0 Hello World!

Hello World Blogger,
Long time no see..

Yup, kelamaan ga ngeblog..sampai bingung mau ngeblog apalagi..padahal katanya ngeblog/nulis itu preventif dan kuratif (apasiii)..

Let's start from last topic here :
- Finally i made the first 16.8 km Adidas KOTR in 29 Sept 2013 in 2.5 hours :)) Lari terus sampai KM-15. dan menyerah jalan antara KM-15 dan KM-16 dikarenakan jalannya yang nanjak. Tega banget tuh panitianya, udah km km terakhir, dikasih jalur nanjak  At least, I did it!
Unfortunetly, untuk satunya yang udah mendaftar, 21km HM SCMS 2013, ga jadi ikutan, karena bentrok waktu. Dan secara kalo gw udah tau ga ada target yang harus diselesaikan, endingnya jadi males-malesan lari panjang. Huhuhu

- Last trip for vacation? 24 Agustus ke-3 kalinya ke SG. Awalnya juga males berangkat (see, tumben bisa males ngetrip). Tapi akhirnya berangkat juga getaway weekendnya. Walaupun baru ke-3 kali, tetep aja semuanya berasa kayak pertama kali. Will blogging it later.

- My Grandfather died at 6 Oct. He's sick and almost 'coma' in hospital for around 2 weeks. I only visited him in last 2 days in the hospital (or last 2 days for his life). Meskipun beliau ga bisa ngomong dan bergerak karena peralatan rumah sakit dan selang yang melingkupinya, tapi kerjap matanya yang tau gw dateng cukup bikin sedih. Kejadian pulang ini juga membawa cerita tersendiri buat gw, bahwa anything happens for a reason. Gw bisa extend pulang kampung lebih lama karena tiba2 ada acara kantor yang biasanya di Bandung, jadi dipindah ke Jogja. Dan akhirnya gw bisa nungguin si mbah pulang ke rumahnya yang abadi. It hurts so much..

- Last chapter, gw gagal berangkat cuti lama Oktober kemaren. Semua tiket promo yang terbeli, akhirnya percuma. Tapi sedikit usaha dan perubahan nomor flight dari maskapai Cebu nya, akhirnya kebanyakan tiketnya bisa direfund (yang biasanya ga mungkin kalo tiketnya berjenis tiket promo). Lama-lama males juga berburu tiket promo, kalo jalannya susah. Will blogging about it later..

Yah, setidaknya cukup untuk pemanasan nulisnya.. :)

See You

1 #HaloFitRun Bandung

"We All run to win. That doesn't mean 1st place ; it means to be the best you can"--(@RunningQuotes)

Halo Fit Run

Tanggal 30 Juni lalu, saya mengikuti #HaloFitRun di Bandung. Race pertama saya di tahun 2013, dan race ke-4 sejak tahun 2012. Kenapa ikut yang di Bandung, padahal yang di Jakarta juga ada #HaloFitRun beberapa minggu sebelumnya. Alesannya, (1) karena saya recreational runner, jadi cari alesan dong keluar kota untuk lari :p (2) Alesan sebenarnya karena saya belum siap ikut race sebelumnya. Iya, belum siap lari lagi, bukan karena persoalan fisik semata, tapi juga mental.

Cukup lama saya ga rajin ikut lari, semenjak 2013 malah. Kadang lari seminggu sekali yang maksimal paling 5km. Ketika saya lihat lebih jauh kedalam lagi, banyak hal yang tertinggal sebenarnya. Pertama, saya jauh tertinggal sama teman teman Telkom Runners lain yang terus konsisten lari. Walaupun dari setahun lalu saya memang yang paling lambat dibanding yang lain juga, tapi saya bisa melihat penurunan kualitas didiri saya sendiri. Contohnya misalnya, yang sebelumnya saya bisa lari tanpa jalan, sekarang ada potongan jalannya.

 Memulai lari dari vakum lama itu cukup menyulitkan ternyata. Mencari pembiasaan lagi di kaki. Mencari konsistenan. Dan yang paling penting, mencari jawaban atas pertanyaan why i'm doing this. Sehingga bisa berjalan kontinuitasnya.

Running is pain. Lari itu menyakitkan. Bukan cuman untuk pemula, untuk yang udah lama lari pun sama saja. Sakit. Capek. Kadang kadang  ketika lagi lari, saya sambil mengutuk diri sendiri nanya, What the hell i'm doing this. Capek. Semua elemen tubuh udah teriak teriak minta berhenti. Sementara finish line belum keliatan. Boro boro keliatan, separo jalan aja belum :-) Tapi percakapan ketika lari merupakan percakapan internal diri. Pertarungannya juga pertarungan melawan diri sendiri. Kita harus nanya dan ngomong dan mungkin berbantah bantahan dengan diri sendiri. Kita yang memutuskan, kita mau berhenti di tengah, atau melanjutkan sampai finish line. Kita ga bisa teriak sama orang lain, toh semuanya juga berpacu dengan target finish line masing masing. Paling banter kita saling memberi semangat kesesama pelari lain yang juga sama sama berusaha mencapai finish linenya.  Tapi tetep saja, sesakit sakitnya badan, sengambek-ngambeknya pikiran minta kita berhenti lari, tetep harus diselesaikan. Karena finish line jauh lebih indah. Oiya, dan juga celebrationnya :-)

Kontinuitas harus dimulai lagi, minimal, saya udah nabung buat Race 10 mile ini, dan race HM ini. Semoga ga tumbang ditengah-tengah :-) Etapi latihannya berhenti dulu pas Ramadhan yaa.. :))

~if you never try you'll never know (Coldplay : Fix you)~

-publish also at www.telkomrunners.org-

7 Tana Toraja


Hampir pukul tujuh malam ketika akhirnya saya tiba di Pool Bus Litha yang akan membawa saya ke Toraja. Tiba di bandara Hasanudin pagi hari sebelumnya, saya sudah menelpon ke Pool Bus Litha untuk memesan Tiket bus malam Makasar-Toraja. Agak agak maksa juga sebenernya, karena saya hanya bisa pp Makasar-Toraja 2 malam berturut turut tanpa menginap. Rencananya,malam pertama saya berangkat dengan bus pukul 21.00, estimasi tiba di Toraja pukul 07.00 pagi. Lalu eksplore Toraja dari pagi sampai sore. Kemudian langsung balik lagi dari Toraja ke Makasar malam itu juga, besok paginya tiba lagi di Makasar. Jadi 2 malam saya menginap di bus.Hmm..Sounds wrong ya..hihihi..yak begitulah nasib pekerja kantoran yang ngarep jalan-jalan jauh, tapi cuti cuman seiprit.

Bus malam makasar toraja ternyata nyaman banget buat tidur. Bayangin lah, kursi kelas bisnisnya pesawat. Atau kalo mau kebayang, kursinya kayak gini.  Harga tiket bus sebesar Rp 120 ribu rupiah. Saya begitu duduk, ga lama kemudian langsung tidur.  Bangun bangun udah subuh. Pas matahari sudah sedikit kelihatan, perkiraan saya, sudah sampai Toraja. Ternyata, bus sedang berhenti. Dan banyak bus bus lain depannya juga berhenti. Parkir berjamaah karena ada tanah yang longsor, dan  lagi dibenerin. Dan jarak perjalanan dari tempat tanah yang longsor itu ke Toraja masih 5 jam lagi. Huhuhu. Jam 6 pagi itu, saya pasrah aja udah ga bisa eksplore Toraja dengan optimal. Kriep kriep aja jadinya didalam bus. Ketika akhirnya bus berangkat, saya sudah mual mual tidak bisa tidur kembali, dikarenakan rutenya  yang melingkar lingkar. Jam 11 lewat, akhirnya bus sampai di Rantepao.

Ibukota Toraja sebenarnya di Makale, namun kota transit untuk turis lebih banyak di Rantepao, yang berada diarea Toraja Utara. Dari Pasar Rantepao, tempat pemberhentian terakhir bus, saya jalan kaki mencari rental motor. Tidak banyak ditemukan ,alias saya cuman nemu 1 sewa motor disini, didepan SMA Katolik Rantepao. Kira kira 10 menit jalan kaki dari Pasar Rantepao. Pemiliknya baik banget, tau tampang saya lusuh, dia nanya kenapa baru sampe. Saya bilang, ada longsor di jalan, makanya baru sampe jam 11 lewat ini.Sewa motor jenis matic dipatok harga Rp 60.000. Karena sudah siang sama beliau saya dikasi diskon, jadi hanya mbayar Rp 50.000 saja seharian. Selesai mbayar, ibunya juga mempersilahkan kalau mau bebersih dulu di kamar mandinya. Terlebih dahulu, beliau juga memberi peta dan merekomendasikan tempat tempat mana yang kira kira bisa saya datangi dengan waktu yang mepet. Sewa motor buat solo traveller memang jadi pilihan paling masuk akal. Kalo ga bisa naik motor bagaimana? Banyak ojek kok di Rantepao. Jadi tenang aja. 

