0 Bangka Belitung [1]

Nama Belitong saya kenal pas SD dulu, ada 1 buku yang saya pinjem (dan sepertinya ga saya kembaliin, tapi ga tau juga ada dimana sekarang) dari Perpus Sekolah. Judulnya "Turut Ayah Ke Pulau Timah". Pengarang lupa, penerbit lupa, isi cerita detailnya juga nyaris lupa. Cuman judulnya yang saya inget, dan jalan ceritanya tentang seorang anak yang ikut transmigrasi orangtuanya ke Belitong. Dibuku itu lebih menggambarkan menderitanya anak itu di pulau belitong sebagai  anak pekerja kasar PN Timah. Namun buku ini sama sekali tidak menceritakan keindahan Pulau Belitung.

Datang dari Jakarta via Bangka, cukup nekat juga kami berangkat untuk kondisi cuaca yang ga bersahabat. Kalo naik pesawat Jakarta-Bangka, mintalah window seat yang barisan kiri ke petugas check-in. Begitu akan mendarat, akan banyak terlihat   danau danau buatan hasil pengerukan timah. Kedalaman danau kerukan akan menentukan tingkat warna yang terpantul. Semakin dalam kerukannya, semakin hijau warna yang muncul.

windows seat view jakarta-bangka

Welcome to Depati Amir Airport

Sampai Bangka, kami ke pelabuhan Tanjung Balam. Rencana untuk naik JetFoil dari Bangka menuju Belitung. Tapi ya tapi. Si JetFoil lagi berhenti beroperasi sementara dikarenakan cuaca yang kurang bagus. Namun ada alternatif naik kapal Roro, yang kebetulan jalan hari itu. Kami berfikir lama. Akhirnya memutuskan naik Kapal Roro tersebut, yang plan berangkatnya jam 3 siang dan sampe Belitung jam 10 malam. Kalo naik JetFoil sendiri, estimasi 4 jam sudah sampai dari Bangka ke Belitung.

Libur dulu

Hello Pangkal Balam

Ini transaksi jual beli. Pembeli diatas kapal, penjual dibawah. Delivery pake kerekan keranjang :))



Ok, sebentar, kapan terakhir saya naik kapal besar? Ehmm, pas ke Karimun Jawa kayaknya.
trus kapan terakhir kali saya mabuk laut? Ehm, pas ke Pulau Biawak, dengan Kapal Nelayan yang dihempas badai 6 jam. Oiya, 6 jam jadi waktu terlama saya naik kapal laut sebelumnya

Dan ternyata naik kapal Roro dari Bangka ke Belitung ini lumayan "berdarah-darah" #lebay. Maksud saya, karena ombak yang tinggi, walaupun kapalnya sudah besar, tetep aja parah banget perjalanannya. Saya cuman berhasil duduk dan jalan jalan dalam kapal selama kurang lebih 2 jam-an. Habis itu, ya ampunnn, untuk bangun dari tiduran aja ga bisa dkarenakan mual yang amat sangat. Minum Antimo sekaligus 2 juga ga mempan. Dan ga bisa ngapa-ngapain kecuali berbaring di kapal. Duduk sebentar langsung berasa mual. Parahnya, ternyata kapal tidak merapat sampai jam 10 jam 11 malam. Tapi jam 3 pagi kami baru bisa merapat dikarenakan masih ada kapal yang bongkar muat di pelabuhan Belitung. Dan yang mabuk laut payah ternyata bukan saya saja. Nyaris seluruh penumpang bergelimpangan. Oiya, kapal Roro ini tujuan akhirnya Tanjung Priuk. Jadi ke Belitung cuman transit ambil  muatan lagi. Hiii, banyak juga ternyata penumpang yang sampai Tanjung Priuk. GA KEBAYANG mereka gimana nanti lanjutannya. Saya si cukup ya, ga cukup mental dan fisik lagi kalo kudu naik kapal yang sama dan balik lagi dan laut lagi kurang bersahabat pula :)) Cukup 12 jam itu sementara. (Tapi biasanya kapok sambel, kapok kapok ya tetep dijalanin juga)

Sampai Pelabuhan Belitung, kami dijemput temannya mba Rini menuju penginapan.

_bersambung_




0 komentar: