu gedung/bangunan dengan warna gonjreng mentereng. Rata-rata warna soft dan sendu.
PR  selanjutnya setelah tiba di stasiun adalah membeli tiket kereta. Jreng jreng. Kan udah dibilang susyee ngomongnya dan ga ada petunjuk di loket dalam Bahasa Inggris.  Jadi saya hanya ikut masuk antrian salah satu line, ngomong : Beijing (sambil ngasi tanda angka 1 pake tangan). Tukang tiketnya  nunjukin kalkulator  harga, kasih passport, bayar. Hahaha. Harga Bullet Train Tianjin-Shanghai ini 55 RMB. Murah untuk kereta dengan kecepatan 300km/jam, lama perjalanan hanya 30 menit. Dapet 1 botol air Tibetan Spring pula. Ibarat Jakarta Bandung 30 menit dan cuman bayar sekitar Rp 75.000. Siapa yang ga doyan. Hahaha. 
Tuh kan, no english di loket :D
tiketnya Tianjin-Beijing..ada nomer paspor juga di kiri bawah
Masuk semua stasiun kereta  di China ternyata prosedurnya sama kayak masuk bandara. Pake harus masukin tas dan semua perlengkapan ke Conveyor Belt dan ngelewatin pintu detector yang bersensor. Plus harus cekin juga, yang dibuka sekitar 15 menit sebelum kereta berangkat. Jadi agak susah kalo dateng ke Stasiun injury time. Selain prosedurnya banyak. Antrian dimana mana juga banyak. Gimana lagi, China masih negeri populasi terbesar didunia. Oiya, gak lupa poto-poto ama si CRH nya. Secara baru pertama naik kereta cepat. *norak deh*.  Pas didalem kereta, merasanya kayak biasa aja. Smooth.  Ga nampak keretanya melaju kencang kalo kita ga liat jendela. Eh, didalem kereta juga ada Panel Info Stasiun selanjutnya,Speed saat itu berapa, temperature diluar berapa. Di masing-masing gerbong juga terdapat Toilet (bersih) juga tersedia Air Panas dan gelas untuk minumnya.
CRH Bullet Train
Outside Temperatur

Speed


Tiba di Beijing, kereta mendarat di Stasiun Beijing South. PR selanjutnya adalah membeli tiket ke Shanghai. Untungnya, di Beijing South, mba Siska dijemput sama pemandunya, Kevin, mahasiswa dari Indonesia. Jadi dengan baik hati, Kevin mau nemenin beli tiket tsb. Sebenernya bukan nemenin, dia yang bilang ke kounter tiket dan dikasi tau  tiket sleeper trainnya habis, dan cuman ada Bullet Train utk tanggal yang saya inginkan. Ga kebayangkan kalo saya sendiri yang beli.hihihi. Selamat..selamat..
Beijing South, selain merupakan stasiun antar kota, juga merupakan point stasiun Subway.  Tapi Relnya terpisah. Stasiunnya juga beda, sebelahan namun terhubung. Jadi ga mungkin ada chaos gangguan seperti yang sering banget kejadian di Gambir. Gara-gara nunggu kereta Jawa, semua KRL jadi terlambat datang. Kadang-kadang saya berfikir, memang perlu tiran utk mbenerin Indonesia ini. Mana bisa Infrastruktur kereta bagus kalo relnya ga pernah dibangun. Hanya mengandalkan rel kereta buatan Belanda. Eh, ngelantur.

Lanjut dari Beijing South, saya naik MRT menuju hostel Candy Inn . Lokasi hostelnya strategis di daerah Hutong,deket dari Stasiun MRT Yonghegong Lama Temple. Cuman saya ga akan merekomendasikan hostel ini deh. They DIDNT Tell that they already under renovation. So, I didnt get room that match with my booking. Saya mesen female dorm, ternyata mereka cuman punya mix dorm. Tadinya hanya niat sehari disana,besoknya nyari hostel lain. Tapi mengingat tangga stasiun MRT Beijing yang ga terlalu bersahabat buat nenteng-nenteng koper (sudut 45 derajat, udah gitu panjaaaaangg tangganya, Sebagian ber-eskalator, sebagian tidak) lagipula saya cuman numpang tidur malem doang, akhirnya saya tetap menginap 4 hari disana. Dengan 3 orang lainnya cowok-cowok dari China yang memang kerja di Beijing. Tadinya merasa aneh. Bahkan tidurpun dan kekamar mandi kudu berjilbab. Tapi roommate saya untung baik baik. 1 bapak-bapak arsitek, 1 keturunan China dari Inggris, yang baru dapet kerja di Beijing, satu lagi nyaris ga pernah ngomong karena doi selalu diluar internetan di Lobi kalo ga kerja. Dan mereka Ok Ok saja saya sholat nungging-nungging disitu. Malah jadi semacam diskusi sama mereka yang rata-rata agnotis. Satu hal,diantara mereka, saya yang paling rajin mandi dan bangun pagi disitu. Hahahaha. Keknya standar mereka mandi, sehari sekali itu dah bagus.
Eh, kok udah banyak aja. Bersambung lagi deh----