Saya ikut rekomendasi si Ibu sewa motor untuk kearah Toraja Utara terlebih dahulu. Sebelumnya, bapak yang duduk disebelah saya ketika di Bus Litha juga bilang, pergilah ke Toraja Utara, disana cantik sekali. Dan ga salah pilih. Pemandangannya kerennnnnnn abissss. Toraja Utara is pretty beautiful. Awalnya ekspektasi saya ga terlalu tinggi di Toraja ini. Tapi pas melewati  jalan jalan dan melihat pemandanganya, ga berhenti berhenti saya berdecak kagum. Toraja Utara is pretty gorgeus. Ini di Indonesia loh. Semakin cinta sama Alam Indonesia deh. My bad is, I don't have enough good skill photograph to capture surrounding. You must go by yourself to see it is real beautiful. I promise to myself, to comeback again to North Toraja.

otw to Batutumongga

Toraja Utara
ara



Kerbau dicocok hidungny


Tempat peletakan jenazah




ASik nungguin yang berkubang


Karena sambil sebentar bentar berhenti di jalan, dua jam kemudian saya sampai di BatuTumongga. Batutumongga merupakan area yang cocok untuk melepas galau :D (atau malah tambah galau ya? :)) ). Dekat dengan batutumonga juga terdapat Lokomata, lubang lubang batu untuk meletakkan jenazah.

Pilih kapling yang mana? (Lokomata)

'Nisan' (lokomata)


Lokomata lagi renov

Ada tongkonan mini didepannya



Mandiin kerbau 


Jam 15.00 dari Toraja Utara, saya balik ke Rantepao. Karena sudah sore,dan juga nyasar 10 km salah arah (Oh My, kapan penyakit nyasar saya bisa hilang si? hahaha ), Saya hanya dapat mengunjungi Londa, yang terletak sebelah selatan dari Rantepaao. Londa merupakan tempat peletakan jenazah yang berbentuk Gua Alam. Guanya cukup panjang, Jenazah jenazah diletakkan dalam peti. Tengkorak tengkorak juga tergeletak begitu saja. Awalnya saya ogah (dan takut :D) masuk ke Gua di Londa ini. Tapi ada serombongan keluarga yang juga berada di Londa, dan ada dua ibu ibu yang ngajak masuk ke dalam gua. Kata mereka, kami juga takut, mba..Tapi ayuk, kapan lagi bisa lihat :-). Akhirnya saya masuk juga kedalam.  Oiya, masuk gua Londa ada guidenya, dengan nilai pemberian ke mereka seikhlasnya.  Depannya Londa ini yang terkadang jadi icon kartupos kartupos bergambar Toraja. 

Depan  gua Londa

Peti tempat jenazah diletakkan


My Plain face




Nyaris magrib, ketika saya keluar Londa dan akhirnya sampai Kete Kesu. Kete Kesu ini merupakan komplek rumah adat Tongkonan , sekitar 4 km dari Rantepao. Harusnya saya datang kesini terlebih dahulu. Karena sudah menggelap, jadi nyaris tidak kelihatan apa-apa. Pas saya datang ke Kete Kesu ini, ternyata lagi ada Adu Ayam, karena baru saja ada yang meninggal. Minggu depan baru akan dikuburkan. Adu Ayam ini cukup ramai, kayaknya nyaris semua yang tinggal di Kete Kesu, kaum prianya keluar semua. Sempet ngobrol dengan seorang warga, menurut beliau, saya harusnya datang ketika bulan Juni akhir atau Juli, karena ada beberapa pemakaman besar. Dan juga jangan malam, karena sudah sepi. 

Tongkonan di Kete Kesu

Kete Kesu


Saya kemudian balik ke Rantepao. Mampir di masjid utamanya yang dekat dengan pasar. Makan, Lalu balik ke Penyewaan Motor untuk mengembalikan motor. Sambil menunggu Bus Litha yang akan berangkat balik ke Makasar saya muter muterin pasar Rantepao yang kios kiosnya masih buka. Lumayan, masih nemu kopi toraja disalah satu kios. 


Masjid Raya Rantepao


Definetely, Tana Toraja is beyond my expectation.


2 Rammang Rammang


"Pak, nanti turun di Rammang rammang ya!", ujar saya ke supir pete pete (angkot) jurusan Bandara Hasanudin-Pangkep
"Dimana itu kak?", kata pak Supir
Oh *saya mode bengong [ON]*
Lalu ingat clue di Google,
"Itu pak, turun di Pertigaan Semen Bosowa.."


ngaca dulu ya.. :')

Rammang-rammang, nama yang cukup unik. Dengar pertama kali waktu chat sama Lutfi, ketika saya bilang mau ke Makasar dan lanjut Toraja untuk get away. Lutfi bilang, mampir ke Rammang rammang deh, diantara Makasar dan Toraja.

semacam situs purba, tapi bukan deng

alunan karst mendayu mendayu..

