
Akhir maret lalu, saya menghadiahi diri saya sendiri pengalaman berupa solo travelling ke China bagian timur (Beijing-Shanghai-Hangzhou). Ya, menghadiahi dengan sesuatu yang cukup sulit. Jalan, sendiri, cewek, pake kerudung, Ga mau pake travel agent, dinegeri yang bahasanya beda dimana saya ga bisa sama sekali bahasa mereka dan hamper semua di China tidak mengerti bahasa Inggris. O may..Sudah banyak yang mengingatkan sebelum berangkat, termasuk orang-orang yang ketemu saya di Tempat pengurusan Visa di Kuningan, emang beneran mau kesana sendiri? Susah lho..Dan saya selalu nyengir-nyengir santai saja. Hihihi. Mau diapain lagi, temen-temen yang biasanya diajak jalan pada berhalangan dan ga mau, sementara sayang tiket yang sudah kebeli. Sebenernya lebih dari itu juga si. Saya ingin member i tantangan lebih kepada diri saya sendiri. Last time saya berkunjung ke negeri non-speak English adalah ke Jepang. Tapi itu ber-4 dengan teman. Sementara ternyata, bahasa Inggris orang Jepang kebanyakan itu jauh lebih bagus dari bahasa Inggris orang China. Jadi, kalo saya bisa melewati tantangan ke China sendirian ini, Insya Allah lah ke Negara lain survive (Opo si iki..sok PD banget.:)) Biarin!! )
Jadilah 11 hari saya ngabur sendirian. Masuk rekor pergi terlama saya dari rumah selain pas Orientasi masuk kantor dulu. Emak saya tau saya pergi, tapi ga saya kasih tau kalo perginya sendiri. Bisa shock dia tekanan darahnya naik. Hihihi
Ternyata ketika dijalani, saya nyaris tidak pernah jalan sendirian selama kepergian saya tersebut. Dari mulai naik Damri dari Gambir, ketemu temen ngobrol cewek Swiss yang abis dari Sumatra, setelah sebelumnya keliling China, Mongolia, asia tengah, tenggara dan masih akan melanjutkan ke Kinabalu, Filipina, New Zealand serta Chile. Bener-bener bikin ngiri dan mupeng tuh anak. Di bandara LCCT KL, ketemu lagi dengan 3 anak dari Indonesia yang mau ke Jepang, lumayan dapet temen ngobrol selama tidur di Musolla dan sarapan pagi. Turun dari pesawat di Tianjin, ketemu mba Siska yang rumahnya juga didepok. Jadi dari Tianjin sampai masuk Beijing, kami jalan berdua, minimal mengurangi shock. Sayangnya mba Siska dan saya beda penginapan. Belum lagi ternyata mba siska sudah memesan tour selama 3 hari dia di Beijing. Jadi saya terpaksa melepaskan harapan jalan bareng mba Siska lagi. Sempet ketemu mahasiswa Indonesia di MRT Beijing. Tau darimana saya ngenalinnya? Salah seorang mereka memakai kerudung Robbani. Hihihi. Sementara ke-3 lainnya tampangnya bener-bener persis orang local Beijing. Saya tegur pake Bahasa mereka ternyata menanggapi.
Pertemanan dadakan selanjutnya, adalah ketika saya lagi antri tiket kereta ke Great Wall Badaling. Saya datang jam 8, ternyata tiket kereta Sold Out sampe jam 11. Mati gaya deh. Mau langsung berubah arah ganti naik bus. Apa daya, bagian ke Badaling naik bus tidak saya print karena saya terlalu yakin dengan naik kereta. Masih ada catatan di Handphone si, ndilalah Handphone saya Low Batt ga bisa dibuka. Udah nyaris nangis dalam hati. Oii, gemana nih, ini hari terakhir saya di Beijing, besok sudah punya tiket kereta ke Shanghai, tapi masak ga ke GreatWall. (ps catatan: setibanya di Beijing, kl mau ke GreatWall lakukanlah saat pertama kita datang). Pas ternyata, 2 antrian depan saya ada 2 bule yang juga mengantri tiket kereta tsb. Setelah saya tanya, mereka ternyata juga inginmerubah haluan menjadi naik bus dari pada menunggu kereta jam 11. Dan salah satu dari mereka ternyata bisa sedikit bahasa China (karena 2-2 nya ternyata Student di China dari France). “Can I go with You? “ jadi kalimat andalan saya untuk bisa ke Badaling pagi itu. Ternyata mereka ok-ok aja saya ikutin seharian ke GreatWall.
Di Shanghai, tak dinyana tak diduga, ketemu Bude dan Pakde sendiri depan Port HuangPu River. O may..sudah sedemikian jauh ngabur, dinegeri orang yang luas dan banyak kotanya, kenapa bisa ketemu bude sendiri pada tempat dan waktu yang sama. Untungnya bude ama rombongannya baru mau naik kapal, sementara saya udah turun kapal sibuk mencari jalan pulang ke hostel. Saya cuman garuk-garuk kepala yang ga gatel. Its maybe called Serendipity. Its Ok, asal bude gw itu ga ngasi tau emak gw kalo gw jalan sendiri.hihihi.