5 The Art of Solo Travelling



Akhir maret lalu, saya menghadiahi diri saya sendiri pengalaman berupa solo travelling ke China bagian timur (Beijing-Shanghai-Hangzhou). Ya, menghadiahi dengan sesuatu yang cukup sulit. Jalan, sendiri, cewek, pake kerudung, Ga mau pake travel agent, dinegeri yang bahasanya beda dimana saya ga bisa sama sekali bahasa mereka dan hamper semua di China tidak mengerti bahasa Inggris. O may..Sudah banyak yang mengingatkan sebelum berangkat, termasuk orang-orang yang ketemu saya di Tempat pengurusan Visa di Kuningan, emang beneran mau kesana sendiri? Susah lho..Dan saya selalu nyengir-nyengir santai saja. Hihihi. Mau diapain lagi, temen-temen yang biasanya diajak jalan pada berhalangan dan ga mau, sementara sayang tiket yang sudah kebeli. Sebenernya lebih dari itu juga si. Saya ingin member i tantangan lebih kepada diri saya sendiri. Last time saya berkunjung ke negeri non-speak English adalah ke Jepang. Tapi itu ber-4 dengan teman. Sementara ternyata, bahasa Inggris orang Jepang kebanyakan itu jauh lebih bagus dari bahasa Inggris orang China. Jadi, kalo saya bisa melewati tantangan ke China sendirian ini, Insya Allah lah ke Negara lain survive (Opo si iki..sok PD banget.:)) Biarin!! )

Jadilah 11 hari saya ngabur sendirian.  Masuk rekor pergi terlama saya dari rumah selain pas Orientasi masuk kantor dulu. Emak saya tau saya pergi, tapi ga saya kasih tau kalo perginya sendiri. Bisa shock dia tekanan darahnya naik. Hihihi

Ternyata ketika dijalani, saya nyaris tidak pernah jalan sendirian selama kepergian saya tersebut. Dari mulai naik Damri dari Gambir, ketemu temen ngobrol cewek Swiss yang abis dari Sumatra, setelah sebelumnya keliling China, Mongolia, asia tengah, tenggara dan masih akan melanjutkan ke Kinabalu, Filipina, New Zealand serta Chile. Bener-bener bikin ngiri dan mupeng tuh anak. Di bandara LCCT KL, ketemu lagi dengan 3 anak dari Indonesia yang mau ke Jepang, lumayan dapet temen ngobrol selama tidur di Musolla dan sarapan pagi. Turun dari pesawat di Tianjin, ketemu mba Siska yang rumahnya juga didepok. Jadi dari Tianjin sampai masuk Beijing, kami jalan berdua, minimal mengurangi shock. Sayangnya mba Siska dan saya beda penginapan. Belum lagi ternyata mba siska sudah memesan tour selama 3 hari dia di Beijing. Jadi saya terpaksa melepaskan harapan jalan bareng mba Siska lagi.  Sempet ketemu mahasiswa Indonesia di MRT Beijing. Tau darimana saya ngenalinnya? Salah seorang mereka memakai kerudung Robbani. Hihihi. Sementara ke-3 lainnya tampangnya bener-bener persis orang local Beijing. Saya tegur pake Bahasa mereka ternyata menanggapi.