musim menanam

Karst yang membentuk tebing

Jalan mencari rammang-rammang agak ga pasti, karena saya ga tau, apa yang harus dicari disana. Beberapa web hasil Googling via mobile bilang, kita dapat mencari air terjun/telaga. Beberapanya bilang, bisa nyusur perahu. Tapi saya malah ga ngejar dua-duanya. Cuaca panas, walau masih pagi, saya tetap jalan kaki menikmati pinggir sawah dengan hiasan karst yg ada. Diperjalanan nemu karst karst  di pinggir sawah, jalan mbrobos melipir diantara pematang, menyebrang sungai kecil, dan belum nemu juga apa yang mestinya saya cari. Bertanya dan ditanya penduduk sekitar, saya mau ke rammang rammang kearah mana, mereka terus menunjuk ke arah belakang. Dan sampai akhirnya, saya berhenti karena ada gua kecil dan jalan buntu. Sempet liat liat sebentar, lalu saya cari rumah penduduk terdekat, dan dikasih tau bahwa ternyata Rammang rammang itu adalah nama sebuah desa. Dan ini udah desa rammang-rammang.  Jadi saya malah ditanya, memang kakak mau cari apa di rammang-rammang?  Saya bingung, akhirnya jawab, saya cuman liat-liat aja pak. Saya akhirnya cuman muterin desa rammang rammangnya, nengok nengok sapi yang berkeliaran dan merumput bebas. Dan balik arah kembali ke arah pabrik semen bosowa. Ternyata ketika saya jalan balik, saya nemu dermaga kecil dengan sebuah perahu bersandar dekatnya. Ini ternyata dermaga jika ingin ke ke desa rammang rammang dengan menyusur sungai. Sayang, pas saya kesana, ga ada mamang perahunya. Tapi keren pemandangannya. Harusnya kapan kapan kalo ke rammang rammang lagi, menggeret orang yang lebih ngerti seluk beluk rammang rammang.


Love the scenery



Kayak patung

blue..blue..blue..

Dermaga Rammang Rammang

Dari pinggir dermaga
Mentokkk!

Hello cantik!

Pulang dari rammang rammang, saya naik pete pete lagi menuju Bantimurung.

0 (Bukan) Naga Penyembur Api


Duduk di windows seat, membuat saya leluasa bermain main tangan dengan sang gagah matahari yang siap meluncur turun
 
Diikutkan dalam turnamen foto ini

3 China : Pulang ke rumah [7]

Penerbangan 4.5 jam dari Chengdu ke Kuala Lumpur berjalan lancar. Karena penerbangan di sore hari, saya tidak tertidur selama di pesawat. Beruntung saya dapat window seat, karena saya lebih bebas memandang keluar dari balik jendela pesawat. Jadi setelah ipod yang terpasang habis memainkan lagunya, video donlotan selesai dimainkan, majalah travel 3sixty-nya Air Asia jadi habis dibaca, saya jadi kebayang enaknya Laksa Penang yang ada di Food Hall nya LCCT.


Sampai LCCT, saya langsung menyeret badan ke Food Hall yang terletak agak dibelakang di dekat parkiran bus bus. FYI, di FoodHall ini makanannya lebih murah dibanding dengan makanan yang ada di terminal utama LCCT. Ternyata saya kurang beruntung. Jam 9 malam itu, stand yang menjual Laksa Penang sudah tutup. Jadi akhirnya saya pasrah aja akhirnya memesan nasi lemak. Daripada KFC coba? :-)

Di LCCT kuala lumpur, saya seperti sampai di sebuah comfort zone milik sendiri. Walaupun bukan di Indonesia, namun dikarenakan bahasa yang mirip, makanan yang bisa makan apa aja, Sholat mushola ada dimana saja. Pergi ke Toilet tidak perlu membawa bawa botol Aqua. Saya juga bisa twitteran dan fesbukan kembali. Nyaman lah. Seperti sudah kembali ke 'rumah'.

Definisi 'rumah' untuk para pejalan memang selalu jadi pembicaraan menarik. Setelah menyelesaikan makan nasi lemak, untuk membunuh waktu menunggu penerbangan esok pagi ke Jakarta, saya tetap duduk duduk di Food Hall. Sebelum tidur tidur ayam di mushola LCCT, lumayan sambil mencharger henpon dan berwifi ria di Foodhall. Sembari sedikit demi sedikit menghabiskan Teh Tarik, secara tidak sengaja saya berbincang bincang dengan seorang Sailorman (bukan Sailormoon) yang juga ingin mencharger henponnya. Tad, 60 year old, transit dari Perth di KL, menunggu esok pagi untuk penerbangan ke Manila. Pertanyaan standar ketika bertemu orang baru adalah 'where are you from?'. Jawaban saya simpel : 'Indonesia'.  Saat pertanyaan tersebut saya tanya balik ke beliau, Tad ternyata menjawab dengan tidak simpel.  Dia memulai dengan menceritakan kisahnya, bahwa dia lahir dan besar sampai menyelesaikan S2nya di Czech Republic. Dia  punya background pendidikan di Telco Engineer (Yes, saya ngecek LinkedInnya dan bener :p). Setelah lulus S2, dikarenakan Czech merupakan negara atheis-yang berkebalikan dengan keyakinan dia, Tad memutuskan menjadi pengungsi ke Inggris. Kemudian di Inggris, situasi yang ada tidak bertambah baik, akhirnya Tad memutuskan mengungsi ke Australia. Setelah sekian tahun menetap di Australia, dia kemudian menjadi warga negara sana dan bepergian dengan Paspor Australianya.