Melipir dikit dari Shanghai, saya ke Tongli, kota kecil tua yang ditempuh 2 jam by Bus dari Shanghai. Dari mulai naik bus ini sampai tiba di Tongli, muter-muter Tongli, lalu nunggui bus balik ke Shanghai, saya senasib sependeritaan sama 4 orang cewe cewe Austria. Senasib sependeritaan ga ngerti bahasa China apapun, akhirnya saya masuk koalisi mereka seharian muter-muter Tongli. Ada ga enaknya juga, pas antar sesama mereka ngomong pake bahasa German. Ra mudeng.
Terakhir di Hangzhou, di dorm, saya dapet temen China yang sangat baikkk sekali, menawarkan dirinya boleh diikuti saya, yang memang ga punya ide mau keliling kemana di Hangzhou itu. Akhirnya saya dan Tian keliling WestLake pake kaki, sambil ngobrol2 khas cewe seolah-olah kita dah lama kenal. Tian yang asal Sichuan juga hanya 1 hari di Hangzhou, sorenya dia balik ke Sichuan. Saya malamnya. Tapi dengan carenya dia bener2 memastikan saya dapat bus bandara ke Hangzhou, bus transitnya pake apa serta nungguin sampe saya bener2 Ok balik ke hostel dan berangkat lagi ke Bandara sendirian krn pesawat dia lebih dahulu. Yah, agak susahnya di Hangzhou karena disana MRT baru dibangun, tidak seperti Beijing dan Shanghai yang sudah establish MRTnya. Kemana-mana transport umum di Hangzhou adalah bus, atau sepeda, atau kaki.
Yah, mereka mungkin teman-teman yang diberi Allah untuk menemani saya selama perjalanan sendiri dengan caranya yang unik masing-masing. Ketika kita yakin kita bisa melakukannya, maka Insya Allah banyak jalan didepan. Kalau saya ditanya lagi, masih mau ke China, sendirian lagi ga? Saya jawab : mau! Dengan berbagai trik persiapan yang harus dilakukan kalau ingin sendirian ke China :
1. Persiapkan segala sesuatu dengan detail, kalau kota besar ingin ke Objek Wisata, persiapan termasuk naik MRT line berapa, turun di stasiun mana, keluar di exit berapa. Keluar exit berapa ini penting sekali , sebab kalo engga, kita bisa salah jalan, dan susah ketemu orang buat nanya )
2. Bawa peta area dan peta MRT dari Indonesia. Bisa ngeprint dari Internet. Saya tadinya agak meremehkan, karena menganggap seperti Jepang dimana peta available dimana-mana. Ternyata tidak, di China, peta susah didapat dan harus dibeli. Untung saya masih punya print-an peta MRT dan peta fotokopian dari Lonely Planet
3. Ini penting yang ketiga, tulis/print semua yang mau kita tuju pake bahasa Mandarin. Bahasa benar-benar kendala. Bahkan bahasa latin pun jarang yang mengerti. Dengan tulisan china, jadi ketika ingin nanya sesuatu, tinggal tunjuk tulisan itu.
4. Makan ? yakin deh, susah ) 2 hari di Beijing saya nyambangin supermarket muslim yang ada foodcourtnya. Mesen makanan aja susah bener . Akhirnya pake teknologi nunjuk, tanpa sempat eksplore yang ditunjuk isinya apa aja. Di Shanghai saya ga nemu tempat makan muslim, akhirnya banyakan makan buah dan KFC (sudah menurunkan standar halalnya, tanpa nanyain bumbu KFC nya campur apa). Alhasil selama ke China itu, berat saya langsung turun 4 kg. Padahal itu dah ditunjang bawa Mie Gelas dan Energen.
5. Menginap di dorm. Minimal akan ada teman sekamar yang diajak ngomong ketika malam hari. Walaupun cocok-cocokan juga. Yang paling dramatis kemarin adalah ketika di Shanghai temen satu kamar di dorm saya drama queen semua. Yang satu dari Kanton, ngejar cowo Spanyol yang akhirnya diacuhkan si Spanyol. Jadi hari pertama datang dia udah nangis-nangis. Saya bengong kan. Sementara 2 cewe lainnya dari German yang hobi ke Bar tiap malam. Satu malam, salah satu si German ini sakit perut, dikasih apapun dia ga mau. Udah merintih-rintih di kamar, eh 1 jam kemudian ketika udah enakan, mereka berdua masih nekat ke Bar, padahal besoknya harus ngejar pesawat pagi untuk balik ke German. Pastilah paginya jadi gubrak gabruk ga jelas telat bangun.
6. Facebook, Twitter, Blogspot dan Youtube tidak berfungsi sodara-sodara ) Beneran di block, even di hostel sendiri. Untung Gtalk dan YM masih bisa. Etapi saya dapet proxy untuk akses FB dari anak2 kaskus. Yatapi hanya berguna utk FB, untuk lainnya tetep ga bisa :D
7. Toilet? Alhamdulillah pas toilet yang saya datengin selalu bersih bersih. Mungkin karena tempat wisata ya. Pernah sekali dapet ‘jackpot’ yang ga disiram di hostel, tapi saya keburu tutup dan pindah ke bilik sebelah. Memang masih si kebiasaan orang china yang kadang lupa siram toilet.
-bersambung-
Published with Blogger-droid v2.0.4