Pertemanan dadakan selanjutnya, adalah ketika saya lagi antri tiket kereta ke Great Wall Badaling. Saya datang jam 8, ternyata tiket kereta Sold Out sampe jam 11. Mati gaya deh. Mau langsung berubah arah ganti naik bus. Apa daya, bagian ke Badaling naik bus tidak saya print karena saya terlalu yakin dengan naik kereta. Masih ada catatan di Handphone si, ndilalah Handphone saya Low Batt ga bisa dibuka. Udah nyaris nangis dalam hati. Oii, gemana nih, ini hari terakhir saya di Beijing, besok sudah punya tiket kereta ke Shanghai, tapi masak ga ke GreatWall. (ps catatan: setibanya di Beijing, kl mau ke GreatWall lakukanlah saat pertama kita datang). Pas ternyata, 2 antrian depan saya ada 2 bule yang juga mengantri tiket kereta tsb. Setelah saya  tanya, mereka ternyata juga  inginmerubah haluan menjadi naik bus dari pada menunggu kereta jam 11. Dan salah satu dari mereka ternyata bisa sedikit bahasa China (karena 2-2 nya ternyata Student di China dari France). “Can I go with You? “ jadi kalimat andalan saya untuk bisa ke Badaling pagi itu. Ternyata mereka ok-ok aja saya ikutin seharian ke GreatWall.

Di Shanghai, tak dinyana tak diduga, ketemu Bude dan Pakde sendiri depan Port HuangPu River. O may..sudah sedemikian jauh ngabur, dinegeri orang yang luas dan banyak kotanya, kenapa bisa ketemu bude sendiri pada tempat dan waktu yang sama. Untungnya bude ama rombongannya baru mau naik kapal, sementara saya udah turun kapal sibuk mencari jalan pulang ke hostel.  Saya cuman garuk-garuk kepala yang ga gatel. Its maybe called Serendipity. Its Ok, asal bude gw itu ga ngasi tau emak gw kalo gw jalan sendiri.hihihi.

Melipir dikit dari Shanghai, saya ke Tongli, kota kecil tua yang ditempuh 2 jam by Bus dari Shanghai.  Dari mulai naik bus ini sampai tiba di Tongli, muter-muter Tongli, lalu nunggui bus balik ke Shanghai, saya senasib sependeritaan sama 4 orang cewe cewe Austria. Senasib sependeritaan ga ngerti bahasa China apapun, akhirnya saya masuk koalisi mereka seharian muter-muter Tongli. Ada ga enaknya juga, pas antar sesama mereka ngomong pake bahasa German. Ra mudeng.

Terakhir di Hangzhou, di dorm, saya dapet temen China yang sangat baikkk sekali, menawarkan dirinya boleh diikuti saya, yang memang ga punya ide mau keliling kemana di Hangzhou itu. Akhirnya saya dan Tian keliling WestLake pake kaki, sambil ngobrol2 khas cewe seolah-olah kita dah lama kenal. Tian yang asal Sichuan juga hanya 1 hari di Hangzhou, sorenya dia balik ke Sichuan. Saya malamnya. Tapi dengan carenya dia bener2 memastikan saya dapat bus bandara ke Hangzhou, bus transitnya pake apa serta nungguin sampe saya bener2 Ok balik ke hostel dan berangkat lagi ke Bandara sendirian krn pesawat dia lebih dahulu. Yah, agak susahnya di Hangzhou karena disana MRT baru dibangun, tidak seperti Beijing dan Shanghai yang sudah establish MRTnya. Kemana-mana transport umum di Hangzhou adalah bus, atau sepeda, atau kaki. 

Yah, mereka mungkin teman-teman yang diberi Allah untuk menemani saya selama perjalanan sendiri dengan caranya yang unik masing-masing. Ketika kita yakin kita bisa melakukannya, maka Insya Allah banyak jalan didepan. Kalau saya ditanya lagi, masih mau ke China, sendirian lagi ga? Saya jawab : mau! Dengan berbagai trik persiapan yang harus dilakukan kalau ingin sendirian ke China :

1. Persiapkan segala sesuatu dengan detail, kalau kota besar ingin ke Objek Wisata, persiapan termasuk naik MRT line berapa, turun di stasiun mana, keluar di exit berapa. Keluar exit berapa ini penting sekali , sebab kalo engga, kita bisa salah jalan, dan susah ketemu orang buat nanya )

2. Bawa peta area dan peta MRT dari Indonesia. Bisa ngeprint  dari Internet. Saya tadinya agak meremehkan, karena menganggap seperti Jepang dimana peta available dimana-mana. Ternyata tidak, di China, peta susah didapat dan harus dibeli. Untung saya masih punya print-an peta MRT dan peta fotokopian dari Lonely Planet

3. Ini penting yang ketiga, tulis/print semua yang mau kita tuju pake bahasa Mandarin. Bahasa benar-benar kendala. Bahkan bahasa latin pun jarang yang mengerti. Dengan tulisan china, jadi ketika ingin nanya  sesuatu, tinggal tunjuk tulisan itu.