Saya bertanya kembali, "So, your home is in Australia now?"  Dan jawabannya kembali ajaib. Tad bilang dia memiliki sebuah kapal, yang dia sebut sebagai 'rumah', yang saat ini posisinya sedang bersandar di Kudat, satu daerah di Sabah, Malaysia. Di kapal itu, dia punya segala yang dia perlukan. Beberapa potong pakaian, sistem penyulingan air, Sel surya untuk mencukupi kebutuhan listrik secara mandiri, serta kebutuhan pokok yang dianggap perlu lainnya. Terkadang dia bepergian seperti ini, dengan pesawat, untuk kebutuhan bisnisnya, sebagai konsultan IT. Sisanya, dia lebih sering berada bersama kapalnya. Berlayar, memancing, diving, atau bergaul dengan orang lokal di wilayah yang dia singgahi tersebut. Dia hafal nyaris setiap sudut dan terpencil di area Sulawesi, Maluku, Aceh,dan banyak tempat lain di Indonesia, yang ketika dikonfirmasi ke saya, saya bahkan ga tau ada area itu. Menyenangi bergaul dengan orang orang lokal di area area terpencil tersebut, karena menurut dia, orang orang di daerah daerah tersebut, lebih bahagia dibanding orang orang ataupun tetangganya saat dia di Australia. Walaupun secara material kehidupan orang terpencil tersebut kekurangan, "But they're happy. they always smile", katanya. Berbeda dengan kehidupan orang di kota besar, yang cenderung individualistik. Sibuk mencari uang, tapi juga sibuk menghabiskan uang untuk segala ambisinya. Kemudahan yang ada, malah menjerat mereka. Bayar listrik lah, bayar tagihan lah, sampai membuat mereka lupa untuk tersenyum. Atau bahkan lupa bahwa mereka punya keluarga dan tetangga sekitar. Saya bengong dong dengar ceritanya.

Sekitar 17 tahun, Tad sudah menjalani kehidupan sebagai Free Man. Bahwa rumahnya adalah kapalnya. Dia bebas melakukan apa saja. Dia tidak terlalu ambil pusing, ketika saya tanya apa target dia selanjutnya. "Saya ini orang bebas, Atik. Saya akan lakukan yang saya suka untuk lakukan. Saya bahkan tidak punya target dan ambisi untuk mengejar sesuatu. Saya mencari bahagia. Dan itu saya temukan ketika saya mengadakan perjalanan saya ini. Dengan kapal saya, saya melihat orang orang yang bahagia. Ambisi itu biasanya malah ada sama orang orang muda seperti kamu. Yang bahkan kamu sendiri kadang setress jika tidak mendapatkannya. Saya sudah tua, saya sudah mengalami masa masa muda, yang juga penuh ambisi. Tapi apa yang saya dapat? terkadang malah kekosongan."

"Ok", kata saya. "But, where is your family?" tanya saya lanjut. Menurut dia, orangtuanya dan family yang dia punya sudah meninggal. Sempat beberapa kali punya istri, tapi tidak memiliki anak. Secara kondisi, dia menganggap keluarga adalah orang orang terdekatnya yang dia temui ketika dia singgah dari pelayarannya. Saya menanyakan lebih lanjut, apakah dia pernah kangen memiliki rumah, atau kangen memiliki kondisi keluarga. Menurut Tad, terkadang dia mengalami hal tersebut, tapi bertemu dengan orang orang happy selalu membuatnya merasa nyaman berada di 'rumah'nya kembali. "Jadi apa definisi rumah menurut Tad?" Tanya saya lebih lanjut."Rumah adalah situasi atau kondisi yang membuat kita nyaman. Tidak harus sebuah bangunan fisik. Ada banyak hal yang bisa mendefinisikan rumah bagi saya", kata Tad. " I called the boat is my home. You also my home now, in LCCT". Heh? saya bingung. dan surprise dan tersanjung :p "Kok bisa?", tanya saya lagi. "Ya, karena pada awalnya, kita hanya stranger yang kebetulan berada di tempat yang sama, dari penerbangan yang berbeda, menuju penerbangan yang berbeda pula. Tapi bisa berbincang panjang lebar disini, di Food Hall sampai lebih dari 3 jam. Dan saya merasa seperti mengenal teman lama. Itulah salah satu yang saya sebut 'rumah'."

Saya bengong. Lagi. Konsep yang abstrak. Sebagai kategori manusia yang sangat tidak filosofis, mau tidak mau membuat saya berfikir ulang apa yang dimaksud. Mencerna konsep bahagianya, rumahnya, keluarganya, atau bahkan way of lifenya as a free man. Melihat saya bengong, Tad bilang," hey, you can come and visit my boat when you in Kudat or Kota Kinabalu, and see that it's real. Or you can want to try sailing across South East Asia? Or to live in the boat?". Saya tersenyum. "Maybe someday to visit your boat, But I'm not enough crazy to live as a free man", kata saya. Hahaha.

Ketika akhirnya kita berpisah, dia hanya berpesan ke saya : "Pursue your dream, be happy, be smile and let the flow of your life find a way to your sea. You're woman. your different with man. Woman always look for a 'home' from her life. You cannot take a risk life like me, or maybe another man. Woman and man are very different. Don't be stress, let it flow with His way."

Dan saya hanya tersenyum, sambil berusaha mengingat ingat petuahnya. It makes me miss my dad :-)

Ini yang terkadang saya rindukan ketika saya sudah dirumah. Ketemu orang baru, kemudian harus berpisah kembali. Saya tidak bisa mengatur saya bisa ketemu dengan siapa di setiap bagian dari hidup saya. Karena semua orang berjalan melalui jalan lurusnya masing masing. Kita bertemu karena jalan yang kita punya kebetulan bersilangan. Bersilangan, tentu tak bisa selalu sama dan saling seirama. Ada bagian jalan orang yang bersilangan dengan kita kemudian akhirnya harus menjauh kembali, menemukan alurnya sesuai yang sudah digariskan. Konsekwensi ada pertemuan, tentu ada perpisahan. Dan hal tersebut, tidak hanya berlaku di kehidupan on vacation saja. Tapi juga di real life sehari hari. 

Bukankan akhirnya setiap orang akan berpisah? Yang terakhir, tentu saja dipisahkan oleh kematian.

-end-

(saya bikin tulisan penutup china ini, karena bikin tulisan pembuka disini)







10 China : Jiuzhaigou Valley [6]

Butuh waktu agak lama buat saya untuk akhirnya memutuskan berangkat ke Jiuzhaigou. Awalnya banyak faktor bikin ragu untuk pergi kesana, antara lain : perjalanan yang panjang dari chengdu, tiket masuk yang mahal, tempat yang sangat turistik sekali, dan musim saya datang bukan autumn, namun spring,  yang mana katanya autumn merupakan waktu yang terbaik jika kita ingin mengunjungi Jiuzhaigou. Tapi akhirnya saya putuskan juga untuk pergi ke Jiuzhaigou. Pertama, tentu karena saya sudah di Chengdu. Kedua, perbandingan berapa mahalnya harga tiket masuknya Jiuzhaigou dengan tiket pesawat dari Jakarta :-) Ketiga, ya, saya tuh sebenernya kan turis ditempat tempat yang saya datangi. Cuman icip icip beberapa jam atau beberapa hari, kok mau ngaku ngaku sebagai resident. Keempat, saya mau mencicipi aroma Tibet yang (katanya) sangat kental di seputar Jiuzhaigou. Kelima, hey, Jiuzhaigou ini masuk lho dalam World Heritage Sites in China.


Jiuzhaigou ini terletak sekitar 350 km dari Chengdu. Bisa dicapai dengan bus atau pesawat. Opsi pesawat pasti saya coret karena  saya masih mau jalan jalan ke tempat lainnya :D (alias mahal). Sementara jika naik bus lama tempuhnya katanya bisa 10-12 jam dari Chengdu. Bus hanya berangkat pagi hari, karena area perjalanannya melingkari pegunungan dan rentan kecelakaan. Ada dua terminal bus tempat keberangkatan bus ke Jiuzhaigou, pertama di Chadianzie bus station, yang kedua di Xinnamen Bus Station. Pas browsing, saya menemukan bahwa jadwal dari Chadianzie bus station ke Jiuzhagou lebih banyak dibanding jadwal dari Xinnamen Bus Station. Jadi setiba di Chengdu dari Guilin, saya langsung menuju Chadianzie bus station. Memesan tiket bus untuk esok harinya yang seharga 136 Yuan alias 204 ribu rupiah.Dan harga ini ternyata lebih murah sekitar 12 yuan dari harga di Xinnamen Bus Station (Ga penting banget :p). Saya kurang tau pasti apa bus yang berangkat dari Xinnamen lebih nyaman dibanding bus yang berangkat dari Chadianzie, perasaan sama aja (karena pulangnya saya naik bus yang ke Xinnamen). Yang jelas, bus yang berangkat dari Chadianzie ini penumpang lokalnya lebih banyak, dan penumpang asingnya sedikit bisa dihitung dengan sebelah jari.

Karena bus berangkat jam 8 pagi, dan posisi Chadianzie bus terminal sudah agak jauh diutara kota Chengdu, besok paginya, saya keluar penginepan sekitar jam 6.30 pagi. Sampai station MRT, ternyata station MRT nya belum buka, Gubrak deh. Akhirnya saya nunggu sekitar 10 menitan dan ternyata memang ada jamnya MRT di Chenggdu itu buka jam berapa. Ini nih akibat China 1 zona waktu. Jam di 7 di Beijing kan secara matahari beda sama jam 7 di Chengdu. Ibarat di Makasar jam 7, dan di Aceh masih jam 6 dan lebih lambat lagi. Ok, intinya saya bisa sampai terminal bus tepat waktunya. Dan ga ketinggalan bus lagi.