4. Makan ? yakin deh, susah ) 2 hari di Beijing saya nyambangin supermarket muslim yang ada foodcourtnya. Mesen makanan aja susah bener . Akhirnya pake teknologi nunjuk, tanpa sempat eksplore yang ditunjuk isinya apa aja. Di Shanghai saya ga nemu tempat makan muslim, akhirnya banyakan makan buah dan KFC (sudah menurunkan standar halalnya, tanpa nanyain bumbu KFC nya campur apa). Alhasil selama ke China itu, berat saya langsung turun 4 kg. Padahal itu dah ditunjang bawa Mie Gelas dan Energen.

5. Menginap di dorm. Minimal akan ada teman sekamar yang diajak ngomong ketika malam hari.  Walaupun cocok-cocokan juga. Yang paling dramatis kemarin adalah ketika di Shanghai temen satu kamar di dorm saya drama queen semua. Yang satu dari Kanton, ngejar cowo Spanyol yang akhirnya diacuhkan si Spanyol. Jadi hari pertama datang dia udah nangis-nangis. Saya bengong kan. Sementara 2 cewe lainnya dari German yang hobi ke Bar tiap malam. Satu malam, salah satu si German ini sakit perut, dikasih apapun dia ga mau. Udah merintih-rintih di kamar, eh 1 jam kemudian ketika udah enakan, mereka berdua masih nekat ke Bar, padahal besoknya harus ngejar pesawat pagi untuk balik ke German. Pastilah paginya jadi gubrak gabruk ga jelas telat bangun.

6. Facebook, Twitter, Blogspot dan Youtube tidak berfungsi sodara-sodara ) Beneran di block, even di hostel sendiri. Untung Gtalk dan YM masih bisa. Etapi saya dapet proxy untuk akses FB dari anak2 kaskus. Yatapi hanya berguna utk FB, untuk lainnya tetep ga bisa :D

7. Toilet? Alhamdulillah pas toilet yang saya datengin selalu bersih bersih. Mungkin karena tempat wisata ya. Pernah sekali dapet ‘jackpot’ yang ga disiram di hostel, tapi saya keburu tutup dan pindah ke bilik sebelah. Memang masih si kebiasaan orang china yang kadang lupa siram toilet.

-bersambung-

Published with Blogger-droid v2.0.4

0 Packing

Packing, like a life, is about decide what important that must be bring and unimportantly that must be left..


Bag have maximum capacity, not all pieces  of thing that we want to bring have space inside them. Expand the bag, or left unnecessary


The best part in the first day of twenty nine is finishing packing.

I'm Exciting for next journey tomorrow... *__*


*definisi packing diterjemahkan scr bebas dari buku life traveller, windy ariestanty*


Published with Blogger-droid v2.0.4

0 Almanya, Sebuah perjalanan pulang


Yay, postingan pertama 2012..Ada efek bagus juga Long Wiken dan akhir bulan alias bokek :D

Minggu lalu saya berkesempatan menyaksikan German Cinema, sebuah event yang diselenggarakan oleh Goethe Institute. Pemutaran 10 Film Box Office Jerman di berbagai kota. Jakarta jadi kota urutan pertama untuk pemutaran filmn nya tanggal 14-17 Januari 2012. Selanjutnya, German Cinema pindah pindah kota ke Jogja, Surabaya, Medan dan Makasar. Acaranya gratis.

Saya cuman nonton 2 film dari 10 film yang tayang, Poll dan Almanya. Poll, yang bercerita tentang kisah nyata sastrawan Jerman Oda von Siering buat saya jadi terlalu sedih karena plotnya, juga karena banyak organ-organ manusia yang vulgar ditampilkan. Maksud saya : otak manusia, tengkorak, bayi kembar dampit diawetkan, lalu sedikit digambarkan gmn si bapaknya oda itu menggergaji batok kepala untuk mengambil otaknya :|

Jadi mari kita lewat saja langsung ke Almanya.

Beda sama Poll, Almanya karakteristiknya berkebalikan. Hidup, hangat, sedikit komedi, tapi pesan filmnya banyak. Almanya menceritakan kisah tentang keluarga imigran Turki yang ada di Jerman. Kakek  mereka, Huseyn, pindah dari Turki ke Jerman dengan 3 anak mereka.Di Jerman anaknya bersekolah dan tumbuh dewasa dalam lingkungan budaya jerman, ikut-ikut ingin mendapet kado natal dengan versi dari sinterklaus, jadi pake diumpetin, pake ditaruh dibawah pohon natal.  Ibu mereka yang bingung dan alakadarnya,yang akhirnya bikin lucu.