Dan, perjalanan panjang bus menuju Jiuzhaigou ternyata mulus sekali. Kita melewati jalan tol kira-kira dua jaman, kemudian mulai melewati area pegunungan. Jalan di pegunungan tetap mulus lancar. Bus keluar masuk terowongan, melintasi sisa sisa Gempa Sichuan 2008 yang ternyata masih keliatan dampak kerusakannya. Melewati sungai sungai dengan aliran hijau. Pohon pohon pinus, padang padang rumput, serta Yak yang merumput dipadang padang tersebut. Melewati pegunungan yang atapnya masih bersisa putihnya salju (atau salju abadi? ah entah). Dan melewati area area yang secara kultur memang Tibet sekali. Bangunan, pakaian orang yang ditemui, dsb. Sempet juga saya di satu area antah berantah itu melihat tulisan : desa muslim. Amaze banget. Ketika pulang dari Jiuzhaigou ke Chengdu, saya malah melihat sekelompok orang sedang mengadakan pemakaman muslim di satu area antah berantah itu. Selama perjalanan tersebut saya nyaris ga tidur memandang keluar jendela. Bener bener nyenengin mata untuk dilihat. Bus juga berhenti setiap 2 jam sekali untuk memberi kesempatan penumpang ke toilet atau istirahat meregangkan kaki, ataupun yang ingin ngemil ngemil jajan. Sempet liat  di salah satu tempat istirahat hewan Yak putih dikasi pita dan didandanin buat foto dengan penumpang bus, tapi ternyata bus saya ga berhenti di tempat tersebut. Hihihi.  Hey, tapi saya beruntung berkenalan dengan Sunny di bus tersebut. Dia tinggal di Guangzhou dan sedang bisnis trip ke Chengdu. Ada sisa waktu setelah dia selesai meeting sebelum kembali ke Guangzhou. Jadi dia memutuskan jalan ke Jiuzhaigou. Sunny yang ramah, dia menegur saya duluan (kayaknya karena saya bertampang beda, berjilbab, ketauan foreignernya, dibanding penumpang lainnya). Dia nanya, apa saya udah punya penginapan di Jiuzhaigou. Saya jawab belum. Tapi saya bawa selebaran hostel Jiuzhaigou dari hostel saya di Chengdu. Ok, kata dia, mau barengan sama dia ga? Tentu saja saya mau. Bodoh dong  kalo saya ga mau.

Sisa gempan Sichuan 2008

hati hati longsor


dari jendela bus


Di puncak kejauhan masih ada sisa sisa salju

Sisa sisa salju

Yak yang merumput


Tibetan menunggu angkutan di pinggir jalan

Sekitar jam 16.30 sore, bus sudah sampai ke Jiuzhaigou. Kami diturunkan di area penginapan yang ada. Langsung dirubungi sama orang yang menawari penginapannya. Beruntung saya bareng Sunny. Karena menawar dalam mandarin, kami dapat penginapan double bed seharga hanya 60 yuan per malam untuk berdua alias 30 Yuan per masing orang. Ini sih lebih murah dari hostel manapun, kata saya.  Setelah naruh tas, kami kemudian berkeliling keluar, melihat lihat suvenir dan keadaan sekitar area penginapan, serta mencari-cari makan. Dan saya beruntung  karena bertemu dengan gerai makanan halal. Lama ga ketemu nasi, akhirnya saya pasrah mesan nasi goreng. Dan nasi gorengnya enakkk bangettt . Hahaha. Sunny nemenin saya, karena dia mau makan sup.  Akhirnya setelah saya selesai makan, saya gantian nemenin dia makan sup di rumah makan lainnya.

Salah satu toko suvenir di Juizhaigou

Nasi gorengnya yummy...enakk banget..*dasar laper*

Kepala Yak


Senja

Selesai acara muter muter dan makan makan, kami kemudian survey jalan ke Pintu masuk Jiuzhaigou. Ternyata butuh waktu berjalan sekitar 25 menit dari area penginapan kami ke Pintu masuknya. OK, kami juga tanya berapa tiket masuknya, dan apakah bisa dibeli sekarang. Harga tiket masuk Jiuzhaigou, karena April sudah masuk High season, ternyata sebesar 220 Yuan plus biaya bus kelilingnya 90 Yuan. Total 310 Yuan, Kurs rupiahnya untuk  masuknya? Sekitar 465 ribu rupiah. Hmmm. Itu yang saya bilang mahal. Eh tunggu, coba jedotin kepala sendiri kalo bilang mahal pas kamu masuk Universal Studio Singapur, Tik. Hahahaha. Awalnya, Sunny mau 2 hari di Jiuzhaigou, karena mendengar tiket masuk itu bisa untuk 2 day pass. Ternyata sekarang ga berlaku lagi. Tiket segitu ya cuman untuk sehari masuk aja.