Saat liburan, keluarga Huseyn mencoba liburan dari Jerman kembali melihat rumah mereka di Turki, namun mereka melihat keadaan rumahnya dan akhirnya merasa bahwa rumah mereka adalah di Jerman. Jadilah setelah mereka balik dari liburan itu, mereka membeli rumah di Jerman. Lama mereka menjadi imigran di Jerman, memberi efek kepada anggota keluarga (termasuk cucu mereka : 2 orang cucu, yang pertama anak kecil berusia 6 atau 7 tahun : Cenk dan cucu lainnya si Canan yang mahasiswi). Menjadikan sang cucu blunder apakah mereka orang Jerman atau Turki. Paspor mereka jelas paspor Jerman.

45 tahun kakek Huseyn tinggal di Jerman, lalu beliau mengabarkan ke keluarganya bahwa beliau membeli rumah di Turki. Keluarga besar ini berkesempatan untuk mengunjungi rumah mereka di Turki, juga karena ada undangan dari Kanselir Jerman, Angela Markel,dimana huseyn yang masuk kategori imingran2 pertama di Jerman diberi kesempatan memberikan 'speech' sebelum Angela Markel di hadapan pertemuan para imigran di Turki. Mereka berangkat naik pesawat dan darisana menyewa mobil untuk sampai ke rumah yang telah diberi Huseyn di turki.

Dalam perjalanan daratnya, mereka mengalami beberapa kejadian : Kakek Huseyn dan Cenk melakukan rehersal pidato Huseyn di tukang pangkas rambut, dengan Cenk lebih banyak bersifat sebagai pengatur dan pengedit pidato. Bahasa Jerman Cenk juga lebih bagus dibanding Bahasa Jerman Huseyn. Lalu penjelasan kakek secara tak langsung kepada Cenk bahwa Cenk tidak merasa perlu berbeda dengan seorang anak Turki yang ditemui di SPBU.Mengajarkan secara tidak langsung jangan sampai Cenk terbatasi oleh kendala : saya orang Jerman, bukan orang Turki, tidak perlu dipermasalahkan perbedaannya. Lalu ada sesi kakek Huseyn berhasil menebak kegalauan Canan yang ternyata telah lebih dahulu hamil oleh Pacar inggrisnya, dan membuat Canan takut mengakuinya karena Canan orang Turki, dan pacarnya orang Inggris. Namun puncak kejadian adalah ketika tiba2 kakek Huseyn meninggal karena serangan jantung. Ini bener2 membuat sekeluarga mereka sedih (dan juga penontonnya)

Bahkan untuk urusan pemakaman di Turki saja, keluarga yg berpaspor Jerman ini disulitkan walau jelas-jelas mereka orang turki dan punya rumah di Turki.

Almanya mencoba menggambarkan bagaimana sebuah keluarga imigran mencari apa itu 'home'. Dimana rumah mereka. Apa dengan meninggalkan suatu kampung halaman, itu berarti kampung halamannya sudah tidak menjadi 'home' lagi.Dan apakah 'home' bagi mereka hanya ada di Jerman.Tidak semudah itu ternyata :-)

Berbarengan dengan nonton Almanya ini, saya juga sedang membaca bukunya kakak @windyariestanty judulnya Life Traveller. Agak menyesal saya pernah mentwit bahwa buku ini jauh dari expectasi ketika saya baru menyelesaikan sedikit bagian saja. Buku ini termasuk yg masuk kategori buku genre travelling yg masuk kategori layak baca dan akan dibaca ulang buat saya (iya, saya jarang nemu buku traveller yg bisa dibaca ulang, paling baru nemu bukunya Agustinus Wibowo, bukunya adhitya mulya yang Belok kanan Barcelona. Yang lain? mainstream). Salah satu bab akhir buku ini , menggambarkan apa itu 'home' bagi windy yang didapat dari seorang nenek di suatu kedai di amerika. "Home is a place where you feel more comfortable. Home is a place where you can be and find yourself, Home is a place where you can find your love"

Dan Almanya menjelaskan itu. 'Home' mereka di Jerman, 'home' mereka diturki dan bahkan 'home' di akhirat, sebagai kampung halaman hakiki.

Ah, mau nonton almanya lagi..tapi nyari bajakannya ga nemu *mellow*


Published with Blogger-droid v2.0.3--yang awal2 msh error