Perkenalkan, ini Sunny


Dan ini Atik :D
Dan malem hari di Jiuzhaigou jadi dingiiinnnn bangettt. Mungkin nyaris minus kali suhunya. Outfit baju tidur saya itu udah longjohn, baju tidur, sweeter, kaos kaki, kaos tangan, selimut yang bawa sendiri, dan selimut penginapan. Tapi masih tetep aja kedinginan. Dan tengah malem saya terbangun menggigil. Bener bener norak banget deh.

Pagi pagi jam 7 kami dah bangun dan berburu sarapan. Masih tetap dingin dan menggigil. Sunny juga menggigil, jadi saya ga merasa norak norak banget kedinginannya. Kami kemudian menuju area ke Pintu masuk Jiuzhaigou, sebelum berebutan sama turis turis china lainnya.

Dengan luas area sekitar 720 km2, terbagi menjadi 3 Valley yang membentuk huruh Y. Rize Valley dan Zechawa Valley membentang cabang huruf Y tersebut dari atas dan bertemu ditengah dengan Shuzheng  Valley. Agak tidak mungkin untuk  menjelajah Jiuzhaigau dalam waktu  satu hari tanpa menaiki bus. Maka dari itu, tarif bus di Jiuzhaigou juga dicharge mahal bersamaan dengan tiket masuk. Bus yang berkeliling seputar Jiuzhaigou juga merupakan bus yang 'katanya' ramah lingkungan. Bus akan berangkat membawa turis yang datang ke arah Rize Valley terlebih dahulu, menuju Primeval Forest. Pengunjung akan diturunkan disini, kemudian dapat berjalan ke objek objek yang ada. Untuk objek yang jauh, pengunjung dapat menggunakan bus dengan menunggu di halte halte yang tersedia.



Saya dan Sunny juga mengikuti rute tersebut, setelah diturunkan di Primeval Forest, kami kemudian berjalan kaki menuju Grass Lake dan Swan Lake (dan ternyata jauh). Kami kemudian naik bus menuju Arrow Bamboo Lake, Panda Lake dan Multicolor Lake. Dari situ kami berjalan dan mendapati si air terjun Pearls Shoal. Kalo ga liat mapnya dan papan namanya pasti bingung. Hehehe. Danau danau ini agak mirip semua. Yang jelas, warnanya. Nyenengin banget buat dilihat. Saya jadi teringat permen Fox yang kristal bening itu. Apalagi yang Chrystal Turquoise. Bening. Jernih. Juga pucuk pucuk bunga yang mulai bermekaran diantara ranting ranting kering pepohonan. Dipadu langit biru yang juga jernih dengan sisa sisa salju di Puncak Pegunungan dikejauhan.  Hey, Surga dunia itu memang benar benar ada.

Sunny , yang hobi fotografi, juga ternyata hobi difoto. Kata dia, setiap cewek pasti hobi difoto. Makanya, disetiap lokasi pasti kami selalu gantian saling memoto. Mungkin stok foto pribadi Juizhaigou saya paling banyak dibanding ke tempat lain. 'Piknik' ke Juizhagou menjadi salah satu piknik saya yang menyenangkan. Tempat yang menyenangkan. Ditemani  orang yang juga menyenangkan.


Ini Swan Lake 

Add caption









Setelah dari Raze Valley, kami kemudian ganti bus menuju arah Zechawa Valley.Jumlah Lake disini tidak sebanyak di Raze Valley. Kalo ga salah, saya hanya mengunjungi Long Lake dan Colorful Pond. Di Zechawa Valley ini, tenaga kami dah ngos ngosan. Setiap ada tangga yang menanjak, pasti kami berhenti. Duduk sambil gigit coklat atau ngunyah biskuit. Sambil ketawa ketawa bego. Betapa semangatnya tadi pagi kami jalan jauh di Raze Valley, dan sekarang seperti orang kurang tenaga di Zechawa Valley.

Selesai dari Zechawa Valley, kami menuju ke arah bawah, kearah Shuzheng Valley. Highlight yang ada di Shuzheng Valley selain Lake yang juga masih berwarna hijau Turquoise adalah adanya Shuzheng Tibetan Village, yang merupakan pemukiman tibet dan banyak  menjual beraneka macam suvenir, beberapa khas tibet. Hiasan kepala Yak, ataupun pengrajin tanduk Yak juga banyak terdapat di Shuzheng Village. Terdapat  pula tibetan temple didepan area tersebut.



Gerbang di Tibetan Culture





Jam 5 sore dan Jiuzhaigou nyaris tutup. Piknik saya berakhir hari itu, untuk kemudian kembali ke Chengdu esok harinya.